===== BAB 78: Janji kepada Dewi =====
Alena menemukan surat persetujuan cerai yang sudah Raka tanda tangani.
Ia menunggu sampai malam untuk berbicara. Bukan agar marahnya reda, melainkan agar percakapan tidak terjadi di sela panggilan dewan atau pekerjaan. Raka datang ke ruang makan setelah Alena mengirim pesan singkat. Amplop diletakkan di tengah meja.
'Mengapa tidak memberikannya langsung?' tanya Alena.
'Saya takut menyerahkan kebebasan sambil menatapmu akan terasa seperti meminta jawaban.'
'Dan menyembunyikannya di brankas tidak terasa seperti keputusan sepihak?'
Raka menerima tusukan itu. 'Seharusnya saya memberi tahu bahwa dokumennya sudah siap tanpa meminta pilihan saat itu.'
Alena membaca setiap ketentuan bersamanya. Apartemen terpisah telah disewa atas nama firma Maya selama enam bulan. Keamanan dapat dipilih Alena dan tidak melapor kepada Raka. Biaya hukum tetap dibayar dari dana kontrak lama, bukan aset reparasi. Tidak ada hak kunjung, kerahasiaan, atau larangan berbicara.
'Anda menyiapkan hidup saya tanpa Anda,' katanya.
'Saya menyiapkan agar hidupmu tidak runtuh kalau kau memilih tanpa saya.'
'Apa yang Anda inginkan?'
Raka menatapnya. 'Saya ingin kau tinggal. Saya ingin perkawinan ini nyata setelah tanggal itu. Tetapi keinginan saya tidak boleh menjadi tagihan.'
Kejujuran tersebut lebih menyakitkan sekaligus menenangkan daripada pengorbanan diam. Alena meminta waktu satu bulan terpisah, dimulai sebelum kontrak berakhir. Ia perlu bekerja, tidur, dan membuat keputusan tanpa penthouse, pengawal pasangan, atau kebiasaan tubuh Raka di kamar sebelah.
Raka mengangguk, wajahnya pucat. 'Baik.'
'Jangan bilang baik kalau ini tidak baik.'
'Ini menyakitkan. Tetapi tetap harus boleh.'
Mereka menyusun batas praktis. Kontak hanya untuk perkara hukum, keadaan darurat, atau pekerjaan yang benar-benar beririsan. Tidak ada kunjungan mendadak. Mereka boleh menghadiri forum publik yang sama, tetapi tidak pulang bersama. Cincin dan status hukum tidak dipakai sebagai pesan media.
'Apakah kita tetap memakai kata suami dan istri?' tanya Raka.
'Secara hukum, ya. Secara pribadi, saya tidak ingin kata itu menjadi izin masuk.'
'Baik.'
Mereka menuliskan batas bukan karena saling curiga, melainkan agar kesepian nanti tidak mengubah satu pesan menjadi kewajiban membalas. Keadaan darurat didefinisikan sebagai ancaman fisik, panggilan pengadilan mendadak, atau risiko keselamatan publik—bukan malam buruk dan rasa rindu.
Raka meminta satu hal: bila Alena ingin mengakhiri perkawinan sebelum bulan terpisah selesai, ia mengirim lewat Maya agar proses tidak tertunda. Alena setuju. Sebaliknya, ia meminta Raka tidak menarik apartemen, keamanan, atau persetujuan cerai ketika merasa takut. Raka memberi kuasa tak dapat ditarik kepada Kresna untuk mempertahankan semuanya.
'Kita membuat kontrak untuk keluar dari kontrak,' kata Alena.
'Kali ini tidak ada harga untuk masuk.'
Alena hampir meraih tangannya, lalu berhenti. Jarak satu bulan belum dimulai, tetapi keputusan itu sudah mengubah cara sentuhan terasa. 'Boleh saya memeluk Anda malam ini?'
