Jo menutup kotak cincin yang kosong, lalu meletakkannya di dalam tas. Senyumnya masih ada ketika Daddy menutup buku dan memandang dari kursi seberang.
"Sekarang bisa tidur?" tanya lelaki itu.
"Sepertinya."
"Kalau besok bangun dan masih merasa gugup, tidak berarti hari ini kurang baik."
Jo tertawa pelan. Dia memang masih dapat merasakan detak jantung ketika mengingat jawaban Erika. Pertanyaan yang telah mereka bicarakan sebelumnya tetap mempunyai arti berbeda saat diucapkan dengan cincin terbuka di tangan.
Daddy bangkit setelah mengatakan ingin beristirahat. Jo memberi kabar singkat kepada Ammar bahwa semua sudah selesai untuk malam itu, lalu mematikan lampu utama. Dia tidak mengirim pesan tambahan kepada Erika yang telah mengatakan ingin tidur. Bahagia tidak membuatnya berhak mengambil seluruh waktu yang tersisa.
Di rumah Bu Mei, gadis tersebut belum langsung terlelap. Tangannya berada di atas selimut, cincin tampak samar dalam cahaya dari celah pintu. Dia memandang beberapa saat, kemudian memutar tubuh untuk mengambil buku catatan.
Bukan daftar tamu. Bukan jadwal pakaian. Erika hanya ingin menuliskan satu hal yang takut terlupa: cara Jo tertawa kecil setelah mendengar jawaban, seperti orang yang baru tahu dirinya menahan napas terlalu lama.
Kalimat itu disimpan pada halaman pribadi. Tidak semua yang membuatnya ingin menulis harus langsung menjadi cerita bagi pembaca. Setelah pena ditutup, gadis tersebut meletakkan buku dan akhirnya tidur.
Pagi berikutnya terasa lebih biasa daripada yang dibayangkan. Ibu memanggil untuk sarapan, air di dapur berbunyi, dan tas perjalanan tetap perlu dirapikan. Cincin baru tidak membuat pakaian terlipat sendiri.
Erika membantu sambil sesekali menatap tangan. Bu Mei menangkap gerakan itu, tersenyum tanpa langsung menggoda.
"Masih terasa asing?"
"Sedikit. Aku terus ingat ada sesuatu di jari."
"Nanti terbiasa. Jangan sampai gelasnya jatuh karena lebih sibuk melihat cincin."
Gadis itu tertawa, mengembalikan perhatian pada yang sedang dikerjakan. Mereka makan, membicarakan waktu pulang, lalu Ibu menanyakan apakah Erika sudah memberi kabar kepada Aldin.
"Belum lengkap. Aku mau bicara setelah pulang dan istirahat."
Bu Mei mengangguk. Dia tidak meminta putranya dipanggil datang hari itu agar semua dapat berfoto sebelum Jo kembali. Pertunangan Erika tidak perlu menjadi kesempatan mendamaikan orang lain dengan cara yang belum mereka pilih.
Jo dan Daddy datang sesuai waktu untuk berpamitan. Percakapan berlangsung hangat, lebih singkat daripada hari sebelumnya. Bu Mei menitipkan kabar, meminta perjalanan dilakukan tanpa terburu-buru, lalu memeluk putri sebelum melepas.
Dalam perjalanan kembali, Erika duduk dengan rasa lelah yang menyenangkan. Jo sesekali memandang tangannya, lalu tersenyum ketika ketahuan.
"Mas juga belum terbiasa?"
"Aku sedang memastikan memang ada di sana."
"Mas sudah memastikan berkali-kali."
"Mungkin sampai besok."
Gadis itu tertawa. Daddy yang duduk tidak jauh ikut tersenyum, lalu memberi ruang dengan kembali pada bacaan. Jo menggenggam tangan Erika sebentar, menerima ketika gadis tersebut menyandarkan kepala dan ingin beristirahat.
Jakarta menyambut dengan pekerjaan yang tetap menunggu. Erika mengabari Ibu telah tiba, membuka kamar, dan meletakkan barang pada tempat yang kini sudah dikenal. Dia tidak langsung mengumumkan pertunangan pada halaman Anggrek. Orang-orang yang dekat mendapat kabar lebih dahulu, sedangkan pembaca masih mempunyai cerita yang layak menjadi alasan datang.
Aldin menerima telepon pada malam berikutnya. Kakaknya sudah mendengar kabar singkat dari Ibu setelah Erika mengatakan boleh, tetapi belum mendengar putri itu menyebut sendiri.
