===== BAB 15: Arsiparis yang Dibungkam =====
Pak Idris hilang saat dipindahkan dari klinik.
Polisi meminta empat puluh menit untuk memeriksa kamera jalan, tetapi Alena tidak percaya formulir transfer palsu dibuat tanpa pesan. Pak Idris telah menyimpan buku pinjaman selama tujuh belas tahun, menolak perintah membakarnya, dan memberi kunci kuningan tepat sebelum dibawa ke klinik. Lelaki seperti itu pasti memahami bahwa sebuah arsip hanya berguna bila orang lain tahu cara menemukannya.
Maya mengirim foto formulir. Pada kolom alamat keluarga tertulis Gudang 4, Baris 6, Kotak 10. Perawat mengira itu alamat penjemput, padahal tidak ada nama jalan.
'Itu penanda inventaris,' kata Alena. 'Kotak kesepuluh yang tidak masuk daftar.'
Raka membuka indeks Hangar Tujuh dari salinan yang sudah diberikan kepada regulator. Gudang 4 dahulu merupakan ruang penyimpanan dokumen peluncuran sebelum kompleks timur dibangun. Lokasinya berada di lahan percetakan tua milik anak perusahaan yang dibubarkan.
'Kita kirim polisi,' kata Raka.
Alena menatapnya, sempat mengira ia akan mengusulkan datang diam-diam. 'Dan kita ikut setelah tempat dinyatakan aman.'
'Ya.'
Perubahan kecil itu penting. Mereka tidak perlu kembali mengulang pertengkaran tentang siapa menahan pintu dan siapa melarikan bukti. Setiap ancaman tidak harus menjadi ujian cinta bila aturan keselamatan sudah jelas.
Kamera klinik menunjukkan Idris masuk mobil abu-abu dengan seorang lelaki berseragam medis. Tujuh menit kemudian kendaraan berhenti di lampu merah. Pintu belakang terbuka, Idris turun, lalu menghilang ke lorong pasar. Pengemudi mengejarnya, tetapi kerumunan menutup pandangan. Artinya Idris bukan dibawa sampai tujuan; ia menyadari penipuan dan memilih tempat persembunyian sendiri.
Polisi menemukan mobil ditinggalkan dekat jalan tol. Seragam, formulir, dan pelat nomor palsu tertinggal tanpa sidik jari. Pengemudi telah menyiapkan kisah yang akan menunjuk ke penculikan, sementara saksi sebenarnya mungkin sedang menunggu seseorang membaca satu alamat.
Gudang 4 berdiri di belakang bangunan percetakan yang jendelanya ditutup papan. Setelah tim penjinak memeriksa pintu dan listrik, Alena, Maya, serta Raka diizinkan masuk bersama dua penyelidik. Bau kertas tua memenuhi ruangan. Rak-rak tinggi diberi angka pudar; cahaya senter memotong debu yang menggantung.
Baris 6 hanya berisi sembilan kotak. Tempat nomor sepuluh kosong, tetapi ada garis bersih di lantai seolah benda baru saja digeser. Alena berjongkok dan melihat serbuk kertas mengarah ke belakang rak.
'Pak Idris?' panggilnya. 'Saya Alena. Polisi dan regulator bersama saya. Tidak ada keamanan Vantara.'
Tak ada jawaban. Ia menyebut nomor kunci kuningan yang diberikan Idris, lalu meletakkannya di lantai agar lelaki itu dapat melihat kedua tangannya kosong.
Panel belakang rak bergeser. Idris muncul dengan wajah pucat dan perban klinik masih menempel di lengan. Ia memegang pemotong kardus sebagai senjata.
'Mereka tahu saya bicara,' katanya.
Penyelidik menunjukkan identitas dan membiarkan Idris menelepon Maya melalui nomor yang ia kenal. Baru setelah suara pengacara terdengar dari dua perangkat sekaligus, ia menurunkan pemotong.
Idris menjelaskan pengemudi palsu menyebut buku pinjaman padahal hanya regulator dan orang di ruang arsip yang tahu benda tersebut masih ada. Ia turun saat mobil melambat, kemudian menuju gudang lama karena di sanalah ia pernah menyembunyikan salinan indeks.
Dalam pelarian itu Idris sempat menyobek gelang kliniknya dan menaruh separuh di kios koran, separuh lagi dekat pintu gudang. Polisi menemukan keduanya setelah mengetahui arah yang benar. Ia juga menelepon nomor arsip mati dan membiarkan sambungan terbuka enam detik, kode lama untuk pemindahan darurat. Upayanya tidak sempurna, tetapi membuktikan ia meninggalkan jejak bagi orang yang mengenal prosedur, bukan menghilang atas kemauan sendiri.
Alena meminta seorang paramedis luar memeriksa tekanan darahnya sebelum wawancara. Idris ingin langsung bicara, takut kesempatan berikutnya hilang. Maya membagi sesi menjadi sepuluh menit dan memberi hak berhenti kapan saja. Cara mereka memperoleh keterangan akan menentukan apakah pengacara Guntur kelak dapat menyebut seorang lelaki sakit diarahkan untuk mengenali musuh.
Sebelum melihat foto, Idris menuliskan sendiri nama, ciri lencana, dan julukan yang ia ingat. Baru sesudah kertas disegel, penyelidik membuka daftar personel.
Dari panel, ia mengeluarkan map plastik berisi daftar personel operasi VX-217 dan lembar buku tamu perpustakaan Mawar. Satu wajah pada foto kelompok telah dilingkari: lelaki kurus berusia sekitar tiga puluh tahun, seragam keamanan, mata menatap bukan kamera melainkan pintu di sampingnya.
'Bram Wicaksana,' kata Idris. 'Dia petugas keamanan operasi yang selalu datang setelah Pak Guntur memberi perintah. Kalau Pak Guntur bicara, Bram yang membuat semua orang bergerak.'
Idris melihat Bram di pusat arsip dua hari setelah kecelakaan. Bram membawa surat pemindahan, memerintahkan tiga kotak dihapus dari daftar, dan menyuruh Idris membakar buku yang mencatat tanda tangan Reno setelah kematiannya. Idris menyimpan buku karena Bram tidak menunggu melihat api.
'Tanda tangan tanpa nama di perpustakaan?' tanya Alena.
Idris membandingkan salinan lama. Tekanan huruf W dan garis akhirnya sama. Bram datang tiap peringatan VX-217, kadang membawa bunga, kadang hanya memeriksa kotak musik Mawar. Enam tahun lalu, kunjungannya terjadi sehari setelah Bima meninggal.
'Mengapa Mawar tidak mengenalinya?'
'Mungkin beliau tidak melihat. Mungkin beliau memilih tidak melihat.'
Mereka tidak memaksa Idris menebak. Ia dibawa ke lokasi perlindungan regulator dengan nama samaran dan dua kendaraan pengalih. Sebelum pergi, ia menyerahkan indeks asli kepada penyelidik, menerima tanda terima, lalu meminta Alena tidak menjanjikan semuanya akan baik.
'Saya hanya bisa menjanjikan catatan Bapak tidak akan dihapus,' kata Alena.
Di luar gudang, Sari mengirim hasil pencarian nomor pegawai Bram pada basis data vendor. Nomor lama itu muncul dalam laporan uji keamanan Mitra Core tiga bulan sebelumnya. Kontraknya masih aktif dan ditandatangani oleh direktur komersial Vantara.
Nadine.
Catatan perusahaan menunjukkan Bram Wicaksana kini menjadi konsultan senior Mitra Core.