Beberapa hari terakhir ini pikiran Nada berhasil teralihkan pada pekerjaan nya hingga ia bisa sejenak melupakan laki-laki itu.
"Rajin banget ya anak baru itu," ucap salah satu karyawan kepada yang lainnya.
Semua karyawan hanya membalas dengan anggukan sambil memperhatikan ke arah Nada yang sedang mengecek barang kosong.
Setelah selesai memeriksa setiap barang yang kosong Nada menyerahkan datanya kepada Dian untuk diprint out dan di masukan ke daftar orderan.
"Udah beres semua Nad?" Tanya Dian lembut sambil memeriksa kertasnya.
"Udah sih kayanya Kak, udah semua kok," jawab Nada.
Semua karyawan di toko ini memang sangat baik terhadap Nada dan dengan senang hati selalu mengajari Nada setiap hal yang berhubungan dengan pekerjaan nya di sana.
Kecuali Rara, ia memiliki sifat iri dan merasa takut tersaingi oleh Nada, terlebih semua teman-teman nya selalu bersikap baik pada Nada.
Tapi Nada tidak ambil pusing dan tetap bekerja dengan baik.Nada juga sangat nyaman bekerja di tempat itu.
"Udah waktunya istirahat ayo keluar dulu gantian," ajak salah satu teman kerjanya.
"Iya kak boleh," jawab Nada ramah.
Mereka memang selalu bergantian keluar saat istirahat, karena tidak mungkin jika toko di tinggal tanpa ada yang jaga.
Sebagian sudah keluar untuk cari makan dan tinggal 2 orang yang jaga di toko menunggu giliran.
****
Selesai makan siang Nada langsung kembali ke toko untuk menggantikan karyawan lainnya.Saat Nada baru saja duduk ada seorang pembeli yang menghampiri.
Deg
Wanita itu, wanita yang pernah Nada sakiti dan dia tiba-tiba ada di hadapannya. Nada sangat gugup dengan situasi ini.
"Mau cari apa kak silahkan," ucap Nada ramah.
Nada memulai pembicaraan dan berusaha bersikap biasa saja.
"Ehh kamu kerja disini sekarang?" Tanya Sheila.
"Emm iya Kak,"jawab Nada.
"Udah lama?" Tanya Sheila lagi.
"Baru ko, baru beberapa minggu aja," jawab Nada santai.
"Oh iya sampai lupa, aku mau miccelar satu, Night Cream sma facial wash aja," Sheila mengabsen setiap barang yang dibutuhkannya.
Dengan segera Nada menyiapkan semuanya dan mengemas dengan baik.
"Jadi berapa semuanya Nad?"
Tanya Sheila sambil memeriksa belanjaannya kembali dan mengingat barangkali ada yang ia perlu beli lagi.
"Jadi 150 Kak, ada tambahan lagi Kak?"Tanya Nada sambil mengambil uang yang disodorkan oleh Sheila.
"Udah dulu deh ini aja," ucapnya.
"Oh ya udah ini kembaliannya Kak makasih ya udah belanja disini,"ucap Nada dibalas senyuman yang mengembang di bibir Sheila.
Setelah beberapa menit Sheila sudah berlalu dan tak kelihatan lagi.Nada menjadi sedikit murung bukan tanpa alasan Nada seperti itu.Nada memang masih merasakan sesak di dadanya setelah bertemu perempuan tadi.
Pedahal beberapa hari ini ia sudah mulai lupa dengan hal itu tapi entah kenapa tiba-tiba saja perempuan itu datang dan mengingatkan segalanya.
Nada sangat kesal dengan keadaan ini.Sebenarnya Nada tidak benci dengan Sheila tapi biar bagaimanapun hatinya masih saja terasa sakit ketika ingat bahwa perempuan itu kini sudah berhasil menjadi tunangan dari laki-laki yang Nada cintai.
***
Sepulang bekerja Nada membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil memainkan ponselnya mencoba mencari namanya didata penerimaan Mahasiswa baru di salah satu universitas.
Nada memang sudah mendaftarkan diri di beberapa universitas namun dia belum tau universitas mana yang berhasil ia masuki.
Tiba-tiba matanya membulat ketika Nada melihat namanya tertulis didaftar Mahasiswa baru universitas ****.
Kampus itu adalah tempat Yoga dan kekasihnya kuliah, ya dia diterima menjadi mahasiswa baru di sana.
Entah kapan dia melakukan pendaftaran di kampus itu Nadapun tidak ingat, sepertinya ia melakukan semuanya saat sedang melamunkan Yoga sampai tanpa sadar Nada mendaftarkan diri untuk berkuliah di sana.
"Ini gimana ya, apa aku bisa fokus kuliah di kampus yang sama dengan Yoga,mungkin aku akan bertemu mereka juga di sana,"gumamnya.
Nada berusaha tenang didalam kebingungannya.
Nada juga berusaha yakin bahwa dia bisa menggapai cita-citanya di sana, meskipun suatu saat nanti Nada akan bertemu dengan Yoga dan kekasihnya tapi dia yakin dia akan bisa melupakan semua kenangan itu dan ada saatnya dia akan baik-baik saja ketika bertemu mereka.
