'Mereka menemukan jasadku.'
Kalimat Owen terus berputar di kepala Meisin sampai matahari benar-benar muncul. Dia tidak tidur sedikit pun. Kantong berisi benang hitam diletakkan di laci meja, lalu ditindih dengan kitab doa yang dibawa Bu Rena dari rumah.
Pukul tujuh pagi, Reksa datang dengan pakaian pasien dan wajah yang lebih pucat daripada kemarin. Dia menutup pintu, menarik kursi, lalu duduk tanpa menunggu dipersilakan.
'Ceritakan semuanya,' pinta Meisin.
'Kamu harus janji nggak panik.'
'Aku semalam lihat gendruwo, ngobrol sama orang mati, dan hampir diseret benang hidup. Bagian mana lagi yang bisa bikin aku panik?'
Reksa menunduk. 'Waktu mobil masuk sungai, aku berhasil keluar lewat kaca samping. Aku tarik kamu karena kamu pingsan. Aku balik lagi buat Owen, tapi airnya terlalu deras.'
'Aku sudah melihatnya.'
Reksa mengangkat kepala. 'Melihat bagaimana?'
'Vision. Owen terjebak di dalam. Ada bayangan menarik sesuatu dari tubuhnya.'
Wajah Reksa semakin tegang. Dia mengaku melihat kejadian serupa. Setelah mendorong Meisin ke tepi sungai, dia menyelam kembali. Di bawah air, dia melihat Owen masih berada di mobil. Namun pada saat bersamaan, sosok Owen yang lain ditarik makhluk hitam menuju permukaan.
'Lalu tubuhnya lepas dari mobil dan dibawa arus,' lanjut Reksa. 'Aku lihat wajahnya mengapung. Aku mau mengejar, tapi kepalaku kena sesuatu. Waktu sadar, aku sudah di rumah sakit.'
'Kenapa kamu nggak bilang dari awal?'
'Karena aku berharap aku salah. Polisi juga belum menemukan jasadnya.'
'Owen bilang jasadnya sudah ditemukan.'
Tok tok tok ...!
Pintu kamar terbuka sebelum salah satu dari mereka menjawab. Seorang lelaki berjas abu-abu masuk dengan napas terburu. Meisin mengenal wajahnya meski hanya pernah melihat sekilas di kantor Owen. Dialah Erly, asisten yang selalu berdiri beberapa langkah dari tuannya.
'Nona Meisin,' sapanya gugup. 'Maaf saya datang tanpa membuat janji.'
'Ada apa?'
Erly melihat Reksa, kemudian menutup pintu lagi. Kedua tangannya gemetar saat membuka ponsel.
'Petugas menemukan mobil Tuan Owen enam kilometer dari lokasi kecelakaan. Jasad beliau ditemukan tersangkut akar di tepi sungai tidak jauh dari sana.'
Kenyataan itu tetap menghantam walau Meisin sudah mendengarnya dari mulut Owen sendiri. Lututnya terasa lemas. Bukan karena kehilangan seorang lelaki yang dicintainya, melainkan karena kesadaran bahwa dia benar-benar menikah dengan orang yang saat itu sudah mati.
'Jasadnya di mana?' tanya Reksa.
'Sudah dibawa ke kamar jenazah rumah sakit ini untuk identifikasi.'
Meisin menatap Erly. Ada aroma kemenyan tipis menempel pada jasnya.
'Kamu kenal Ki Bagong?'
Ponsel di tangan Erly hampir jatuh.
'Dari mana Nona mengetahui nama itu?'
'Jawab!'
Erly duduk dengan wajah tertunduk. Dialah yang memberi alamat Kampung Dukun kepada Owen. Awalnya dia hanya ingin membantu tuannya mendapatkan perempuan yang diinginkannya, seperti kebiasaan buruk yang selama ini dianggap pekerjaan biasa. Dia tak pernah menyangka Ki Bagong meminta ritual kedua dan menjadikan nyawa sebagai jaminan.
'Tuan Owen pergi ke sana pada malam ketiga tantangan,' lanjut Erly. 'Besok paginya beliau meminta saya menyiapkan pernikahan dalam satu hari. Saya pikir dukunnya benar-benar berhasil.'
'Kamu nggak bertanya kenapa aku tiba-tiba mau?'
'Saya terbiasa tidak bertanya, Nona.'
'Itulah kenapa semua ini bisa terjadi.'
Erly menunduk semakin dalam. Sehari sebelum kecelakaan, Owen memintanya membatalkan seluruh pekerjaan malam dan menyiapkan uang tunai lagi. Owen berkata harus menemui Ki Bagong setelah upacara selesai. Namun dalam perjalanan, Erly menerima pesan dari nomor tanpa nama yang hanya berisi gambar keranda dan waktu tengah malam.
