Erika menyiapkan catatan sebelum panggilan keluarga dimulai. Jo duduk di samping, Daddy berada pada kursi seberang, dan layar segera menampilkan Bu Mei dari rumah Semarang.
Perempuan itu menyapa, menanyakan apakah semua sudah makan, lalu tersenyum ketika putrinya mengangkat gelas sebagai bukti bahwa dirinya tidak sedang bekerja tanpa berhenti sejak pagi.
Mereka memulai dari tanggal. Beberapa pilihan sudah diperiksa Jo dengan jadwal kerja, sementara Erika memastikan pekerjaan yang telah diterima dapat diselesaikan atau diatur tanpa janji yang saling bertabrakan. Ibu menyebut waktu yang memungkinkan dirinya tinggal beberapa hari di Jakarta, tidak datang saat acara hampir dimulai lalu langsung pulang keesokan pagi.
Setelah membandingkan, mereka memilih hari yang memberi beberapa minggu cukup untuk persiapan. Tidak terlalu jauh sampai semua terus tertunda, tidak terlalu dekat hingga keputusan dibuat oleh orang yang paling cepat memperoleh tempat.
Erika menuliskan tanggal, memandang Jo yang ikut menghela napas. Satu baris pada buku kini membuat rencana lebih nyata daripada seluruh percakapan sebelumnya.
Pembicaraan berikutnya mengenai tempat. Jo semula membayangkan acara yang juga mengundang banyak rekan kerja, tetapi Erika ingin bagian paling penting dijalani dengan orang yang benar-benar dekat. Dia tidak ingin pagi pernikahan terasa seperti acara perusahaan yang harus membuat semua hubungan terlihat baik.
Daddy mendengar, mengusulkan memisahkan kebutuhan. Bagian keluarga dapat dibuat lebih tenang, sementara jamuan sesudahnya tetap menerima orang-orang yang memang ingin diberi kabar. Mereka tidak perlu memilih antara mengundang seluruh daftar atau menolak semua orang di luar rumah.
Bu Mei menanyakan perjalanan dan tempat tinggal. Jakarta akhirnya dipilih setelah semua menyebut kebutuhan masing-masing. Ibu akan datang lebih awal, dengan tempat beristirahat yang jelas dan bantuan perjalanan yang tidak membuatnya bergantung pada jadwal terakhir.
Jo mencatat, lalu memandang Erika sebelum menentukan siapa yang menghubungi penyedia tempat. Gadis tersebut ingin ikut melihat, bukan hanya menerima foto ketika pembayaran sudah dilakukan. Mereka memilih waktu untuk kunjungan bersama.
Panggilan berlangsung cukup lama, dengan beberapa jeda ketika Ibu perlu mengambil sesuatu atau Daddy memeriksa catatan. Tidak ada yang menganggap setiap sunyi berarti persetujuan. Hal yang belum jelas ditanyakan, yang belum perlu diputuskan diberi waktu.
Saat sampai pada keluarga, Bu Mei menyebut Aldin. Suaranya menjadi lebih hati-hati, bukan karena ingin menutupi, melainkan karena tahu nama tersebut menyimpan arti berbeda bagi orang yang sedang duduk di sisi putrinya.
"Erika ingin kakaknya mendapat undangan," ujar perempuan itu. "Tapi Ibu tidak akan menetapkan sebelum kalian bicara."
Gadis tersebut memandang Jo. Mereka sudah membuka kemungkinan itu, tetapi belum memberi jawaban mengenai hari yang kini mempunyai tanggal.
Lelaki itu meletakkan pena. "Aku bersedia mengundang Aldin sebagai kakak Erika. Aku belum ingin dia mengambil peran di sisiku."
Erika mengangguk, napasnya perlahan terasa lebih lega. Dia tidak meminta Aldin kembali menjadi pendamping mempelai pria atau menganggap tempat tersebut hak yang dapat dipulihkan melalui acara baru.
"Aku ingin Mas Aldin mendengar langsung bentuk undangannya," katanya. "Supaya tidak ada orang lain menjanjikan yang belum kita pilih."
Bu Mei menyetujui. Daddy juga. Mereka membicarakan bagian yang akan ditangani keluarga secara sederhana, tanpa memakai kursi tamu sebagai hadiah atas siapa paling banyak meminta maaf.
