===== BAB 16: Konsultan Tanpa Wajah =====
Catatan perusahaan menunjukkan Bram Wicaksana kini menjadi konsultan senior Mitra Core.
Kontrak Bram hanya terdiri atas enam halaman dan tidak mencantumkan foto. Ruang lingkupnya terdengar tidak berbahaya: penilaian keamanan operasi, pengujian akses vendor, serta konsultasi kontinuitas bisnis. Namun tanggalnya berimpit dengan tiga peristiwa—kamera Hangar Tujuh dimatikan, perusahaan pembersih penthouse diganti, dan Mitra Core mulai menawar divisi audit.
Alena membacanya di ruang pemeriksaan regulator, bukan kantor Vantara. Pak Idris sudah dipindahkan dan namanya dihapus dari jadwal saksi terbuka. Di meja ada salinan yang masing-masing diberi nomor; tak satu pun boleh dibawa keluar.
'Persetujuan akhir Nadine,' kata Maya sambil menunjuk tanda tangan digital. 'Pengadaan awal diajukan kantor Guntur.'
Nadine duduk di ruang sebelah bersama pengacara. Melalui kaca satu arah, Alena melihat perempuan itu menyilangkan kaki dengan tenang, tetapi kuku jarinya telah menggores lapisan meja. Ia menyangkal pernah bertemu Bram dan menyebut tanda tangan kontrak sebagai pekerjaan rutin.
Penyelidik menunjukkan empat persetujuan perjalanan Bram. Dua menuju Jakarta pada tanggal serangan Hangar dan pemasangan mikrofon; dua lain menuju Bekasi pada hari toko Dewi diawasi. Nadine mengatakan sekretaris yang mengurus perjalanan. Ketika diminta nama sekretaris, ia menyebut pegawai yang sudah cuti melahirkan sebelum kontrak Bram dimulai.
Alena tidak menyela kebohongan itu. Ia menulis jam dan kata yang dipakai Nadine, lalu meminta catatan kepegawaian dipertahankan. Baru setelah pengacara meminta jeda, Nadine menyadari kesalahan tanggalnya. Rasa takut melintas di wajahnya, bukan kepada penjara atau Alena, melainkan ke arah pintu tempat Guntur menunggu di koridor.
'Ayah saya memilih konsultan,' katanya ketika pemeriksaan dilanjutkan. 'Saya hanya menyelesaikan administrasi.'
Pernyataan baru itu bertentangan dengan penyangkalan pertama dan untuk pertama kalinya menempatkan Guntur langsung pada kontrak Bram.
Penyelidik memutar rekaman ketika Nadine bertanya kepada Sari apakah Reno benar menyebut Bram. 'Anda mengenali nama itu sebelum daftar personel dibuka.'
'Saya mengenali nama konsultan perusahaan.'
'Tadi Anda berkata tidak mengenalnya.'
'Mengenali nama tidak sama dengan mengenal orang.'
Permainan kata itu mengingatkan Alena pada Dito. Selalu ada definisi sempit yang disiapkan untuk menghindari kalimat jujur.
Sari memadankan sertifikat perangkat dari serangan digital dengan laporan uji Bram. Urutan perintahnya sama: pemeriksaan status, jeda empat detik, lalu penghapusan log dari baris terbawah. Mikrofon penthouse dan kamera rumah aman menggunakan papan pengendali dari vendor yang tercantum sebagai subkontraktor Mitra Core. Hubungan tersebut belum membuktikan Bram memasang alat, tetapi cukup untuk permintaan data yang lebih luas.
Maya mengirim surat pelestarian kepada Mitra Core, ditembuskan ke pengadilan dan regulator. Balasan datang dalam tujuh menit: perusahaan berjanji bekerja sama, mengaku Bram sedang cuti, dan tidak mengetahui lokasinya. Kecepatan jawaban membuat Alena curiga surat penyangkalan telah disiapkan.
