Erika membawa contoh undangan ketika menemui Jo, tetapi lelaki itu meminta mereka menyimpannya setelah ejaan terakhir dipastikan. Hari tersebut telah disediakan untuk melihat rumah, bukan menambah daftar tamu di sepanjang perjalanan.
Gadis itu setuju, memasukkan kertas ke tas, lalu membuka catatan lain. Ada kebutuhan yang telah mereka bicarakan sejak sebelum bertunangan: ruang kerja, tempat menerima Ibu, jarak yang masuk akal dari keluarga, dan bagian rumah yang dapat dipakai bersama tanpa selalu membawa pekerjaan.
Jo telah mencari beberapa pilihan, tetapi belum memutuskan. Erika juga memberi satu kemungkinan setelah memeriksa informasi yang cukup jelas. Mereka memilih dua untuk dilihat dahulu, tidak ingin menjadikan satu hari penuh perjalanan sampai semua keputusan dibuat karena lelah.
Rumah pertama rapi dan terasa cukup mewah. Ruang utama luas, cahaya masuk melalui jendela tinggi, dan beberapa bagian tampak seperti tempat yang biasa digunakan keluarga Jo untuk menerima tamu. Lelaki itu berjalan pelan, membayangkan meja makan dan tempat duduk.
Erika mengikuti, melihat ruangan yang dapat menjadi tempat kerja. Ada ruang cukup, tetapi letaknya terlalu dekat dengan jalan masuk tamu. Dia mencoba berdiri di sisi pintu, mendengar bagaimana suara dari ruang utama dapat mencapai meja yang belum ada.
"Aku mungkin sulit bekerja kalau orang datang," ujarnya.
Jo mengangguk, mendekat untuk melihat. Dia semula lebih banyak memperhatikan ukuran, lalu menyadari pertanyaan gadis tersebut mengenai kehidupan yang benar-benar akan berlangsung.
Mereka naik ke bagian lain, memeriksa tempat tidur, kamar untuk tamu, dan ruang yang masih belum mempunyai fungsi jelas. Banyak kemungkinan tampak bagus, tetapi ada juga pekerjaan tambahan yang tidak ingin diambil hanya karena rumah lebih besar tersedia.
Erika tidak menolak karena takut disebut ingin hidup terlalu nyaman. Dia justru menyukai beberapa bagian, mengatakan dengan jujur apa yang cocok. Namun, ketika duduk sebentar di dekat jendela, gadis tersebut belum merasa dapat membayangkan hari kerja biasa.
"Mas bagaimana?" tanyanya.
"Aku suka ruang utama. Tapi aku tidak ingin kamu terus mencari tempat yang cukup tenang di rumah sendiri."
Mereka berterima kasih setelah selesai, tidak memberi janji yang belum dibicarakan. Jo mencatat beberapa hal, lalu mengajak makan sebelum menuju tempat berikutnya.
Di meja, Erika memandang catatan dengan sedikit ragu.
"Aku terlalu banyak menanyakan ruang kerja?"
"Itu memang salah satu yang kita cari."
"Aku hanya takut semua rumah nanti harus cocok untukku, lalu Mas cuma menerima."
Jo tersenyum. Dia mengatakan dirinya juga mempunyai kebutuhan, termasuk tempat pulang yang tidak langsung terasa seperti ruangan menerima urusan perusahaan. Pada rumah pertama, beberapa bagian justru terlalu mirip dengan hal yang setiap hari sudah ditemuinya.
Erika mengangguk, mencatat. Mereka makan, membicarakan pilihan kedua, lalu berangkat setelah tidak lagi merasa harus segera memutuskan sesuatu agar pencarian terlihat berhasil.
Rumah kedua mempunyai halaman yang tidak terlalu luas dan ruang utama yang hangat. Ada pohon pada sisi yang membuat cahaya tidak langsung terasa tajam saat siang. Erika berdiri dekat jendela, memperhatikan tempat yang mungkin digunakan membaca.
Jo melihat bagian belakang, menemukan ruangan yang cukup tenang untuk bekerja tanpa harus melewati tempat tidur. Dia memanggil gadis tersebut, kemudian memberi ruang agar Erika dapat melihat sendiri.