Pertanyaan mengenai Caca tidak langsung memperoleh jawaban. Jo mengatakan belum nyaman jika hari pernikahannya harus menjadi pertemuan yang menuntut seluruh orang terlihat akrab. Erika mendengar, mengatakan dirinya juga tidak ingin perhatian beralih kepada hubungan lama.
Bu Mei tidak menuduh mereka menghukum. Dia meminta hal itu disampaikan dengan tenang, tanpa membuat Aldin menerka dari undangan yang sengaja tidak jelas.
Panggilan selesai setelah beberapa langkah ditentukan. Erika menutup buku, menyandarkan punggung, lalu memandang Jo.
"Mas tadi sungguh-sungguh?"
"Soal Aldin? Iya. Aku perlu waktu sebelum menjawab. Sekarang aku merasa bisa memberi tempat sebagai keluargamu, tanpa berpura-pura hubungan kami kembali."
Gadis itu menyentuh tangannya. "Terima kasih sudah mengatakan yang bisa dan yang belum."
Jo mengangguk. Daddy memberi ruang dengan mengambil buku di sisi lain, meninggalkan keduanya beberapa menit untuk berbicara tanpa harus menanggapi seluruh rencana keluarga sekaligus.
Erika menelepon Aldin pada malam yang sudah disepakati. Kakaknya mendengar tanggal, tempat, dan undangan dengan sunyi yang cukup lama. Gadis tersebut tidak mengisi dengan kalimat agar dirinya jangan sedih.
"Aku ingin kamu hadir sebagai kakakku," ujarnya. "Jo sudah bersedia. Tapi dia belum ingin kamu punya peran seperti dulu."
"Aku mengerti. Aku tidak akan datang untuk meminta itu."
Aldin menanyakan apa yang dapat dilakukan tanpa mengambil alih. Erika mengatakan jika ada bantuan yang diperlukan akan disebutkan, tetapi untuk sekarang cukup memastikan waktu dan menjaga kabar kepada Ibu.
Ketika sampai pada Caca, gadis itu mengatakan mereka belum nyaman menjadikan pernikahan sebagai tempat pertemuan semua orang. Kalimatnya tidak mudah diucapkan. Dia tahu hubungan kakaknya adalah pilihan yang kini sedang dijalani, tetapi tidak berarti setiap acara harus menerima semua bagian dengan bentuk sama.
Aldin menarik napas. "Aku akan bicara dengan Caca. Jangan kamu yang harus menerangkan atas nama aku."
Erika mengangguk. Mereka selesai setelah memastikan kakaknya boleh menjawab setelah percakapan dilakukan, bukan dipaksa menentukan sambil menelepon.
Di tempat tinggal Aldin, Caca mendengar pada malam yang sama. Perempuan itu duduk di dekat meja, memandang undangan yang belum berbentuk cetak. Nama Jo dan Erika kini akan berada bersama pada hari yang benar-benar dipilih keduanya.
Ada rasa canggung yang tidak dapat dihindari, tetapi bukan keinginan mengambil kembali tempat yang pernah ditinggalkan. Caca memegang gelas, menunggu Aldin selesai menjelaskan, lalu mengatakan dirinya tidak ingin hadir.
"Bukan karena aku ingin kamu membela," ujarnya. "Aku tidak ingin hari mereka menjadi tempat orang melihat apakah kami bisa tersenyum bersama."
Aldin mengangguk. Dia menanyakan apakah Caca nyaman dirinya datang sendiri sebagai kakak. Perempuan tersebut berpikir sebentar, kemudian mengiyakan.
"Erika berhak ditemui keluarganya. Aku tidak mau kamu menolak karena merasa harus membuktikan pilihanmu kepadaku setiap hari."
Lelaki itu mendengar, merasa lega bercampur sedih. Mereka telah memilih kehidupan bersama, tetapi sebagian pintu tetap tidak dapat dibuka dengan bentuk yang sama seperti sebelum pergi.
Caca tidak meminta foto pernikahan dikirim saat acara berlangsung. Dia juga tidak menyiapkan pesan panjang untuk Jo. Ucapan baik, jika ingin disampaikan, dapat diberikan kepada Erika pada waktu yang tidak mengambil hari calon pengantin.
Aldin memberi kabar kepada adiknya keesokan pagi. Dia menerima undangan, mengatakan Caca tidak akan datang, lalu memastikan bahwa dirinya memahami tidak ada peran tambahan yang harus dicari.
