===== BAB 35: Telepon Kedua =====
Rekaman telepon menunjukkan Bram mengancam membongkar hubungan dan kejahatan mereka bila Nadine berhenti.
Ahli suara belum selesai membuat kesimpulan ketika citra telepon menghasilkan peta hubungan yang lebih luas. Sari menampilkan simpul tanpa memberi warna pada nama tersangka; ia ingin pola koneksi terlihat sebelum tim tergoda membangun cerita. Alena berdiri di depan layar bersama Maya dan petugas regulator, membaca waktu, menara seluler, serta nomor pesanan yang saling berpotongan.
Satu nomor prabayar menghubungi Nadine enam menit sebelum petugas kebersihan palsu memasang mikrofon di penthouse. Nomor lain membayar percetakan yang membocorkan halaman kontrak pernikahan. Akun pesan BW mengirim foto lorong Hangar Tujuh pada malam serangan dan menerima laporan dari vendor ventilasi dua jam sebelum penyusup memasuki rumah aman Dewi.
Setiap simpul memiliki penopang berbeda: rekaman gerbang, faktur, lokasi perangkat, atau pesan. Alena meminta Sari memberi tanda putus-putus pada hubungan yang baru berdasarkan pengakuan Nadine. 'Kalau peta ini masuk laporan, pembaca harus tahu mana yang terbukti dan mana yang masih perlu surat data.'
Maya mengajukan permintaan terbatas untuk nomor-nomor itu. Jawaban operator memperkuat tiga hubungan dan menggugurkan satu dugaan. Petugas kebersihan ternyata tidak menelepon Bram langsung; ia menerima instruksi dari mandor vendor yang dibayar perusahaan cangkang. Rantai yang lebih panjang tidak membuat tanggung jawab hilang, tetapi Alena menolak memendekkannya demi gambar yang lebih dramatis.
Mereka membentangkan setiap hubungan pada papan waktu. Kontrak bocor berasal dari pencetak yang menerima berkas melalui akun Nadine. Serangan Hangar Tujuh memakai kendaraan yang disewa perusahaan cangkang berbeda, tetapi pembayaran sewanya datang dari rekening yang juga membayar mandor ventilasi. Sari menemukan kesamaan perangkat, sementara Maya mencari bukti pemilik manfaat. Alena memberi tanda tanya besar di antara rekening dan Bram. Kesamaan tidak cukup tanpa orang atau dokumen yang menghubungkan keduanya.
Zona waktu pada dua perangkat berbeda tujuh jam karena Bram mengubah pengaturan telepon. Sari menormalkan semua peristiwa ke waktu server operator dan menyimpan tampilan asli di kolom terpisah. Tanpa itu, serangan rumah aman tampak terjadi sesudah pembayaran, padahal instruksi dikirim lebih dahulu.
Dewi menelepon ketika melihat berita penangkapan Nadine. Alena keluar dari ruang kerja agar percakapan ibunya tidak masuk mikrofon rapat. Dewi tidak meminta ia berhenti; ia hanya bertanya apakah rumah aman benar-benar sudah diperiksa ulang. Alena menyebut penggantian vendor, kamera mandiri, dan kode darurat baru. Menjelaskan pengamanan konkret menenangkan mereka berdua lebih daripada kalimat bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Setelah sambungan berakhir, Alena menambahkan vendor lama ke daftar saksi potensial dan meminta data akses rumah aman dilindungi dari tim korporat. Ketakutannya terhadap kehilangan Dewi tidak boleh memberi dirinya izin membuka data pribadi lebih luas daripada surat yang ada.
Ketika foto ventilasi rumah aman muncul, telapak tangannya dingin. Ia teringat Dewi mengunci diri di kamar mandi, kamera mati sembilan puluh detik, dan lencana BW yang sengaja ditinggalkan. Bram bukan sekadar menyerang bukti. Ia memilih ibu Alena sebagai titik tekan.
Raka berdiri di ambang ruang kerja. 'Maya bilang kamu belum makan.'
'Maya tidak seharusnya memberi laporan kebiasaan saya kepada penyandang dana.'
'Dia menyuruhku membawa makanan lalu pergi kalau kau bilang pergi.'
Alena memandang kotak yang masih tertutup di tangannya. 'Taruh di meja luar. Kamu boleh duduk lima menit.'
Mereka duduk di tangga darurat gedung regulator, dipisahkan satu anak tangga. Kota bergerak di bawah tanpa mengetahui berapa banyak jalur pembayaran yang sedang dibuka. Raka tidak menyentuhnya. Ia menunggu sampai Alena sendiri meletakkan tangan di antara mereka.
'Boleh?' tanyanya.
Alena mengangguk. Jari mereka bertaut pelan. Kedekatan itu terasa lebih jujur karena tidak disaksikan kamera, tetapi juga lebih berbahaya. Kasus telah membuat mereka berbagi rumah, ancaman, dan bukti. Ia tidak ingin ketakutan disalahartikan sebagai masa depan.
'Perasaan saya tumbuh,' katanya. 'Saya tidak mau berbohong tentang itu.'
Raka menatap tangan mereka, bukan mencoba membaca wajahnya sebagai jawaban yang lebih besar. 'Perasaanku juga.'
'Tapi saya tidak membuat janji melewati bulan kelima belas sekarang. Bukan saat aksesmu, uangmu, dan perkara ayah kita masih mengikat setiap pilihan.'
'Aku setuju. Tidak ada perpanjangan diam-diam. Tidak ada keputusan karena kita takut kehilangan satu sama lain di tengah penyelidikan.'
Alena menarik napas. Pernyataan itu tidak romantis seperti janji di depan media, tetapi justru memberi ruang bagi sesuatu yang nyata. Setelah lima menit, ia melepaskan tangan lebih dulu. Raka tidak menahannya.
Di laboratorium, Sari menemukan artefak lokasi yang selamat meski Bram mematikan layanan utama. Telepon kedua mencatat daftar jaringan nirkabel di sekitarnya setiap kali membuat cadangan terenkripsi. Sinyal terakhir akun BW tidak berasal dari kantor Mitra Core atau rumah Guntur. Nama pemancarnya berupa deretan angka yang cocok dengan inventaris router lama milik Bima Dirgantara.
Kresna memastikan router itu berada di kantor pribadi Bima, lantai kecil di belakang gedung yayasan keluarga. Ruangan disegel sejak Bima meninggal dan belum masuk inventaris warisan karena sedang diperselisihkan. Catatan keamanan menyatakan tidak ada orang masuk. Namun log jaringan menunjukkan satu perangkat aktif selama sebelas menit pada malam sebelumnya.
Alena meminta penyidik tidak mengirim petugas keluarga. Kantor harus digeledah dengan surat, ahli segel, dan dokumentasi sejak pintu luar. Raka menawarkan surat pelepasan keberatan dari ahli waris, tetapi Maya menegaskan pelepasan itu bukan pengganti kewenangan pencarian. Mereka mengajukan keduanya agar tidak ada celah kepemilikan yang kelak membatalkan bukti.
Sari mencocokkan waktu sinyal dengan saat pesan penghapusan vendor dikirim. Selisihnya kurang dari dua detik. Bram mungkin berada di dalam kantor orang yang sudah mati, memakai infrastruktur yang sengaja dibiarkan membeku.
Sinyal terakhir Bram memantul dari kantor Bima yang disegel sejak kematiannya.