Dikamar Inap, Elwin masih terlihat sangat lemah walaupun tadi ia masih sempat marah-marah. Elwin kesal pada kakaknya. Ia berfikir kenapa harus dibawa ke rumah sakit sementara mereka mempunyai dokter pribadi ?
Elwin juga merasa tidak asing saat melihat dokter yang memeriksanya tadi. Padahal ia baru pertama kali masuk ke rumah sakit ini. Biasanya ia dirawat oleh dokter pribadinya di rumah. Elwin sebenarnya paling anti dengan semua yang berbau rumah sakit.
Elwin terus berusaha mengingat dimana ia melihat Dokter itu.
"Ah iya, itu cewe yang waktu di cafe kan ? " tanya Elwin dalam hati ketika ia berhasil mengingat.
Saat mengingat kejadian di cafe, tiba-tiba wajah Elwin terlihat memerah, sepertinya ia masih merasakan malu yang amat sangat. Dan secara bersamaan rasa kesal muncul ketika mengingat kejadian itu. bukan kesal pada dirinya, tetapi kesal pada wanita yang ikut campur urusanya dan sekarang menjadi dokter yang akan merawatnya.
Saat sedang asik dengan pikiranya, pintu kamar rawat Elwin terbuka. Ternyata Oca yang masuk. Oca belum kembali ke kamar sejak kejadian dimana Elwin baru sadar dan sudah membuat dirinya kesal.
" lo nggak jadi di suntik mati ? " tanya Oca terlihat masih kesal dan duduk di bangku yang di sediakan rumah sakit.
" lo mau banget ya gua cepet mati ? " tanya Elwin balik yang berusaha mengangkat kepalanya melihat Oca yang duduk tidak terlalu jauh dari tempat ia berbaring.
" ya gitu deh " jawab Oca enteng, lalu mulai sibuk dengan ponselnya.
" kak, pokoknya gua nggak mau dirawat, cepet-cepet telfon dokter Randy biar gua bisa keluar dari tempat ini ! " perintah Elwin.
" lo pikir lo siapa hah ? Emang pasien dokter Randy cuma lo doang ? gua juga udah bilang kan dokter Randy lagi nggak ada di Indonesia. Udah deh, disini rumah sakit yang bagus kok " jelas Oca kesal tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
" tapi kak, gua nggak mau disini, makanannya nggak enak tau nggak " ucap Elwin beralasan.
" lah, kalo mau makan enak jangan masuk rumah sakit lah, masuk rumah makan padang sana " ledek Oca masih terpaku pada ponselnya.
" gua juga nggak mau dirawat sama dokter siapa tuh ? " tanya Elwin memastikan.
" Dokter Tala, Win " jawab Oca malas.
" siapapun namanya, gua rasa ya dia itu dokter magang deh, kerjaanya nggan bener, dokter kok ikut campur urusan pasiennya, udah melanggar kode etik dokter" Elwin terus beralasan.
" dia baik, gua udah ngobrol banyak sama dia " Kini Oca mulai melihat ke arah Elwin
" Baik ? Apaan ? Kaya cewe murahan gitu, jijik gua liatnya " ucap Elwin sedikit keras.
" Win lo........" ucapan Oca terpotong ketika 2 orang masuk ke dalam kamar inap Elwin.
" maaf, bisa saya periksa keadaan anda ? " tanya Seorang Dokter yang adalah Tala.
Oca sangat kaget, Oca takut kalau Tala mendengar apa yang dikatakan adiknya tadi. "Emang anak k*****t, ngomong di saring dulu kek " rutuk Oca dalam hati.
Sementara Elwin juga diam, ia juga cukup kaget dengan kedatangan seseorang yang baru saja ia jelek-jelekan.
Tala mendengar ucapan Elwin tadi, hanya saja, ia berfikir bahwa Elwin adalah pasienya, bukan waktunya untuk membawa perasaan ke dalam pekerjaan.
Tala mulai memeriksa keadaan Elwin. Elwin masih diam tidak berkata apa-apa, sementara Oca sudah menepuk dahinya beberapa kali merutuki kebodohan adiknya.
" hmm menurut pemeriksaan, Pak Elwin masih sangat lemah dan masih harus di rawat. Saya rasa pak Elwin harus dirawat beberapa hari di rumah sakit " jelas Tala pada Elwin da juga Oca.
Karena masih syok dengan kejadian tadi, mereka tidak mengatakan atau menyaut perkataan Tala. Sampai Tala pamit pun, mereka tidak sadar.
" emang b**o lo, kalo ngomong disaring dulu, liat keadaan juga, jangan asal jeplak, emang lo pikir dia sama kaya perempuan yang sering deketin lo, jangan pernah nilai semua cewe murahan, sama kaya cewe-cewe yang sering ngedektin lo " Marah Oca lalu pergi meninggalkan adiknya. Sementara Elwin mencerna perkataan Oca tadi. Ada rasa bersalah yang Elwin rasakan, tetapi ia cepat-cepat menepis rasa bersalah itu.
.............................
Tala sudah berada di ruanganya. Tala masih sedikit memikirkan apa yang dikatakan Elwin tentang dirinya. Bagaimanapun ia masih mempunyai perasaan. " apa dia nggak punya pikiran ya ? Ngomong asal jeplak aja " gerutu Tala dalam hati.
Tala mulai sibuk dengan pekerjaanya, melihat data pasien-pasien yang ia rawat dan menjadi tanggung jawabnya.
Terdengar suara ketukan dari pintu ruangan Tala. Tala sedikit berteriak untuk mempersilahkan masuk.
Tala cukup kaget ketika melihat Oca masuk ke ruanganya. Oca langsing duduk di bngku yang ada di hadapan Tala setelah Tala mempersilahkan dirinya untuk duduk.
" ada apa ya kak ?" Tanya Tala sopan.
" aduhh aku mau minta maaf sama kamu, pasti kamu tadi ngedengerkan kata-kata si curut, emang dia kalo ngmong nggak disaring, asal jeplak aja, aduh maaf ya " cerocos Oca. Mungkin inilah efek setelah Oca punya anak, atau memang pada dasarnya ia seorang yang cerewet ?
" hahaha.....nggak apa-apa tau kak, nggak usah heboh gitu ah " Tala tertawa ketika melihat gaya bicara Oca seperti orang ketakutan. Kelakuanya sangat lucu untuk ukuran wanita yang sudah menikah.
" aduh aku beneran nggak enak nih sama kamu, maaf ya de " maaf Oca sekali lagi.
" iya ka, aku beneran nggak apa-apa kok, lagian Elwin kan nggak tau aku kaya gimana, Jadi ya nggak apa-apa" ucap Tala tulus.
" aduhh makasih ya, kamu emang baik banget, emang si curut sok tau, kesel gua nih sama dia " Cerocos Oca lagi yang di tanggapi dengan tawa dari Tala.
Akhirnya mereka terlibat dalam percakan seru yang sering di iringi dengan tawa. Dan tidak jarang juga mereka membahas pasien menyebalkan yang tak lain dan tak bukan adalah Elwin.
................................