Bu Mei tiba di Jakarta beberapa hari sebelum acara, sesuai rencana yang telah dibicarakan. Erika menunggu dengan Jo di tempat kedatangan, memeluk Ibu sebelum menanyakan apakah perjalanan terlalu melelahkan.
Perempuan itu menggeleng, tetapi tetap menerima ketika putrinya mengambil tas. Jo membawa barang yang lain, memberi salam, lalu memastikan kendaraan dapat dijangkau tanpa membuat Ibu berjalan terburu-buru.
Aldin akan datang pada waktu berbeda yang sudah disepakati. Bu Mei tidak mengubah perjalanan agar semua harus berkumpul sejak awal. Dia ingin mempunyai beberapa hari bersama putri, mengenal tempat yang akan menjadi rumah, dan beristirahat cukup sebelum acara.
Tempat menginap telah dipersiapkan dekat kebutuhan keluarga. Erika memperlihatkan yang perlu diketahui, memastikan Ibu nyaman, lalu duduk setelah barang diletakkan. Ada tas kecil berisi buku lama dari Semarang, dipilih bersama melalui telepon sebelum perjalanan.
Bu Mei mengeluarkan satu, menyerahkan dengan hati-hati. Di dalamnya masih ada tanda yang pernah digunakan Ayah ketika membaca.
"Yang ini boleh kamu bawa," ujarnya. "Ibu masih menyimpan beberapa yang lain."
Erika membuka, tersenyum dengan mata yang mulai panas. Dia tidak meminta seluruh peninggalan ikut ke rumah baru agar rindu terasa lengkap. Satu buku sudah cukup memberi sesuatu yang dapat diletakkan di rak bersama tulisan sendiri.
Jo melihat setelah gadis tersebut menunjukkan, lalu menawarkan membawa ke rumah saat kunjungan yang telah direncanakan. Bu Mei mengangguk, menanyakan apakah penataan sudah cukup untuk ditempati sesudah menikah.
Mereka menjelaskan bagian yang selesai dan bagian yang masih dapat menunggu. Ibu tertawa ketika mendengar tempat wadah makanan sudah dipikirkan lebih dahulu daripada hiasan ruang utama.
"Itu memang akan berguna," katanya.
Hari pertama lebih banyak dipakai beristirahat. Erika makan bersama Ibu, Jo berpamitan setelah memastikan kabar yang diperlukan, dan gadis tersebut kembali ke kamar untuk menyelesaikan pekerjaan terakhir sebelum beberapa hari lebih ramai.
Dia tidak menerima tambahan mendadak. Klien sudah diberi tahu jadwal, hasil yang dijanjikan diperiksa, dan pertanyaan yang perlu waktu lain dicatat dengan jelas. Setelah kiriman selesai, Erika menutup laptop dengan rasa lega yang tidak sepenuhnya membuat tubuh langsung ringan.
Masih ada pakaian, jadwal, dan hal-hal kecil yang terlalu mudah terasa penting hanya karena tanggal semakin dekat.
Keesokan hari, dia menemui Ibu bersama Iccha serta Lina untuk memeriksa pakaian yang akan dikenakan. Kiki ikut pada bagian berikutnya setelah menyelesaikan urusan sendiri, datang dengan kalimat pertama yang membuat semuanya tertawa.
"Kalau semua bilang cocok, belum tentu semuanya benar. Gue akan melihat."
Erika tersenyum, menerima bahwa penilaian terus terang mungkin justru diperlukan. Dia masuk untuk mencoba, membiarkan yang membantu mengatur bagian yang memang perlu, lalu keluar dengan langkah lebih hati-hati daripada biasa.
Bu Mei berhenti berbicara. Putrinya berdiri dalam pakaian yang dipilih, rambut disusun sementara, dan wajah masih terlihat seperti Erika yang biasa bertanya apakah Ibu sudah membaca bab baru.
Ada beberapa detik sunyi sebelum perempuan itu tersenyum.
"Kamu cantik."
Gadis tersebut menunduk, merasa mata mendadak panas. Iccha mengulurkan tisu sebelum rias sementara berubah, membuat semuanya tertawa kecil.
Lina membantu melihat apakah gerakan cukup nyaman. Kiki memperhatikan bagian yang dapat mengganggu jika Erika terlalu lama duduk, menanyakan langsung kepada yang membantu. Tidak ada yang memaksa gadis tersebut menerima sesuatu hanya karena terlihat bagus saat berdiri diam.