Meja belum ada, tetapi arah cahaya membuatnya mulai membayangkan. Ada dinding untuk rak, pintu yang dapat ditutup ketika perlu fokus, dan jarak dari ruang tamu yang terasa lebih nyaman daripada rumah pertama.
Erika mencoba duduk pada kursi yang tersedia. Jo berdiri di dekat pintu, berpura-pura mengetuk dengan suara pelan.
"Penulisnya sedang menerima tamu?"
"Tergantung tamunya membawa apa."
"Makan siang."
"Boleh masuk."
Lelaki itu tertawa, berjalan mendekat. Gadis tersebut ikut tersenyum, merasa ruangan kosong sudah mempunyai bunyi yang dapat dikenali.
Mereka memeriksa kamar yang dapat digunakan Ibu ketika datang. Tidak terlalu jauh dari kebutuhan sehari-hari, dengan jendela yang tidak membuatnya harus bergantung pada lampu sepanjang siang. Jo menanyakan apakah Bu Mei lebih suka tempat tertentu, tetapi Erika mengatakan akan mengirim foto setelah benar-benar mempertimbangkan, bukan meminta Ibu memilih dari jauh.
Bagian dapur membuat gadis itu berhenti lebih lama. Dia membuka ruang simpan yang boleh diperiksa, melihat tempat gelas dan wadah, lalu membayangkan kebiasaan Ibu menaruh sesuatu pada sisi yang mudah dijangkau.
"Kamu sedang memilih tempat untuk wadah Bi Ani?" tanya Jo.
Erika tertawa. "Mungkin. Nanti Ibu juga pasti membawa."
"Berarti perlu cukup tempat."
Mereka berjalan ke bagian belakang, menanyakan hal yang belum jelas kepada orang yang mendampingi. Keadaan rumah diperiksa sesuai kebutuhan, bukan hanya permukaan yang terlihat bagus. Jo mencatat pekerjaan yang mungkin perlu diselesaikan sebelum ditempati. Erika memeriksa apakah bagian yang dipilih untuk menulis tetap nyaman ketika pintu lain dibuka.
Setelah semua cukup, mereka duduk sebentar di ruang utama. Suara dari luar terdengar, tetapi tidak menelan percakapan. Gadis itu memandang lelaki di samping, lalu tersenyum tanpa sengaja.
"Aku bisa membayangkan pulang ke sini," ujarnya.
Jo menatap ruangan. "Aku juga."
Mereka tidak langsung menetapkan hanya karena kalimat tersebut terasa romantis. Ada informasi yang masih perlu diperiksa, biaya yang harus disepakati, dan waktu penataan yang perlu dicocokkan dengan pernikahan. Namun, rumah itu menjadi pilihan yang sungguh-sungguh ingin diteruskan.
Hari-hari sesudahnya dipakai memeriksa hal yang diperlukan. Jo mengurus bagian yang memang dapat ditanganinya, Erika membaca serta menanyakan yang perlu diketahui. Keputusan besar dibicarakan sebelum ada pembayaran atau pekerjaan yang membuat salah satu merasa hanya menerima hasil.
Ketika akhirnya tempat disepakati, gadis tersebut memberi kabar kepada Ibu. Bu Mei melihat foto setelah dikirim, menanyakan ruang kerja lebih dahulu, lalu tertawa saat Erika menunjukkan tempat yang disediakan jika suatu hari ingin datang.
"Ibu belum pindah besok," ujarnya.
"Aku tahu. Tapi aku ingin Ibu tahu ada tempat."
Perempuan itu diam sebentar, kemudian mengatakan dirinya senang putri memikirkan dengan cara yang tidak memaksanya meninggalkan rumah Semarang. Erika menyimpan ponsel setelah panggilan selesai, merasa ada satu hal besar yang kini mulai mempunyai bentuk.
Penataan dilakukan bertahap. Jo tidak membeli seluruh perlengkapan sekaligus sebagai kejutan. Mereka memilih yang paling diperlukan untuk awal, menyisakan beberapa ruang agar kebiasaan yang sebenarnya dapat menentukan kemudian.
Lina membantu membandingkan tempat rak, bukan memilih seluruh isi ruangan. Kiki datang pada satu kunjungan, menilai meja yang terlalu kecil akan segera kalah oleh tumpukan kertas Erika. Gadis itu tertawa, menerima usulan yang memang masuk akal.
