“Tidak, aku tidak bisa tidur, Reks. Aku ingin ke kamarku saja,” ucap Meisin saat dirasanya dia hanya bolak balik posisi, namun belum juga terlelap.
“Biar kuantar ke kamarmu,” ucap Reksa dengan dipaksa bangkit dari sofa yang dijadikan nya tempat tidur.
Kriieeet ... pintu kamar Reksa dibuka, menyuarakan seram diantara sunyi yang mencekam. Suasana koridor sudah sepi. Tak ada kegiatan apapun yang terlihat di sepanjang koridor yang mereka lalui menuju kamar VIP Meisin.
“Aku takut, Reks. Mereka berdiri melihat pada kita,” ucap Meisin menyembunyikan tubuh mungilnya di belakang Reksa yang berjalan dengan mendorong kantung infus yang dialirkan ke tangannya.
“Mereka nggak akan berani ganggu kita, kalo kita nggak ganggu mereka, Mei,” ucap Reksa menyembunyikan ketakutan yang sebenarnya jauh lebih besar dari Meisin.
Mereka terus berjalan dengan Meisin masih menutupi tubuhnya dengan lengan baju pasien yang kebesaran dipakai Reksa.
“Selamat tidur, Mei. Aku balik ke kamarku ya,” ucap Reksa setibanya di depan kamar Meisin.
“Terimakasih, Reks. Kamu memang sahabat terbaikku,” ujar Meisin dengan memberikan senyum terbaiknya.
“Sama-sama,” jawab Reksa sebelum akhirnya berlalu dari hadapan Meisin.
Gadis itu masuk dengan degup jantung yang mulai terasa teratur, perasaannya sedikit lebih tenang karena di ruangan ini, dia merasa aman dan tidak merasakan aura yang berbeda seperti di sepanjang koridor tadi.
Pantas saja dia merasa aman, sebab di sudut ruangan yang kurang pencahayaan itu, berdiri sosok lelaki berwajah pucat memandangi dengan maksud melindungi, dialah Owen Wilson, suami yang dia nikahi setelah menjadi seonggok mayat tak bernyawa.
Gemerlap malam tak bisa dirasakan dari dalam. Bangunan rumah sakit yang saat malam berubah bagai gedung tua berlumut dari luar itu justru terlihat sangat menakutkan.
Meisin sudah setengah masuk dalam alam bawah sadarnya, namun getaran yang dia rasakan membuat kesadarannya kembali sepenuhnya, kasurnya bagai digoyang keras membuat tubuhnya nyaris jatuh.
“Oh tidak, gempa yang tadi kulihat dalam mimpi benar-benar terjadi,” ucapnya seraya bangkit dan segera berlari keluar.
Dokter, Suster pun turut berhamburan menuju pintu keluar. Sementara Meisin mencari sosok Reksa yang dia yakini belum jauh dari kamarnya. Sebab sahabatnya itu baru saja pergi, begitu pikirnya.
‘Makhluk apa itu?’ hatinya berbisik saat kedua matanya menangkap dua sosok misterius berkelahi di lorong gelap tempat dia pertama kali melihat penampakan makhluk astral di rumah sakit ini. Seorang lelaki yang tak asing baginya bertarung dengan sesosok makhluk tinggi besar berbulu dan bertaring panjang.
“Mei, kita harus keluar secepatnya.” Dengan tiba-tiba Reksa berdiri di sisi Meisin dan menarik tangannya, Meisin beralih melihat Reksa lalu kembali melihat pertarungan dua makhluk tadi namun keduanya sudah tidak terlihat.
“Mei, ayo cepat. Bangunan ini sepertinya akan runtuh. Kita harus segera keluar dari sini,” ucap Reksa lagi saat dilihatnya Meisin masih berdiri tak menanggapinya.
“Mei!” Reksa sedikit berteriak dengan menarik tangan Meisin berlari keluar.
“Aku sudah mendapat vision tentang gempa yang terjadi ini, Reks,” tutur Meisin setibanya di depan gedung rumah sakit.
“Tidak akan terjadi apa-apa, kok. Aku tidak melihat korban ataupun kejadian mengerikan. Hanya kepanikan saat gempa saja yang kulihat,” ucap Meisin lagi.
“Apapun yang kamu lihat, itu hanya di mimpi. Ini real, kita harus menjauh dari gedung rumah sakit ini,” ucap Reksa dengan penuh kepanikan.