Raka mengangguk. Pelukan mereka lama dan sedih, tanpa janji bahwa perpisahan sementara pasti berakhir bahagia. Ketika Raka melepaskan lebih dahulu, Alena tahu ia memahami bahwa consent juga mencakup akhir sebuah sentuhan.
Mereka tidur di kamar masing-masing malam itu. Bukan hukuman, melainkan latihan pertama bahwa ruang terpisah dapat dipilih tanpa membatalkan cinta.
Sebelum pindah, Alena menemui Dewi. Ibunya tinggal kembali di Bekasi setelah ancaman mereda dan toko diperbaiki melalui dana korban, bukan uang pribadi Raka. Mesin jahit tempat kartu 2A disimpan kini berada di sudut sebagai benda biasa lagi.
'Apa Ibu ingin saya tetap dengannya?' tanya Alena.
Dewi menggeleng. 'Ibu meminta dia mengembalikanmu sebagai dirimu sendiri. Kalau Ibu memilihkan jawaban, Ibu mengambilmu lagi.'
'Saya mencintainya.'
'Cinta itu fakta tentang perasaan. Tinggal adalah keputusan tentang hidup.'
Dewi membantu melipat pakaian tanpa menilai mana yang tampak seperti baju istri dan mana milik Alena sebelum menikah. Tidak ada pemisahan semudah itu. Sebagian besar hidupnya kini memiliki kenangan bersama Raka, tetapi kenangan tidak sama dengan utang.
Hari pindah tiba empat minggu sebelum akhir kontrak. Sebelum kendaraan firma datang, Alena berjalan untuk terakhir kalinya melalui ruang audit penthouse yang hampir kosong. Papan bukti telah dipindahkan ke arsip regulator. Dua kamar tetap terbuka. Di meja makan, tak ada mikrofon, kontrak, atau kotak makanan dingin—hanya cincin polos pada jarinya.
Ia memutarnya sekali, mengingat Raka meminta izin sebelum memasangnya pada hari Minggu yang terasa sangat jauh. Lalu Alena melepaskan cincin, memasukkannya ke kotak miliknya sendiri, dan membawa kotak itu tanpa mengenakannya.
Maya memeriksa apartemen baru, kunci, tagihan, dan jalur keamanan. Raka tidak datang. Ia hanya mengirim daftar barang Alena yang tertinggal dan memberi izin staf firma mengambilnya tanpa pengawasan keluarga.
Daftar itu tidak memasukkan hadiah yang pernah diberinya sebagai milik Raka, termasuk cincin polos. Ia juga menandai barang bersama yang dapat dibiarkan sampai Alena memilih. Tidak ada bunga atau surat tersembunyi dalam kotak pindahan.
Wartawan mengetahui alamat gedung firma, tetapi Maya memperoleh larangan pengambilan gambar di lantai hunian. Alena mengeluarkan pernyataan tunggal bahwa perpindahan tempat tinggal adalah urusan privat dan bukan bukti perubahan kesaksian. Raka tidak memberi komentar yang dapat membentuk narasi tandingan.
Malam pertama, Alena memeriksa pintu tiga kali karena terbiasa dengan pengawal penthouse. Ia lalu membuka jendela, mendengar suara jalan biasa, dan menyadari keamanan yang dipilih sendiri terasa berbeda dari perlindungan yang diberikan sebagai bagian harga.
Ia mengirim konfirmasi tiba melalui kanal firma, bukan kepada Raka. Balasan otomatis menyatakan laporan diterima. Ketiadaan pesan pribadi menjadi bentuk pertama keduanya menaati jarak yang mereka pilih.
Alena mematikan berbagi lokasi yang dahulu diwajibkan protokol ancaman. Sistem meminta persetujuan dua kali, lalu peta penthouse kehilangan titiknya. Kebebasan itu kecil, sunyi, dan sepenuhnya miliknya. Pintu yang ditutupnya pagi itu tidak perlu dibuka lagi hanya untuk membuktikan perpisahan mereka nyata.
Alena melepas cincin polos lalu meninggalkan penthouse untuk satu bulan.