Iccha menunjuk tempat yang sebaiknya tidak dipakai menaruh gelas. Jo ikut mendengar, lalu mengatakan aturan tersebut tampaknya berlaku bagi semua orang yang masuk ruang kerja.
"Termasuk calon suami," jawab perempuan itu.
Erika menunduk dengan senyum yang masih sulit disembunyikan setiap kali sebutan itu muncul. Jo tertawa, mengangkat tangan seolah menerima keputusan rapat kecil yang kali ini tidak dipimpinnya.
Ada satu keputusan kecil yang justru memerlukan percakapan lebih panjang: tempat Jo meletakkan pekerjaan ketika pulang. Lelaki itu semula menganggap meja di ruang utama cukup, tetapi Erika menanyakan apakah itu akan membuat seluruh malam mudah berubah menjadi rapat yang belum selesai.
Jo melihat, mengakui mungkin. Mereka memilih bagian yang dapat digunakan untuk memeriksa hal penting, dengan tempat menyimpan yang tidak membuat kertas terus berada di sisi piring atau sofa.
"Aku juga tidak ingin bukuku menyebar ke semua tempat," ujar gadis itu.
Lelaki tersebut mengangkat alis. "Kamu yakin bisa?"
"Aku bilang tidak ingin. Belum bilang pasti berhasil."
Mereka tertawa. Erika lalu mencoba meletakkan beberapa buku pada rak yang belum penuh. Jo membantu memegang ketika satu ukuran terlalu tinggi untuk bagian yang dipilih. Mereka memindahkan, menemukan susunan lebih nyaman, dan berhenti sebelum seluruh sore digunakan membuat rak terlihat sempurna.
Di dapur, gadis itu mencoba mengambil gelas dari tempat simpan. Letaknya dapat dijangkau, tetapi salah satu pintu bertabrakan dengan gerakan yang biasa dilakukan. Jo melihat setelah Erika menunjukkan, lalu membantu mencatat penyesuaian yang masih dapat diminta.
"Kalau nanti Mas yang memindahkan, bilang," ujarnya.
"Supaya kamu tidak mengira gelas menghilang?"
"Supaya aku tidak memeriksa tiga tempat sebelum ingat kita punya kebiasaan berbeda."
Jo mengangguk, menyadari rumah bersama akan dipenuhi hal seperti itu. Bukan hanya keputusan besar yang memerlukan suara, tetapi tempat barang yang selama ini terasa otomatis ketika tinggal dengan keluarga sendiri.
Mereka berdiri sebentar dekat jendela setelah pekerjaan penataan hari itu selesai. Ada bunyi dari halaman, cahaya masuk pada sisi meja, dan ruangan yang belum penuh tetapi tidak lagi terasa kosong.
Erika mengatakan ingin membawa satu pembatas buku dari rumah Semarang. Benda kecil tersebut tidak berharga mahal, hanya sering dipakai Ayah ketika membaca. Jo menanyakan apakah Ibu masih menggunakannya, lalu mengangguk ketika gadis itu mengatakan akan meminta lebih dahulu.
Lelaki tersebut juga memilih satu benda dari kamar lamanya untuk dibawa. Bukan seluruh isi, bukan agar rumah baru menyerupai tempat sebelumnya. Dia ingin mempunyai bagian yang dikenal ketika beberapa kebiasaan harus dimulai lagi.
Erika mendengar, tersenyum ketika Jo mengatakan dirinya belum menentukan tempat. Tidak semua barang perlu memperoleh alamat sebelum masuk. Mereka dapat mencoba, melihat, lalu mengubah setelah benar-benar tinggal.
Pada akhir kunjungan, gadis itu menyimpan daftar yang lebih pendek daripada saat datang. Ada kelegaan karena yang paling diperlukan mulai tersedia. Sisanya akan menjadi pekerjaan bersama sesudah menikah, dan tidak harus dipaksa selesai agar pintu boleh dibuka.
Pada sore lain, ketika keluarga tidak ikut, mereka datang memeriksa hasil penataan. Rak masih kosong, tirai baru dipasang, dan meja sudah berada pada tempat yang dipilih. Gadis itu membuka tas, mengeluarkan satu buku untuk mencoba letak.
