===== BAB 5: Kontrak Dua Belas Bulan =====
'Kalau kau menjadi istriku, kau mendapat kursi di meja yang selama ini mengubur nama ayahmu.'
Alena menerima kartu hitam itu, bukan sebagai hadiah, melainkan barang bukti. Minggu pagi tinggal kurang dari dua hari. Dalam waktu sesingkat itu, ia harus mengakhiri rencana hidup bersama Dito, memindahkan ibunya, dan menikahi lelaki yang belum seminggu lalu hanya dikenalnya dari layar rapat.
Maya memastikan akta, klausul kontrak, dan identitas mereka sah. Kresna mengatur upacara sipil tertutup di rumah Mawar. Tidak ada gaun pengantin, undangan, atau janji romantis. Namun kabar bocor pada Sabtu siang. Wartawan mengepung toko Dewi dan mempertanyakan apakah putrinya menjual diri untuk lolos dari perkara.
Dewi mematikan televisi di kamar aman hotel. 'Kau sungguh akan menikah dengannya?'
'Selama lima belas bulan.'
'Pernikahan bukan sewa apartemen.'
'Bagi keluarga Dirgantara, ini dokumen pengendali perusahaan.'
Dewi menatapnya dengan kesedihan lama. 'Keluarga itu mengambil ayahmu. Jangan biarkan mereka mengambilmu juga.'
Alena menunjukkan foto log akses dan menjelaskan hak audit yang akan ia peroleh. Ibunya menyentuh wajah Reno pada layar.
'Malam sebelum peluncuran, ayahmu bilang ada akun yang tidak boleh diketahui publik,' ujar Dewi. 'Ibu mengira dia bercanda tentang pejabat. Setelah kecelakaan, dua orang mengambil tas terbangnya sebelum polisi datang.'
'Mengapa Ibu tidak pernah bilang?'
'Karena mereka tahu sekolahmu. Mereka menyebut namamu.'
Rahasia itu membuat kemarahan Alena pecah. Ia berjalan ke balkon, menangis tanpa suara, bukan karena Dewi menyembunyikannya, melainkan karena ancaman tersebut berhasil membungkam keluarganya tujuh belas tahun.
Raka datang membawa pakaian Dewi dari toko. Ia berhenti di ambang pintu, meminta izin sebelum masuk. Dewi menanyainya langsung.
'Apakah keluargamu membunuh suamiku?'
'Saya belum tahu.'
'Apakah kau akan mengatakan yang sebenarnya jika jawabannya ya?'
'Saya menandatangani kewajiban untuk itu.'
'Kertas tidak punya rasa takut.'
'Saya punya.' Raka tidak mengalihkan pandangan. 'Justru itu alasan saya membutuhkan Alena di ruangan tersebut.'
Dewi kemudian meminta berbicara empat mata dengan Raka. Alena tidak mendengar isi percakapan, hanya melihat ibunya memberikan foto keluarga lama. Ketika Raka keluar, matanya merah tetapi wajahnya tetap tenang. Ia mengatakan Dewi memintanya mengembalikan Alena sebagai dirinya sendiri setelah lima belas bulan. Raka tidak menjanjikan kebahagiaan; ia hanya berjanji tidak akan menahan Alena dengan uang, ancaman, atau rasa bersalah.
Janji sederhana itu lebih berarti daripada bunga. Alena memasukkan satu salinan kontrak ke tas dan satu lagi ke brankas Maya. Ia juga merekam pernyataan bahwa keputusan menikah dibuat sadar, agar Nadine tidak dapat menuduhnya diculik atau dipaksa. Setiap langkah terasa dingin, tetapi dingin adalah satu-satunya cara menjaga kepalanya tetap jernih.
Dewi memberi restu dengan syarat tidak ada kebohongan yang dibiarkan demi mempertahankan rumah tangga. Alena menjanjikan bahwa bila Raka terbukti menjebak Reno, cincin dan kontrak tidak akan menghalanginya bersaksi.
