*PoV Nada*
Setahun berlalu, hari-hari yang aku lalui dengannya begitu indah, dia selalu bisa membuatku terkesan setiap harinya.
Hari ini ulang tahunku yang ke-18 aku tidak berharap banyak tentang ini, karena memang biasanya tidak pernah ada yang spesial selain ucapan dari sahabat dan keluarga terdekatku.
Namun, kali ini ada yang berbeda seorang pria tiba-tiba datang ke rumahku dengan sebuah tart dan bouqet bunga di tanganya.
Dia adalah seseorang yang sangat aku cintai saat ini Kak Yoga.Aku tidak menyangka bahwa dia akan memberikan kejutan semanis ini ditengah-tengah masalah yang sedang melanda.
Terlebih aku yakin saat ini dia juga sedang sibuk sibuknya kuliah karena sebentar lagi akan menghadapi ujian semester akhir.
Kak Yoga adalah seorang mahasiswa disalah satu universitas ternama dikota xxx.Sejak pertama kali bertemu aku sudah mengaguminya, sikapnya yang sopan, lembut dan penuh perhatian membuatku terkesan.
Setiap hari dia selalu memberi perhatian lebih padaku hingga semakin lama aku semakin kagum dengannya.Sebelumnya aku benar-benar tidak tau jika dia sudah memiliki kekasih,kita hanya menjalani hari-hari bahagia bersama tanpa pernah membahas hal itu.
Hingga suatu hari dia menjauh dan seperti menghindariku, entah apa alasannya. Aku bahkan tidak merasa telah melakukan kesalahan apapun padanya.
Sampai tiba-tiba sebuah chat masuk di ponselku, chat itu bertanya tentang hubunganku dengan Yoga.Ternyata itu adalah pesan dari kekasihnya.
Sungguh aku sangat kaget dan tidak percaya dengan semua ini. Aku benar-benar marah saat itu, hatiku sakit antara cinta dan benci terus bergelut di dalam sana.
Yoga datang menemuiku menjelaskan tentang wanita bernama Sheilla yang adalah kekasihnya selama 4 tahun terakhir ini.
Aku kecewa, rasanya aku tidak ingin mengenal laki-laki itu lagi hingga akhirnya aku memutuskan untuk melupakan dia, sialnya bayangan laki-laki itu terus saja menggangguku membuat semua usahaku sia-sia.
Bagaimana aku bisa melupakan dia jika dia terus saja muncul di hadapanku, terlebih rumah kita yang berdekatan membuat aku semakin susah menghapusnya dari bayangan karena setiap hari aku bisa melihatnya hanya dengan membuka jendela kamarku.
Aku terjebak cinta segitiga dan menjalaninya dengan perasaan dilema.Disatu sisi aku sangat bahagia bisa terus bersama dia karena aku benar-benar mencintai laki-laki itu.
Dia adalah cinta pertamaku.
Namun disisi lain aku juga merasa bersalah kepada Sheilla karena diam-diam aku masih berhubungan dengan kekasihnya pedahal aku sempat berjanji untuk tidak menggangu hubungan mereka lagi.
Sebenarnya aku sempat beberapa kali mencoba menjauhi Yoga bahkan aku sempat blokir semua nomernya, tapi dia selalu saja bisa mencari jalan untuk menghubungiku sampai sampai aku tidak bisa menghindar lagi dan pasrah dengan keadaan ini.
Sikap manisnya selalu membuat harapan itu kembali tumbuh meski pada akhirnya harus kembali luruh.
Semua berjalan baik-baik saja, awalnya.Tapi lagi-lagi Sheila mengetahui hubungan kita dia tau jika kita diam-diam masih berhubungan selama ini.
Sheilla menemuiku dan kali ini dia benar benar memohon agar aku menjauhi Yoga.Aku juga sedih melihat itu, sepertinya Sheila sangat mencintai Yoga sehingga dia selalu memaafkan Yoga meski berkali-kali di selingkuhi.
Ya perselingkuhan Yoga denganku bukan yang pertama kali.Sheila menceritakan tentang dirinya yang sudah sering di selingkuhi tapi dia tidak bisa melepaskan Yoga karena mungkin sudah terlanjur sayang.
Aku berpikir keras bagaimana caranya untuk melupakan Yoga karena sekarang perasaanku mulai ragu kepadanya apalagi setelah mendengar cerita Sheila yg sudah terbiasa di selingkuhi.
