===== BAB 58: Rumah Kapten Kedua =====
Kamera pengawas memperlihatkan Bram memasuki rumah fallback sambil membawa spool rekaman dalam kotak logam.
Polisi menutup empat jalan tanpa menyalakan sirene. Alena berada di pusat komando dua blok dari rumah, ditemani Sari yang sudah diizinkan dokter bekerja terbatas melalui layar. Ia protes ketika Sari datang, tetapi sahabatnya menunjukkan surat medis dan menyerahkan keputusan lapangan kepada komandan. Tidak seorang pun dari mereka akan masuk perimeter.
Raka diminta mengidentifikasi suara Bram jika negosiasi terjadi. Sebelum menerima, ia bertanya apakah perannya dapat membahayakan operasi. Negosiator menjelaskan Bram mungkin memang menginginkan suaranya; semua percakapan harus melalui naskah dan tidak boleh memuat janji. Raka menyetujui batas itu.
Panggilan pertama tidak dijawab. Kamera termal menunjukkan Bram bergerak antara ruang belakang dan garasi. Tiba-tiba asap muncul dari cerobong yang tidak terhubung pada perapian. Sari mengenali lonjakan panas di ruang sempit tempat kotak logam dibawa.
Negosiator mengirim pesan bahwa waran berlaku dan Bram berhak keluar tanpa membawa apa pun. Tidak ada ancaman tentang hukuman atau janji keringanan. Bram membalas dengan foto Raka muda di kursi 2A dan menuntut Raka datang sendirian. Metadata foto menunjukkan file lama, bukan siaran langsung, tetapi tim tetap memeriksa rumah untuk sandera sebelum masuk.
Alena mendengar Bram menyebut dirinya istri yang membeli kebenaran. Raka menunggu naskah negosiator dan hanya menjawab, 'Keluar dengan tangan terlihat.' Ia tidak membela pernikahan mereka atau terpancing membicarakan ayahnya. Setelah sambungan putus, ia mengembalikan mikrofon, tangan gemetar tipis. Alena bertanya sebelum menyentuh pergelangannya; Raka mengangguk.
'Dia membakar spool,' kata Alena.
Komandan memerintahkan tim masuk karena penghancuran bukti dan risiko kebakaran. Pintu depan terbuka tanpa perlawanan, lalu alat kejut meledak dari ambang. Seorang petugas terlempar dan terluka di kaki. Bram keluar dari jendela belakang, menembakkan satu peluru ke lampu halaman, kemudian berlari menuju saluran servis.
'Raka!' teriaknya melalui pengeras yang dibawanya. 'Kalau mau tahu siapa yang menjatuhkan unit itu, kejar aku!'
Raka berdiri refleks. Alena melihat seluruh tubuhnya ingin bergerak menuju suara yang menghantui keluarganya. Namun petugas yang terluka jatuh di dekat pagar, sementara tas medis tim tertinggal beberapa meter.
Raka menoleh kepada komandan. 'Saya bisa membantu petugas?'
Setelah mendapat izin, ia merangkak di balik kendaraan pelindung dan menarik tas medis ke paramedis, bukan mengejar Bram. Alena tidak merasakan kemenangan romantis. Ia hanya melihat satu pilihan konkret yang berbeda dari pilihan Guntur tujuh belas tahun lalu: manusia lebih dahulu daripada dokumen dan dendam.
Pada denah pajak, Alena menemukan saluran servis berakhir pada dua titik. Tim mengejar jalur yang jelas menuju kanal, tetapi tanda ventilasi menunjukkan cabang lama menuju rumah kosong sebelah. Ia tidak memberi perintah. Ia menunjukkan temuan kepada komandan, menyebut sumber denah, lalu membiarkannya menilai.