Malamnya, Alena menerima gaun sederhana warna gading dari Mawar, tetapi memilih setelan putih miliknya sendiri. Ia tidak ingin memakai simbol keluarga yang belum dipercayainya. Pada Minggu pukul sembilan, ia berdiri di ruang matahari rumah Menteng bersama Raka, Mawar, Dewi, Maya, dan Kresna.
Petugas pencatat membacakan kewajiban hukum. Ketika diminta mengucapkan persetujuan, Alena melihat Raka. Tidak ada cinta di sana, hanya kesadaran bahwa keduanya sedang melangkah ke tempat berbahaya.
'Saya bersedia,' kata Alena.
Raka mengucapkan hal sama. Mereka menandatangani akta. Mawar menyerahkan cincin keluarga, tetapi Raka mengeluarkan cincin polos yang telah dipilih sesuai ukuran Alena.
'Tidak ada lambang perwalian,' katanya pelan.
Alena mengangguk dan mengizinkannya memasang cincin. Saat gilirannya, jari Raka terasa dingin. Kamera resmi mengambil satu foto, lalu pintu depan bergemuruh oleh wartawan yang mengetahui lokasi.
Kresna menyarankan mereka tampil bersama selama dua menit. Di teras, teriakan pertanyaan menyerang: apakah Alena hamil, apakah pernikahan ini suap, apakah Raka menutupi sabotase?
Raka menawarkan telapak tangannya tanpa menyentuh. Alena meletakkan tangannya di sana sebagai persetujuan. Ia menyatakan akan tetap bekerja sama dengan regulator dan perkawinan tidak mengubah pencarian fakta. Raka mendukung pernyataannya.
Nadine muncul di antara wartawan, mengenakan setelan merah. 'Sepupuku cepat sekali mengubah tersangka menjadi istri. Semoga akun VX-408 menghargai kisah cinta kalian.'
'Mereka lebih menghargai bukti yang tidak kau kirim ke media sebelum server mendarat,' balas Alena.
Kerumunan meledak. Wajah Nadine menegang, tetapi Guntur menariknya pergi.
Setelah konferensi singkat, Raka membawa Alena ke penthouse perusahaan. Dua kamar berada di sisi berbeda, dan ruang kerja kecil telah diubah menjadi pusat audit untuknya. Semua sesuai kontrak. Ia bahkan menempelkan daftar staf keamanan pilihan Maya.
'Rapat perwalian besok pukul delapan,' kata Raka. 'Setelah hak suara aktif, kita ke Hangar Arsip Tujuh.'
'Tidak ada alasan menunggu.'
'Kuncinya membutuhkan autentikasi pasangan perwalian yang baru aktif tengah malam.'
Mereka makan malam dalam keheningan canggung. Tanpa jas, Raka tampak lebih muda dan lebih lelah. Alena bertanya mengapa ia belum menikah sebelumnya jika syarat perwalian begitu penting.
Di meja itu mereka menyepakati kebiasaan rumah: tidak memasuki kamar tanpa ketukan, tidak memakai informasi keluarga untuk konferensi pers tanpa pemberitahuan, dan sarapan tidak wajib. Hal-hal remeh tersebut membuat perkawinan mereka terasa anehnya nyata. Alena bahkan memilih rak dapur sendiri, lalu membenci dirinya karena memperhatikan Raka mengingat ia tidak minum kopi setelah malam.
'Karena aku menolak menjadikan seseorang alat keluarga,' jawabnya.
'Sampai saya.'
'Sampai seseorang mencoba menjadikanmu korban keluarga. Kepentingan kita bertemu.'
Alena tidak tahu apakah kejujuran itu menenangkan. Sebelum masuk kamar, Raka menegaskan pintunya dapat dikunci dari dalam dan staf tidak akan masuk tanpa izin.
Pada pukul sebelas lima puluh delapan, kartu hitam Alena menyala. Pada saat sama, sebuah pesan anonim masuk disertai foto Dewi sedang tidur di kamar hotel, diambil dari dalam ruangan. Pengawal di koridor tidak melihat penyusup.
Pesan berikutnya muncul sebelum Alena sempat menelepon ibunya.
'Berhenti mencari akun tanpa nama, atau ibumu akan mengulang peluncuran terakhir Reno.'