Erika mencoba berjalan, duduk, lalu bangkit. Ada satu penyesuaian yang diminta, kecil tetapi membuatnya lebih tenang. Setelah dicatat, dia kembali memandang Ibu.
"Bu, aku benar-benar akan menikah."
Perempuan itu tertawa di sela napas yang bergetar. "Ibu juga baru melihat lebih jelas."
Mereka tidak memotret setiap sudut untuk dikirim ke Jo. Gadis tersebut ingin lelaki itu melihat pada waktunya, bukan mengetahui semua hanya karena dapat bertanya kepada orang-orang di sekeliling.
Sesudah pakaian selesai diperiksa, mereka makan. Pembicaraan beralih kepada sepatu, waktu bangun, dan siapa yang menyimpan barang kecil agar tidak dicari pada menit terakhir. Iccha menyiapkan catatan yang ringkas, Kiki menolak jika daftar tersebut terlalu banyak salinan, dan Lina mengingatkan pekerjaan yang memang sudah selesai.
Bu Mei mendengar, sesekali tertawa. Putrinya mempunyai orang-orang yang dapat membantu tanpa membuat dirinya kehilangan suara sendiri. Itu memberi ketenangan yang tidak datang hanya karena acara akan diurus dengan biaya cukup.
Ketika teman-temannya berpamitan untuk urusan masing-masing, Erika duduk bersama Ibu beberapa menit lebih lama. Pakaian telah selesai diperiksa, tetapi gambar dirinya di depan cermin masih terasa begitu baru.
Bu Mei melihat cara putri menyentuh ujung lengan, lalu bertanya apakah ada yang masih mengganggu.
"Bukan pakaiannya," jawab gadis itu. "Aku tadi ingin Ayah melihat."
Perempuan tersebut diam, mengangguk pelan. Dia tidak mengatakan Jo atau Daddy dapat mengisi tempat yang sama. Rindu pada seseorang tetap mempunyai bentuk sendiri, sekalipun banyak orang baik hadir.
Erika menarik napas, memandang gelas yang tinggal sedikit. "Aku takut kalau terlalu sedih besok, orang mengira aku tidak bahagia."
"Kamu boleh sedih dan bahagia pada hari yang sama. Tidak semua wajah harus dijelaskan kepada tamu."
Gadis itu mengangguk. Bu Mei menggenggam tangannya, merasakan cincin ketika jari mereka bertemu. Beberapa detik berlangsung tanpa kalimat, lalu perempuan tersebut tersenyum kecil.
"Ayah pernah kesal karena kamu menyimpan kertas di bawah bukunya. Dia mencari sampai dapur, padahal bukunya ada di meja."
Erika tertawa, mengingat kejadian itu. "Aku mengira kalau ditumpuk rapi, tidak akan terlihat berantakan."
"Ternyata yang hilang justru yang berada paling dekat."
Mereka tertawa lagi. Kenangan tidak selalu harus datang melalui kejadian besar. Satu buku yang tertutup kertas membuat Ayah terasa lebih dekat daripada semua kalimat yang telah disiapkan untuk menghadapi hari penting.
Sesudah cukup tenang, Erika menanyakan apakah Ibu ingin beristirahat sebelum melihat rumah. Bu Mei mengiyakan. Gadis itu tidak memaksa karena jadwal sudah tertulis. Mereka menyesuaikan waktu dengan memberi kabar, lalu menunggu sampai tubuh dapat ikut berjalan tanpa terlalu lelah.
Erika menggunakan jeda untuk membaca pesan kerja. Tidak ada yang membutuhkan jawaban panjang, hanya konfirmasi bahwa hasil diterima. Dia membalas, menyimpan, dan menutup layar sebelum percakapan dengan Ibu berubah menjadi kegiatan menunggu putri selesai mengetik.
Bu Mei beristirahat, sementara gadis tersebut duduk dengan buku lama yang tadi dibawa. Dia menemukan satu garis di bawah kalimat, tidak tahu pasti mengapa Ayah menandai. Ada rasa ingin menanyakan yang tidak dapat dipenuhi lagi, tetapi dia tetap dapat membaca dan mencoba memahami.
