===== BAB 6: Kunci dari Kemarin =====
'Berhenti mencari akun tanpa nama, atau ibumu akan mengulang peluncuran terakhir Reno.'
Raka membaca pesan itu sekali, lalu menelepon kepala keamanan luar yang dipilih Maya. Alena sudah berlari menuju lift. Ia tidak peduli pada protokol sampai Raka menghalangi pintu dengan lengannya.
'Jika foto itu umpan, mereka menunggu kau keluar tanpa pengawalan.'
'Minggir.'
'Aku ikut.'
Mereka tiba di hotel dua puluh menit kemudian. Dewi selamat, masih tidur akibat obat penenang ringan yang biasa diminumnya. Kamera koridor mati selama sembilan puluh detik. Jendela terkunci dan pengawal tidak meninggalkan pos. Foto ternyata diambil melalui lubang ventilasi kamar mandi dengan perangkat kecil yang masih terselip di sana.
Alena memeluk ibunya setelah bangun. Dewi menyalahkan diri sendiri karena menjadi kelemahan, tetapi Alena menolak kata itu.
'Ibu bukan kelemahanku. Orang yang meneror kita adalah pengecut.'
Raka memindahkan Dewi ke rumah aman milik kantor Maya, bukan aset Dirgantara. Keputusan itu membuat Alena sedikit melonggarkan bahunya. Saat fajar, mereka kembali ke penthouse tanpa tidur.
'Kau boleh membatalkan semuanya,' kata Raka. 'Hak suara sudah aktif setelah akta tercatat, tetapi aku tidak akan menahanmu.'
'Kalau saya berhenti, ancaman itu berhasil.'
'Aku perlu tahu keputusanmu bukan karena merasa berutang.'
'Saya tidak berutang kepada Anda.'
Untuk pertama kali, Raka hampir tersenyum. 'Bagus.'
Rapat perwalian dimulai pukul delapan. Guntur menolak keabsahan Alena sebagai pengawas risiko karena statusnya dalam penyelidikan. Maya menunjukkan bahwa Alena belum didakwa dan kontrak perwalian tidak melarang pihak yang diperiksa. Mawar mengaktifkan dua puluh persen suara. Penjualan divisi audit tertunda tiga puluh hari sambil menunggu audit independen.
Nadine menyerang dari sisi pribadi. Ia menampilkan foto pertemuan Alena dengan Dito dan menuduh istri baru Raka bersekongkol dengan mantan tunangannya. Alena menjelaskan flash drive Dito serta menyerahkan salinan percakapan Nadine dengan BW. Guntur menyebutnya rekayasa.
'Kalau begitu izinkan forensik memeriksa ponsel kalian,' kata Alena.
Tak satu pun bersedia.
Di luar ruang rapat, media menunggu pasangan baru itu. Konsultan komunikasi meminta ciuman singkat untuk meredam narasi perkawinan palsu. Alena menolak sampai Raka berkata keputusan sepenuhnya miliknya.
Di depan kamera, Raka mengangkat tangan setinggi pipinya tanpa menyentuh. Itu isyarat yang tertulis dalam kontrak. Alena mengangguk. Bibir mereka bertemu singkat, cukup lembut untuk mengejutkannya dan cukup terukur untuk tidak melanggar batas. Namun ketika Raka mundur, tangan Alena masih mencengkeram dasinya.
Mereka saling menatap sepersekian detik terlalu lama. Kemudian pertanyaan wartawan memecah momen itu.
Perjalanan ke Hangar Arsip Tujuh berlangsung tanpa pembicaraan tentang ciuman. Bangunan tua di sisi timur kompleks sudah tidak digunakan untuk server. Kunci kuningan Pak Idris membuka pintu dalam, sedangkan kartu pasangan mereka mengaktifkan ruang bawah lantai.
Di sana tersimpan barang dari insiden keluarga yang tidak pernah masuk arsip perusahaan: koper, kartu identitas, pita rekaman, dan kotak hitam tiruan untuk pelatihan. Rak VX-217 berisi tas terbang Reno.