Erika membaca, menarik napas panjang. Dia memberi tahu Jo setelah pekerjaan pagi selesai, bukan mengirim potongan pesan ketika lelaki itu sedang berada dalam rapat. Mereka berbicara singkat, menerima jawaban tanpa perlu segera menyimpulkan semua hubungan keluarga telah lebih mudah.
Kunjungan melihat tempat dilakukan beberapa hari kemudian. Erika datang bersama Jo, membawa daftar pertanyaan yang berbeda dari buku wawancara. Kali ini dia ingin mengetahui ruang, waktu, dan bagaimana Ibu dapat beristirahat jika terlalu lelah sebelum acara selesai.
Mereka melihat bagian yang akan digunakan untuk pertemuan keluarga, tempat menerima tamu, dan jalur yang tidak membuat orang harus berdesakan. Jo memperhatikan kebutuhan kerja penyedia, sementara gadis tersebut bertanya mengenai hal yang akan benar-benar dirasakan keluarga pada hari itu.
Ada pilihan yang tampak lebih megah, tetapi membuat jarak antarruang terlalu jauh. Erika tidak menyukai. Jo sempat tertarik karena dapat menampung lebih banyak, lalu mengakui jumlah besar bukan kebutuhan paling penting bagi bentuk yang telah disepakati.
Mereka akhirnya memilih setelah membandingkan dengan tenang, bukan karena ada satu penawaran yang disebut hanya berlaku hari itu. Catatan diperiksa, hal yang belum pasti diminta penjelasan, dan rencana dapat diteruskan tanpa menyerahkan semua pilihan kepada pihak lain.
Sebelum meninggalkan tempat, mereka diberi kesempatan membicarakan susunan jamuan. Erika melihat contoh yang tersedia, menanyakan cara hidangan disajikan agar tamu tidak menunggu terlalu lama sementara pasangan harus terus berdiri menyapa.
Jo semula lebih banyak memikirkan jumlah dan alur. Gadis itu menanyakan juga kapan mereka sendiri sempat makan. Pertanyaan sederhana membuat lelaki tersebut tertawa karena hampir terlewat dari daftar.
"Aku tidak ingin semua orang makan kecuali pengantinnya," ujar Erika.
Mereka mencocokkan waktu yang telah dibuat. Ada bagian yang perlu diberi jeda, ada yang dapat dipersingkat tanpa membuat orang merasa terburu-buru. Catatan diubah di depan keduanya, sehingga tidak ada satu jadwal tambahan yang diam-diam menjadi pegangan pihak lain.
Erika mencoba satu pilihan makanan setelah diizinkan. Jo mencoba yang berbeda, memberi pendapat, lalu keduanya bertukar sedikit untuk membandingkan. Gadis itu menyukai yang lebih sederhana, tetapi mengakui pilihan lelaki tersebut juga cocok untuk banyak tamu.
"Jangan memilih semua dari yang kita suka," katanya.
"Aku sedang berusaha tidak mengambil semuanya karena terlihat bagus."
Erika tertawa. Mereka bertanya lebih lanjut, menandai pilihan yang benar-benar diperlukan, lalu menunda bagian yang belum harus diputuskan hari itu. Tidak ada usaha menambah sesuatu hanya agar acara terlihat lebih besar daripada pernikahan sebelumnya.
Sesudah selesai, mereka duduk sebentar di sisi yang tenang. Gadis itu membuka tas untuk mencari air, menemukan contoh undangan, lalu hampir menaruh di meja yang masih memuat sisa makanan.
Jo menahan ujung kertas sebelum menyentuh.
"Yang ini jangan jadi bukti kita sudah mencicipi."
Erika tertawa, mengambil kembali, lalu menyimpan pada tempat aman. Lelucon kecil membuat persiapan tidak terasa seperti tugas yang harus dilakukan dengan wajah serius sepanjang hari.
Mereka juga menanyakan tempat bagi keluarga menunggu sebelum acara utama. Bu Mei perlu tahu di mana bisa duduk jika lelah. Daddy tidak harus berdiri di dekat pintu hanya karena banyak orang ingin memberi salam. Jo mencatat, merasa kebutuhan tersebut lebih penting daripada beberapa hiasan yang tadi hampir ditambahkan.
