Meisin membuka matanya perlahan, sebab tawa dari wajah mengerikan suster itu sudah tidak terdengar lagi di telinganya. Tawa yang membuat ketakutannya kian memuncak, terlebih suara tertawanya yang kian dekat.
Namun saat dia membuka mata, tak ada siapa-siapa di depannya. Hanya lorong gelap nan kosong yang masih berdiri angkuh dengan tanpa penerangan satupun.
Meisin menoleh, di belakang sana terlihat cahaya. Itulah tempat di mana dia melangkahkan kakinya di koridor rumah sakit dan bertemu suster yang mengatakan ruangan Reksa berada di ujung lorong gelap ini. Meisin sangat ketakutan.
Ah, aku harus kembali ke sana dan bertanya sekali lagi pada suster atau dokter yang kutemui, tapi kali ini aku harus perhatikan baik-baik, yang kutanyai benar-benar manusia atau makhluk laknat yang menyamar menjadi manusia, pikirnya.
Diapun bangkit dan dengan setengah berlari dia mendekati cahaya di ujung lorong yang berada membelakangi tubuhnya. Riuh aktivitas rumah sakit pun terdengar di telinganya. Namun pandangannya berubah gelap.
Seorang suster mendekati tubuh yang tergeletak di lantai dengan pelipisnya yang berdarah, gadis yang terbujur di lantai itu adalah Meisin.
“Sus, suster,” panggilnya pada suster yang berjalan tak jauh dari tempatnya menemukan Meisin yang pingsan.
Suster yang berjarak hanya sekian centi itu pun mendekat dan membantu membawa Meisin melalui kursi roda kosong yang dibawanya, keduanya menggotong tubuh Meisin lalu mendudukkannya pada kursi roda.
Saat sadar, sebuah kepala dengan rambut yang seperti tidak pernah merasai yang namanya keramas menyembul tepat di sisi ranjangnya.
“Aaaa ...,” Meisin berteriak dengan menutup matanya.
Seorang suster menyentuh pundaknya dan berkata, “Ada apa, Mbak?”
Meisin tidak menjawab, hanya gelengan kepala yang dia jadikan jawaban dengan sekali lagi melirik ke samping ranjangnya.
Sosok yang tadi dilihatnya sudah tidak ada, tidak mungkin dia berhalusinasi, sebab jelas sekali sosok itu menyembul dengan mata melotot dan mulut menganga seolah sengaja mengerjainya.
“Ee, itu – aku liat ada kecoa tadi, Sus,” jawab Meisin menutupi, sebab percuma dia cerita, orang-orang tidak akan memercayainya.
Jangankan orang lain, dirinya sendiri saja belum percaya bahwa dia bisa melihat makhluk yang bukan manusia.
“Masa sih, Mbak? Ruangan ini adalah VIP di rumah sakit ini, tadi suami mbak meminta mbaknya diberi pelayanan terbaik di sini,” ucap Suster meragukan Meisin dan memberitahukan hal yang membuat Meisin harus berpikir keras akan ucapan suster itu.
“Suami?” Meisin bertanya tak percaya.
“Saya nggak punya suami,” ucap Meisin sewot.
“Loh, tapi laki-laki tadi mengaku suami mbak, bahkan dia sudah membayar lunas semua biaya mbak di sini,” terang suster itu dengan tersenyum.
Tanpa menjawab lagi, Meisin hanya menatap suster itu yang tangannya bergerak memeriksa keadaan dan selang infusnya.
Aku Cuma kepentok, kenapa sampai diinfus?’
“Ini vitamin sama obatnya, Mbak minum dulu biar pusingnya hilang,” ucap suster itu dengan menyodorkan dua buah kapsul kecil dan sedang.
Setelah menerima dan meminum dua kapsul yang diberikan padanya, mendadak kepalanya terasa berat, kantukpun mendera padahal kata suster tadi, dia sudah pingsan hampir setengah hari.
Guncangan terasa mengganggu tidurnya, ranjang berbusa tebal yang ditidurinya masih menyisakan getaran yang kuat, sementara riuh diluar ruangan membuat dirinya ikut bangkit dan harus berlari menyelamatkan diri walau tertatih.
“Gempa, gempa, gempa,” begitulah riuh yang didengarnya.
Seketika Meisin membuka mata, rupanya hanya mimpi. Dia mengusap dadanya, meraih segelas air yang tersedia di dekat ranjang tidurnya. Dia tenggak sampai tak ada sisa setetes pun. Mimpi tadi seolah nyata, namun tidak mungkin dia mengatakan pada orang lain yang jelas tidak akan memercayainya.