"Kami bertunangan, Mas," ujar gadis tersebut. "Kami akan memilih tanggal dan membicarakan persiapan."
Aldin diam sesaat, lalu mengucapkan selamat dengan suara yang tidak dibuat terlalu ceria. Dia mengetahui ada kegembiraan yang tetap menyimpan tempat canggung bagi dirinya.
"Aku senang kamu mengatakan langsung," ujarnya. "Kalau nanti ada yang perlu dibantu, bilang. Tapi aku tidak akan menganggap semuanya harus melibatkan aku."
Erika mengangguk. "Soal acara keluarga nanti akan kubicarakan bersama Jo dan Ibu. Aku belum punya jawaban untuk semuanya."
"Aku dengar."
Tidak ada pertanyaan apakah dirinya akan menggantikan Ayah pada setiap bagian. Aldin tidak menggunakan hubungan darah sebagai alasan mengambil posisi sebelum diminta. Percakapan diteruskan pada kabar Ibu, lalu selesai tanpa membuat gadis tersebut perlu menjelaskan keputusan Jo atas nama mereka berdua.
Keesokan pagi, Erika membuka laptop setelah sarapan dan mendapati catatan cerita baru masih terlalu banyak berisi keadaan, terlalu sedikit kejadian. Tokoh utamanya mempunyai pekerjaan, keinginan, dan sesuatu yang takut dikatakan, tetapi belum melakukan hal yang membuat cerita bergerak.
Gadis itu membaca, mencoret satu bagian, lalu menuliskan pertanyaan pada kertas terpisah: apa yang akan hilang kalau dia terus diam?
Jawabannya tidak langsung datang. Erika berdiri, merapikan gelas, dan menatap rak yang kini menyimpan salinan cetak cerita sebelumnya. Selesai satu judul tidak membuat judul berikutnya dapat ditulis tanpa kesulitan. Cincin pada tangan juga tidak memberi kata-kata yang belum ditemukan.
Dia kembali duduk, memilih kejadian kecil yang membuat tokoh harus mengambil keputusan sebelum merasa cukup siap. Bukan pengkhianatan besar, bukan pernikahan orang yang ditinggalkan. Cerita baru mempunyai hidup sendiri, dan Erika ingin memberi tempat bagi kemungkinan yang berbeda dari pengalaman paling dekat.
Ketika satu halaman akhirnya selesai, dia membaca keras-keras. Tokohnya terdengar terlalu tenang untuk sesuatu yang baru dialami. Gadis itu mengubah satu jawaban menjadi pertanyaan yang sedikit menyebalkan, lalu tertawa karena mendadak mengenali suara yang dicari.
Ponsel berbunyi dengan kabar Jo bahwa dirinya sedang menuju kantor. Erika membalas, mengatakan halaman baru akhirnya bergerak. Lelaki itu menanyakan apakah nanti boleh mendengar sebagian, tetapi menerima ketika gadis tersebut ingin memeriksa lebih dahulu.
Tidak ada kekecewaan yang harus dihibur melalui salinan belum siap. Jo mengatakan semoga pekerjaan berjalan, lalu kembali pada harinya sendiri.
Erika menutup percakapan, menandai tempat berhenti, dan membuka berkas klien. Pekerjaan itu berbeda: dia harus menjaga suara penulis lain, bukan mengubah semua menjadi cara Anggrek bercerita.
Ada paragraf yang menurutnya dapat dipendekkan, tetapi alasan perbaikan perlu ditulis dengan jelas. Dia menyiapkan dua contoh, memberi kesempatan klien menentukan yang paling sesuai, lalu menyimpan sebelum waktu kirim.
Saat istirahat siang, gadis itu menelepon Ibu sebentar. Bu Mei sedang membereskan barang yang mungkin dibawa saat pernikahan, berhenti untuk bertanya apakah putri sudah makan.
Erika menjawab, kemudian menceritakan kesulitan halaman baru. Ibu tidak menawarkan akhir cerita. Dia hanya mengingatkan bahwa dulu Ayah juga sering melihat gadis itu kesal pada kertas, lalu beberapa jam kemudian kembali menulis dengan senyum sendiri.
"Berarti belum berubah banyak," ujar Erika.
"Ada yang berubah. Sekarang kamu tidak melempar kertas ke meja makan."
Gadis itu tertawa, merasa rumah Semarang hadir sebentar melalui lelucon yang hanya dapat dikenali keluarga. Setelah panggilan selesai, dia kembali bekerja dengan lebih ringan, tanpa membuat hari itu hanya berisi persiapan menjadi calon istri.