Setelah beberapa saat terdiam tiba-tiba ponselnya berdering.Ada nama Angga di layar ponselnya, dengan cepat nada menggeser tanda hijau itu ke atas.
Angga:"Hallo?"
Nada:"Hai kenapa tumben telepon malem malem gini?"
Angga: "Iya nih aku cuman mau..emm mau ajak kamu berangkat ke kampus bareng, kamu diterima di kampus aku dan harus daftar ulang besok kan?"
Nada:" Ohh iya boleh mau ketemu dimana?"
Angga:"Biar aku jemput kamu ke rumah aja! "
Nada:"Oke kalau gitu! "
Angga:"iya bye sampai jumpa besok yaa, Assalamualaikum".
Nada:"Waalaikumsalam".
Sambungan telepon terputus dan Nada memutuskan untuk tidur karena tak ingin bangun kesiangan besok.
Sebelumnya Nada sudah mengirimkan pesan kepada salah satu teman kerjanya dan juga pemilik toko untuk meminta izin tidak masuk kerja besok dengan alasan akan ke kampus dan tante Wida sudah mengizinkannya.
Saat matanya baru terpejam beberapa detik Nada mengerjap, teringat sesuatu.
Dia belum menyiapkan pakaian untuk besok dan juga belum sempat memberi tahu ayah dan ibunya.
"Bagaimana mungkin aku bisa melupakan memberi tahu mereka tentang kabar gembira ini," gumamnya sambil berjalan menuju kamar ibunya.
Tok tok tok
Nada mulai mengetuk pintu kamar ibunya tak lama kemudian terdengar sahutan didalam kamar.
"Masuk sayang,"ucap ibunya lembut.
"Mah maaf ya ganggu, mamah belum mau tidur kan?" Tanya Nada.
"Belum ko belum ngantuk, memangnya ada apa?"
"Jadi aku diterima di universitas Negeri itu loh," ucap Nada senang.
"Wahh beneran terus terus kapan daftar ulangnya?" Tanya ibu dengan antusias
"Besok sih sama Angga berangkat bareng," jawab Nada.
"Mamah doain semuanya lancar ya sayang kamu harus berhasil di sana".
Ucap ibunya yang langsung di angguki Nada dengan penuh semangat.
"Oh iya, Ayah kok belum pulang?" Tanya Nada bingung
"Hari ini ayah gak pulang lagi ke luar kota ada urusan kerjaan,"jawab Bu Irma sambil mengelus rambut Nada penuh kasih sayang.
"Ya udah aku tidur dulu ya besok kalau kesiangan bangunin hehe,"ucap Nada sambil berjalan menuju kamarnya.
Bu Irma hanya tersenyum melihat tingkah anak gadisnya itu.
Nada memang terkadang bisa bersikap sangat manja terhadap ibunya, tapi ketika mempunyai masalah dia tidak pernah menceritakan kepada ibunya sebelum dirinya bisa menyelesaikan masalah tersebut, pikirnya tidak ingin membebani keluarganya terlebih ibu memiliki penyakit darah tinggi dan pasti akan sangat berbahaya jika sampai banyak pikiran.
Nada sudah terlelap ditempat tidurnya, ibu masuk dan mematikan lampu kamar Nada.
"Anak ini selalu saja membuat bangga tak pernah sekalipun membuat keluarga kecewa,"gumam ibunya sambil tersenyum menatap hangat putri kecilnya.
Meski sudah remaja Nada tetaplah menjadi putri kecil yang menggemaskan di mata ibunya.Dia sangat bersyukur memiliki putri seperti Nada meski Nada bukan putri kandungnya tapi ia sangat menyayangi Nada.
*Flashback*
Setelah beberapa tahun menikah ibu dan ayah Nada belum juga dikaruniai seorang anak sampai akhirnya mereka memutuskan untuk mengadopsi anak dari panti asuhan.
Sesampainya di panti matanya tertuju pada seorang bayi mungil yang kira-kira berusia 8 bulan, ia langsung tertarik dengan bayi itu dan meminta untuk segera mengurus surat adopsinya kepada ibu panti.
Bayi itu benar benar menjadi pelengkap keluarganya, mereka sangat mencintai kehadiran bayi tersebut di tengah-tengah keluarga nya, bayi itu diberi nama Nada Fellicia Andini.
Nada dirawat dengan penuh kasih sayang dan cinta sepenuh hati hingga tumbuh menjadi seorang gadis baik yang memiliki hati lembut dan penyayang.
Mereka juga merahasiakan segalanya dari Nada karena tidak ingin Nada bertanya tentang asal usulnya dan mungkin bisa saja sampai meninggalkan mereka berdua.
*Flashback off*
Hingga saat ini Nada tidak pernah mengetahui tentang semua itu yang dia tau, dia adalah anak dari ayah dan ibunya.Lagipula ia tidak pernah diperlakukan seperti anak pungut, sehingga tidak sedikitpun Nada menyangka bahwa dirinya bukan anak kandung dari keduanya.