Sedangkan Meisin tampak tenang bahkan dia yakin bahwa penyebab gempa itu adalah pertarungan dua makhluk yang tadi dilihatnya.
“Aku takut gedung ini runtuh, kalo kita hanya diam dan tidak menyelamatkan diri,” tutur Reksa lagi, bahkan tangannya telah siaga menggandeng tangan Meisin untuk berlari sekali lagi menjauh dari gedung rumah sakit tempat mereka dirawat.
“Tenang, Reks. Gempanya sudah tidak ada,” ucap Meisin menyadarkan Reksa bahwa sebenarnya getaran yang tadi kuat terasa sudah hilang.
Riuh dokter suster yang menenangkan pasien dan pihak keluarga yang panik masih berlari menjauh terlihat di sekitar mereka. Ada yang berlari sembari menggotong tubuh renta yang masih koma. Ada yang didorong memakai kursi roda menjauh dari gedung rumah sakit, Dan banyak lagi hiruk pikuk manusia lain yang masih berlarian tampak panik dan takut. Rupanya, bukan hanya Reksa yang tidak menyadari bahwa gempa itu sudah tidak ada.
“Aku sudah baikan, Mei. Aku ingin keluar saja dari rumah sakit terkutuk ini,” ucap Reksa saat sudah tak banyak orang-orang di sekitarnya. Banyak yang kembali masuk, dan tak sedikit yang memilih keluar karena mengetahui bahwa gempa itu terjadi hanya di dalam bangunan rumah sakit itu.
“Aku pun merasa sudah baikan, Reks. Tapi aku masih sangat penasaran dengan misteri rumah sakit ini, aku ingin tinggal untuk mengetahui kebenarannya,” tutur Meisin tanpa melihat Reksa. Matanya menatap bangunan rumah sakit yang jelas di matanya tampak sudah sangat tua, lumut hijau dimana-mana dan tanaman jalar memenuhi celah-celah bangunan yang sudah retak.
“Bagaimana kondisi bangunan di depanmu?” iseng-iseng Meisin bertanya dengan setengah berbisik pada Reksa.
“Bangunan di depanku bagus, megah seperti rumah sakit umumnya yang siap menampung jutaan ribu manusia didalamnya,” jawab Reksa memandang lurus ke arah bangunan.
Tapi berbeda dengan jawaban Reksa, yang dilihat Meisin justru sangat menakutkan. Bangunan di depannya seperti siap mengambil jiwa-jiwa manusia yang masuk ke dalamnya.
Bangunan itu berdiri angkuh seolah sarang kematian berakar di dalam, seperti halnya kumuh dan nuansa yang tampak seram di penglihatan Meisin. Dia terpaku dengan perbedaan penglihatannya dengan penglihatan Reksa.
‘Apa ini yang kulihat dari mata batin?’ pikirnya masih mematung tak bergerak dari tempatnya sedikitpun.
“Kenapa tidak tinggal barang beberapa hari dulu, Reks? Temani aku di sini,” ucapnya pada Reksa.
Tapi bukan menjawab, Reksa justru berkata dengan pandangan tidak teralihkan dari bangunan rumah sakit di depannya.
“Aku merasa ada yang aneh dengan rumah sakit ini, sejak kejadian yang kamu ceritakan. Malam hari tiba-tiba sepi seperti kuburan. Lalu sekarang gempa, yang ternyata terjadi hanya di area rumah sakit ini,” ucap Reksa, dia seperti turut merasakan keanehan yang diceritakan sahabatnya.
“Oleh sebab itulah, aku sangat penasaran,” ucap Meisin menguatkan alibinya agar tetap tinggal.
Reksa diam, sementara tak jauh dari tempat mereka berdiri. Terdapat sepasang mata dibalik bangunan yang tengah mengawasi mereka dengan tidak mengalihkan pandangan ke arah yang lain. Seolah mereka menemukan berlian yang sudah mereka cari selama ini, dua manusia dengan pakaian serba hitam menatap mengawasi Reksa dan Meisin.
Sedang pertarungan yang terjadi antara Owen dan makhluk yang dikenal dengan sebutan gendruwo itu masih berlangsung sengit di pekarangan belakang rumah sakit. Lelaki tampan walau terlihat pucat itu melawan makhluk yang lebih besar darinya demi menyelamatkan nyawa Meisin yang tadi diincar oleh makhluk terkutuk di depannya. Owen begitu marah karena istri yang susah payah dia dapatkan, diincar makhluk yang sudah dikendalikan seseorang.