Hari demi hari berganti waktu terus berlalu.
Dulu pernah berjanji untuk saling menggenggam namun akhirnya saling melepaskan hingga hanya tersisa sebuah kenangan.
***
Nada sudah mulai melakukan aktivitasnya seperti biasa, meski sebenarnya ia masih dibayangi rasa sedih dan kecewa karena ulah pria itu namun ia tak ingin berlarut dalam kegalauan, dia berusaha melupakan semuanya seakan tidak pernah terjadi.
Hari minggu itu Nada lari pagi sendirian. Sebuah headset menggantung di telinganya, ya seperti biasa dia berjoging dengan ditemani alunan musik dari ponselnya.
"Nada...Nada...hey tunggu!"Teriak seseorang kepada Nada.
Ia pun langsung menoleh dan mencari-cari sumber suara yang hanya terdengar samar karena terhalang headset .
"Loh Gilang kamu ngapain disini?" Nada bertanya kepada seorang pria yang sedari tadi berada di belakangnya.
"Ngikutin kamu lah Nanad, dari tadi dipanggil panggil tapi kamu gak nyaut akhirnya aku terus berlari dibelakang, " jawabnya dengan nafas terengah-engah.
"Ya terus ngapain kamu ngikutin aku?" Nada sedikit bingung tidak biasanya Gilang ada urusan dengan Nada.
"Jadi aku mau ngasih tau kalo tadi pacarnya Yoga telepon dan ngabarin katanya Yoga pingsan tuh di kampus, tadi juga ceweknya sempet nanyain kamu."
"Terus apa urusannya sama aku? Kan udah ada cewenya juga ngapain dia nanya nanyain aku emang gak bisa urus cowoknya sendiri hah?" Nada menjawab dengan ketus karena masih sangat kesal ketika mendengar tentang laki-laki itu.
"Ya gak tau juga mungkin ada perlu aja sama kamu,"ucap gilang sambil mengikuti Nada yang sedari tadi sudah berjalan.
"Ah udahlah males aku ngomongin dia, biarin aja mau pingsan mau sakit bodo amat aku,"omelnya dengan wajah kesal.
"Tumben cuek gitu Nad biasanya kan kamu yang paling perduli sama Yoga?"
Gilang merasa bingung dengan sikap temannya kali ini.Gilang memang tidak tau permasalahan di antara kedua temannya itu, Gilang dan teman yang lainnya hanya mengira Nada dan Yoga dekat sebagai teman biasa seperti yang lainnya.
"Ya gak papa sih aku cuman lagi males aja ngomongin dia, lagian kalo dia pingsan udah ada ceweknya juga yang urusin gak usah khawatir,"ujarnya berusaha tenang.
"Kalian berantem ya, berantem masalah apaan sih?cerita coba!" Cecar gilang penasaran.
"Atau kamu mulai suka sama dia makanya cemburu sama pacarnya ya?"
"Ish apaan sih ngawur kamu," sangkalnya.
Gilang terus menggoda Nada dan berusaha untuk meminta jawaban tapi Nada tetap tak menghiraukan dan memilih melanjutkan jogingnya tanpa menjawab pertanyaan Gilang.
Dalam hatinya Nada juga sebenarnya merasa khawatir kepada Yoga namun dia memilih untuk masa bodo karena tidak ingin lagi berhubungan dengan laki-laki itu, terlebih jika kekasihnya tau mungkin dia akan kembali di marahi seperti waktu itu.
Nada terus berusaha melupakan tentang Yoga.Tapi tak bisa dipungkiri perasaannya masih terlalu besar untuk pria itu.
Begitupun dengan Yoga dia masih terus memikirkan Nada sayang mereka terlambat bertemu karena Yoga sudah terlebih dahulu menjadi milik orang saat mereka kenal.
Tring. . .
*Pesan masuk*
Nada mengambil ponselnya dan ternyata itu pesan dari Yoga yang mengajaknya bertemu karena dia bilang rindu.
"Ya ampun susah payah aku melupakan tentang dia dan dengan gampangnya seketika dia menghancurkan usahaku," gumamnya.
Dengan perasaan dilema dia terus memandangi layar ponsel itu tanpa berniat untuk membalas.
Tok..tok..tok
Tiba tiba ada suara pintu diketuk.Nada bergegas untuk membukanya.
Seseorang yang tidak asing berdiri membelakangi pintu.Nada sangat kaget melihatnya dan hampir menutup pintunya kembali namun pria itu menahannya.
"Nad jangan tutup dulu, kita ngobrol sebentar ya," pinta Yoga.
"Apalagi sih kak? Apa yang mau dibicarain gak ada yang perlu dibahas lagi!" Ucap Nada kesal.
