Hari-hari berlalu dengan cepat. Samir dan Vina semakin akrab. Mereka sering menghabiskan waktu bersama untuk mengerjakan proyek musik, berlatih di ruang musik sekolah, dan bahkan sering makan siang bersama.
Samir merasa bahagia. Dia bisa merasakan kedekatan dengan Vina, dan dia semakin yakin bahwa dia mencintai Vina. Namun, setiap kali Samir ingin mengungkapkan perasaannya, sebuah rasa takut selalu menghantuinya. Dia takut Vina akan menolaknya, terutama karena Vina sedang menjalin hubungan dengan seorang senior.
Suatu sore, Samir dan Vina sedang berlatih di ruang musik sekolah. Vina sedang bernyanyi dengan suara merdu, sedangkan Samir memainkan drum dengan penuh semangat.
"Samir, kamu mainnya keren banget!" kata Vina, sambil tersenyum.
"Makasih. Kamu juga nyanyinya bagus banget," jawab Samir, wajahnya sedikit memerah.
"Eh, ngomong-ngomong, kamu ngga mau ikut ke pesta ulang tahun temen gue?" tanya Vina.
"Pesta ulang tahun? Kapan?" tanya Samir.
"Besok malam. Kamu mau ikut?" jawab Vina.
Samir ragu-ragu. Dia tidak suka menghadiri pesta, terutama pesta yang dihadiri oleh banyak orang yang tidak dia kenal. Namun, dia tidak ingin menolak ajakan Vina.
"Ya udah, gue ikut," jawab Samir, sambil tersenyum.
"Serius? Asyik! Gue jemput jam 7 ya?" kata Vina, sambil bersemangat.
"Oke," jawab Samir.
Samir merasa sedikit gugup. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi di pesta itu. Dia hanya berharap bisa menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama Vina.
Keesokan harinya, Samir bersiap-siap untuk pergi ke pesta. Dia memakai baju terbaiknya dan menyemprotkan parfum kesukaannya.
"Samir, kamu mau kemana?" tanya Ibu Samir, sambil melihat Samir yang sedang bercermin.
"Gue mau ke pesta ulang tahun temen," jawab Samir.
"Oh, ya udah. Hati-hati ya," kata Ibu Samir.
"Iya, Bu," jawab Samir.
Samir keluar rumah dan menunggu Vina di depan gerbang. Tidak lama kemudian, Vina datang dengan mobilnya.
"Hai, Samir. Kamu udah siap?" tanya Vina, sambil tersenyum.
"Udah. Ayo!" jawab Samir.
Mereka berdua masuk ke mobil dan Vina melajukan mobilnya menuju tempat pesta.
Saat mereka tiba di tempat pesta, Samir langsung merasa tidak nyaman. Tempat itu ramai dan penuh dengan orang-orang yang tidak dia kenal.
"Samir, kamu kenapa? Kok mukanya muram gitu?" tanya Vina, sambil menepuk pundak Samir.
"Enggak apa-apa. Cuma, gue ngga suka tempat ramai," jawab Samir.
"Tenang aja, gue nemenin kamu kok," kata Vina, sambil tersenyum.
Vina mengajak Samir masuk ke dalam pesta. Mereka berkeliling dan menyapa teman-teman Vina.
"Vina, kamu datang juga!"
Seorang pemuda tinggi dan kekar menghampiri Vina. Pemuda itu adalah pacar Vina, yang bernama Arga.
"Iya, Arga. Ini temen gue, Samir," kata Vina, sambil memperkenalkan Samir kepada Arga.
"Hai, Samir. Seneng ketemu kamu," kata Arga, sambil menjabat tangan Samir.
Samir merasa sedikit tidak nyaman. Arga tampak kasar dan sombong.
"Eh, Arga. Kamu ngapain di sini?" tanya Vina, sambil menatap Arga dengan heran.
"Gue lagi ngobrol sama temen-temen," jawab Arga, sambil melirik Samir.
"Oh, ya udah. Gue mau ngobrol sama Samir dulu," kata Vina.
Arga mengangguk dan berlalu.
"Samir, maaf ya. Arga emang gitu orangnya. Dia agak kasar," kata Vina, sambil menunduk.
"Enggak apa-apa. Gue ngerti," jawab Samir.
Samir merasa sedikit lega. Dia tidak ingin membuat Vina merasa tidak nyaman.
Mereka berdua melanjutkan perbincangan mereka. Vina bercerita tentang teman-temannya dan tentang pesta itu. Samir hanya mendengarkan dengan saksama.
"Samir, kamu ngga mau minum?" tanya Vina, sambil menyodorkan segelas minuman kepada Samir.
"Enggak, makasih. Gue ngga suka minum," jawab Samir.
"Ya udah. Gue minum aja, ya," kata Vina.
Vina meneguk minumannya. Samir memperhatikan Vina yang sedang minum. Dia merasa sedikit cemburu melihat Vina minum bersama Arga.
"Vina, kamu ngga apa-apa?" tanya Samir, suaranya sedikit khawatir.
"Enggak apa-apa. Kenapa?" jawab Vina.
"Cuma, kamu kayaknya terlalu banyak minum," jawab Samir.
"Enggak kok. Gue masih bisa ngontrol diri," jawab Vina.
Samir tidak yakin dengan kata-kata Vina. Dia merasa Vina sedang mabuk.
"Vina, gue mau pulang," kata Samir.
"Kenapa? Pesta baru aja mulai," jawab Vina.
"Gue ngga enak badan," jawab Samir, sambil berbohong.
"Ya udah, gue anterin pulang," kata Vina.
Vina mengajak Samir keluar dari pesta. Mereka berdua menuju mobil.
"Samir, kamu kenapa sih? Kok tiba-tiba mau pulang?" tanya Vina, sambil menatap Samir dengan heran.
"Gue ngga enak badan, Vina," jawab Samir.
"Ya udah, gue anterin kamu pulang," kata Vina.
Vina melajukan mobilnya menuju rumah Samir. Sepanjang perjalanan, Samir tidak berkata apa-apa. Dia hanya terdiam dan menatap ke luar jendela.
"Samir, kamu ngga apa-apa?" tanya Vina, sambil menatap Samir dengan khawatir.
"Enggak apa-apa. Gue cuma ngantuk," jawab Samir.
Vina tidak curiga. Dia hanya mengangguk dan terus melajukan mobilnya.
Saat mereka tiba di depan rumah Samir, Vina menghentikan mobilnya.
"Samir, kamu udah sampai. Hati-hati ya," kata Vina.
"Iya, Vina. Makasih ya," jawab Samir.
Samir turun dari mobil dan berjalan menuju rumahnya. Dia merasa sangat kecewa. Dia merasa tidak nyaman melihat Vina bersama Arga.
Samir masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya. Dia berbaring di tempat tidur dan memejamkan matanya.
"Kenapa gue harus ngerasain cemburu kayak gini?" gumam Samir dalam hati.
Samir merasa sangat frustasi. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya bisa berharap Vina bisa merasakan perasaannya.