===== BAB 80: Hari Kelima Belas Bulan =====
Hari terakhir bulan kelima belas tiba.
Kantor Maya tidak dihias seperti ruang pernikahan. Tidak ada bunga, kamera, atau lambang keluarga. Di meja hanya ada kontrak yang dahulu terdiri atas sebelas syarat Alena, tambahan Raka, daftar pemenuhan, dan dua pilihan hukum yang tidak boleh dicampur.
Pilihan pertama: kontrak berakhir, sementara perkawinan tetap sah dengan hak serta kewajiban hukum biasa. Pilihan kedua: Alena memakai persetujuan Raka untuk memulai perceraian tanpa sengketa harta atau tuntutan balik. Ia tidak harus memilih hari itu.
Maya meminta Alena menjelaskan kedua pilihan dengan kata-katanya sendiri. Alena mengatakan berakhirnya kontrak tidak membuat ia otomatis lajang, tidak menghapus haknya atas keselamatan, dan tidak mewajibkan ia kembali tinggal bersama Raka. Persetujuan cerai membuka proses, bukan memaksa hasil.
'Kalau Raka berubah pikiran?' tanya Maya.
'Kuasa kepada Kresna menjaga persetujuan dan pelepasan tetap berlaku. Biaya saya tidak dapat dihentikan.'
'Kalau kau berubah pikiran setelah memilih tetap menikah?'
'Saya masih dapat mengajukan perceraian kelak. Tinggal hari ini bukan janji kehilangan pilihan besok.'
Maya mengangguk. Pemeriksaan itu mengingatkan Alena pada hari sebelum upacara, ketika pengacara memastikan tubuh dan pekerjaannya bukan aset kontrak. Bedanya, kini ia tidak sedang menukar perlindungan dengan akses. Seluruh bukti sudah berada di luar keluarga.
Mereka juga memeriksa apakah dana reparasi menanggung satu rupiah pun kebutuhan pribadi Alena. Tidak. Apartemen transisi dibayar rekening kontrak yang dibentuk sebelum klaim, sedangkan keamanan saksi memakai anggaran regulator. Pemisahan tersebut mencegah kebebasannya dibeli dari hak korban.
Maya memeriksa setiap janji. Akses arsip telah dipindahkan kepada lembaga publik, jadi tidak lagi bergantung pada status istri. Perlindungan Dewi dapat diteruskan oleh regulator bila diperlukan. Biaya hukum dibayar penuh. Tidak ada utang, aset tersembunyi, atau klausul kerahasiaan yang hidup setelah tanggal akhir.
'Kontraknya selesai,' kata Maya. 'Kebebasanmu tidak punya tanggal kedaluwarsa.'
Alena menandatangani berita acara pemenuhan. Tangannya tidak gemetar seperti saat menandatangani akta. Lima belas bulan lalu ia masuk perkawinan untuk bukti dan perlindungan. Hari ini keduanya berada di tempat yang tidak dikendalikan Raka.
Ia meminta Raka masuk.
Raka datang bersama Kresna, menyerahkan salinan identitas, lalu duduk hanya setelah Alena mengangguk. Wajahnya lebih kurus daripada sebulan lalu. Ia tidak bertanya mengapa kotak cincin terlihat dari tas.
Kresna mengonfirmasi tanda tangan persetujuan cerai dan pelepasan klaim. Raka menyatakan dokumen tetap berlaku tanpa syarat waktu, hubungan kerja, maupun keputusan Alena tentang saham Vantara. Ia juga melepaskan akses ke lokasi apartemen baru.
'Apakah ada kewajiban yang menurutmu belum saya penuhi?' tanyanya.
Alena melihat daftar. Raka memberi akses, tidak menutup temuan, mengikuti protokol keamanan yang dipilih Maya, dan menyediakan jalan pergi. Ia juga pernah berbohong tentang keberadaannya di kompleks, mengawasi karier Alena tanpa izin, dan belajar mengakui keduanya. Kontrak tidak dapat menilai seluruh perkawinan.
'Secara hukum, tidak,' jawabnya. 'Secara pribadi, percakapan kita belum selesai.'
Maya dan Kresna menawarkan keluar. Alena meminta mereka tetap sampai semua dokumen ditutup. Pilihan pribadi tidak perlu dibuat di meja yang sama dengan pelepasan hukum.