"Aku sayang sama kamu, kita baikan ya aku mohon jangan kaya gini".
Yoga terus berusaha meyakinkan Nada meski Nada masih terlihat cuek dan seolah tak mendengarnya. Laki-laki itu tetap tidak menyerah hingga Nada berpikir mungkin kali ini Yoga akan memperjuangkannya.
"Ya Udah mau ngomong apa ayo cepetan aku sibuk mau ngerjain tugas!"
"Jadi sebenarnya aku gak begitu cinta sama Sheila, bahkan orang tuaku juga kurang setuju sama dia karena usianya lebih tua di atas aku tapi aku juga gak bisa ninggalin dia gitu aja karena dia udah baik banget selama ini,"jelasnya berharap Nada akan luluh dan mau kembali dengannya.
"Terus?" Jawab Nada acuh.
"Kasih aku waktu buat selesaikan urusanku sama dia, aku harus cari waktu yang pas buat ngomong ke dia," ucapnya meyakinkan.
"Ya Udah kamu beresin dulu aja masalah kamu sama dia Kak," jawab Nada sambil menutup pintu dan kembali ke kamarnya.
***
"Apa Mungkin aku mampu menyakiti hati wanita lain sementara aku juga wanita"
"Ah tapi bagaimana aku sudah terlanjur mencintainya, tapi... aku juga tidak ingin menjadi perusak hubungan mereka, untuk saat ini biar saja perasaan ini ku pendam sendiri,"gumam Nada yang semakin dilema.
Mungkin untuk saat ini lebih baik menjauh seperti ini dulu.Nada akan memberi waktu untuk Yoga menyelesaikan urusannya dengan Sheila.
Dia percaya jika Yoga memang benar benar mencintai Nada pasti akan memperjuangkan nya dengan cara apapun. Tapi jika tidak itu artinya Yoga memang tidak berniat tulus kepadanya.
Sebenarnya tidak sulit jika dia ingin memiliki seorang kekasih, begitu banyak laki-laki yang mengejarnya selama ini.Namun dihatinya sudah terisi penuh oleh laki-laki yang selama ini memperlakukan nya dengan penuh kasih sayang.Laki-laki yang selalu membuat dirinya begitu bahagia.
Meski sekarang sudah dikecewakan tapi perasaan nya tak bisa hilang begitu saja terlebih laki-laki itu adalah first love, First kiss sekaligus patah hati pertamanya.
***
Setelah satu bulan ini menjauhi Yoga.Nada berusaha membuka hatinya untuk laki-laki lain berharap bisa melupakan semuanya dengan cara seperti itu.
Dia jadian dengan laki-laki bernama Aldo.Aldo adalah salah satu kakak kelasnya yang memang sudah mencintai Nada sejak lama bahkan telah berkali kali menyatakan cintanya namun baru kali ini Nada menerima pria itu karena alasan ingin melupakan Yoga.Lebih tepatnya sebagai pelampiasan. Ah tidak itu terlalu jahat?
Bell pulang sekolah sudah terdengar.
Nada bersiap untuk pulang sedangkan Aldo sudah menunggu di parkiran rupanya dia sudah siap mengantarkan pacar barunya itu pulang.
Meski sebenarnya Nada kurang nyaman namun Nada berusaha bersikap baik dengan Aldo yang kini sudah menjadi kekasihnya.
Setelah dirasa siap Aldo melajukan motornya, sepanjang perjalanan dia tersenyum bahagia, setelah sekian lama akhirnya dia berhasil mendapatkan cinta pujaan hatinya.
"Yank pegangan dong," ucap Aldo, sembari mengambil tangan Nada dan melingkarkan ke pinggangnya.
Nada hanya diam dan menurut saja dengan yang dilakukan Aldo.Sepanjang perjalanan Nada tak banyak bicara.Setelah 30 menit motor melaju mereka tiba di depan rumah Nada.
"Kamu langsung pulang aja ya, mamah papah juga lagi gak di rumah," ucap Nada.
Nada memang tidak menginginkan Aldo mampir makanya dia langsung berkata seperti itu begitu sampai.
"Ya Udah sayang kamu masuk gih istirahat, aku pulang ya bye," ucap Aldo sambil melambaikan tangannya dan bersiap untuk melajukan motornya kembali.
"Huuuh...huuuuh...." Suara sorakan yang tiba tiba terdengar ramai.
Nada menoleh dan ternyata sekumpulan teman-temannya yang biasa berkumpul di sana.Yoga juga ada melihat Nada di antar laki-laki lain wajahnya terlihat begitu kesal.
Nada tidak menghiraukannya dan langsung masuk ke dalam rumah.
