Tahun-tahun berlalu namun rindu itu masih tetap sama,tak pernah memudar tapi tak juga berujung temu.
*Pov Nada*
Sudah setahun ini aku berusaha menghindarinya, tapi perasaan ini masih saja tetap ada.
Aku juga sudah memutuskan hubunganku dengan Aldo semenjak kejadian itu. Aldo juga sudah menjelaskan semuanya, pada awalnya mereka memang hanya taruhan tapi Aldo bilang kalau perasaannya terhadapku tidak palsu dia bilang dia benar-benar menyayangiku. Aldo terus meminta maaf, aku juga sebenarnya sudah tidak marah hanya saja aku memang tidak bisa melanjutkan hubungan ini lagi. Percuma saja aku juga tidak ada perasaan apa-apa sampai sekarang.Meski awalnya laki laki itu tidak terima tapi aku berusaha menjelaskan tentang perasaanku hingga akhirnya dia pasrah dan menerima keputusanku.
Aku berusaha menjalani hari-hariku seperti biasa menyibukkan diri dengan berbagai hobi.
Pagi itu aku berenang di sebuah kolam renang umum yang biasa digunakan saat test olahraga sekolahku.
Suasananya masih sangat sepi mungkin aku datang terlalu pagi.Hanya ada seorang laki-laki di ujung kolam itu dia tersenyum padaku dan aku membalasnya dengan sedikit mengangguk.
"Hai! Sendirian?" Dia menghampiriku saat sedang sarapan.
"Iya," jawabku sambil memakan roti di tanganku.
"Masih sekolah?"Tanya pria itu.
"Udah mau lulus, kamu sendiri?" Aku mencoba bertanya kepadanya.
"Aku kuliah semester 4 di universitas *****""
Deg.
Universitas yang sama dengan laki-laki yang sangat aku cinta.
"Ooh oke,"jawabku.
Entah kenapa selalu saja muncul sesuatu yang berhubungan dengannya.Aku berusaha bersikap biasa saja dan melanjutkan obrolan kami setelah cukup lama mengobrol dia kembali berenang begitupun denganku.
Setelah hampir dua jam di kolam renang akhirnya aku memutuskan untuk pulang.
Saat sedang menunggu taksi laki laki itu menghampiri dan menawarkan untuk mengantar aku pulang.
"Hemm,lumayan lah ya daripada nunggu taksi kelamaan," batinku.
Aku menerima tawarannya tanpa berpikir panjang.Sepertinya dia bisa menjadi teman yang baik pikirku.
Sepanjang perjalanan dia selalu mengajak bicara aku hanya menjawab 'ya' sebenarnya aku tidak terlalu mendengar pembicaraan nya yang tersamarkan oleh suara-suara kendaraan lain yang melintas.
Sebelum sampai di rumah,kami berhenti beberapa menit di sebuah kedai untuk membeli minuman sebelum melanjutkan perjalanan.
Tiba di rumah
Aku turun dari sebuah motor Ninja berwarna merah itu.Kami mengobrol sebentar, sebelum berpisah dia menanyakan namaku karena tadi belum sempat berkenalan dia juga meminta nomer ponselku dan aku memberikan.Setelah mengucapkan terima kasih aku bergegas untuk masuk dan dia kembali melajukan motornya.
Laki laki itu bernama Angga dia juga seorang mahasiswa di universitas yg sama dengan Yoga.
Setelah pertemuan kita beberapa hari lalu dia baru mengirim pesan kepadaku dan mengajak bertemu.Aku yang gabut gak karuan di rumah memikirkan Yoga akhirnya menerima ajakannya.
Angga sudah menunggu di sebuah cafe, aku yang baru tiba langsung menghampirinya.
"Hey,udah lama nunggu?" Tanyaku pada Angga yg sudah duduk di sana.
"Hem lumayan beberapa menit yang lalu,"dia tersenyum menyambut kedatanganku.
Kami duduk dan mengobrol cukup lama.Angga sepertinya orang yang asik diajak ngobrol meskipun ngobrol lama tapi dia gak ngebosenin.
Aku senang memiliki teman baru seperti dia.Meski baru beberapa kali bertemu tapi rasanya seperti yang sudah lama saling kenal, tidak canggung dan tidak saling jaim.
Setelah sekian lama akhirnya aku bisa kembali tertawa lepas saat bersama Angga.Sepertinya dia laki-laki yang baik, sopan dan pengertian, jujur aku nyaman ketika dengannya.
Setelah beberapa bulan mengenal Angga, aku sudah tidak terlalu memikirkan Yoga pikirku mungkin saat ini aku sudah bisa move on darinya.
Tiba-tiba sahabatku menelpon dan memberi tahu kalau Yoga akan bertunangan hari ini dia menyuruhku untuk melihat story ig nya dan aku yang penasaran akhirnya membuka aplikasi sosmed itu dan melihat story Sheilla.
Benar saja hari ini mereka melangsungkan pertunangannya.Rasanya sangat sedih seketika air mataku menetes, ternyata rasa ini masih ada aku menyadari bahwa sosok Yoga belum mampu tergantikan oleh siapapun.
Angga menelponku berkali-kali tapi aku tidak menghiraukannya.Aku hanya terdiam dan menangis di kamarku rasanya aku tidak ingin siapapun menggangguku saat ini.