Tim kedua dialihkan. Bram muncul dari lubang inspeksi di halaman tetangga dan mendapati tiga laras serta kamera badan mengarah kepadanya. Ia mencoba kembali ke lubang, terpeleset karena luka tangan, lalu ditangkap hidup. Petugas membacakan haknya sebelum satu pertanyaan diajukan. Kotak korek, kunci pintu, dan ponsel disita satu per satu dengan nomor barang.
Seorang petugas mematikan kamera sesaat ketika darah Bram mengenai lensa. Rekannya segera menyebutkan gangguan itu melalui radio dan mengambil alih dokumentasi. Alena mencatat jeda delapan belas detik dalam log observasi sebelum ada yang memintanya. Kekosongan kecil dapat menjadi celah besar di pengadilan; mengakuinya sekarang lebih kuat daripada berpura-pura rekaman sempurna.
Petugas yang terluka mengalami patah tulang, bukan luka tembak. Raka memberikan pernyataan singkat tentang pertolongan yang dilakukannya dan menyerahkan kemeja berjelaga jika diperlukan untuk rekonstruksi. Ia tidak memakai tindakannya di depan kamera media. Kresna bahkan meminta rumah sakit merahasiakan nama penolong sampai keluarga petugas diberi tahu.
Di dalam rumah, api telah memakan tepi spool, tetapi sistem pemadam portabel menghentikannya sebelum gulungan utama rusak. Ahli kebakaran memotret tungku, memisahkan abu, dan mengangkat kotak logam dengan penjepit. Sari tidak membuka spool. Ia hanya memeriksa indikator suhu dan menyatakan media mungkin masih dapat dipulihkan.
Pencarian lanjutan menemukan buku kode di bawah lantai, dua kartu identitas palsu, dan foto pengawasan Dewi. Alena tidak diizinkan melihat foto pribadi sebelum penyidik memilah relevansinya. Ketika diberi daftar, ia mengetahui Bram telah mencatat jadwal obat Dewi. Rasa marah membuatnya ingin masuk ruang interogasi, tetapi ia meminta Maya memastikan ancaman terhadap ibunya didakwa dan tetap berada di balik kaca.
Sari membawa spool ke kendaraan suhu stabil bersama dua petugas. Pengukur mencatat suhu setiap menit, karena panas dapat mengubah pita dan memberi alasan meragukan hasil. Di laboratorium, bagian terbakar dipisahkan dari gulungan utuh; keduanya tetap disimpan. Pemulihan hanya dilakukan pada salinan magnetik, tidak pada media asli.
Ambulans membawa petugas terluka dan Bram ke rumah sakit berbeda. Raka kembali ke pusat komando setelah paramedis mengambil alih. Ada jelaga di kemejanya. Ia bertanya apakah Alena baik-baik saja sebelum meminta izin memeluknya. Alena mengangguk, lalu menahan tubuhnya beberapa detik.
'Kau tidak mengejarnya,' kata Alena.
'Aku mendengar rencanamu sejak Hangar Tujuh.'
'Itu pilihanmu, bukan rencanaku.'
Raka mengangguk. Pemisahan itu penting. Alena mencintainya bukan karena ia patuh, melainkan karena ia mulai memilih keselamatan tanpa membutuhkan seseorang memaksanya.
Setelah dokter menyatakan Bram layak diperiksa, pengacaranya hadir di ruang wawancara. Alena menyaksikan melalui kaca satu arah bersama Maya dan penyidik utama. Bram tidak diberi akses pada laporan pemulihan spool. Ia tersenyum ketika nama Guntur disebut, seolah masih memegang satu rahasia yang dapat ditukar.
Penyidik menanyakan apakah Guntur menyuruhnya menjatuhkan VX-217. Bram meminta kalimatnya dicatat utuh. Alena memperhatikan tangannya yang dibalut, wajah tanpa nama samaran, dan jeda yang dipilihnya sebelum menjawab.
Bram berkata Guntur tidak pernah memerintahkan VX-217 jatuh; ia hanya memerintahkan buku itu kembali.