Teman teman pria nya itu memang kebanyakan menaruh perasaan kepada Nada.Mereka tidak suka jika Nada di antar pria lain bahkan setiap harinya mereka selalu menawarkan diri untuk mengantar jemput Nada tapi Nada tidak pernah menanggapi.
"Apaan sih norak mereka masa pulang pulang aku disorakin kaya gitu mana masih ada Aldo lagi malu maluin!"Nada menggerutu sambil melihat mereka dari kaca jendela kamarnya.
Tring...
*Sebuah pesan masuk*
"Kamu diantar siapa tadi?".
Pesan dari yoga dengan emoticon marah.
"Kenapa?" balas Nada singkat.
Karena penasaran Yoga menelpon Nada dan menanyakan tentang laki-laki yang mengantar Nada tadi.
Yoga: "Siapa sih yang tadi ko kamu deket banget?"
Nada:"Kakak kelasku"
Yoga:"Pasti lebih dari itu kan? Jujur aja"
Nada: "Iya dia pacar baru aku,kenapa? "
Yoga:"Oh jadi gitu sekarang?"
Nada:"Kenapa? Kamu juga punya pacar kan? Masa aku gak boleh"
Yoga:"Ya Udah terserah" Yoga kesal dan menutup teleponnya.
Yoga memang memiliki kekasih tapi tak bisa dipungkiri bahwa diapun Cemburu jika melihat Nada dengan laki-laki lain.
"Apaan sih egois banget siapa dia, dia sendiri juga punya pacar kan, " umpat Nada kesal.
Seminggu dua minggu mereka tidak saling berkomunikasi dan mencoba saling melupakan satu sama lain.Yoga juga berusaha untuk tidak lagi mengganggu Nada setelah melihat Nada bersama Aldo.
Meski sebenarnya ia tak rela, Yoga tidak ingin egois dia hanya ingin melihat Nada bahagia walau harus sakit melihat gadis yang di cintainya bersama pria lain.
Tapi semakin lama rasanya malah semakin tak rela.Rasa rindu di antara mereka membuat pertahanan keduanya runtuh.Akhirnya mereka kembali saling berhubungan dan jalan diam-diam.
Mau bagaimana perasaan itu terus muncul dan tak bisa dihindari meski keduanya telah berusaha namun hasilnya sia-sia.Hari ini mereka bertemu di sebuah cafe dan makan berdua.
Selesai makan keduanya pergi ke suatu tempat yang dulu sering mereka kunjungi.Tiba-tiba gerimis mulai turun.
Yoga menggenggam tangan Nada yang dingin lalu memeluk tubuh mungilnya mereka berdua benar benar saling merindukan karena beberapa minggu terakhir yang tidak saling bertemu.
Tanpa pikir panjang Yoga mencium bibir ranum gadis itu, mereka kembali setelah sekian lama.Perasaan keduanya sudah tak bisa lagi dipendam.
Mereka kembali saling berpelukan, pelukannya semakin erat keduanya terhanyut dalam rindu.
Yoga dan Nada bergegas untuk pulang,hujan sudah reda dan matahari sudah kembali cerah.
Mereka terlihat saling mencintai.Namun ada perasaan bersalah yang menghantui setiap kali mereka bertemu.Sekuat apapun Nada berusaha menepisnya, perasaan bersalah itu akan tetap ada.Terlebih Nada juga sekarang sudah ada Aldo.
Nada sudah mulai percaya lagi dengan laki-laki itu.Meski didalam hati masih ada kegelisahan dan rasa takut terluka lagi tapi cinta memaksanya untuk kembali membuka hati yang sudah mati-matian ia kunci.
Air mata Nada menetes berkali kali menyadari kebodohannya.Biar bagaimanapun mereka tau bahwa yang mereka lakukan itu salah, ada seseorang yang tersakiti di balik hubungan itu.
"Biarlah aku egois, setidaknya untuk saat ini saja aku ingin bahagia tanpa memikirkan perasaan orang lain, aku ingin menikmati kebersamaan kita, jika setelah ini kita harus berpisah maka aku akan berusaha ikhlas dan mengubur semuanya dalam dalam," ucap Nada sambil kembali mengeratkan pelukannya.
"Jangan ngomong gitu, rasanya gak sanggup liat kamu sedih, aku juga hanya ingin liat kamu bahagia jika nanti kamu mendapatkan seseorang yang lebih baik dan lebih menyayangi kamu, aku janji tidak akan menghalanginya lagi!"
Yoga memang tulus mencintai Nada jika saja takdir mempertemukan mereka lebih dulu mungkin mereka akan sangat bahagia dan kisahnya tidak akan serumit ini.