Udara pagi yang sejuk menyapa Samir saat dia melangkahkan kaki menuju gerbang SMA Nusa Bangsa. Hari ini adalah hari pertama sekolah, dan Samir, anak laki-laki berambut ikal dengan senyum ramah, merasa sedikit gugup.
Dia baru saja lulus dari SMP dan masuk ke SMA yang terkenal dengan kualitas pendidikannya. Samir, yang memiliki mimpi besar untuk menjadi musisi terkenal, berharap bisa menemukan teman-teman baru yang memiliki minat yang sama dengannya.
"Hai, Samir!"
Sebuah suara ramah memanggilnya dari belakang. Samir menoleh dan melihat Vina, seorang gadis dengan rambut panjang terurai dan mata yang indah. Vina adalah teman sekelasnya di SMP, dan mereka cukup akrab.
"Hai, Vina. Kamu juga masuk sini?" tanya Samir, wajahnya sedikit memerah.
"Iya, dong. Kenapa? Kamu gak mau masuk ke SMA ini?" tanya Vina, sambil terkekeh.
"Enggak, sih. Cuma, gue sedikit gugup aja," jawab Samir, sambil menggaruk kepalanya yang gatal.
"Tenang aja, Samir. Gue juga gugup. Ini pertama kalinya gue pisah sama temen-temen SMP," kata Vina, suaranya sedikit berbisik.
Samir mengangguk mengerti. Dia juga merasakan hal yang sama. Memulai hidup di lingkungan baru memang tidak mudah.
"Eh, ngomong-ngomong, kamu ikut ekstrakurikuler apa?" tanya Vina, mencoba memecah keheningan.
"Gue pengen ikut klub musik. Kamu gimana?" jawab Samir.
"Gue juga. Gue suka nyanyi," jawab Vina, matanya berbinar-binar.
"Serius? Berarti kita bisa satu klub, dong!" kata Samir, suaranya sedikit bersemangat.
"Iya, siap-siap aja, Samir. Gue bakal nge-rock bareng kamu!" kata Vina, sambil mengepalkan tangannya.
Samir tersenyum lebar. Dia merasa senang bisa bertemu dengan Vina di sekolah baru ini. Vina, dengan sifatnya yang ceria dan ramah, selalu membuat Samir merasa nyaman.
Mereka berjalan beriringan menuju ruang kelas. Samir memperhatikan Vina yang berjalan di sampingnya. Vina tampak cantik dengan seragam putih abu-abu yang dia kenakan. Rambutnya yang terurai, matanya yang indah, dan senyumnya yang manis membuat Samir merasa sedikit gugup.
"Samir, kamu kenapa? Kok diem aja?" tanya Vina, menoleh ke Samir.
"Enggak, kok. Cuma mikirin kelas aja," jawab Samir, sambil mengalihkan pandangannya.
"Kamu nervous, ya? Tenang aja, kita pasti bisa ngelewatin masa-masa SMA ini bareng-bareng," kata Vina, sambil menepuk pundak Samir.
Samir mengangguk pelan. Dia merasa sedikit lega setelah mendengar kata-kata Vina.
"Oh, iya. Kamu udah punya pacar belum?" tanya Vina, sambil tersenyum.
"Belum. Kamu sendiri?" jawab Samir, wajahnya sedikit memerah.
"Gue juga belum. Cuma, gue lagi deket sama seorang senior," jawab Vina, suaranya sedikit berbisik.
Samir merasa sedikit kecewa mendengar jawaban Vina. Dia memang sudah lama menyimpan rasa suka kepada Vina, tapi dia tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya.
"Senior? Dia baik?" tanya Samir, suaranya sedikit gugup.
"Dia baik, kok. Cuma, dia agak kasar," jawab Vina, sambil menunduk.
Samir tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya. Dia merasa tidak nyaman mendengar Vina menceritakan tentang pacarnya.
"Oh, ya udah. Gue harap kamu bahagia," kata Samir, suaranya sedikit datar.
Vina mengangguk pelan. Dia tidak menyadari bahwa Samir merasa cemburu.
"Samir, kamu kenapa? Kok mukanya muram gitu?" tanya Vina, menatap Samir dengan heran.
"Enggak apa-apa. Gue cuma ngantuk," jawab Samir, sambil menguap.
Vina tidak curiga. Dia hanya tersenyum dan berkata, "Ya udah, kita masuk kelas aja, yuk."
Samir mengikuti Vina memasuki kelas. Dia duduk di bangku belakang, sambil memperhatikan Vina yang duduk di bangku depan.
"Selamat pagi, anak-anak!"
Seorang guru tua dengan rambut putih memasuki kelas. Dia adalah Pak Hendra, guru sejarah yang terkenal dengan sifatnya yang tegas.
"Hari ini kita akan membahas tentang sejarah musik di Indonesia," kata Pak Hendra, sambil membuka buku pelajaran.
Samir mendengarkan penjelasan Pak Hendra dengan saksama. Dia sangat tertarik dengan sejarah musik, terutama musik rock.
"Siapa di sini yang suka musik?" tanya Pak Hendra, sambil menatap para siswa.
Beberapa siswa mengangkat tangan, termasuk Samir.
"Bagus. Musik adalah bagian penting dari budaya kita. Musik bisa menjadi media untuk menyampaikan pesan, menghibur, dan juga menginspirasi," kata Pak Hendra, sambil tersenyum.
Samir mengangguk setuju. Dia merasakan betapa besarnya pengaruh musik dalam hidupnya. Musik adalah tempat dia bisa melupakan segala beban dan kesedihan.
"Nah, sekarang saya akan bagi kalian ke dalam beberapa kelompok. Nanti kalian akan mengerjakan proyek tentang musik," kata Pak Hendra, sambil menuliskan nama-nama siswa di papan tulis.
Samir dan Vina berada di kelompok yang sama. Mereka berdua merasa senang karena bisa mengerjakan proyek bersama.
"Samir, kamu main musik apa?" tanya Vina, sambil tersenyum.
"Gue main drum. Kamu?" jawab Samir.
"Gue nyanyi," jawab Vina.
"Wah, seru nih. Kita bisa kolaborasi, dong!" kata Samir, sambil terkekeh.
"Iya, siap-siap aja, Samir. Gue bakal nge-rock bareng kamu!" kata Vina, sambil mengepalkan tangannya.
Samir tersenyum lebar. Dia merasa senang bisa mengerjakan proyek musik bersama Vina. Dia berharap bisa lebih dekat dengan Vina, dan mungkin, dia bisa mengungkapkan perasaannya kepada Vina.