Erika memperhatikan bagaimana lelaki itu menanyakan ulang sampai jawaban cukup jelas. Dia tidak perlu menjadi satu-satunya orang yang menyebut hal-hal kecil hanya karena pihak lain menganggap pengantin perempuan pasti lebih tahu.
Ketika semua selesai, mereka berterima kasih dan berjalan ke luar. Tidak seluruh rencana telah final, tetapi setiap keputusan yang diambil mempunyai alasan yang dapat diingat. Gadis itu menyimpan catatan, Jo memastikan waktu pertemuan berikutnya, lalu keduanya berangkat sebelum sore berubah terlalu lelah untuk mendengar.
Dalam perjalanan pulang, Erika menatap buku. Banyak pekerjaan masih ada, tetapi kini memiliki urutan.
"Aku sempat takut soal daftar tamu akan membuat kita berhenti sebelum melihat tempat," ujarnya.
Jo mengangguk. "Aku juga. Ternyata yang sulit bisa dibicarakan sebelum menjadi bagian yang tersembunyi."
Gadis tersebut tersenyum, menutup catatan, lalu menanyakan apakah lelaki itu sudah memutuskan siapa akan membantunya pada hari acara.
"Mas Ammar," jawab Jo. "Kalau dia bersedia lagi."
"Lagi?"
Lelaki itu mengangkat bahu dengan senyum kecil. "Dia sudah cukup sering membantu saat aku tidak tahu harus melakukan apa."
Sebelum menemui kakak, Jo menerima pesan Daddy mengenai daftar keluarga. Lelaki itu sudah memeriksa nama yang memang perlu diberi kabar, lalu menandai beberapa yang masih harus dipastikan alamatnya.
Jo membaca, menghampiri ruang keluarga, dan membantu mencocokkan dengan daftar yang digunakan Erika. Ada satu nama tertulis dua kali dengan panggilan berbeda. Mereka menghapus yang berulang, memastikan tidak ada orang lain ikut hilang karena keputusan terlalu cepat.
Daddy kemudian menanyakan apakah Aldin sudah menerima kabar. Jo menjelaskan jawaban yang telah diberikan. Lelaki yang lebih tua mengangguk, menerima bentuk yang dipilih tanpa mencoba memperbesar peran supaya hubungan terlihat pulih.
"Yang perlu tahu sudah tahu langsung," ujarnya.
Jo mengiyakan. Dia merasa lebih tenang ketika daftar tidak lagi menyimpan maksud yang hanya diketahui satu orang. Undangan mempunyai nama, waktu, dan tempat. Perasaan yang belum ringan tetap perlu dihadapi sendiri, tetapi tidak disembunyikan di antara catatan kecil agar orang lain baru tahu ketika acara dimulai.
Mereka menyimpan versi yang benar pada tempat yang disepakati. Setelah itu Jo menutup layar, memberi jeda sebelum pembicaraan berikutnya. Hari tersebut sudah menghasilkan cukup keputusan untuk tidak perlu terus dicari sesuatu yang belum sempurna.
Malam itu Jo menanyakan langsung. Ammar tidak segera menggodanya. Dia mendengar, mengangguk, lalu mengatakan bersedia, dengan satu syarat yang membuat adiknya tertawa.
"Jangan meminta gue menyimpan tiga salinan jadwal yang berbeda. Pilih satu yang benar."
"Baik."
Ammar menepuk bahu, mengatakan dirinya senang dapat berdiri di sisi adik pada hari yang dipilih dengan lebih jujur. Jo mengucapkan terima kasih, lalu keduanya kembali pada pekerjaan kecil yang masih menunggu.
Di kamar Erika, contoh undangan akhirnya dibuka. Nama lengkap mereka tercetak pada tempat yang mudah dibaca: Johan Adyasta dan Erika Wijaya.
Gadis itu memeriksa ejaan, tanggal, dan informasi yang perlu diketahui tamu. Sesudah memastikan, dia berhenti cukup lama pada dua nama tersebut. Ini bukan halaman kisah yang diminta orang lain untuk ditulis. Ini undangan menuju hari yang sedang dibangun bersama.
Erika mengirim tanggapan, lalu meletakkan ponsel dan kembali pada naskah klien. Hari pernikahan mempunyai tempat di kalender. Sisa hari tetap hidupnya sendiri, dengan pekerjaan yang ingin diselesaikan sebelum memasuki bab berikutnya.