===== BAB 81: Pertemuan Tanpa Kontrak =====
Ia meminta Raka menemuinya besok sebagai Alena dan Raka—tanpa pengacara, dewan, atau arsip.
Kedai yang dipilih Alena tidak memiliki ruang privat atau pelayan yang mengenali nama Dirgantara. Ia datang dengan kendaraan sendiri dari apartemen sewaan yang ditempatinya selama sebulan. Raka sudah menunggu di meja dekat jendela, tanpa pengawal di dalam dan tanpa map di hadapannya.
'Boleh aku berdiri untuk menyambutmu?' tanyanya.
Alena hampir tersenyum karena pertanyaan sekecil itu pun tidak dianggap otomatis. 'Boleh. Tapi kita memesan sendiri.'
Mereka mengantre seperti pengunjung lain, membayar minuman masing-masing, lalu kembali ke meja. Hari terakhir bulan kelima belas telah lewat. Pernikahan mereka masih sah, tetapi seluruh kewajiban kontrak berakhir. Persetujuan cerai yang ditandatangani Raka tersimpan pada Maya dan satu salinan ada pada Alena.
'Saya belum mengajukannya,' kata Alena. 'Itu bukan jawaban bahwa saya akan tinggal.'
'Aku mengerti.'
Alena membuka percakapan dengan rumah. Ia tidak akan kembali ke penthouse hanya karena ancaman utama sudah diproses. Ia menyukai apartemennya, jarak ke kantor Lembaga Audit Arah yang sedang memperluas pusat permanennya, dan pagi tanpa jadwal keamanan keluarga. Kalau mereka berkencan, mereka pulang ke tempat masing-masing sampai keputusan baru dibuat bersama.
Raka menerima tanpa menyebutnya masa percobaan. Ia juga akan pindah dari penthouse perusahaan ke rumah yang tidak terhubung akses Vantara. 'Aku ingin tahu seperti apa kita ketika pintu tidak dibuka oleh nama keluarga,' katanya.
Mereka membahas kerja. Lembaga Alena tidak boleh menerima arahan, hadiah, atau data khusus dari Raka. Jika Vantara menjadi klien, kontraknya harus melalui komite independen dan Alena mengundurkan diri dari penilaian yang menyentuh suaminya. Raka tidak meminta pengecualian untuk percakapan di rumah.
Keuangan pribadi ikut dibuka sebagai topik, bukan sebagai laporan wajib kepada pasangan. Alena tidak ingin rekening bersama sebelum mereka tahu cara membagi kebutuhan tanpa mengubah pendapatan menjadi kuasa. Raka setuju biaya pertemuan dibagi atau bergantian, dan hadiah bernilai besar harus dibicarakan lebih dulu. Rumah, saham, serta kompensasi perkara tetap berada pada pemiliknya.
'Kalau media bertanya apakah kita kembali bersama?' tanya Raka.
'Kita bilang sedang berkencan dan tinggal terpisah, kalau saya setuju mengumumkannya. Detail lain bukan milik publik.'
'Dan kalau kau tidak ingin menjawab?'
'Kamu tidak menjawab untuk saya.'
Soal keamanan lebih sulit. Alena masih menghadapi perhatian publik, tetapi tidak ingin keberadaannya dipantau tanpa sepengetahuan. Mereka menyepakati satu kontak darurat, pemberitahuan bila ancaman dinilai kredibel, dan tidak ada pelacak pada kendaraan atau ponsel. Raka boleh menawarkan pengawal; Alena boleh menolak setelah menerima informasi risiko.
'Apa yang paling kamu takutkan?' tanya Raka.
Alena menatap bus yang lewat di luar. 'Bangun suatu pagi dan sadar semua pilihan saya kembali dijelaskan sebagai bagian dari aksesmu. Bahkan pilihan mencintaimu.'
