Owen begitu marah karena istri yang susah payah dia dapatkan, diincar makhluk yang sudah dikendalikan seseorang.
Gendruwo itu mengayunkan lengannya yang panjang. Kuku hitamnya nyaris merobek wajah Owen, namun lelaki pucat itu bergerak menghindar. Tubuhnya membentur dinding belakang rumah sakit hingga kaca di lantai dua bergetar keras.
Brak ...!
Getaran itu kembali terasa sampai halaman depan. Beberapa pasien yang baru saja ditenangkan kembali menjerit dan berlari menjauh. Meisin mematung. Di matanya, bangunan rumah sakit yang berlumut itu seperti sedang bernapas. Dindingnya mengembang lalu mengempis, sedang dari bagian belakang terdengar geraman yang membuat tanah di bawah kakinya seolah bergerak.
'Itu bukan gempa, Reks,' ucap Meisin.
'Apa pun itu, kita harus menjauh.' Reksa meraih pergelangan tangannya.
Meisin menepis tangan sahabatnya. Pandangannya tertuju pada dua lelaki berpakaian hitam yang tadi mengawasi mereka. Keduanya bergerak menyelinap ke sisi bangunan. Lelaki yang lebih tinggi membawa bungkusan kain, sedang lelaki yang pendek berkali-kali menoleh seolah takut diikuti.
Ada sesuatu pada suara langkah mereka yang membuat Meisin teringat hari pertama dia bertemu Owen. Dua rentenir pernah mengejarnya sampai dia bersembunyi di gedung milik lelaki itu. Penampilan mereka sama, bahkan tubuh pendek salah satunya pun tak mungkin salah.
'Mereka yang sering nagih utang orang tuaku,' bisik Meisin.
'Kamu yakin?'
'Aku nggak mungkin lupa sama dua gorila itu.'
Tanpa menunggu persetujuan Reksa, Meisin mengikuti keduanya. Reksa mengumpat pelan lalu berjalan di belakangnya dengan kantung infus yang masih dia dorong. Mereka menyusuri sisi rumah sakit sampai aroma kemenyan menyeruak, bercampur bau tanah basah dan obat-obatan.
Di dekat saluran air, dua lelaki itu berjongkok menghadap boneka tanah sebesar telapak tangan. Benang hitam melilit leher boneka tersebut, memanjang masuk ke halaman belakang seperti ditarik oleh sesuatu yang tak terlihat.
'Tarik lagi,' ujar lelaki pendek. 'Makhluknya hampir dapat perempuan itu.'
'Kalau gagal, kita yang dijadikan ganti,' sahut kawannya.
Meisin menahan napas. Reksa hendak maju, tapi Meisin menahan dadanya dengan satu tangan. Saat itulah geraman terdengar begitu dekat.
Gendruwo menerjang keluar dari dinding seolah batu bata hanyalah asap. Benang hitam yang melilit boneka menegang. Owen terlempar di belakangnya, jatuh dengan satu lutut menyentuh tanah. Darah hitam mengalir dari sudut bibirnya, walau Meisin tak tahu bagaimana arwah bisa terluka dan berdarah.
'Owen!' teriak Meisin tanpa sadar.
Lelaki pucat itu mengangkat wajah. Kemarahan yang tadi memenuhi matanya berubah seketika saat melihat Meisin berada di sana.
'Pergi!' bentaknya.
Gendruwo turut menoleh. Sepasang mata merahnya menemukan Meisin, lalu seringainya melebar sampai memperlihatkan taring yang penuh liur. Makhluk itu bergerak cepat. Owen berdiri dan menabrakkan tubuhnya ke sisi gendruwo sebelum kuku makhluk itu mencapai wajah Meisin.
Keduanya berguling di tanah. Pohon kecil di halaman belakang patah saat tubuh besar gendruwo menghantamnya.
'Lepaskan bonekanya!' seru Meisin kepada dua lelaki berpakaian hitam.
Bukannya menurut, lelaki pendek justru menarik benang lebih kuat. Gendruwo meraung dan bangkit lagi seperti kerbau yang dicambuk.
Meisin menerjang ke arah boneka tanah. Lelaki tinggi mencoba menahannya, namun Reksa mendorong kantung infus tepat ke kaki lelaki itu. Besi rodanya menghantam tulang kering hingga dia terjatuh sambil mengumpat.
'Ambil, Mei!' teriak Reksa.
Tangan Meisin menyambar benang hitam. Panas seketika menyengat telapaknya. Dunia di sekelilingnya menghilang, berganti gubuk beratap rumbia yang dipenuhi asap. Ki Bagong duduk di depan dua lelaki berpakaian hitam.
'Jiwa lelaki itu belum membayar ritual kedua,' ucap Ki Bagong. 'Perempuannya sudah membuka mata. Bawa dia sebelum malam ketiga, atau kalian yang menjadi makanan penjaga.'
Di belakang Ki Bagong, puluhan benang serupa menggantung dari langit-langit. Setiap ujungnya terikat pada benda berbeda. Ada gelang pasien, potongan rambut, foto yang wajahnya sudah terbakar, bahkan kain putih dengan noda lumpur sungai. Semua benang bergerak meski udara di dalam gubuk tidak berembus.
