Kejadian saat dimana Elwin ketahuan membicarakan yang tidak-tidak tentang Tala tak membuatnya kapok atau sadar akan kesalahanya, egonya terlalu kuat untuk mengakui setiap kesalahan yang ia buat.
Sudah 3 hari Elwin dirawat di rumah sakit, keadaanya mulai membaik walaupun masih harus dalam pengawasan medis. Elwin tetap kekeuh ingin di rawat oleh dokter pribadinya, sedangkan Dokter Randy benar-benar sedang sibuk dengan pekerjaanya. Oca sudah lelah memberitahukan adiknya, ia hanya malas berdebat dengan adiknya yang ia tau tidak akan ada ujungnya.
Hari ini, Oca tidak bisa menjaga adiknya, karena ia sudah 3 hari meninggalkan keluarganya untuk menjaga adiknya yang keras kepala itu. Oca agak berat meninggalkan adiknya sendiri, pasalnya tidak ada yang bisa menjaganya. Dika sangat sibuk dengan pekerjaanya dan ia sedang berada di luar kota, sementara orang tua mereka berada di luar negri dan sedang sibuk dengan pekerjaan mereka. Elwin juga tidak mau merepotkan orang tuanya hanya untuk menemaninya.
" lo yakin ditinggal sendiri ? " tanya Oca masih tidak yakin. Jam menunjukan pukul 6 pagi, Setelah bangun dan mandi, Oca sudah siap untuk kembali kerumahnya.
" gua bukan anak kecil lagi ka, nggak apa-apa sih " sinis Elwin yang terpaku pada ponselnya.
"ditanya baik-baik dijawab begitu, adek durhaka emang " cerocos Oca kesal, sementara yang diomongin hanya ngedumel tak jelas.
" ya udah gua balik ya, suami gua udah jemput, inget jangan macem-macem ! " pamit Oca lalu segera pergi meninggalkan ruangan Elwin.
Elwin melihat kepergian kakaknya dengan wajah datar, ntah apa yang ia rasakan, hanya ia dan Tuhan yang tau.
.............................
Setelah menyelesaikan pekerjaanya, Tala segera pulang untuk beristirahat. Tala tinggal sendiri di sebuah kontrakan yang tidak terlalu jauh dari tempatnya bekerja, sekitar 15 menit mengendarai motor atau mobil. Ia memiliki orang tua, seorang kakak dan seorang adik, ia anak ke 2 dari 3 bersaudara. orang tua, kakak dan adiknya tinggal di Surabaya. Memang jauh antara jakarta dan surabaya, namun Tala selalu menyempatkan waktunya untuk mengunjungi orang tuanya.
Tala segera mengendarai mobilnya menuju kontrakanya. Mengapa Tala memilih kontrakan padahal ia seorang dokter ? alasan Tala karena ia tidak mau membeli rumah besar sedangkan ia hanya tinghal sendiri, lebih baik kontrakan kecil yang cukup untuk dirinya sensiri, toh waktunya ia habiskan di rumah sakit, semnetara di kontrakanya hanya untuk beristirahat. Tala juga bukan orang yang senang menghamburkan uangnya. setiap bulanya ia selalu mengirim uang untuk orang tuanya.
Tala sampai di kontrakan jam 23.00. Seharusnya ia sudah selesai bekerja pada jam 19.00, hanya saja beberapa pekerjaan harus dia kerjakan hingga menyita waktunya.
Sesampainya di kontrakan, ia segera mandi dan segera beristirahat, karena esok paginya ia harus berangkat sangat pagi untuk menyiapkan semua pekerjaanya yang belum selesai tadi.
Sangking lelahnya, baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Tala langsung terjun ke dunia mimpi.
.................................
Kringggg..........
Kringggg..........
Tala terbangun ketika ponselnya berbunyi menandakan sebuah telfon masuk.Ia melihat siapa yang menelfonya malam-malam begini, sekarang masih jam 02.40 dan sudah ada yang menelfonya ? Ternyata yang menelfonya adalah Sandra, salah satu suster yang ada di rumah sakit tempat Tala bekerja. Dengan kesadaran yang masih setengah ia menggeser lambang telfon berwarna hijau ke arah kanan lalu segera menempelkan ponselnya di kuping.
" Halo.." sapa Tala dengan suara khas orang bangun tidur.
" halo dok, pasien yang bernama Elwin tiba-tiba drop " Ucap Suster itu panik.
" drop bagaimana ? " tanya Tala masih belum konek, wajar saja namanya orang baru bangun tidur, otaknya belum terkonek secara sempurna.
" Kesehatanya menurun dok, dokter bisa kesini ? " tanya Suster itu lagi panik.
" kenapa tidak dokter lain saja ? " tanya Tala mulai sadar dan segera mendudukan badanya.
" dokter lain sedang sibuk karena ada pasien kecelakaan, lagipula karena Dokter Tala yang menanganinya jadi semua dokter tidak berani bertindak. " jelas suster itu. Tala hanya mewajari, bagaimanapun Elwin adalah pasienya dan menjadi tanggung jawabnya.
" baik, sekarang kamu terus perhatikan perkembanganya, dan jangan lupa menghubungi keluarganya, Sekitar 30 menit lagi saya kesana " ucap Tala lalu segera memutuslan percakapanya. Tala segera beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
...............................
" bagaimana pasien bisa drop ? Bukankah keadanya kemarin sudah membaik ? " tanya Tala sambil memeriksa keadaan Elwin yang kembali parah, keadanya hampir sama seperti pertama kali ia masuk ke rumah sakit.
" hmm...anu..hmn " Suster Sandra sangat gugup.
" kenapa ? " tanya Tala memperhatikan Sandra.
" hmm..Pasien...hmm...pasienn.." Sandra masih saja gugup, seperti ada yang ia tutupi.
" katakan dengan jelas, jangan ham hem ham hem " ucap Tala kesal.
" pasien tidak makan seharian dan juga tidak mau meminum obatnya, dan sempat melepaskan selang infusnya " Ucap Sandra menundukan kepalanya seperti orang ketakutan.
" apa ? Bagaimana bisa seperti itu ? " tanya Tala kaget, tidak mungkin rumah sakit lalai seperti ini, dan seharian tadi Tala memeriksa keadaan Elwin, tapi tidak melihat gelagat Elwin yang seperti itu.
" hmm...saya..sayaa... " ucap Sandra malah tambah gugup.
" Ada yang nggak beres nih " batin Tala.
Setelah memeriksa keadaan Elwin, Tala segera pergi keruanganya dan memanggil Sandra.
..............................
Oca sangat sedih ketika melihat keadaan adiknya yang kembali memburuk. Bagaimanapun Elwin adalah adik satu-satunya yang ia punya.
Oca sudah mendengar apa yang terjadi dengan adiknya. Sebenarnya ia sangat kesal dengan kelakuan adiknya ini. Tapi tidak mungkin Oca marah-marah ketika adiknya dalam keadaan seperti ini, dan tidak mungkin ia marah pada pihak rumah sakit, ia sadar, ini murni kesalahan adiknya.
" maksud kamu tuh apa sih dek ? Selalu seenaknya, liat kan sekarang, siapa yang susah ? Kamu juga " ucap Oca di samping adiknya yang sedang terbaring lemah.
*flashback on*
.................................