Lampiran balasan menyebut masa cuti dimulai pagi setelah serangan Hangar, tetapi sistem perjalanan menagih hotel Bram dua malam sesudahnya. Mitra Core membayar kamar yang menurut surat mereka tidak ditempati dan mempertahankan akses konsultan yang katanya tak dapat ditemukan. Maya meminta data kartu kamar ikut dibekukan sebelum vendor hotel menerima permintaan penghapusan.
'Mereka mengira kita hanya punya nama,' katanya.
'Untuk saat ini memang,' jawab Maya. 'Nama, kontrak, pola teknis, dan saksi lama. Jangan menyebutnya pelaku sebelum ada tindakan yang bisa ditempelkan kepadanya.'
Raka menunggu di ruangan terpisah karena pemeriksaan konflik. Ketika dipanggil, ia membawa dua penyimpanan terenkripsi dari penyelidikan pribadinya. Satu berisi peta pembayaran dan korespondensi Bima; lainnya memuat hasil pemantauan permintaan audit Alena selama tiga tahun.
'Saya serahkan kata sandi kepada regulator dan Maya,' katanya. 'Saya tidak meminta salinan kerja.'
Alena merasakan tusukan lama karena ia pernah diawasi tanpa tahu. 'Mengapa sekarang semua?'
'Karena selama aku memilih bagian mana yang boleh kau lihat, aku mengulang cara keluargaku bekerja.'
Ia tidak meminta kalimat tersebut membeli maaf. Alena menandatangani daftar penerimaan bersama penyelidik. Di antara mereka, kepercayaan belum menjadi perasaan yang bebas; ia masih berbentuk akses yang dilepas dan data yang tidak disembunyikan.
Peta pembayaran Bima memperlihatkan dua belas perusahaan cangkang. Sebagian mengalir kepada keluarga korban, sebagian kepada klinik, dan sebagian berhenti pada rekening yang sudah ditutup. Sari membandingkan tanggal dengan kunjungan Bram ke perpustakaan. Setiap kali Bram datang, satu pembayaran dipindahkan ke rekening baru.
'Dia menjaga jalurnya tetap hidup,' kata Alena.
Kresna menemukan arsip pajak yang lolos dari pemindahan data Vantara. Bram menerima honor konsultasi melalui perusahaan bernama Lintas Inti, lalu perusahaan itu membayar vendor kamera, teknisi akses, dan sebuah klinik swasta. Klinik yang sama merawat Dito setelah ia mengaku diculik.
Penyelidik meminta izin membuka korespondensi lama Bima. Raka menyetujuinya tertulis. Salah satu surat menyebut seorang dokter keluarga yang akan memastikan 'anak itu tidak membawa malam tersebut ke Singapura'. Nama dokternya disamarkan dengan inisial JH.
Alena teringat catatan rumah sakit: berkas pasien tanpa nama diambil enam tahun lalu memakai surat kuasa ayah Raka, tepat sebelum Bima meninggal. Jika Bima menyesal, ia mungkin mencoba mengumpulkan bukti. Jika tidak, ia mungkin sedang membersihkan jejak terakhir.
Mawar melalui sambungan aman mengenali inisial tersebut sebagai Julian Hartono, dokter yang menangani keluarga Dirgantara sejak Raka kecil. Ia pensiun mendadak enam tahun lalu dan tak pernah menghadiri pemakaman Bima.
Sari membuka transaksi tertua Lintas Inti. Pembayarannya dibuat tiga hari setelah VX-217, disusul transfer tahunan pada tanggal kecelakaan. Otorisasi korporat memakai tanda tangan Bima. Formulir penerima menyebut Julian sebagai dokter penanggung jawab pasien tanpa nama.
Alena mencatat dua nama baru di bawah Bram dan Guntur. Jejak yang semula tampak seperti jaringan perusahaan kini masuk ke kamar perawatan seorang pemuda berusia sembilan belas tahun.
Pembayaran klinik penyintas VX-217 ditandatangani Bima Dirgantara dan ditangani dr. Julian Hartono.