===== BAB 36: Kantor Orang Mati =====
Sinyal terakhir Bram memantul dari kantor Bima yang disegel sejak kematiannya.
Surat penggeledahan terbit menjelang fajar. Alena tiba di gedung yayasan bersama Maya, Sari, dua penyidik, ahli segel, dan perwakilan pengelola warisan. Raka hadir sebagai ahli waris yang melepaskan keberatan, tetapi berdiri di luar garis kuning sampai penyidik memanggilnya. Tidak seorang pun membawa kunci keluarga tanpa dicatat.
Segel pintu tampak utuh dari kejauhan. Ahli memotretnya dengan penggaris skala, lalu menunjukkan sayatan tipis pada lapisan bawah. Stiker asli pernah diangkat dengan panas dan ditempel kembali. Nomor seri masih sama, cukup untuk menipu pemeriksaan sepintas. Setelah sampel perekat diambil, kustodian membuka pintu menggunakan kunci dari brankas pengadilan.
Udara di dalam berbau kertas tua dan pendingin yang lama mati. Meja Bima menghadap jendela tertutup. Debu menutupi sebagian besar permukaan, kecuali jalur sempit menuju lemari arsip dan satu lingkar bersih di bawah router. Alena menahan diri untuk tidak melangkah mengikuti jalur itu. Tim fotografi harus menyelesaikan gambar sebelum pencarian dimulai.
Kamera perangkap tersembunyi ditemukan di balik kisi buku. Perangkatnya buatan lama, tanpa koneksi luar, dan kartu memorinya masih terpasang. Penyidik melepasnya dengan sarung tangan, mencatat orientasi, lalu menyegel kartu untuk dicitrakan di laboratorium. Router juga dibungkus dalam pelindung sinyal agar log volatil tidak berubah oleh koneksi baru.
Panel servis belakang memperlihatkan goresan baru pada pengunci. Ahli jejak mengambil cetakan debu dari lantai dan menemukan pola sol yang masuk, berhenti di depan router, lalu keluar melalui jalur sama. Tidak ada jejak menuju laci Bima. Sosok tadi malam tampaknya datang untuk jaringan, bukan mencari berkas. Alena meminta ukuran sepatu tidak dipakai untuk identifikasi sebelum dibandingkan dengan rekaman dan barang sitaan.
Di bawah meja ada cangkir dengan noda kopi yang belum sepenuhnya kering. Penyidik mengusap bagian bibir untuk DNA dan mengemas cangkir terpisah. Hasilnya tidak akan cepat, tetapi benda kecil itu dapat menempatkan seseorang dalam ruangan yang secara resmi tak pernah dimasuki siapa pun.
Lemari pertama berisi korespondensi keluarga korban. Bima menyimpan salinan surat yang tak pernah dijawab Vantara, foto memorial, dan daftar pembayaran kepada klinik serta mantan petugas operasi. Beberapa pembayaran diberi kode bantuan, lainnya bertanda diam. Alena melihat nama Pak Idris, Julian, dan dua teknisi yang sudah meninggal. Peta garis merah menghubungkan perusahaan cangkang Guntur dengan rekening tersebut.
Satu surat ditulis Ratih pada tahun pertama setelah kecelakaan. Sudutnya aus, seolah berkali-kali dibuka, tetapi tidak ada konsep jawaban. Alena membayangkan Bima membaca duka itu lalu tetap menghadiri rapat yang mempertahankan nama Reno sebagai penyebab. Menyimpan surat bukan bentuk keberanian. Tanpa tindakan, rasa bersalah hanya menjadi koleksi pribadi orang yang masih memegang kuasa.
Ia meminta korespondensi dipisahkan dari peta pembayaran. Surat korban mengandung alamat dan kisah keluarga yang tidak perlu tersebar dalam berkas keuangan. Kustodian membuat kategori akses terbatas, sementara daftar keberadaan surat tetap masuk inventaris umum. Transparansi tidak berarti mengorbankan privasi orang yang sudah lebih dulu dirugikan.
Raka dipanggil untuk mengenali tulisan ayahnya. 'Ini tangan Bima,' katanya, lalu menambahkan, 'Pernyataan saya harus diuji ahli dokumen.' Ia tidak meminta surat korban disisihkan sebagai urusan pribadi.
Di laci bawah, Alena menemukan map berlabel namanya. Ia tidak membukanya sendiri. Penyidik memotret posisi, mengangkat map, dan membacakan label sebelum menaruhnya di meja pemeriksaan. Isinya adalah salinan permintaan audit yang Alena kirim selama tiga tahun, catatan penolakan dewan, serta potongan agenda pertemuan yang bahkan tidak pernah ia hadiri.
Bima telah mengikuti upayanya lebih lama daripada yang ia bayangkan. Beberapa halaman memuat catatan singkat: jangan biarkan Guntur tahu; periksa lot lama; Idris masih hidup. Itu bisa berarti Bima berusaha membantu dari jauh atau memastikan Alena tidak mendekati pusat rahasia. Alena menuliskan kedua kemungkinan dalam catatan lapangan.
'Ayahku tahu kau mencari,' kata Raka.
'Mengetahui bukan sama dengan menolong. Kalau ia punya ini tiga tahun, ia juga memilih tidak menyerahkannya.'
Raka menerima kalimat itu dengan wajah tegang. 'Masukkan semuanya.'
Di balik panel kayu, ahli menemukan kompartemen berisi tanda terima kotak arsip VX-217, gulungan peta pembayaran, dan kunci mekanis yang sudah berkarat. Tidak ada buku pembelian asli. Tanda terima berasal dari ruang perwalian swasta, tempat benda hanya dapat dikeluarkan dengan identifikasi ganda dan token fisik terdaftar.
Nomor kotaknya bukan 217, melainkan sembilan. Kolom penitip mencantumkan Idris. Kolom penerima mencantumkan Bima sehari sebelum kematiannya. Pada bagian token tertulis lingkar enam belas alur, deskripsi yang langsung mengingatkan Alena pada cincin keluarga yang kini tersegel sebagai barang bukti.
Kamera perangkap memberi kejutan lain setelah citranya dibuat. Sebagian besar rekaman memperlihatkan ruangan kosong. Malam sebelumnya, sosok bertopi masuk dari panel servis belakang, menyalakan router, dan berdiri di luar sudut wajah. Tinggi serta cara berjalan belum cukup untuk menyebut Bram. Namun sarung tangannya membawa lambang vendor yang pernah menangani ventilasi rumah aman Dewi.
Alena meminta satu cuplikan kerja dikirim kepada penyidik lapangan dan melarang penyebaran ke dewan. Gambar itu petunjuk, bukan identifikasi.
Menjelang siang, seluruh barang ditempatkan dalam kotak terpisah. Daftar inventaris dibacakan, ditandatangani kustodian dan saksi, lalu kantor disegel dengan nomor baru. Alena keluar paling akhir setelah memastikan map namanya tidak tertinggal di meja.
Di lorong, Raka memandang tanda terima melalui plastik bukti. Tidak ada kebanggaan karena ayahnya mungkin pernah berniat mengaku. Hanya fakta bahwa niat itu datang setelah tujuh belas tahun diam.
Tanda terima menyebut Pak Idris menyerahkan kotak kesembilan kepada Bima malam sebelum Bima meninggal.