*flashback on
* Elwin POV
Gua males banget ada dirumah sakit ini, dan gua males liat Dokter sok tau itu. Dan gua punya rencana besar buat nyingkirrin dia dari rumah sakit ini. Biar dia tau akibatnya terlibat masalah sama gua. Ya, gua masih kesel banget sama cewe k*****t yang ikut campur urusan gua dan akhirnya buat gua malu. Gua udah mikirin ini dari kemaren. Dan..taraaa...gua punya ide yang cemerlang. Gua tau kalo gua adalah pasienya dia dan menjadi tanggung jawabnya dia dengan semua keadaan yang terjadi sama gua. Dan kalian tau apa yang gua rencanain ? Mau tau ?
Ok bakal gua kasih tau. Gua akan nyingkirin dia dengan cara, bikin keadaan gua kembali drop ! weitsss, kalian pasti berfikir kalo cara itu akan merugikan diri gua sendiri ? Memang sih, tapi kalau gua kembali drop, kan dia bakal disalahin tuh karena nggak ngerawat gua dengan baik, ya lo tau lah, tanggung jawab dokter sangat besar. Selain itu ini sebagai tanda protes gua sama kakak gua yang lebih belain dokter itu, sebenernya adiknya dia siapa sih ? Gua atau dia ? Bingung deh. Dan karena dia nggak nurutin kemauan gua. semua orang yang nggak nurutin kemaun gua akan berurusan dengan gua, siapapun, inget Siapapun ! Bahkan gua nggak akan segan-segan berurusan dengan kakak gua kalo dia nggak nurutin kemauan gua. Kenapa ? Ngira gua jahat ? Terserah kalian deh. Emang gua kaya gini.
Dan gua juga dirawat sama Suster yang parah abis, maunya dia nurutin kemaun gua ? Suster macam apa itu ? Eits tapi nggak bisa nyalahin juga sih, kalo dia nggak mau ngelakuin apa yang gua mau, dia bakal berurusan juga sama gua, emang pilihan yang bagus itu nurut ama gua, biar nggak susah hidup lo.
............................
* Author POV
Seorang wanita yang merupakan ahli gizi rumah sakit itu masuk keruangan Elwin dengan membawa nampan berisi makanan dan obat untuk Elwin. Wanita itu terlihat salah tingkah ketika Elwin menatapnya, padahal tatapan Elwin sangatlah dingin. Wanita itu lalu mulai membuka plastik yang menutupi piring makanan tersebut. Saat wanita itu ingin memberikan piring itu kepada Elwin, ia menolaknya.
" gua nggak mau makan !" tolak Elwin tanpa menatap wanita tersebut.
" tapi bapa harus makan " bujuk wanita itu.
" gua bilang nggak mau ya nggak mau, denger ngk sih ?! " bentak Elwin menatap wanita itu emosi yang membuat sang wanita yang diketahui bernama Sandra teperanjat kaget. Dari yang tadinya ia salah tingkah karena harus merawat lelaki tampan, kini merasa ketakutan dan tidak berani melihat Elwin.
" tapi kalo bapa nggak makan bagaimana mau minum obat ? Makan ya pak, kalo nggak saya yang disalahin " bujuk Sandra lagi.
" lo denger nggak sih hah ?! Gua rasa lo punya gangguan deh sama kuping lo !" Bentak Elwin kesal.
" tapii pak..."
" lo diem ok, gua akan bayar lo tapi nggak usah bilang kalau gua nggak mau makan dan nggak minum obat ok ? Atau kalo lo masih maksa, gua akan bilang sama atasan lo kalo kerjaan lo nggak bener " ancam Elwin.
" tapi pak saya nggak bisa, saya.." ucapan Sandra lagi lagi dipotong Elwin.
" lo mau gua laporin hah ? Udah nurut aja kata-kata gua, lo bakalan aman selama lo nurut sama gua, dan inget jangan laporin sama kakak gua dan dokter yang ngerawat gua itu, bakal bawel nanti " Elwin memperingati.
Sandra bingung harus berbuat apa. Elwin mengusir wanita itu. Ntah apa rencananya, yang pasti ia melakukan itu karena ada maksud tertentu. Dan tidak ada yang bisa membantahnya.
Sampai malam hari, Elwin tidak mau makan dan minum obat. Minum air pun iya tidak mau, ntah ia bermaksud puasa atau apa, memang pikiranya sangat susah ditebak.
Tala seperti menyadari keadaan aneh Elwin saat ia memeriksa terakhir kali dihari itu. Tapi Elwin langsung mengusirnya saat Tala sudah selesai memeriksa. Tala hanya pasrah, ia tidak mau membuat keributan dirumah sakit, apalagi ia seorang dokter.
Malam harinya, sekitar jam 23.30, Elwin kembali merasakan gelagat tidak enak dari tubuhnya. Ini yang ia mau, keadaanya memburuk.
Sandra kaget ketika ia masuk ke ruangan Elwin untuk memeriksa Infus dan keadaan Elwin, setidaknya ia mengerjakan tugasnya sebagai suster yang sudah dipercaya untuk menjaga Elwin. Keadaan Elwin kini sudah sangat parah, keadanya sama seperti ia pertama kali masuk kerumah sakit. Jam menunjukan pukul 02.30. Sandra yang cemas segera memeriksa keadaan Elwin, keadanya sudah sangat buruk. Tanpa berfikir panjang,Sandra segera menghubungi Dokter Tala.
*flashback of
Mengingat cerita yang ia dengar dari Sandra juga Tala, membuat Oca kelelahan. Kelakuan adiknya sudah di luar batas. Ia tau adiknya sangat keras kepala, dan tidak senang jika ada yang membantah perkataanya, tapi ia tidak berfikir kalau adiknya akan melakukan sejauh ini ketika ia merasa kecewa.
Oca merasa pusing saat ini, hati dan pikiranya sudah sangat lelah untuk memikirkan soal adiknya. Yang bisa ia lakukan untuk adiknya saat ini hanya berdoa untuk kebaikan dan kesembuhanya.
" semoga ada wanita yang bisa bener-bener bikin lo jatuh cinta de biar lo tau rasanya perjuangin sesuatu dan rasanya berkorban, lo bisa jaga perasaan orang dan berfikir untuk nggak nyakitin orang itu, gua percaya lo cowo yang baik, ego yang ada di diri lo yang menutupi kebaikan lo, gua kangen sama lo yang dulu. " Ucap Oca lirih.
Rasanya Oca ingin sekali menangis ketika melihat adiknya saat ini, ego yang ntah muncul dari mana yang membuat kebaikan adiknya ini tertutupi. Oca sayang pada adiknya, sesibuk apapun ia, ia akan mengorbankan waktunya bersama anak dan suaminya jika adiknya sedang membutuhkanya, hanya saja Elwin selalu berpendapat bahwa ia tidak membutuhkan orang lain ataupun keluarganya. Oca cukup mengerti itu, adiknya terlalu kecewa dengan orang tua mereka yang mementingkan pekerjaanya.
Ceritanya dimulai saat Elwin masih kecil.........