Raka tidak buru-buru menyangkal. 'Aku takut menjadi Bima dengan niat yang terdengar baik. Menyebut perlindungan ketika sebenarnya aku sedang menentukan hidup orang lain.'
Ketakutan itu tidak dapat diselesaikan dengan janji tidak akan pernah salah. Mereka sepakat memakai konseling pasangan yang dipilih bersama, bukan dokter keluarga. Bila salah satu merasa batas dilanggar, pembicaraan dihentikan tanpa ancaman bahwa pernikahan akan runtuh saat itu juga.
Alena menceritakan hal yang dipelajarinya selama sebulan sendiri: ia merindukan Raka, tetapi juga tidur lebih nyenyak ketika tidak mendengar lift penthouse dan tidak merasa setiap ketukan pintu membawa krisis perusahaan. Raka mengatakan ia belajar memasak dua menu, gagal pada salah satunya, dan berhenti meminta staf mengatur hari liburnya. Hal-hal itu kecil, namun membuktikan mereka memiliki hidup yang tidak hanya berisi kasus.
Mereka menetapkan satu malam seminggu tanpa membicarakan Vantara, persidangan, atau lembaga, kecuali keadaan keselamatan mendesak. Batas tersebut bukan penyangkalan masa lalu. Itu ruang untuk mengetahui apakah mereka menyukai satu sama lain ketika tidak sedang bertahan hidup.
Pertanyaan tentang anak membuat keduanya diam lebih lama. Alena belum tahu apakah menginginkannya. Ia tidak mau keputusan lahir dari kebutuhan memberi keluarga Dirgantara penerus atau dari rasa harus membuktikan pernikahan mereka nyata. Raka mengatakan ia dapat membayangkan anak, juga dapat menerima hidup tanpa anak.
Mereka juga membahas Dewi dan Mawar. Alena akan membantu ibunya karena memilih, bukan karena perjanjian keamanan. Mawar tidak mendapat hak menentukan rumah atau upacara mereka. Raka boleh merawat neneknya tanpa meminta Alena melupakan diamnya. Hubungan keluarga tidak perlu diselesaikan dengan satu acara damai.
'Kita tidak perlu menjawab hari ini,' kata Alena.
'Atau tahun ini.'
Mereka membicarakan hal biasa sesudahnya: masakan yang tidak disukai, jam kerja, kebiasaan Raka bangun terlalu pagi, dan keinginan Alena memiliki rak buku yang tidak dikunci. Percakapan ringan terasa asing setelah berbulan-bulan hidup dalam jadwal sidang dan serah-terima bukti.
Raka meminta izin menyentuh tangannya. Alena mengulurkan tangan melintasi meja. Tidak ada kamera atau dokumen yang membuat sentuhan itu perlu. Ia menggenggam sebentar, kemudian melepaskan untuk mengambil cangkir. Raka tidak membaca pelepasan sebagai penolakan.
'Saya memilih berkencan denganmu,' kata Alena. 'Saya tetap tinggal terpisah. Pernikahan kita tidak menjadi alasan untuk mempercepatnya.'
'Aku memilih proses yang sama. Bukan menunggu sampai kau kembali, melainkan menjalani apa yang kita sepakati.'
Ponsel mereka bergetar hampir bersamaan. Dua surat elektronik dari panitera masuk dengan nomor perkara yang sama. Sidang utama telah mencapai tahap kesaksian penutup. Daftar saksi menempatkan nama Alena dan Araka pada dua baris terpisah, masing-masing dengan ruang lingkup yang berbeda.
Alena membaca suratnya sendiri sebelum memperlihatkan layar. Raka melakukan hal sama. Pertemuan tanpa arsip berakhir karena hukum memanggil mereka kembali, tetapi untuk pertama kalinya mereka kembali sebagai dua orang yang sudah memilih batasnya sebelum memasuki ruang perkara.
Keduanya menerima panggilan sebagai saksi utama pada sidang final Guntur dan Bram.