Meisin menendang benang hitam yang melingkari sepatunya. Benda itu jatuh ke tanah, namun tidak benar-benar diam. Ujungnya masih menggeliat pelan seolah mencari sesuatu yang bisa diikat.
Reksa mengambil kantong obat bening dari tiang infus, lalu memasukkan benang itu dengan bantuan ranting.
'Jangan disentuh lagi. Tanganmu sudah melepuh,' ucapnya.
'Aku menyentuhnya dan melihat dukun bernama Ki Bagong.'
Reksa menghentikan gerakannya. 'Ki Bagong?'
'Kamu kenal?'
'Nggak. Tapi waktu mobil kita masuk sungai, aku mencium bau kemenyan yang sama.'
Meisin hendak bertanya lebih banyak, namun petugas rumah sakit memanggil semua pasien agar kembali ke dalam. Pemeriksaan bangunan dinyatakan aman. Tak ada retakan baru, tak ada gempa tercatat, dan tak ada seorang pun bisa menjelaskan kenapa ratusan orang merasakan getaran yang sama.
Meisin kembali ke kamar VIP dengan telapak tangan diperban. Reksa diminta masuk ke ruangannya sendiri karena belum mendapat izin pulang. Sebelum berpisah, dia menyerahkan kantong berisi benang hitam kepada Meisin.
'Besok pagi kita bicara soal kecelakaan,' katanya.
'Kenapa harus besok?'
'Karena malam ini kamu harus istirahat.'
'Atau karena kamu masih nyembunyiin sesuatu?'
Reksa tidak menjawab. Diamnya justru menjadi jawaban yang membuat Meisin semakin kesal.
Kriet ... pintu kamar tertutup.
Meisin duduk di ujung ranjang. Pikirannya dipenuhi Owen, pernikahan aneh, Ki Bagong, dan tubuh pucat yang bisa menghilang begitu saja. Dia menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Namun yang dilihatnya bukan hanya satu bayangan.
Owen berdiri tepat di belakangnya.
Meisin berbalik dengan cepat. Tak ada siapa-siapa. Ketika melihat kaca lagi, sosok Owen masih di sana, memandangnya dengan wajah datar.
'Keluar dari kaca itu!' seru Meisin.
'Aku tidak berada di dalam kaca.'
Suara serak Owen terdengar dari samping ranjang. Lelaki itu kini duduk di kursi, masih dengan pakaian koyak akibat pertarungannya. Luka hitam di dadanya tidak lagi melebar, tapi wajahnya tetap tak memiliki warna.
'Kamu masuk tanpa buka pintu?'
'Pintu tidak lagi berguna untukku.'
Meisin menelan ludah. 'Apa maksudnya?'
Owen tidak menjawab. Dia malah melihat kantong obat berisi benang hitam yang diletakkan di meja.
'Buang benda itu.'
'Aku akan membuangnya setelah kamu cerita. Kenapa Ki Bagong bilang jiwamu belum membayar ritual kedua? Kenapa kamu memanggilku istri? Dan kenapa tubuhmu dingin?'
'Kamu terlalu banyak bertanya.'
'Dan kamu terlalu banyak rahasia.' Meisin berdiri. 'Aku ingat pernikahan itu. Aku juga ingat setelah kamu mencium keningku, semua orang menghilang. Jadi jangan anggap aku masih bisa dibodohi.'
Owen bangkit. Jarak mereka hanya satu langkah. Biasanya tatapan lelaki itu mampu membuat orang lain menunduk. Namun Meisin justru mengangkat dagunya.
'Pernikahan kita nyata,' ucap Owen.
'Aku tidak pernah memilihnya.'
'Kamu mengucapkan janji di hadapan pendeta.'
'Karena kamu melakukan sesuatu pada pikiranku!'
Kemarahannya membuat Meisin meraih pergelangan tangan Owen. Dingin menyengat sampai tulangnya, lalu tubuhnya kembali ditarik ke tempat yang tidak ingin dia datangi.
Suara ban berdecit memenuhi telinganya.
Meisin melihat mobil yang membawa dirinya, Owen, Reksa, dan sopir melaju menuju jembatan. Kabut hitam turun begitu cepat. Sopir membanting kemudi, tapi setir berputar sendiri. Mobil menabrak pembatas lalu terjun ke sungai.
Byur ...!
Air masuk dari kaca yang pecah. Reksa melepaskan sabuk pengaman Meisin dan mendorongnya keluar. Owen terjebak di jok belakang. Tangannya memukul kaca, sedang bayangan hitam berdiri di luar mobil seolah air sungai adalah lantai biasa.
Bayangan itu menarik sesuatu dari dada Owen.
Reksa di dalam vision memecahkan kaca yang tersisa menggunakan siku. Dia memasukkan tangannya untuk meraih Owen, namun arus menyeret tubuhnya menjauh. Owen memukul pintu dari dalam sampai gerakannya melemah. Gelembung terakhir keluar dari mulutnya, lalu kepalanya terkulai.
Sosok yang ditarik bayangan hitam itu memandang tubuhnya sendiri. Owen mencoba kembali, tetapi tangannya menembus kaca mobil. Untuk pertama kalinya Meisin melihat lelaki sombong itu benar-benar ketakutan. Bukan takut kehilangan uang atau gagal mendapatkan perempuan, melainkan takut menyadari dirinya sudah terpisah dari hidup.
