===== BAB 57: Pengakuan Dito =====
Dito akhirnya berkata bahwa ia tahu rumah fallback Kapten Kedua.
Pertemuan berlangsung di ruang wawancara regulator dengan dua kamera, seorang penyidik, pengacara Dito, Maya, dan pencatat independen. Alena duduk di sisi paling jauh. Sebelum rekaman dimulai, Maya memastikan kehadirannya tidak dianggap persetujuan atas kesepakatan apa pun. Jaksa hanya menawarkan pertimbangan kerja sama, bukan imunitas.
Dito tampak lebih kurus daripada terakhir kali mereka bertemu. Bekas luka di pelipisnya sudah menjadi garis pucat. Alena mengingat lelaki yang pernah membahas tempat resepsi dengannya, lalu mengingat kartu akses yang disalinnya. Kedua ingatan itu tidak perlu diperdamaikan.
Penyidik memulai dengan tanggal yang dapat diuji. Dito diminta menyebut tempat pertemuan, kendaraan, jumlah pesan, dan cara Bram memperkenalkan diri. Setiap jawaban disimpan sebelum jaksa memperlihatkan catatan yang sudah ada. Dua waktunya keliru hampir satu jam, tetapi nomor kamar klinik dan warna kartu kunci cocok dengan kamera serta inventaris. Ketidaksempurnaan ingatan dicatat, bukan diperbaiki oleh pewawancara.
Penyidik meminta Dito menceritakan semuanya tanpa dokumen di hadapannya. Ia mengaku Nadine mula-mula memintanya mengambil jadwal audit. Lalu ia mengoreksi pemeriksaan pertamanya: pengakuan bahwa ia belum pernah bertemu Kapten Kedua adalah kebohongan. Bram datang sendiri, memperkenalkan diri hanya dengan julukan itu, lalu mengubah permintaan menjadi kredensial penuh dan contoh tanda tangan Alena. Dito tahu akses tersebut tidak sah. Ia tetap menyerahkannya karena dijanjikan jabatan direktur, rumah, dan perlindungan setelah Nadine membantu Guntur mengambil perusahaan.
'Saya pikir mereka hanya menciptakan alarm,' katanya.
Alena menahan diri sampai penyidik mengizinkannya bertanya. 'Ketika seratus delapan puluh enam orang berada di udara, kau masih menyebutnya hanya alarm?'
Dito menunduk. 'Saya tahu risikonya setelah VX-408 meminta pendaratan prioritas.'
'Lalu kau memintaku diam.'
'Ya.'
Ia juga mengakui menghapus pesan, berbohong kepada regulator, dan memberi kesaksian palsu bahwa Alena menyuruhnya memakai kode Reno. Nadine membantu menyusun cerita, tetapi pilihan mengucapkannya tetap miliknya. Alena mendengar pengakuan itu tanpa rasa lega. Kebenaran yang datang setelah jalan keluar habis tidak mengembalikan kepercayaan.
Dito menyebut satu malam ketika ia hampir memberi tahu Alena, lalu memilih makan malam pertunangan seolah tidak terjadi apa-apa. Ia tampaknya mengharapkan kenangan itu menunjukkan penyesalan. Bagi Alena, justru di sanalah pengkhianatan menjadi paling jelas: ia memiliki pintu keluar dan menutupnya sendiri. Maya menyentuh lengan kursinya, bukan tubuh Alena, sebuah pengingat bahwa ia boleh meminta jeda. Alena memilih melanjutkan.
Kartu Alena disalin di ruang kerja Dito memakai pembaca yang dibawa Bram. Dito menggambar posisi alat dan menyebut satu goresan pada kabel. Ketika penyidik memperlihatkan foto alat depot, ia memilih unit yang benar dari empat perangkat serupa. Nomor goresannya cocok dengan barang sitaan. Identifikasi itu direkam sebelum ia diberi tahu hasilnya.
Dito kemudian menjelaskan penculikannya. Setelah mencoba mengambil server cadangan Nadine untuk menawar keselamatannya, ia menemui Bram di klinik swasta. Bram memukulnya dan memaksa rekaman baru, lalu membiarkannya ditemukan agar tampak sebagai korban Alena. Laporan medis, foto luka, dan pembayaran klinik diserahkan kepada penyidik. Klaim itu akan diuji; lebam tidak otomatis membuat seluruh ceritanya benar.
'Saya tidak meminta dimaafkan,' kata Dito kepada Alena.