Hari-hari sesudahnya membuat Erika kembali pada meja. Pekerjaan klien harus diselesaikan, cerita baru membutuhkan rencana, dan salinan buku untuk Daddy perlu diperiksa sebelum diberikan. Dia mencatat waktu yang sanggup dipenuhi, menyisakan ruang untuk persiapan yang masih akan dibicarakan.
Ada permintaan kerja yang bentuknya terlalu luas untuk waktu tersedia. Pengirim ingin beberapa hal sekaligus, dari perbaikan cerita sampai penulisan tambahan. Erika membaca, menanyakan bagian yang paling dibutuhkan, lalu menawarkan hanya pekerjaan yang benar-benar dapat diterima.
Jawaban datang dengan permintaan agar semuanya selesai lebih cepat. Gadis itu sempat ragu. Dulu dia mungkin segera mengatakan akan mencoba, lalu bekerja sampai tubuhnya tidak sempat berhenti.
Kini dia menolak tambahan tersebut dengan jelas, tetap menawarkan bagian yang sesuai. Tidak ada Jo di sisi meja untuk memilih bagi dirinya. Keputusan kecil itu dibuat sendiri, dengan rasa takut kehilangan kesempatan yang masih ada tetapi tidak lagi memimpin seluruh hari.
Ketika akhirnya pekerjaan yang lebih terukur disetujui, Erika menuliskan tanggal. Dia menghela napas, mengambil minum, lalu meneruskan halaman pertama cerita baru.
Lina mengajak datang pada pertemuan penulis berikutnya. Bukan acara besar, hanya kesempatan membaca dan bertukar tanggapan. Erika menerima setelah memastikan tidak bertabrakan dengan pekerjaan. Dia membawa contoh pendek yang belum pernah diberikan kepada peserta sebelumnya.
Iccha menemui sebelum berangkat, meminta melihat cincin setelah selama ini hanya mendapat foto. Gadis itu mengulurkan tangan, tersenyum malu ketika temannya memandang cukup lama.
"Mas Jo ternyata bisa memilih yang cocok," kata Iccha.
"Aku pernah mengatakan yang kusukai."
"Bagus. Berarti tidak menganggap isi pikiran lo bisa dibaca hanya karena sering bertemu."
Erika tertawa. Mereka berbicara mengenai perjalanan, lalu Iccha menanyakan kapan tanggal pernikahan dipilih. Gadis tersebut mengatakan masih mencocokkan waktu keluarga dan kebutuhan persiapan.
"Jangan semua hari sebelum menikah diisi daftar," ujar perempuan itu. "Sisakan satu hari makan tanpa membicarakan kursi tamu."
"Kamu mau mengingatkan?"
"Gue bisa. Asal lo masih membaca pesan."
Mereka tertawa, kemudian Erika berangkat bersama Lina. Di tempat pertemuan, beberapa orang mengenali Anggrek, menyapa, dan menanyakan cerita baru setelah karya sebelumnya selesai.
Gadis tersebut menjelaskan bahwa dia sedang mengerjakan, tanpa memberi tanggal yang belum pasti. Pembacaan berjalan, tanggapan diterima, dan suasana tetap mengenai tulisan sampai seseorang melihat cincin ketika Erika membalik halaman.
"Ada kabar baik?" tanyanya dengan senyum.
Erika berhenti sebentar. Pertanyaan itu tidak menuntut cerita panjang, tetapi membuka kemungkinan namanya akan mulai dibicarakan melalui kehidupan pribadi.
"Aku bertunangan," jawabnya. "Terima kasih."
Ucapan selamat datang. Dia menerima, lalu kembali pada halaman yang sedang dibahas. Tidak ada nama Jo yang perlu dijadikan judul baru bagi semua karya. Lina membantu meneruskan percakapan secara wajar, menanyakan bagian yang memang ingin diperiksa.
Seorang peserta lain menanyakan salinan cetak yang pernah ditunjukkan Lina. Erika menjelaskan bahwa yang dibuat masih untuk keperluan membaca dan keluarga, belum sesuatu yang dapat dijanjikan tersedia bagi semua orang.
"Kalau nanti ada bentuk yang memang bisa diperoleh pembaca, aku akan memberi kabar," katanya.