Ketika Ibu bangun, Erika menunjukkan halaman. Perempuan tersebut tidak mempunyai jawaban pasti, hanya mengingat bahwa suaminya sering memberi tanda agar dapat kembali nanti. Gadis itu mengangguk, menerima ketidakpastian tersebut tanpa merasa kenangan menjadi kurang berarti.
Buku ditutup dan dimasukkan ke tas. Mereka bersiap setelah minum, memberi hari kesempatan bergerak dengan kecepatan yang lebih manusiawi daripada daftar paling rapi.
Pada sore hari, Erika serta Ibu melihat rumah. Jo menemui setelah menyelesaikan pekerjaan, membawa waktu yang cukup agar kunjungan tidak terasa seperti pemeriksaan singkat sebelum rapat berikutnya.
Bu Mei berjalan pelan, melihat ruang kerja, rak, dan kamar yang dapat digunakan saat datang. Dia tidak langsung memberi daftar perubahan. Perempuan itu menanyakan pilihan, mendengar alasan, lalu mengangkat buku lama yang dibawa putri.
Erika meletakkan pada rak setelah memilih tempat. Jo berdiri di sisi, tersenyum ketika gadis tersebut mundur sedikit untuk melihat apakah mudah dijangkau.
"Ayah tidak suka kalau buku cuma dipajang," ujar Bu Mei.
"Akan kubaca juga, Bu."
Mereka tertawa. Rumah mulai mempunyai hal yang lebih berarti daripada barang baru, dengan kehidupan lama yang dibawa bukan sebagai beban tetapi sebagai bagian yang masih ingin dijaga.
Jo mengantar Ibu kembali beristirahat sebelum menemui Erika untuk makan singkat. Gadis itu sudah lebih lelah daripada saat pagi, tetapi ingin duduk bersama beberapa menit tanpa membicarakan pakaian.
Lelaki tersebut semula bercerita mengenai pekerjaan kantor. Ada keputusan yang sudah diselesaikan, tugas yang diberikan kepada orang yang memang dapat menangani, dan waktu yang disediakan agar dirinya tidak terus menerima urusan pada hari acara.
Erika mendengar, menanyakan apakah Jo juga memberi kesempatan tubuh berhenti sebelum malam terlalu panjang. Lelaki itu tersenyum, mengaku sedang berusaha.
Namun, saat percakapan berhenti, gadis tersebut melihat tangannya terus memutar gelas yang belum perlu dipindahkan.
"Mas takut?" tanyanya pelan.
Jo memandang. Dia dapat mengatakan hanya lelah, tetapi itu tidak menjelaskan bagian lain yang sejak pagi kadang datang tanpa diminta.
"Sedikit," jawabnya.
Erika menunggu, tidak langsung mengucapkan bahwa semuanya pasti baik.
Lelaki itu mengaku beberapa persiapan mengingatkan pada pernikahan sebelumnya. Jadwal, pakaian, dan orang yang menanyakan apakah semuanya sudah siap. Dia tidak meragukan jawaban Erika, tetapi tubuhnya kadang mengingat sebelum pikirannya sempat memberi nama.
Gadis tersebut meletakkan gelas. Ada rasa sesak, bukan karena ingin bersaing dengan ingatan Caca, melainkan karena tahu sebuah hari baru tetap dapat bersentuhan dengan yang lama.
"Aku juga takut," ujarnya. "Bukan takut ingin pergi. Aku takut hari itu ramai sekali sampai lupa merasakan yang sebenarnya."
Jo mendengar. Keduanya tidak perlu memilih rasa takut siapa yang lebih berhak mendapat tempat.
"Aku tidak ingin kamu harus menenangkanku sepanjang hari," katanya.
"Aku bisa menemani. Tapi Mas juga perlu istirahat dan mengatakan kalau terlalu penuh. Jangan menunggu sampai marah pada hal yang sebenarnya bukan penyebab."
Lelaki itu mengangguk, mengingat dengan jelas bagaimana kemarahan pernah diarahkan pada perempuan yang kini duduk di depannya. Dia tidak meminta janji bahwa Erika akan selalu hadir tepat pada setiap menit agar dirinya merasa aman.
Mereka membicarakan yang dapat dilakukan. Jadwal akan diberi ruang, bukan semua bagian disusun tanpa jeda. Ada waktu untuk makan, beristirahat, dan duduk bersama sebentar setelah bagian utama selesai, sebelum menyapa lebih banyak orang.
