Nada terbangun pagi sekali, ia segera bersiap-siap dan menyiapkan sarapannya sendiri, sementara ibunya belum pulang dari pasar.
Setelah menghabiskan sarapan Nada kembali ke kamarnya dan menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa ke kampus hari ini.
"Assalamualaikum!" Ibunya baru kembali dari pasar.
"Waalaikumsalam, sebentar mah,"teriak Nada dari kamar sambil berlari kecil untuk membuka pintu dan langsung membantu membawakan belanjaan ibu ke dapur.
"Kamu udah siap nak?" Tanya ibu sambil memperhatikan penampilan putrinya.
"Sudah sarapan belum? Mamah siapin ya," lanjut Bu Irma sambil tergesa menuju ke dapur tapi Nada segera menahannya.
"Tidak perlu mah aku udah sarapan kok tadi, itu sarapan buat mamah dan yang lainnya juga sudah siap di meja,"ucap Nada sambil menggenggam tangan Bu Irma.
Bu Irma tersenyum dan menuju kamar untuk membangunkan Andi dan Tina.Nada memiliki dua adik yang satu perempuan dan satunya lagi laki laki .
Adik perempuannya baru kelas 6 SD sementara yang laki laki baru berusia 3 tahun.
***
Nada pamit untuk pergi ke kampus, Angga juga sudah menunggunya di depan rumah untuk menjemput Nada.
"Hai Nadd?" Ucap Angga.
"Hai! kamu udah dateng aja, ya udah yuk berangkat,"ucap Nada sambil berjalan menghampiri Angga dengan motor yang terparkir di depan rumah Nada.
"Ayo naik," ucapnya.Mereka berangkat menuju kampus dengan ninja merah milik Angga.
Selama perjalanan sesekali mereka berdua mengobrol dan saling melempar candaan hingga akhirnya Nada terdiam beberapa saat.
Sekilas bayangan laki laki yang di cintainya melintas di benaknya, lagi-lagi Nada melamun teringat semua kenangan itu membayangi,seperti yang sedang di alaminya saat ini, berboncengan, mengobrol asyik dan saling tertawa ingin rasanya semua hal itu terulang lagi.
Tapi Nada sadar hal itu sudah tidak mungkin terjadi dia berusaha menepis semua ingatan itu dan terperanjat ketika Angga tiba-tiba mencubit lengannya.
"Aw aduh apaan sih kok dicubit," teriak Nada mengaduh kesakitan merasakan panasnya cubitan yang diberikan laki-laki itu.
Angga memang sengaja mencubitnya karena dari tadi dia mengoceh sendiri tapi tidak ada respon dari Nada.
"Lagian bengong aja, ngelamunin apaan?" Tanya Angga dengan raut wajah yang dibuat buat seperti sedang kesal.
"Engga ko gak ngelamunin apa-apa, emm cuman lagi kepikiran aja nanti kira-kira di kampus ngapain aja," jawab Nada ngasal sambil berusaha agar tidak terlihat gugup karena berbohong.
"Ooh gara-gara itu, tenang aja gak akan ditanyain macem macem ko santai aja gak usah tegang Nadd ikutin aja arahannya,"ucap Angga berusaha menenangkan Nada agar tidak tegang.
Sesampainya di kampus Nada berjalan gontai menuju ruang dekan.Tanpa dia sadari ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari jauh.
Ada Yoga yang sedang bersama Sheila dan diam-diam Yoga memperhatikan Nada dari jauh tanpa diketahui Sheila yang berada di sampingnya.
Entah apa yang ada dipikirannya, dia sangat menyayangi Nada tapi disisi lain sudah terlanjur memiliki Sheila.Tidak ada yang bisa dia lakukan selain terpaksa melepaskan Nada dan menyakiti hati wanita itu begitu dalam.
***
Dengan perasaan dilema akhirnya Yoga mendial nomor seseorang di ponselnya.Dia menelpon gadis mungil yang begitu ia rindukan.
"Hallo!" terdengar suara lembut nan lirih di ujung telepon.
"Iya ini aku Nad, maaf ya udah ganggu"
Tak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya Nada merasa sangat bahagia menerima telepon dari seseorang yang sangat dicintainya,namun sebisa mungkin dia berusaha untuk tetap cuek dan santai.
"Iya kak ada apa telepon?" Ucap Nada tenang.
"Bisa kita ketemu?"
"Untuk apa?" Tanya Nada sedikit tegang.
"Lagi kangen sama ada yang perlu dibicarain"
Nada berpikir sejenak.
"Oke, dimana?"
"Di Taman deket rumah aja sepulang dari kampus".
Nada tersenyum dan mengakhiri sambungan teleponnya.