Di permukaan, tubuh Meisin tergeletak dalam pelukan Reksa. Petugas yang datang menarik mereka menjauh dari sungai. Di saat yang sama, arwah Owen diseret ke arah kabut yang membentuk lorong penuh lilin.
Tubuh Owen masih berada di dalam mobil, tapi sosok lain yang menyerupai dirinya sudah berdiri di luar. Wajahnya pucat, matanya kosong. Ki Bagong muncul dari gelap dan menempelkan telapak tangan ke kepalanya.
'Kau terlambat menyelesaikan ritual,' ucapnya. 'Maka tubuhmu menjadi bayaran, sedang jiwamu menyelesaikan janji.'
Pemandangan berubah. Tubuh Meisin terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit, sedangkan jiwanya memakai busana pengantin di ruangan penuh lilin. Owen menggenggam tangannya di depan pendeta tanpa bayangan.
Meisin melihat dirinya mengucapkan janji dengan senyum yang bukan miliknya. Benang hitam melilit kedua pergelangan tangannya, tetapi semua orang di ruangan itu berpura-pura tidak melihatnya. Saat Owen mencium keningnya, benang berpindah ke dada mereka dan membentuk simpul yang sama seperti gambar cincin milik Ki Bagong.
Di sudut ruangan, sang dukun berdiri sambil menghitung ketukan tongkat. Dia berhenti pada hitungan keenam, lalu berkata kepada sosok tanpa wajah di sampingnya, 'Satu jiwa sudah masuk. Tinggal tubuh dan kehendak perempuan itu.'
Meisin tersentak kembali. Dia melepaskan tangan Owen dan mundur sampai punggungnya membentur jendela.
'Kamu mati?' tanyanya terbata.
Owen diam.
'Jawab aku! Tubuhmu ada di sungai dan yang menikah denganku adalah arwahmu. Benar begitu?'
'Aku masih berada di hadapanmu.'
'Itu bukan jawaban.'
Owen menatapnya lama. Untuk pertama kalinya, kesombongan di wajahnya seperti retak.
'Aku pergi kepada Ki Bagong karena kamu terus menolakku,' akunya. 'Aku ingin membuatmu datang kepadaku tanpa bisa menolak lagi.'
'Jadi tantangan seminggu itu belum selesai, tapi kamu curang.'
'Aku tidak pernah terbiasa menunggu.'
'Itu alasan paling bodoh yang pernah aku dengar.' Mata Meisin mulai panas. 'Kamu punya uang, kuasa, dan banyak perempuan yang datang sendiri. Tapi karena satu orang bilang nggak, kamu pergi ke dukun supaya kata nggak itu hilang.'
Owen mengepalkan tangan. Dia ingin menyangkal, namun ucapan Meisin terlalu tepat untuk dipatahkan. Sepanjang hidupnya, penolakan selalu dianggap penghinaan. Semua orang di sekitarnya mengubah tidak menjadi iya setelah melihat uang atau kemarahannya. Hanya Meisin yang tetap berdiri, sebab itulah Owen merampas satu-satunya hal yang membuatnya berbeda.
'Aku akan memutuskan ritualnya,' ucap Owen.
'Bukan buat menyelamatkan aku, tapi karena ada orang lain yang mau mengambil barang yang kamu anggap milikmu.'
'Kamu memang milikku.'
'Nah, itu masalahnya. Aku bukan barang.'
Kalimat itu menghantam Owen lebih keras daripada serangan gendruwo. Namun sifat buruk yang dibawanya sejak hidup tidak lenyap hanya karena jantungnya berhenti berdetak. Dia masih ingin mendekat, memaksa Meisin mendengar penjelasannya, lalu mengunci semua jalan agar perempuan itu tidak pergi.
Plak ...!
Tamparan Meisin menembus pipinya, namun udara dingin yang disentuhnya tetap membuat telapak tangannya bergetar.
'Itu bukan cinta, Owen. Kamu merampas pikiranku.'
'Aku tahu apa yang kuinginkan.'
'Tapi kamu nggak pernah peduli apa yang aku inginkan.'
Owen hendak mendekat. Meisin mengambil kantong berisi benang hitam dan mengangkatnya sebagai penghalang. Tubuh Owen seketika berkedip. Rupanya benda itu bukan hanya mengikat gendruwo, tapi juga melukai arwah yang terikat pada ritual Ki Bagong.
'Jangan mendekat,' ucap Meisin.
Owen berhenti. Mata yang selama hidup selalu dipenuhi kuasa itu sekarang menyimpan sesuatu yang belum bisa Meisin artikan. Marah, takut, atau mungkin kehilangan.
Azan subuh terdengar jauh dari luar rumah sakit. Cahaya pertama menyentuh kaca jendela. Tubuh Owen perlahan memudar.
'Mereka menemukan jasadku,' bisiknya sebelum lenyap. 'Jangan biarkan siapa pun memasukkanku ke dalam keranda.'
Kantong di tangan Meisin bergerak keras. Benang hitam di dalamnya membentuk simpul menyerupai cincin. (*)