Raka menandatangani halaman terakhir. 'Saya tidak akan meminta jawaban hari ini.'
'Karena takut menekan saya?'
'Karena kau berhak memilih waktu. Dan karena saya ingin jawaban yang dapat kau ubah bila hidup kita nanti tidak sehat.'
Alena menatapnya. 'Saya juga tidak ingin cinta berubah menjadi izin untuk berhenti saling memeriksa.'
'Saya tidak tahu cara hidup yang lain lagi.'
'Anda bisa lupa ketika perkara selesai.'
'Karena itu struktur harus tetap ada saat niat baik tidak ada.' Raka menunjuk aturan audit Vantara dan perjanjian lembaga Alena, bukan dadanya. 'Jangan percaya saya akan selalu menjadi versi terbaik. Pastikan versi terburuk saya tidak memegang semua kunci.'
Kalimat itu menjawab ketakutan yang tidak pernah Alena ucapkan: bahwa cinta dapat membuat mereka santai setelah musuh bersama hilang. Ia tidak membutuhkan suami sempurna. Ia membutuhkan hubungan yang mengizinkan koreksi sebelum kesalahan menjadi warisan.
Raka lalu menyebut hal-hal yang belum mereka bicarakan karena kasus: apakah ingin anak, bagaimana merawat Dewi dan Mawar tanpa tinggal serumah, siapa yang pindah bila pekerjaan membawa Alena keluar kota, serta apakah Raka tetap mengejar CEO. Ia tidak meminta jawaban di kantor Maya.
'Kalau kita memilih lanjut, saya ingin membicarakan semuanya sebelum memilih rumah,' katanya.
'Dan kalau jawabannya tidak cocok?'
'Maka cinta tidak menjadi alasan memaksa hidup yang salah.'
Alena menyimpan daftar pertanyaan itu. Untuk pertama kali, masa depan mereka terdengar seperti pekerjaan dua orang dewasa, bukan epilog otomatis setelah kejahatan terungkap.
Setelah berkas dimasukkan map terpisah, Maya membaca nomor setiap halaman dan memberi salinan kepada masing-masing pihak. Tidak ada kontrak yang disobek untuk drama; dokumen disimpan sebagai catatan tentang mengapa pilihan bebas dahulu membutuhkan perlindungan tertulis.
Alena mengeluarkan kotak cincin. Ia membukanya, memegang lingkar polos, tetapi tidak memasangnya. Raka melihat tanpa bergerak.
'Cincin keluarga ada di arsip,' kata Alena. 'Yang ini tidak membuka pintu apa pun.'
'Itu alasan saya memilihnya.'
'Dulu Anda memilihnya untuk pernikahan yang punya harga. Kalau saya memakainya lagi, saya ingin alasan baru.'
Raka mengangguk. Ada kesedihan di wajahnya, tetapi tidak ada tawar-menawar.
Di lobi, wartawan menunggu keputusan tentang status mereka. Maya mengeluarkan pernyataan bahwa kontrak privat telah selesai dan tidak ada informasi tentang pilihan perkawinan. Alena serta Raka keluar melalui pintu berbeda agar diam mereka tidak dijual sebagai foto rekonsiliasi atau perpisahan.
Alena kembali sebentar ke ruang rapat setelah lobi kosong. Ia meminta salinan pertama kontrak lima belas bulan dan meletakkannya di samping berita acara akhir. Sebelas syarat tulisan tangannya masih tampak: akses, perlindungan Dewi dan Sari, hak memberi bukti, consent, serta larangan menukar pembelaan dengan diam.
Semua syarat itu telah bekerja, tetapi bukan karena kertas memiliki moral. Orang-orang memaksa klausul ditaati, mencatat pelanggaran, dan membangun lembaga ketika perlindungan pribadi tidak cukup. Alena membawa salinan tersebut sebagai sejarah, bukan jaminan masa depan.
Sebelum berpisah, Alena berhenti di koridor tanpa kamera. Ia belum memasang cincin, belum mengajukan cerai, dan belum siap kembali ke penthouse. Namun satu bulan telah membuktikan ia dapat hidup tanpa akses Raka. Karena itu langkah berikutnya dapat sungguh menjadi pilihannya.
Ia meminta Raka menemuinya besok sebagai Alena dan Raka—tanpa pengacara, dewan, atau arsip.