Samir kembali ke rumah dengan perasaan campur aduk. Dia merasa gugup dan sedikit takut, tapi juga bersemangat. Dia sudah memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya kepada Vina.
"Gue harus ngelakuin ini," batin Samir, sambil menatap langit-langit kamarnya.
Samir mencoba mencari cara yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya kepada Vina. Dia tidak ingin membuat Vina merasa tidak nyaman.
"Gue harus ngasih Vina hadiah," batin Samir, sambil tersenyum.
Samir teringat bahwa Vina suka dengan bunga mawar merah. Dia memutuskan untuk membeli sebuket bunga mawar merah untuk Vina.
Keesokan harinya, Samir pergi ke toko bunga dan membeli sebuket bunga mawar merah yang indah. Dia juga membeli sebuah kartu ucapan yang bertuliskan "Aku mencintaimu, Vina."
Samir menunggu Vina di depan kelasnya. Dia gugup dan jantungnya berdebar kencang.
"Gue harus ngelakuin ini," batin Samir, sambil menghela napas.
Vina keluar dari kelas dan berjalan menuju Samir. Vina terkejut melihat Samir yang sedang memegang sebuket bunga mawar merah.
"Samir, buat gue?" tanya Vina, sambil tersenyum.
"Iya, Vina. Gue mau ngasih ini buat kamu," jawab Samir, sambil menyodorkan bunga mawar merah kepada Vina.
Vina menerima bunga mawar merah itu dengan senang hati. Dia mencium aroma bunga mawar itu dengan lembut.
"Makasih, Samir. Cantik banget," kata Vina, sambil tersenyum.
"Sama-sama, Vina. Gue juga mau ngasih ini buat kamu," kata Samir, sambil menyodorkan kartu ucapan kepada Vina.
Vina membuka kartu ucapan itu dan membaca kata-kata yang tertulis di dalamnya. Wajah Vina memerah.
"Samir, ini..." kata Vina, suaranya sedikit terbata.
"Iya, Vina. Gue suka sama kamu," kata Samir, sambil menatap Vina dengan penuh harap.
Vina terdiam sejenak. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia merasa terkejut dan sedikit gugup.
"Samir, gue..." kata Vina, suaranya terputus.
"Vina, kamu ngga usah buru-buru jawab. Gue ngerti kalo kamu butuh waktu buat mikir," kata Samir, sambil tersenyum.
Vina mengangguk. Dia masih merasa bingung. Dia tidak menyangka bahwa Samir menyimpan rasa suka padanya.
"Samir, gue..." kata Vina, suaranya terputus lagi.
"Vina, kamu ngga usah ngomong apa-apa. Gue ngerti," kata Samir, sambil menepuk tangan Vina dengan lembut.
Samir merasa sedikit kecewa. Dia berharap Vina bisa menerima perasaannya.
"Samir, gue mau ngomong sama kamu. Tapi, ngga sekarang," kata Vina, sambil menatap Samir dengan serius.
"Oke, Vina. Gue tunggu," jawab Samir, sambil tersenyum.
Samir merasa sedikit lega. Setidaknya, Vina mau berbicara dengannya.
Samir menunggu Vina di depan kelasnya. Dia merasa gugup dan sedikit takut. Dia tidak tahu apa yang akan dikatakan Vina.
Beberapa saat kemudian, Vina keluar dari kelas dan berjalan menuju Samir.
"Samir, gue mau ngomong sama kamu," kata Vina, sambil menatap Samir dengan serius.
"Iya, Vina. Ngomong aja," jawab Samir, sambil menatap Vina dengan penuh harap.
Vina terdiam sejenak. Dia menghela napas panjang.
"Samir, gue ngga bisa nerima perasaan kamu," kata Vina, suaranya sedikit bergetar.
Samir terdiam. Dia merasa sangat kecewa.
"Kenapa, Vina?" tanya Samir, suaranya sedikit terisak.
"Gue udah punya pacar, Samir. Gue ngga bisa selingkuh," jawab Vina, sambil menunduk.
Samir merasa sangat sakit hati. Dia tidak menyangka bahwa Vina akan menolaknya.
"Vina, gue..." kata Samir, suaranya terputus.
"Samir, maaf. Gue ngga bisa ngasih kamu apa yang kamu harapkan," kata Vina, sambil menatap Samir dengan iba.
Samir terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya bisa merasakan sakit di hatinya.
"Samir, gue..." kata Vina, suaranya terputus lagi.
"Vina, gue ngerti. Gue ngga akan ganggu kamu lagi," kata Samir, sambil tersenyum.
Samir berbalik dan berjalan pergi. Dia merasa sangat sedih. Dia tidak menyangka bahwa perasaannya akan ditolak oleh Vina.