Erika tidak ingin menghilang dari diri sendiri demi acara. Jo tidak ingin terus melihat pintu sambil lupa bahwa calon istrinya sedang berada di sisi. Kedua keinginan itu dicatat sebagai hal nyata, bukan kelemahan yang harus disembunyikan.
Jo melihat catatan jadwal yang sempat dibuka Erika, lalu meminta satu salinan yang sama untuk Ammar. Dia tidak ingin kakaknya harus menebak kapan dirinya perlu ruang atau kapan memang ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Gadis itu menyetujui, menandai perubahan yang akan diteruskan kepada pihak terkait. Ada beberapa menit yang dapat diperoleh hanya dengan menghentikan kebiasaan menambah sesi karena semuanya terlihat menarik pada rencana.
"Kalau waktunya cukup, aku ingin duduk bersama Ibu sebelum menyapa banyak orang," ujar Erika.
"Aku ingin ada di situ juga, kalau kamu nyaman."
Gadis tersebut mengangguk. Dia membayangkan Ibu yang mungkin ingin mengusap mata tanpa harus terus berdiri di depan tamu. Jo tidak memerlukan jeda panjang, hanya waktu untuk benar-benar menyadari apa yang baru mereka lakukan.
Mereka menyimpan catatan setelah hal penting selesai. Lelaki itu menggeser kursi sedikit, mendekat tanpa membuat gadis tersebut harus meninggalkan posisi nyaman. Erika menerima ketika tangannya digenggam, membiarkan kehangatan mengisi beberapa saat yang tidak perlu dijadikan jawaban atas semuanya.
"Aku senang kamu bilang takut," katanya pelan.
"Aku hampir tidak mengatakan."
"Aku mungkin akan mengira Mas sedang memikirkan jadwal."
Jo tersenyum kecil. Menyebut rasa itu ternyata tidak membuat Erika menjauh. Justru dia dapat melihat calon istrinya berada di depan, bukan hanya gambaran hari yang terus dibandingkan dengan ingatan lama.
Sesudah percakapan, mereka memesan makanan yang cukup sederhana. Gadis itu tersenyum ketika Jo mengaku tidak terlalu berselera, lalu meminta porsi yang masih bisa dihabiskan tanpa memaksa.
"Mas tetap harus makan," ujarnya.
"Aku tahu. Ini suara Bi Ani atau Ibumu?"
"Sekarang suaraku."
Lelaki itu tertawa. Mereka makan pelan, memberi malam kesempatan menjadi biasa lagi. Tidak semua rasa takut hilang, tetapi sudah tidak perlu disimpan di dalam gerakan tangan yang terus mencari sesuatu untuk dipindahkan.
Erika pulang setelah Jo mengantar. Dia menyiapkan barang yang akan dibawa saat tinggal bersama Ibu menjelang acara, memisahkan kebutuhan kerja agar tidak keliru masuk kotak yang belum harus dibuka.
Ponsel berbunyi dengan pesan Iccha mengenai satu bagian jadwal. Gadis itu menjawab setelah membaca, lalu mengatakan dirinya ingin tidur lebih cepat. Perempuan tersebut menerima, mengingatkan bahwa beberapa hal memang dapat menunggu pagi.
Di rumah Jack, Ammar menemui Jo. Lelaki itu mengatakan pakaian dan barang penting telah diperiksa, lalu duduk ketika adiknya mengaku hari cukup berat.
Jo tidak menceritakan seluruh percakapan dengan Erika, hanya mengatakan beberapa ingatan lama kembali muncul. Ammar mendengar tanpa menyebut bahwa calon pengantin seharusnya sudah melupakan.
"Besok kita periksa yang perlu saja," ujarnya. "Yang sudah benar tidak perlu dibuka terus."
Jo mengangguk. Sebelum beristirahat, dia mengirim kabar kepada Erika bahwa dirinya sudah di rumah dan ingin tidur. Gadis tersebut membalas singkat, mengatakan selamat malam.
Lelaki itu meletakkan ponsel, membiarkan lampu padam. Hari pernikahan semakin dekat. Kali ini dia tidak ingin mengalahkan rasa takut dengan memastikan semua benda sempurna. Dia ingin datang cukup tenang untuk mendengar jawaban yang akan diucapkan perempuan yang dipilihnya.