'Bagus. Karena saya tidak memberikannya.' Alena menjaga suaranya tetap datar. 'Tetapi kalau alamatmu menyelamatkan bukti atau orang lain, saya tidak akan menolaknya hanya karena sumbernya kamu.'
Dengan sarung tangan, petugas membawa kartu kunci yang disimpan Dito dalam amplop bank. Dito menjelaskan tanda gores angka dua dibuat Bram sebagai penanda akses fallback. Nomor seri dipotret sebelum kartu dikeluarkan, lalu pembaca laboratorium mengautentikasi pola magnetiknya dengan pintu depot cadangan. Dito menggambar rute menuju rumah tanpa dibantu peta, kemudian penyidik membandingkannya dengan data pajak.
Alena bertanya mengapa kartu itu tidak diserahkan lebih awal. Dito mengaku menyimpannya untuk menawar Nadine dan Bram bila promosi gagal. Pengakuan tersebut merusak upayanya menggambarkan diri semata-mata korban, dan jaksa menambahkannya pada catatan plea. Tidak ada bagian buruk yang dihapus hanya karena alamatnya sekarang berguna.
Pengacara Dito meminta agar pernyataan tentang pemukulan dijadikan dasar pembebasan dari tuduhan sumpah palsu. Jaksa menolak di ruangan itu juga. Pemukulan terjadi setelah kebohongan pertama dan tidak memaksa pencurian kartu. Alena melihat Dito akhirnya memahami kerja sama berarti hukuman mungkin berkurang, bukan masa lalu berubah.
Rumah itu terdaftar atas nama perusahaan pemeliharaan yang menerima pembayaran dari rekening BW-2. Kamera jalan menunjukkan kendaraan Bram melintas dua kali dalam satu bulan. Polisi belum bergerak; mereka meminta pengawasan udara dan waran lebih dahulu agar kesaksian Dito bukan satu-satunya dasar.
Selama enam jam berikutnya, tim memeriksa pola sampah, meter listrik, dan sinyal perangkat. Rumah yang tampak kosong menggunakan daya besar setiap malam, cocok dengan alat pemulihan pita. Tidak ada anak atau penghuni lain terdeteksi. Polisi tetap menyiapkan jalur evakuasi tetangga dan ambulans. Alena mengusulkan pemutusan listrik, tetapi Sari mengingatkan Bram memakai baterai; mereka memilih pengawasan agar spool tidak dipindah karena panik.
Maya menyusun matriks dasar waran: kesaksian Dito pada satu kolom, data perusahaan cangkang pada kolom kedua, rekaman kendaraan pada ketiga, dan penggunaan daya pada keempat. Bila satu sumber runtuh, tiga lainnya masih dapat diuji. Alena menyimpan salinan matriks bersama log konflik kepentingannya sebagai istri Raka. Transparansi itu kelak mungkin terasa memalukan, tetapi jauh lebih aman daripada akses rahasia.
Raka tidak hadir dalam wawancara. Alena menemuinya di koridor setelah Dito dibawa kembali ke tahanan. Ia menceritakan fakta yang boleh dibagikan, bukan rincian tersegel. Raka bertanya apakah ia ingin pulang atau menunggu hasil pengawasan.
'Menunggu,' kata Alena. 'Dan aku tidak ingin Dito menjadi pembicaraan kita malam ini.'
'Baik.'
Raka tidak bertanya apakah pengakuan mantan tunangannya menyakitkan. Ia duduk di kursi sebelah dan membicarakan kondisi Sari, lalu diam ketika Alena perlu membaca laporan. Ruang yang diberikannya terasa lebih intim daripada tuntutan untuk menjelaskan perasaan.
Pukul satu dini hari, kamera pengawas bergerak menangkap satu sosok turun dari mobil sewaan. Pengenalan wajah tidak dipakai sebagai bukti final, tetapi bekas luka pada tangan dan cara berjalan cocok dengan Bram. Ia membawa kotak logam bundar. Mikrofon jarak jauh menangkap bunyi gulungan bergeser di dalamnya.
Penyidik membekukan gambar dan meminta ahli inventaris membandingkan kotak itu dengan wadah spool Bima. Ukuran serta penguncinya sama. Waran penangkapan dan penggeledahan ditandatangani hakim beberapa menit kemudian.
Kamera pengawas memperlihatkan Bram memasuki rumah fallback sambil membawa spool rekaman dalam kotak logam.