Dalam hatinya sedikit galau ada bahagia tapi ada juga rasa bersalah yang selalu menghantuinya.Tapi mau bagaimana lagi hatinya tetap tidak bisa menolak setiap Yoga menelpon ataupun mengajak bertemu ia selalu menuruti.
***
Sepulang kampus Nada langsung menuju ke taman dimana tempat mereka akan bertemu, Angga tidak mengantarnya pulang karena Nada sengaja pulang lebih dulu dan menolak untuk diantar.
Sesampainya di taman Nada duduk menunggu di kursi taman setelah kurang lebih10 menit menunggu akhirnya Yoga datang.
Dengan spontan Yoga memeluk Nada begitu saja hingga gadis itu tercengang dan gugup.
"A-ada apa kak?" Nada berusaha memulai percakapan dan melerai pelukan Yoga.
"Kangen banget," jawab Yoga yang malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Jangan seperti ini nanti ada yang lihat," ucap Nada khawatir.
Jujur saja Nada merasa agak risih dengan sikap Yoga selain karena di tempat umum dia juga sadar akan posisinya, Nada takut jika salah satu teman Sheila melihat dan melaporkan pada tunangan Yoga itu.
"Ayo pergi," ucap Yoga sambil menarik tangan Nada.
"Hah? Kemana?" Tanya Nada yang kebingungan.
"Ke suatu tempat," busiknya.
Nada yang bingung akhirnya hanya menurut saja tanpa bertanya lagi.
***
Nada semakin bingung saat tiba tiba sampai di depan sebuah villa minimalis modern.
Di Sana terdapat sebuah meja berisi makanan yang lengkap dengan dekorasi indah khas tempat kencan.
Nada begitu takjub melihat semua pemandangan di hadapannya sampai tak bisa berkata-kata.
"Surprise, gimana kamu suka gak?" Tanya Yoga sambil menarik kursi untuk Nada.
"Su-suka, tapi untuk apa semua ini?"Tanya Nada masih dengan kebingungannya.
"Semua ini untuk kamu sayang, hari ini aku mau kita bahagia dan bersama sama seperti ini seharian," ucap Yoga tanpa rasa bersalah.
"Aku gak ngerti, kenapa harus seperti ini apa kamu tau gimana susahnya aku ngelupain semua kenangan kita? Lalu sekarang kamu mengacaukan segala usahaku begitu saja," Nada terisak setelah mengucapkan semua itu.
Hatinya merasa sangat bimbang dengan semua ini. Perlakuan Yoga yang memperlakukan seolah-olah dialah satu-satunya pedahal yang sebenarnya hanyalah salah satunya.
Hal itu benar-benar membingungkan, Nada bahagia dengan semua ini tapi bersamaan dengan itu dia juga merasa sangat bersalah kepada Sheilla.
"Sssttt, tenang dulu," ucap Yoga sambil mengusap air mata yang jatuh di pipi gadis mungil kesayangannya. "Lalu apa? Apa yang mau kamu jelasin ke aku ayo jelasin aku gak punya banyak waktu dan harus segera pulang!"
"Sini sambil makan!"Yoga menyodorkan sendok berisi makanan da menyuapi Nada.
"Jadi gini, mulai sekarang aku udah mutusin buat milih kamu,"ucap Yoga.
"Uhuk..uhuk...."Nada tersedak mendengar pernyataan yang baru saja diucapkan laki laki di hadapannya.
Nada tidak percaya bahwa Yoga tiba-tiba kembali ke pelukannya begitu saja.
" ini gak mungkin,"gumamnya.
"Minum dulu pelan-pelan makannya," kata Yoga sambil memberikan gelas air minum Nada.
" Kamu tuh maksudnya apa sih mau ngasih aku harapan palsu lagi? Belum puas yang kemaren-kemaren, sekarang udah mau ditambah lagi,"ucap Nada Kesal.
"Loh gak gitu sayang"jawab Yoga.
"Stop udah cukup, kamu pikir aku bakalan percaya segampang itu sama semua kebohongan kamu? Kamu itu baru tunangan sama dia kan? terus tiba-tiba ngomong gini ke aku, maksudnya apa coba?"
Nada benar benar bingung dengan semuanya lagi-lagi ia diberi harapan, jika memang benar Yoga memilih Nada dan meninggalkan Sheila tentu saja Nada senang tapi Nada juga wanita yang punya perasaan bagaimana mungkin bisa bahagia di atas penderitaan wanita lain.
Nada juga sudah ragu dengan Yoga, terlebih dia mendengar cerita-cerita dari Sheilla yang mengatakan bahwa Yoga bukan laki-laki yang setia dan sering selingkuh.
Meski hatinya masih sangat mencintai laki-laki itu tapi dia tidak ingin jika terus terusan dipermainkan.
Nada juga punya harga diri.