===== BAB 37: Kotak Kesembilan =====
Tanda terima menyebut Pak Idris menyerahkan kotak kesembilan kepada Bima malam sebelum Bima meninggal.
Pak Idris membaca salinan tanda terima di ruang wawancara regulator sambil menggenggam ujung lengan bajunya. Sejak ancaman terakhir, ia tinggal di lokasi perlindungan yang alamatnya bahkan tidak diketahui tim audit. Alena datang bersama Maya dan seorang penyidik; Raka menunggu di ruang lain agar keberadaan keluarga Dirgantara tidak menekan jawaban.
'Saya pikir Pak Bima akan bicara,' kata Idris. 'Ia datang tanpa sopir. Wajahnya seperti orang yang sudah terlalu lama menghafal satu kebohongan.'
Idris menjelaskan kotak itu berasal dari sisa pemindahan arsip setelah VX-217. Bima meminta sembilan kotak dikumpulkan, tetapi hanya delapan masuk gudang perusahaan. Kotak kesembilan ditaruh Idris di ruang perwalian agar Guntur tidak dapat memerintahkan pemusnahan melalui Vantara. Bertahun-tahun kemudian, Bima menghubunginya lagi dan mengatakan waktunya hampir habis.
'Mengapa tidak diserahkan kepada regulator saat itu?' tanya Alena.
'Saya takut. Pak Bima bilang cincin akan menunjukkan siapa yang boleh membuka. Saya membiarkan ketakutan terdengar seperti kehati-hatian.'
Alena tidak memberi pengampunan yang tidak diminta. Ia mencatat pengakuan itu dan meminta Idris menggambar jalur pemindahan. Kotak dibungkus di ruang arsip lama, dibawa sendiri dengan mobilnya, lalu diterima petugas perwalian bernama Surya. Buku tamu dan kamera bank harus menguji cerita tersebut.
Pemeriksaan silang dilakukan sebelum mereka bergerak ke ruang perwalian. Buku tamu lama memperlihatkan tanda tangan Idris pada malam yang disebutnya. Kamera arsip, meski gambarnya bersemut, merekam mobil dan kotak seng dengan pita kain yang sama seperti pada foto tanda terima. Surya kini pensiun; ia diwawancarai terpisah dan mengenali prosedur identifikasi ganda, bukan isi kotak. Tiga sumber itu tidak membuktikan isi belum berubah, tetapi mendukung jalur penitipan awal.
Surat pengadilan membuka akses sore itu. Di ruang perwalian, kustodian memeriksa tanda terima asli, identitas Idris, dan cincin keluarga yang dibawa dari lemari bukti. Segel cincin dibacakan di kamera sebelum dibuka. Enam belas guratannya ditempatkan pada pembaca mekanis tanpa dikenakan oleh siapa pun. Alena merasa lega melihat simbol keluarga itu diperlakukan sebagai alat bukti, bukan lambang hak atas dirinya.
Pembaca memutar dua kali. Pintu kecil nomor sembilan terbuka dengan bunyi logam berat. Di dalamnya ada kotak seng berlapis kain, segelnya tua tetapi tidak pecah. Kustodian memindahkan kotak ke meja pemeriksaan. Semua sisi difoto, residu diambil, dan nomor serat pengikat dicatat sebelum tutup dipotong.
Sesudah pembukaan, cincin tidak dibiarkan di meja. Kustodian membersihkan hanya permukaan pembaca, bukan barang bukti, lalu memasukkan cincin ke kantong baru. Nomor segel lama dan baru dicatat berdampingan. Alena menyaksikan Raka memandangnya tanpa meminta memegang. Enam belas guratan itu telah membuka kotak, tetapi tidak memberi keluarga mereka hak khusus atas apa yang ada di dalamnya.
Isi pertama adalah spool suara dalam wadah kedap udara. Label tulisan tangan menyebut rekaman pribadi Bima, dibuat beberapa bulan sebelum kematiannya. Di bawahnya terdapat buku catatan, daftar nama pembayaran, dan amplop untuk Raka. Buku pembelian asli yang selama ini dicari tidak ada.
'Jangan buka amplop itu sendirian,' kata Alena ketika Raka dipanggil masuk.
'Aku tidak akan.'
Ia menyerahkannya kembali kepada kustodian. Karena amplop disebut dalam inventaris perkara, penyidik membuka dan memindai isinya di hadapan mereka. Surat tersebut berisi permintaan maaf Bima kepada anaknya, tetapi Alena tidak membiarkan kata ayah yang menyesal mengaburkan fungsi dokumen. Tiga baris menyebut ekstraksi Raka, dokter Julian, dan keputusan menyembunyikan manifest.
Spool tidak langsung diputar. Ahli audio memeriksa usia pita, pola sambungan, serta kondisi wadah. Ia membuat citra suara melalui mesin yang dikalibrasi, merekam proses pada video, dan menyimpan spool asli kembali ke kotak baru. Tim hanya menerima salinan kerja dengan hash yang ditandatangani.
Kotak memiliki ruang tipis di bawah lapisan kain. Pemindaian sinar rendah menemukan bekas persegi seukuran buku, tetapi ruang itu kosong. Serat kertas yang tertinggal di sudut diambil dengan pinset dan disimpan. Artinya buku utama mungkin pernah berada bersama spool sebelum dipindahkan. Alena menolak menyimpulkan Bram yang mengambilnya; jejak waktu pemindahan belum diketahui.
Idris melihat foto ruang kosong dan mengingat berat kotak pernah lebih besar ketika pertama dititipkan. Ingatan tersebut dicatat sebagai keterangan, bukan ukuran. Tidak ada catatan timbangan lama. Meski demikian, ketiadaan buku kini memiliki bentuk fisik yang dapat diperiksa, bukan hanya cerita orang yang ketakutan.
Catatan Bima lebih mudah dibaca, tetapi setiap halaman tetap difoto sebelum disentuh. Beberapa bagian mengakui pembayaran kepada saksi. Bagian lain berisi rencana menyerahkan rekaman kepada keluarga korban. Tanggal rencana itu hanya dua hari sebelum kematiannya. Tidak ada bukti penyerahan pernah dilakukan.
Alena menemukan satu halaman tercabut di tengah. Bekas tekanan menyisakan kata Kapten dan salinan. Ahli dokumen menaruh lembar di bawah cahaya miring tanpa menggosok permukaan. Kalimat lengkap belum terlihat, sehingga Alena meminta halaman itu disegel untuk pemeriksaan elektrostatis.
Hasil awal keluar malam hari. Tekanan tulisan membentuk kalimat yang sama dengan catatan paling belakang. Bima menulis bahwa Guntur mengelola keputusan, tetapi orang lapangan menyimpan cadangan buku pembelian sebagai perlindungan bagi dirinya sendiri. Inisial BW muncul di margin.
Raka membaca dari seberang meja. 'Bima tahu Bram punya buku itu.'
'Ia menulis dugaan berdasarkan apa?' tanya Alena.
Tidak ada lampiran yang menjawab. Catatan itu harus tetap disebut pernyataan Bima sampai rekaman atau bukti lain menguatkannya. Alena memerintahkan agar berita penemuan kotak tidak disampaikan ke Vantara sebelum perintah perlindungan saksi diperbarui.
Pada baris terakhir, tulisan Bima menekan kertas begitu kuat hingga hampir merobeknya.
Catatan terakhir Bima berbunyi, 'Guntur tidak bekerja sendiri; Kapten Kedua memegang salinannya.'