Dari sana aku sedikit khawatir apa mungkin jika aku berhasil merebutnya dari Sheila suatu saat dia juga akan berbuat hal yang sama, menduakan aku seperti yang terjadi sekarang?
Aku memilih untuk benar-benar mengakhiri semuanya, meski sulit tapi ini yang terbaik.
Aku mulai menghapus tentang dia dari nomer hp, akun sosmed bahkan semua foto-foto saat kita bersama. Ini cukup menyakitkan namun aku tidak boleh lemah aku tetap harus melupakan semuanya dan melanjutkan masa depanku yang tentu masih sangat panjang.
Perlahan aku pasti terbiasa dan bisa melewati hari-hariku tanpa kabar darinya.Aku berusaha ikhlas melepasnya.
Aku sadar cinta tak harus selalu memiliki aku cukup tenang dengan pilihanku aku merasa ini pilihan terbaik meski sakit namun setidaknya aku sudah tidak lagi menyakiti perasaan wanita lain.
Biarlah perasaanku menjadi urusanku.Aku tidak ingin lagi melibatkan dia di hidupku.Aku sudah cukup bahagia pernah melukis kenangan indah bersamanya.
Di hatiku dia tetaplah sosok laki-laki terbaik yang pernah kutemui.Aku juga tidak menyesal mencintai dia.Aku rasa cintaku mungkin tepat hanya waktu dan caranya yang salah.
***
*Pov Author*
Sesekali Nada memandang ke arah jendela kamarnya.
Sejak beberapa hari Nada dan Yoga Raditya tak lagi saling menyapa.Mereka sepakat untuk saling melepaskan satu sama lain dan berusaha saling menahan diri untuk tidak berkomunikasi lagi.
Dulu setiap Nada merindukannya Nada selalu bisa dengan mudah menemukan dia karena Yoga selalu muncul untuk melempar senyumannya dibalik jendela itu tapi sekarang sudah tidak lagi.
Bahkan dia sudah jarang terlihat di rumahnya, dalam seminggu mungkin hanya pulang sekali dan hanya menghabiskan waktunya di dalam rumah.
Raut wajah yang sedih menghiasi hari-hari gadis itu, dia berusaha tetap semangat demi menggapai cita-citanya.Sekarang dia sudah mulai bisa mengontrol perasaannya.Saat merindukan Yoga dia selalu mengalihkannya pada hal lain.
Akhir-akhir ini Nada selalu menyibukkan diri dengan berbagai hobinya mulai dari membaca Novel, berenang atau sekedar hunting ceria bersama teman-teman sekolah nya.Dia benar benar ingin melupakan semua kenangan indah bersama pria itu.
Hari harinya terasa begitu panjang dan melelahkan saat di jalani tanpa cinta.Nada berusaha keras membangkitkan dirinya agar bisa kembali ceria seperti dulu tanpa beban dan tanpa memikirkan soal percintaan yang rumit.
"Nad, ke kantin yo,"ajak seorang sahabatnya.
"Males ah Put aku lagi pengen di kelas aja,"dengan wajah lesu dia menolak ajakan sahabatnya.
"Ah gak asik, ngapain sih diem mulu pasti masih mikirin cowok itu ya? Udahlah move on masih banyak kok yg lebih segalanya dari dia. Ngapain mikirin dia yang so kegantengan itu?"
Putri tidak tega melihat sahabatnya yang polos itu disakiti.
"Enggak kok emang lagi cape aja males keluar, kamu aja gih sana yang ke kantin aku nitip beli minum aja!"
"Hemm ya udah dehh okee bye." Akhirnya Putri melangkah pergi ke kantin sendirian.
*PoV Putri*
Nada terlihat begitu galau.Sebenarnya gak tega liat dia kayak gitu pedahal sebelumnya Nada tidak pernah terpengaruh oleh laki-laki seperti itu tapi kali ini sepertinya dia benar benar terlanjur sayang sama cowo yang namanya Yoga.
Kalau dia mau sebenarnya banyak cowok keren yang suka sama Nada di sekolahan, tapi gak tau kenapa dari dulu dia tuh anti banget pacaran sama cowok satu sekolah apa lagi sekelas.
Katanya klo putus atau ada masalah takut ganggu ke pelajaran, bikin males sekolah.