Orang tersebut mengangguk, mengatakan dirinya ingin membaca tanpa harus terus melihat layar. Permintaan itu membuat gadis tersebut senang sekaligus berhati-hati. Dia tidak ingin menjawab dengan tanggal hanya karena takut kesempatan baik akan lewat.
Lina menunjukkan satu bagian pada contoh, mengajak kembali membicarakan percakapan. Erika membaca ulang setelah peserta menilai tokohnya terlalu cepat menjawab. Kali ini dia tidak langsung membela karena merasa maksudnya sudah jelas. Ada tindakan kecil sebelum kalimat yang ternyata belum tertulis, padahal di kepalanya kejadian itu sudah berlangsung.
Gadis tersebut mencatat, mengucapkan terima kasih, lalu membaca dengan perubahan sementara. Percakapan terasa lebih masuk akal. Dia tersenyum karena tanggapan yang berguna tetap dapat datang pada hari ketika orang-orang juga ingin menanyakan kabar pribadi.
Di akhir, Erika menyimpan halaman dengan satu coretan baru. Cincin ada pada tangan yang sama, tetapi pekerjaan tetap mempunyai pertanyaan yang harus dijawab melalui tulisan. Kedua hal itu dapat berada bersama tanpa salah satunya perlu mengambil seluruh ruang.
Setelah selesai, seorang peserta mendekat dan mengatakan berharap kesibukan menikah tidak membuat Anggrek berhenti menulis. Erika tersenyum, menjawab bahwa dia masih mempunyai pekerjaan serta cerita yang ingin diteruskan.
Kalimat itu terdengar lebih kuat ketika diucapkan di depan orang lain. Bukan janji tidak akan pernah berubah, melainkan pilihan yang sedang dijaga sekarang.
Jo menjemput setelah mereka selesai, sesuai rencana yang telah dibicarakan. Dia memberi salam kepada Lina dan beberapa orang yang kebetulan berada dekat, menerima ucapan selamat tanpa mengambil alih semua percakapan.
Erika masuk kendaraan setelah berpamitan. Dalam perjalanan, dia menceritakan bagaimana pertanyaan mengenai cincin muncul saat membaca.
"Kamu nyaman menjawab?" tanya Jo.
"Nyaman. Aku hanya ingin tulisan tetap punya tempat sendiri."
Lelaki tersebut mengangguk. Dia mengingat halaman pembuka naskah pertama, nama Anggrek yang dahulu hampir terlalu kecil. Kini nama itu sudah berada di sampul cerita yang diselesaikan gadis tersebut sendiri.
"Aku ingin membacamu sebagai penulis juga," ujarnya.
Erika menoleh, tersenyum. "Mas tetap harus menunggu cerita baru. Tunangan tidak dapat jalur lebih cepat."
Jo tertawa. Mereka berhenti untuk makan sebelum pulang, memberi satu sore yang tidak diisi membicarakan tanggal atau rumah. Gadis tersebut menceritakan kalimat lucu dari tanggapan peserta, Jo membalas dengan kejadian kerja yang membuat dirinya harus memeriksa dua dokumen hampir sama.
Sesudah makan, mereka berjalan sebentar. Cincin terasa lebih akrab ketika tangan Erika berada pada genggaman Jo, tidak lagi hanya sesuatu yang terus dipandang sendiri.
Di depan tempat tinggal, lelaki itu menanyakan apakah akhir minggu dapat digunakan untuk bertemu Ibu melalui panggilan bersama Daddy. Mereka ingin memilih tanggal dan bentuk acara yang cukup bagi semua pihak.
Erika memeriksa catatan, mengatakan bisa setelah pekerjaan pagi selesai. Jo mengiyakan, lalu berpamitan dengan ciuman singkat pada kening yang membuat gadis itu tersenyum sebelum naik.
Malam itu, Erika menulis beberapa baris cerita baru. Tokohnya belum mempunyai rumah bersama, belum mengetahui semua jawaban, tetapi sudah berani menyatakan keinginan tanpa menunggu orang lain menebak.
Dia berhenti sebelum menyamakan cerita dengan hidup sendiri. Ada banyak kemungkinan untuk tokoh, dan penulisnya kini punya cukup keberanian membiarkan mereka bergerak dengan cara berbeda.
Pada halaman pribadi, Erika menuliskan waktu pertemuan keluarga yang akan datang. Pertunangan sudah diberi kabar kepada orang yang perlu mengetahui. Langkah berikutnya tidak lagi terasa seperti pintu yang tiba-tiba menutup di belakang, melainkan jalan yang mereka pilih untuk diteruskan bersama.