Samir terbangun dengan perasaan yang berat. Mimpi buruk tentang Vina dan Arga yang tertawa bersama masih terngiang di kepalanya. Dia menghela napas panjang, mencoba mengusir bayangan itu dari pikirannya.
"Kenapa gue harus ngerasain cemburu kayak gini?" gumam Samir dalam hati.
Dia menatap langit-langit kamarnya, merasa frustasi. Dia memang sudah lama menyimpan rasa suka kepada Vina, tapi dia tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya. Dia takut Vina akan menolaknya, terutama karena Vina sedang menjalin hubungan dengan Arga.
"Apa gue harus ngungkapin perasaan gue?" batin Samir, sambil menggaruk kepalanya yang gatal.
Samir teringat kata-kata Vina saat mereka berlatih musik di ruang musik sekolah. Vina pernah berkata, "Samir, kamu main drumnya keren banget! Gue suka musik kamu."
Samir tersenyum tipis. Dia merasa sedikit lega. Setidaknya, Vina masih menghargai bakatnya.
"Tapi, itu bukan berarti dia suka sama gue," batin Samir, sambil menggelengkan kepalanya.
Samir bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela. Dia melihat pemandangan di luar, mencoba menenangkan pikirannya.
"Gue harus ngelupain Vina. Gue harus fokus sama musik gue," batin Samir, sambil memejamkan matanya.
Samir memutuskan untuk pergi ke studio musik milik temannya, Rian. Dia ingin melupakan masalahnya dengan bermain musik.
"Hai, Samir! Lama ngga ketemu," sapa Rian, sambil tersenyum.
"Hai, Rian. Gue lagi pengen main drum," jawab Samir.
"Oke, siap! Gue udah siapin drum set buat kamu," kata Rian, sambil menunjuk ke arah drum set yang terpasang di sudut studio.
Samir mengangguk dan langsung duduk di depan drum set. Dia mulai memainkan drum dengan penuh semangat. Dia memukul drum dengan keras, menyalurkan semua emosinya ke dalam musik.
Rian tersenyum melihat Samir yang bermain drum dengan penuh semangat. Dia tahu bahwa Samir sedang mengalami masalah.
"Samir, kamu kenapa? Kok kayaknya lagi galau gitu?" tanya Rian, sambil mendekati Samir.
"Enggak apa-apa, Rian. Cuma lagi ngga mood aja," jawab Samir, sambil menghela napas.
"Cerita aja sama gue. Gue bisa jadi pendengar yang baik," kata Rian, sambil menepuk pundak Samir.
Samir terdiam sejenak. Dia ragu-ragu untuk menceritakan masalahnya kepada Rian.
"Gimana sih, Samir? Cerita aja. Gue sahabat kamu," kata Rian, sambil menatap Samir dengan serius.
Samir menghela napas panjang. Dia memutuskan untuk menceritakan masalahnya kepada Rian.
"Gue lagi suka sama Vina. Tapi, dia lagi deket sama senior yang kasar," kata Samir, suaranya sedikit berbisik.
"Oh, gitu. Ya udah, lupain aja tuh senior. Lupakin cewek yang ngga ngehargain lu," kata Rian, sambil menepuk pundak Samir.
"Tapi, gue sayang sama Vina," kata Samir, suaranya sedikit terisak.
"Lupain aja, Samir. Banyak cewek lain di luar sana yang lebih baik dari Vina," kata Rian, sambil tersenyum.
Samir terdiam. Dia tidak yakin dengan kata-kata Rian. Dia masih mencintai Vina.
"Lu main musik aja dulu. Lupain masalah lu sebentar," kata Rian, sambil menyodorkan sebotol air mineral kepada Samir.
Samir mengangguk dan kembali memainkan drum. Dia berusaha untuk melupakan masalahnya dengan bermain musik.
Namun, bayangan Vina dan Arga terus menghantuinya. Samir merasa sangat frustasi. Dia tidak tahu harus berbuat apa.
"Gue harus ngelakuin sesuatu," batin Samir, sambil mengencangkan pukulan drumnya.
Samir merasa tertekan. Dia tidak ingin kehilangan Vina. Dia harus berjuang untuk mendapatkan hati Vina.
"Gue harus ngungkapin perasaan gue," batin Samir, sambil menatap Rian.
"Rian, gue mau ngungkapin perasaan gue ke Vina," kata Samir, sambil menatap Rian dengan serius.
"Serius, Samir? Kamu yakin?" tanya Rian, sambil menatap Samir dengan heran.
"Iya, gue yakin. Gue ngga mau nyesel," jawab Samir, sambil mengangguk.
"Oke, gue dukung kamu. Tapi, hati-hati ya," kata Rian, sambil tersenyum.
Samir mengangguk dan kembali memainkan drum. Dia merasa sedikit lega. Dia sudah memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya kepada Vina.