Alena memeluk tas kulit itu ke dada. Bau debu dan minyak lama memanggil ingatan ayahnya pulang membawa cokelat dari kota lain. Di saku tersembunyi, ia menemukan buku catatan dengan beberapa halaman disobek. Halaman terakhir mencatat kursi 2A, perubahan berat pusat data, dan kode keselamatan MP-1708.
'Itu kode ayah saya,' katanya. 'Tanggal lahir dan inisialnya.'
Raka memeriksa terminal lama di sudut ruang. Kode yang sama muncul pada log VX-408, digunakan untuk membuka modul pelepasan komponen. Seseorang bukan hanya menyalin akses Alena; orang itu sengaja meninggalkan tanda milik Reno.
Sari membandingkan urutan pengetikan. Pelaku berhenti setelah empat karakter pertama, seolah mengingat kode dari kebiasaan lama, lalu memasukkan sisanya tanpa jeda. Menurutnya, kode itu bukan ditemukan di kertas pada malam sabotase; orang tersebut telah menghafalnya. Alena ingat Reno memakai susunan yang sama untuk koper dan buku harian, sesuatu yang hanya mungkin dilihat orang dekat.
Mereka memeriksa daftar teknisi lama. Tiga telah meninggal, dua pindah ke luar negeri, dan satu bekerja sebagai konsultan Mitra Core. Raka memerintahkan Kresna mencari mereka secara sah tanpa memberi tahu tim internal. Alena menambahkan nama Guntur dan Mawar, menolak menganggap usia atau hubungan keluarga sebagai alasan untuk melewatkan pemeriksaan.
Sebelum meninggalkan ruang cadangan, Alena menemukan bekas sepatu baru di debu belakang terminal. Ukurannya besar dan solnya memiliki pola seragam keamanan Dirgantara. Kamera ruang itu mati sejak enam bulan lalu atas permintaan Nadine dengan alasan penghematan. Kebetulan demi kebetulan mulai membentuk jalan yang mengarah pada pusat keluarga.
Auditor menemukan goresan angka dua pada casing terminal. Pak Idris melalui telepon mengatakan semua alat Hangar Tujuh memakai angka Romawi. Goresan itu mungkin penanda Kapten Kedua. Alena mengenali bentuk serupa pada belakang kartu akses Dito. Jejak tersebut belum cukup untuk menuduh, tetapi menghubungkan sabotase sekarang dengan arsip lama.
Sari menyegel foto goresan, sedangkan Raka meminta pemeriksaan semua kartu keamanan. Alena melarang pemeriksaan dilakukan tim Nadine. Mereka memilih laboratorium luar agar hasilnya tidak dapat diubah diam-diam.
Pemeriksaan dimulai segera.
'Ini pesan,' ujar Raka.
'Atau usaha membuat ayah saya tampak bersalah lagi.'
Suara pintu logam terdengar di atas. Sari, yang ikut bersama auditor, melapor ada koneksi jarak jauh menarik data terminal. Ia memutus jaringan sebelum semua log terhapus. Alamat perangkat mengarah ke ruang kerja Dito.
Alena menelepon Dito. Sambungan terangkat, tetapi hanya napas terburu-buru yang terdengar.
'Aku tidak memakai kode itu,' katanya. 'Nadine memberiku kartu lama dan bilang kode tersebut milik sistem cadangan.'
'Di mana Nadine mendapatkannya?'
'Dari seseorang yang disebut Kapten Kedua. Aku tak pernah bertemu dia.'
Terdengar benturan. Dito berbisik bahwa seseorang memasuki apartemennya, lalu sambungan terputus.
Raka mengirim polisi dan keamanan. Alena menatap kode pada layar. Orang yang menciptakannya telah mati tujuh belas tahun lalu; hanya keluarga, penyelidik lama, atau akun tersembunyi yang mungkin mengetahuinya.
'Seseorang memakai kode keselamatan milik ayahmu tujuh belas tahun setelah dia meninggal.'