Setelah puas menangis baru aku menjawab telepon dari Angga. Dia bertanya aku kemana saja dan terlihat sangat khawatir karena baru menjawab telepon dari nya, dia takut jika terjadi sesuatu padaku.
Perhatian nya cukup membuatku tenang dan perlahan lupa dengan kesedihan yang sedang melandaku saat ini.Aku berharap Angga perlahan bisa membuatku melupakan Yoga .
***
Seiring berjalannya waktu kami semakin dekat.Aku juga mulai menyukainya meski belum sampai ke tahap 'mencintainya' tapi semoga saja dia adalah yang terbaik dan kita bisa saling melengkapi satu sama lain.
Aku juga mulai berniat untuk membuka hati untuk nya.Dia bisa memberi kehangatan yang selama ini aku rindukan dari sosok laki-laki sebelumnya.
Mungkin dialah cinta baru yang akan mengobati luka di masa laluku.
Angga cukup manis dan menyenangkan, aku berusaha mengimbangi sikapnya meski sesekali bayangan tentang 'dia' selalu mengganggu.
"Nad kita deket gini kamu nyaman nggak sama aku?" Tanya Angga tiba-tiba.
"Nyaman nyaman aja sih emang kenapa?"
"Emm gak apa-apa aku cuman takut aja kamu gak nyaman deket sama aku soalnya aku lihat kamu sering diem aja kaya ngelamunin sesuatu gitu" .
Hmm pertanyaan yg membuatku gugup dan aku memilih untuk tidak menghiraukan ucapan nya, biarlah hanya aku yang tahu.
Kedekatan kita berdua masih sebatas teman saat ini karena aku memang masih belum siap untuk menerimanya lebih dari itu, kita sering ngobrol dan curhat tentang hal hal yang kita lalui masing-masing.
Menurutku Angga adalah pendengar yang baik setiap kali aku bercerita dia selalu mendengarkan dan memberi solusi yang bijak. Aku senang bisa mengenal dia.
*Pov author*
Sore ini turun hujan.
Seseorang tengah duduk sendirian disebuah cafe.
Cafe dengan design minimalis itu terlihat sangat ramai pengunjung mungkin sebagian sengaja masuk kesana untuk sekedar berteduh dan menghangatkan tubuh dengan segelas teh atau kopi.
Nada sudah tiba di depan cafe dan langsung menghampiri pria itu.
"Hey udah lama ya, maaf aku telat soalnya hujan tadinya nunggu redaan eh malah makin gede,"ucap gadis itu
"Iya aku paham gak papa ko yo duduk!" Angga mempersilahkan Nada untuk duduk "mau pesan apa?" Sambungnya sambil memberikan buku menu.
"Apa aja deh samain," jawab nada yang terlihat tidak ingin repot memilih menu.
"Oke kalo gituh." Angga memanggil pelayan cafe dan memberikan note pesanannya.
Mereka terus mengobrol sambil menunggu hidangan datang. Seperti biasa percakapan mereka terlihat asyik sesekali saling mencubit dan bercanda.Sepertinya kali ini Nada sudah mulai bisa melupakan Yoganya itu.
Meski sesekali terlihat murung tapi akhir-akhir ini sedikit lebih ceria dari sebelumnya mungkin karena kehadiran Angga yang membuatnya bisa tersenyum kembali.
"Permisi, silahkan hidangan nya selamat menikmati," ucap seorang pelayan cafe yang membawakan pesanan.
"terimakasih," ucap Nada ramah.
Mereka makan sambil sesekali saling menganggu satu sama lain. Angga dan Nada terlihat begitu akrab meski mereka baru beberapa bulan bertemu tapi terlihat seperti sudah saling mengenal sejak lama.
Selesai makan Nada menceritakan tentang banyak hal kepada Angga dan Angga juga mendengarkan nya dengan seksama sesekali menanyakan sesuatu yang ingin ia ketahui tentang Nada.
"Terus sekarang gimana hubungan kalian?" Tanya Angga saat Nada menceritakan kisah cintanya yang kandas.
"Udah selesailah kita udah gak pernah kontekan lagi bahkan sekarang dia udah mau nikah sama orang lain"
"Terus kamu masih sayang?"
Pertanyaan itu membuat Nada terdiam sejenak sampai akhirnya menjawab dengan santai.
"Biasa aja," jawabnya.
"Ya udah sekarang kita gak usah bahas dia lagi, mendingan ngomongin tentang kita aja gimana haha," Angga berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Sudah sore, pulang aja yu," ajak Nada sambil menyodorkan jam tangannya kehadapan Angga.
"Gak mau nonton dulu?" Tanya Angga.
"Emmm lain kali ya," jawab Nada.
Anggapun mengiyakan dan akhirnya mereka pulang.Nada berjalan sendirian di atas trotoar sambil menunggu kendaraan umum yang melintas,sementara Angga pergi lebih dulu karena ada urusan lain.
Sepanjang perjalanan Nada terdiam sambil memikirkan percakapan nya dengan Angga tadi.
"Biasa aja, ya mungkin aku bisa bilang biasa aja pedahal dalam hati masih terasa sesak."
Dalam hatinya terus menggerutu ingin sekali dia merasakan hal yang diucapkannya ya 'biasa saja' seandainya bisa seperti itu tapi nyatanya belum bisa.