Jo melihat buku Anggrek berdiri di sisi meja. Dia mendekat, menyentuh ujung sampul setelah Erika mengangguk, lalu memandang nama penulis.
"Yang ini akan tinggal di sini?"
"Kalau aku jadi menaruhnya di meja. Bisa juga nanti di rak."
"Jangan terlalu jauh. Aku ingin membacanya lagi."
Erika tersenyum. Dia menggeser kursi, duduk, lalu menggoda lelaki tersebut karena baru beberapa menit sudah memberi alasan berada dekat meja.
"Aku belum bekerja sekarang," katanya.
"Aku tahu. Makanya datang."
Jo berdiri di samping, merapikan satu helai rambut yang tersangkut pada ujung tas. Gadis itu mengangkat wajah, dan ciuman singkat sesudahnya membuat ruangan terasa tidak lagi benar-benar kosong.
Mereka tertawa pelan ketika suara dari luar mengingatkan bahwa masih ada pekerjaan penataan. Erika bangkit, menyimpan buku yang akan ditinggal sebagai percobaan, lalu mengajak memeriksa bagian lain sebelum sore habis.
Di kamar tidur, belum semua barang ada. Mereka melihat letak yang sudah dipilih, membicarakan lampu dan tempat menyimpan barang. Gadis tersebut merasa pipi hangat, tetapi tidak menghindari percakapan seolah ruang itu belum akan menjadi bagian hidupnya.
Jo menangkap kegugupan, ikut tersenyum dengan wajah yang tidak jauh lebih tenang. Mereka kembali pada hal praktis setelah beberapa saat, menyadari rumah bukan hanya latar untuk adegan yang ingin dibayangkan, tetapi tempat bangun, lelah, mencari kaus, dan berdebat mengenai siapa memindahkan gelas.
Saat hendak pulang, Erika berhenti di ambang ruang utama. Matahari telah lebih rendah, membuat warna di dalam berbeda dari kunjungan pertama.
"Aku belum ingin memindahkan semua barang sebelum menikah," ujarnya. "Yang perlu untuk kerja masih di kamar."
Jo mengangguk. Mereka menyepakati kapan buku dan barang lain dibawa, dengan waktu yang tidak membuat malam sebelum acara berubah menjadi perpindahan terburu-buru.
Lelaki itu mengunci setelah semua selesai diperiksa. Di luar, mereka berdiri sebentar, memandang pintu yang akan dibuka bersama pada hari berbeda.
"Mas tadi sudah membayangkan pulang kerja?" tanya Erika.
"Sudah. Aku membayangkan kamu berkata masih satu halaman lagi."
"Mungkin memang."
"Aku akan belajar apakah satu halaman berarti sepuluh menit atau satu jam."
Gadis itu tertawa, meraih tangannya. Mereka kembali menuju kendaraan dengan rencana yang belum seluruhnya lengkap, tetapi cukup nyata untuk dijalani.
Malam itu, Ammar menemui Jo setelah urusan kerja selesai. Dia mendengar kabar rumah, tersenyum, lalu mengatakan dirinya serta Iccha juga mulai membicarakan masa depan dengan lebih sungguh-sungguh.
Jo menatap kakaknya, memberi ruang tanpa langsung menyusun tanggal berikutnya.
"Dia tahu kamu ingin?"
"Kami sudah bicara. Gue tidak ingin memakai pernikahan lo sebagai alasan semua harus cepat."
Lelaki itu mengangguk, mengatakan dirinya senang mendengar langsung. Ammar menepuk bahunya, mengingatkan bahwa untuk beberapa minggu ini tugas paling dekat tetap membantu adik sampai hari pernikahan berjalan.
Di kamar Erika, daftar penataan rumah mendapat beberapa tanda selesai. Gadis itu meletakkan pena, menatap foto meja yang telah dipasang, lalu mengirim kepada Ibu dengan satu kalimat sederhana: nanti buku Ayah juga ingin kubawa kalau Ibu mengizinkan.
Bu Mei menjawab bahwa mereka akan memilih bersama ketika datang. Erika tersenyum, menutup ponsel, dan kembali pada tulisan yang harus diselesaikan sebelum kalender memasuki hari yang lebih ramai.