'Saya menelepon Tuan berkali-kali setelah kecelakaan,' ucapnya. 'Ponselnya aktif, tapi yang menjawab cuma suara orang tertawa. Saya takut dan menghapus pesannya.'
'Pesannya masih bisa dicari,' kata Reksa.
'Saya sudah meminta bagian teknologi memulihkan cadangannya. Saya akan menyerahkan semuanya ke polisi, termasuk alamat Ki Bagong.'
'Jangan cuma ke polisi,' sahut Meisin. 'Kalau mereka datang tanpa tahu apa yang dihadapi, mereka malah jadi korban.'
'Saya bersalah,' ucap Erly. 'Kalau saya tidak memberikan alamat itu, mungkin Tuan masih hidup.'
'Kalau kamu nggak kasih alamat itu, mungkin aku juga nggak kehilangan pikiranku,' sahut Meisin tajam.
Erly menerima kemarahan tersebut tanpa membela diri. Dia mengeluarkan sebuah kartu nama yang sudah kusam. Tak ada nomor telepon, hanya tulisan Kampung Dukun, Jalan Keramat Jati nomor sebelas, serta gambar cincin hitam di sudutnya.
Gambar itu sama persis dengan simpul yang dibentuk benang di dalam laci.
Bu Rena dan Pak Leo datang tak lama kemudian. Keduanya sudah mendengar penemuan jasad Owen dari berita. Bu Rena menangis sambil memeluk Meisin, sedang Pak Leo justru menanyakan apakah status pernikahan anaknya akan diakui oleh keluarga dan perusahaan Owen.
Bu Rena sempat menunjukkan foto Meisin memakai pakaian pengantin sebelum kecelakaan. Dalam foto itu, Meisin berdiri di samping mobil dengan wajah bahagia. Owen belum masuk ke bingkai, tetapi pada kaca mobil tampak pantulan wajahnya yang pucat. Padahal saat foto diambil, menurut Bu Rena, Owen masih berada di dalam rumah.
'Hapus foto itu, Bu,' pinta Meisin.
'Kenapa? Ini satu-satunya foto hari pernikahanmu.'
'Karena hari itu bukan milikku.'
'Pak, orang meninggal dulu yang dipikirin. Bukan hartanya,' tegur Meisin.
'Bapak cuma mengkhawatirkan masa depanmu.'
'Masa depanku bukan isi rekening Owen.'
Meisin meminta mereka menunggu di kamar. Dia akan pergi ke kamar jenazah bersama Reksa dan Erly. Bu Rena berusaha melarang, namun keputusan Meisin tak bisa lagi digeser. Dia harus memastikan apa yang dilihatnya di dalam vision adalah kebenaran.
Lorong menuju kamar jenazah berada di lantai dasar. Semakin dekat, udara terasa semakin dingin. Lampu putih berkedip saat mereka melewatinya. Seorang petugas menunggu di depan pintu baja dengan lembar identifikasi.
Erly menandatangani lebih dulu. Sebab Owen tak memiliki orang tua yang masih hidup, dialah pihak perusahaan yang diminta memastikan identitas sementara dokumen keluarga dicari.
Pintu pendingin dibuka.
Krek ... suara besi bergesek memecah sunyi.
Tubuh Owen terbaring di atas meja dengan kain putih sampai dada. Wajahnya pucat kebiruan, terdapat luka di pelipis dan bekas lumpur mengering di antara rambutnya.
Petugas meminta Erly memastikan jam tangan dan bekas luka kecil di bawah dagu. Erly mengangguk, kemudian memalingkan wajah. Lelaki yang biasanya mampu mengurus seluruh kekacauan Owen itu akhirnya menangis tanpa suara.
Meisin sendiri tidak tahu harus merasakan apa. Dia membenci cara Owen memaksanya, tetapi melihat tubuh yang pernah berdiri angkuh kini membeku di atas meja tetap membuat dadanya sesak. Kematian tidak menghapus kesalahan Owen. Namun kesalahannya pun tidak membuat tubuh itu pantas dijadikan alat oleh Ki Bagong.
Meisin menutup mulut. Di sisi meja, Owen yang lain berdiri menatap tubuhnya sendiri.
'Jangan sentuh dia,' ucap Owen.
Reksa dan Erly tidak bereaksi. Hanya Meisin yang mendengarnya.
'Kenapa?' tanya Meisin.
Owen menunjuk tangan kanan jasadnya. Pada jari manis yang kaku, benang hitam melilit sendiri, membentuk simpul menyerupai cincin. Ujung benang itu bergerak turun melewati meja, lalu merayap menuju kaki Meisin. (*)