Satu benang paling tebal menembus mangkuk tanah di depan Ki Bagong. Di permukaan airnya terlihat Owen sedang melawan gendruwo. Setiap Owen memukul makhluk itu, bayangannya di dalam mangkuk ikut retak, namun benang di dadanya semakin menegang.
'Lelaki bodoh itu mengira kematian membebaskannya dari utang,' lanjut Ki Bagong. 'Padahal kematian hanya membuat pintunya lebih mudah dibuka.'
Lelaki tinggi menunjuk bayangan Meisin yang muncul di mangkuk lain. 'Kenapa harus perempuan itu, Ki? Banyak perempuan lain yang lebih mudah dibawa.'
'Karena dia bisa memegang masa lalu dan membawa pulang benda dari sana. Mata seperti itu tidak lahir dua kali dalam satu keturunan. Kalau Owen gagal menyerahkannya, kita ambil sendiri.'
Meisin ingin melepaskan benang, tetapi benda itu telah melilit telapak tangannya. Dari ujung yang lain dia merasakan kemarahan gendruwo, rasa lapar yang bukan miliknya, dan kesakitan Owen ketika cakar makhluk itu menembus bahunya.
Vision itu pecah bersamaan dengan jeritan Meisin. Telapak tangannya melepuh, tapi dia tetap menarik benang sampai putus.
Gendruwo meraung. Tubuh Owen sempat terangkat oleh satu tangan besarnya lalu dilemparkan ke dinding. Lelaki itu jatuh, bangkit lagi, dan menancapkan jari-jarinya ke lengan makhluk tersebut. Asap hitam keluar dari luka yang dibuatnya.
'Mei, lepas!' Reksa menarik pinggang Meisin menjauhi boneka.
'Belum bisa. Benangnya nempel!'
Reksa mengambil batu dan menghantam simpul di telapak Meisin. Sekali belum terlepas. Pada pukulan kedua, benang mengendur. Meisin menggunakan tangannya yang lain untuk menarik sekuat tenaga sampai serat hitam itu melukai kulitnya.
Trak ...!
Boneka tanah retak menjadi dua. Gendruwo berhenti di depan Owen, menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri seperti kehilangan arah. Owen tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia mencengkeram leher makhluk itu lalu membantingnya ke tanah. Asap hitam meledak dari tubuh gendruwo dan menyebar menutupi halaman.
Dua lelaki berpakaian hitam berlari. Lelaki pendek sempat menoleh dan menunjuk Meisin.
'Aki akan mengambilmu sendiri!' ancamnya sebelum lenyap di balik pagar.
Asap perlahan menipis. Gendruwo sudah tidak ada. Yang tersisa hanya Owen berdiri dengan pakaian koyak dan wajah semakin pucat.
Meisin melangkah mendekat, meski Reksa berusaha menahannya.
'Kenapa kamu menyebut aku istrimu?' tanyanya tegas.
Owen melihat telapak tangan Meisin yang terluka. Dia mengangkat tangannya hendak menyentuh, namun Meisin mundur.
'Jawab pertanyaanku.'
'Karena kamu memang istriku.'
Udara mendadak terasa sangat dingin. Reksa menatap tempat Owen berdiri, tapi rupanya dia hanya melihat bayangan samar.
'Mei, kamu bicara sama siapa?'
Owen memandang tangan Reksa yang masih berada dekat bahu Meisin. Sorot matanya kembali dipenuhi kemarahan.
'Suruh dia menjauh darimu,' ucap Owen.
'Dia sahabatku. Kamu nggak berhak menyuruh apa pun sebelum menjelaskan semuanya.'
Owen bergerak satu langkah. Tubuhnya berkedip seperti nyala lilin terkena angin. Luka hitam di dadanya melebar, lalu sosoknya perlahan menjadi tembus pandang.
'Kembali ke kamarmu sebelum matahari terbit,' katanya. 'Mereka akan datang lagi.'
Meisin hendak mengejar bayangan Owen, tetapi suara petugas memanggil dari sisi gedung. Reksa menahan langkahnya. Di tanah, selain benang hitam, tertinggal bungkusan kain yang dibawa kedua rentenir tadi. Isinya bunga kantil yang sudah menghitam, tanah basah, dan gelang pasien tanpa nama.
'Ini bukan urusan utang biasa,' ucap Reksa.
'Dari awal kayaknya memang nggak pernah biasa.' Meisin membungkus kembali benda-benda itu tanpa menyentuh langsung. 'Dan Owen tahu lebih banyak daripada yang dia bilang.'
Di lantai dua, salah satu jendela terbuka sendiri. Sesosok perempuan berambut panjang berdiri di baliknya dan menunjuk ke arah kantong tersebut. Bibirnya bergerak tanpa suara, namun Meisin dapat membaca satu kata yang dia ucapkan.
Keranda.
'Owen, tunggu!'
Lelaki itu lenyap. Di tanah tempatnya berdiri, tertinggal ujung benang hitam yang tadi diputus Meisin. Benang itu bergerak sendiri, melingkari ujung sepatunya seperti ular kecil yang baru menemukan jalan pulang. (*)