Tapi emang bener sih aku juga yang pernah pacaran sama cowok sekelas pas putus males banget sekolah males liat mukanya dia pas dikelas kan jadi bete bawaannya.Boro-boro bisa fokus buat belajar.
Tapi bener deh liat sahabat terbaik aku kaya gitu aku jadi sedih banget.Ya ampun Nad, semoga cepet-cepet bisa move on dan dapetin gantinya yang lebih baik ya.Aku yakin kamu pasti bisa.
"Nad, nih airnya!" Aku balik dari kantin membawa sebotol air mineral yang tadi dipesan Nada.
"Nad woy Nadaaa!" Aku setengah berteriak kepadanya.
Dia diem aja di panggilin, ya ampun ternyata ngelamun pantes aja gak jawab-jawab.Nih anak bener-bener ya galaunya kelewatan duhh kasian.Udah bucin akut sama si Yoga itu.
"Put bisa gak sih gak usah teriak-teriak, aku gak budeg kali sampe harus diteriakin gitu ih." Lah dia santai aja gak ngerasa dari tadi dipanggil pelan tetep gak denger.
"Lagian dari tadi dipanggilin lu gak nyaut-nyaut juga kan kesel, "ucapku sambil merengut.
"Iya deh sorry tadi lagi gak fokus," ucapnya.
"Sabar yaa nanti juga pas kuliah pasti nemu yang lebih segalanya kok gak usah mikirin dia terus!"
Aku berusaha menghibur Nada meski ia tidak terpengaruh sama sekali.Nada adalah sahabat yang baik,pinter dan selalu peduli sama orang lain aku beruntung banget bisa punya sahabat kaya dia.
*Pov Author*
Nada selalu merindukan kenangan bersama pria itu meski ia sadar mereka tidak akan mungkin bersama apalagi sekarang dia juga sudah memiliki Aldo.
Meski saat ini Nada tidak mencintai Aldo sama sekali dan masih merasa hambar jika bersama Aldo tapi sebisa mungkin ia selalu bersikap baik pada Aldo.
Lagipula Aldo selama ini begitu perhatian padanya.
"Sayang!" Panggil Aldo yang tiba-tiba sudah berada disamping Nada. "Ehh do," ucap Nada berusaha ramah dan tersenyum.
"Ngelamunin apa sih?" "hmm? gak ada ngelamunin apa-apa kok." "Yakin?" Tanya Aldo. "Iya do gak ada apa-apa, kamu ada apa tiba-tiba nyamperin kesini?" "Ng-ngga itu tadi abis ketemu Zian," ucap Aldo gugup. Nada sedikit memperhatikan gelagatnya Aldo yang agak aneh, sepertinya ada yang dia sembunyikan tapi Nada juga tidak terlalu perduli.
"Aku balik kelas dulu ya!" Ucap Nada sambil berdiri dan diangguki Aldo. Setelah Nada berlalu Aldo kembali menemui kawannya Zian dan Rendy mereka mengobrol banyak tentang sesuatu. "Eh gak nyangka lu beneran bisa jadian sama dia!" Ucap Rendy. "Kan udah gua bilang pasti dapet." Jawab Aldo dengan bangga. Mereka bertiga terus berbincang- bincang, sementara ditempat lain ada Nada yang sedang berjalan menuju kelas tiba-tiba teringat ada sesuatu yang tertinggal ditempat dia duduk tadi, Nada memutar kembali langkahnya ke tempat tadi."Oh ini dia pulpennya," gumamnya. Sekilas Nada melirik Aldo yang sedang asik berbincang dengan kedua temannya didepan pintu kelas mereka. Nada berniat menghampirinya untuk memberitahu kalau hari ini Nada ingin pulang sendirian saja. Namun setelah tiba dibelakang ketiganya Nada sangat marah.
"Okelah untuk taruhan kali ini lu menang do kita bayar ke lu karena lu udah berhasil dapetin Nada." Ucap Zian yang terdengar jelas ditelinga Nada. Dengan marah Nada mendaratkan satu tamparan dipipi Aldo. Ketiganya sangat kaget karena tiba-tiba Nada berada diantara mereka. Tidak ada satupun yang menyadari kehadirannya sedari tadi.
Setelah tamparan itu, Nada berlalu pergi tanpa berucap sepatah katapun.