Meisin pun bangkit dengan memegangi kepalanya yang masih terasa berat. Nyeri di pelipisnya pun kentara terasa. Dia buka pintu kamarnya, menemui seorang suster yang menjaga administrasi.
“Permisi, Sus. Saya mau tanya, pasien atas nama Reksadana dirawat di ruangan mana ya?” tanya-nya dengan bersikap seolah tidak sedang kesakitan.
Kepalanya masih terasa berdenyut membuat penglihatannya kabur, namun hal itu tidak mengurungkan niatnya untuk menemui sahabatnya sesuai niat yang sudah dia tananmkan di saat keluar rumah dan pergi ke rumah sakit.
“Reksadana dirawat di ruangan melati, Mbak,” jawab suster itu ramah.
Meisin pun berbalik setelah mengucapkan terimakasih, dia menuju ruangan yang sudah ditunjukkan suster itu padanya.
Kriet ..., pintu ruangan Reksa dibuka Meisin dengan perlahan, takut kedatangannya mengganggu sahabatnya.
“Mei, akhirnya kamu datang, aku ingin bercerita banyak hal padamu,” ucap Reksa tampak bersemangat begitu melihat Meisin datang menemuinya.
“Aku sudah dari tadi siang nyari ruangan kamu, Reks. Tapi aku kesasar,” sahutnya.
Reksa tidak menjawab, hanya pandangan prihatin yang terpancar dari wajahnya, mengingat pernikahan sahabatnya yang gagal karena kecelakaan itu.
Dia juga teringat dengan kejadian saat dirinya mencoba menyelamatkan Owen ketika mobil mereka masuk ke sungai. Dia melihat, Owen diselamatkan oleh sosok mengerikan dan dibawa terbang entah kemana. Tapi anehnya, saat dia sampai ke tepi sungai, justru dia melihat wajah yang sangat dia kenali mengapung terbawa arus.
“Mei, aku merasakan bahwa kecelakaan yang kita alami bukan murni kecelakaan,” tuturnya dengan bangkit sedikit mengambil posisi ternyaman.
Malam telah merangkak menyisakan temaram dan hening di rumah sakit. Keduanya masih asyik bertukar cerita tentang penampakan yang dilihat Meisin sebelum akhirnya dia tidak sadarkan diri.
Sementara Reksa memilih bungkam daripada membuat sahabatnya sedih karena calon suaminya ternyata sudah meninggal.
Tapi meski begitu, Reksa tetap menjawab semua pertanyaan yang Meisin ajukan terkait dengan lelaki bernama Owen. Dan rupanya, Bu Rena, ibunya tidak berbohong padanya. Jawaban Reksa sama persis dengan cerita ibunya.
Keanehan yang dialami oleh Meisin tak luput untuk diceritakan pada Reksa, sahabatnya. Hingga kemudian, percakapan itu sampai pada keanehan yang dialaminya di rumah sakit tempat mereka dirawat sekarang.
“Aku rasa ada misteri di rumah sakit ini, Reks. Kemarin aku hampir mati saat memercayai suster yang ternyata adalah hantu yang kuceritakan tadi,” ujar Meisin penuh semangat namun juga ketakutan.
Perasaan keduanya terlarut pada pekat yang semakin lama membuat suasana semakin mencekam. Bak berada di gedung tua tak berpenghuni, keduanya saling bersitatap saat hanya hening yang mereka dapati, sedang hiruk pikuk yang tadi sempat meramaikan luar ruangan Reksa, sudah musnah tak lagi terdengar.
“Sebaiknya kamu di sini saja, Mei. Aku khawatir terjadi sesuatu sama kamu,” ucap Reksa. Dia tampak sangat mengkhawatirkan sahabatnya, Meisin.
Tentu saja dia selalu mencemaskan sahabatnya itu, sebab dia sangat mengerti perasaan sahabatnya.
Sejujurnya, untuk pertama kalinya antara sadar dan tidak, Reksa juga bisa melihat makhluk mengerikan tepat di depan wajahnya. Tapi beruntung, makhluk itu tidak mengincarnya. Melainkan mengincar Owen, lelaki yang baru dikenal sahabatnya tapi sudah berhasil mengambil hati sahabatnya, begitu dia berpikiran tentang Owen.
Dia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan sahabatnya yang bisa melihat mereka dengan atau tidak sadarnya di setiap adanya mereka.
“Tapi aku juga ingin istirahat, Reks. Tidak mungkin semalaman aku di sini denganmu,” jawab Meisin dengan mengumpulkan keberanian untuk keluar dan berjaga dengan segala kemungkinan yang akan dilihatnya.
“Kamu bisa tidur di sini, aku akan mengalah tidur di sofa sana,” ucap Reksa menunjuk sofa dengan isyarat matanya.
Aku harus keluar.