Bu Mei menandai hari yang disepakati pada kalender. Kali ini Jo akan datang bersama Daddy, dengan maksud yang sudah diberitahukan Erika. Perempuan itu tidak harus menebak dari banyaknya bawaan atau pakaian yang lebih rapi daripada kunjungan sebelumnya.
Putrinya ingin menikah dengan lelaki tersebut. Kalimat itu masih membuat dada terasa penuh, bercampur bahagia dan kekhawatiran yang tidak ingin ditutupi hanya karena orang akan datang jauh-jauh.
Bu Mei menelepon Erika beberapa hari sebelum perjalanan, menanyakan apakah ada yang belum berani dikatakan. Gadis tersebut mengaku masih gugup, tetapi bukan karena merasa dipaksa pada keputusan yang belum diinginkan.
"Aku sudah bertanya banyak, Bu. Mas Jo juga. Kami belum punya jawaban untuk semua yang nanti terjadi, tapi aku ingin membangun bersama."
Perempuan itu mendengar. Dia tidak meminta putri mengirim seluruh daftar percakapan, cukup memastikan bahwa kata ingin memang datang dari dirinya sendiri.
Di rumah Jack, Jo menyiapkan perjalanan dengan lebih tenang daripada kunjungan pertama, setidaknya sampai Ammar melihatnya membuka kotak kecil untuk ketiga kalinya.
"Bendanya tidak akan hilang kalau terus lo simpan," kata kakaknya.
Jo menutup, memandang dengan malu yang tidak dapat disembunyikan. "Aku memastikan."
"Yang perlu dipastikan sudah lo tanyakan kepada Erika?"
"Sudah. Kami bicara."
Ammar mengangguk, duduk di sisi meja. Dia tidak mengambil kotak atau memberi saran membuat acara lebih besar. Adiknya sudah mempunyai pengalaman mengenai pesta yang tampak lengkap tetapi tidak membuat orang di dalamnya benar-benar mengatakan pilihan.
"Kalau gugup, bilang gugup," ujarnya. "Jangan mengganti dengan pidato yang membuat orang harus menunggu terlalu lama."
Jo tertawa. Kakaknya bangkit setelah mengingatkan waktu berangkat, lalu meninggalkan ruang agar persiapan dapat selesai.
Erika juga menyiapkan barang di kamar. Kali ini buku kecil berisi pertanyaan diletakkan pada tas, bukan karena ingin menguji ulang semua jawaban, tetapi karena ada beberapa rencana yang perlu dicatat ketika keluarga berbicara.
Iccha menelepon malam sebelum berangkat. Perempuan itu menanyakan apakah gadis tersebut sudah memilih pakaian atau masih memikirkan satu kalimat yang akan diucapkan.
"Pakaian sudah. Kalimat belum," jawab Erika.
"Lo tidak harus membawa naskah jawaban."
"Aku tahu. Tapi aku tetap mencoba membayangkan."
Iccha tertawa pelan, mengatakan dirinya akan menunggu kabar tanpa membuat dua puluh pertanyaan sebelum gadis itu sempat bernapas. Erika berterima kasih, lalu keduanya menutup setelah membicarakan hal biasa yang membantu malam tidak hanya dipenuhi bayangan hari berikutnya.
Pagi sebelum perjalanan, Erika memeriksa kembali tas. Di antara pakaian, ada buku Anggrek yang hendak dibawa karena Ibu ingin menanyakan satu halaman. Gadis itu menyentuh sampul, tersenyum, lalu meletakkan pada sisi yang tidak akan tertekan barang lain.
Pesan dari Bu Mei datang ketika dia selesai. Perempuan tersebut menanyakan apakah sudah sarapan, kemudian mengingatkan agar putrinya tidak merasa harus tampak tenang sepanjang hari.
"Ibu juga gugup," tulisnya.
Erika tertawa pelan, membalas bahwa dirinya sudah memeriksa pakaian dua kali padahal tidak ada yang berubah. Bu Mei mengatakan kalau terus diperiksa mungkin yang bertambah hanya rasa ragu.
Gadis tersebut menutup tas. Dia duduk beberapa menit, membiarkan tubuh berhenti bergerak sebelum berangkat. Kamar baru yang dahulu terasa asing kini mempunyai buku pada rak, lampu pada tempat yang dipilih, dan jejak pekerjaan yang benar-benar menjadi miliknya.
Tidak lama lagi mungkin ada alamat lain yang akan dipilih bersama Jo. Namun, hari itu dia tidak merasa kamar ini hanya tempat menunggu agar dapat menjadi bagian keluarga kaya. Di sinilah beberapa keputusan penting dibuat dengan suara sendiri.
Jo mengirim kabar telah siap. Erika membalas, mengambil tas, lalu memeriksa pintu sekali sebelum turun. Di bawah, lelaki tersebut menunggu dengan pakaian rapi dan wajah yang membuat gadis itu segera tahu kegugupan bukan hanya miliknya.
"Mas juga belum tenang?"
"Aku sedang berusaha."
Erika tersenyum, menyentuh lengannya. Mereka berjalan menuju kendaraan tanpa mencari kalimat yang dapat membuat seluruh hari terasa pasti. Di depan masih ada perjalanan, percakapan, dan jawaban yang akan diberikan kepada keluarga dengan kesungguhan yang sama seperti ketika keduanya duduk sendiri.
Perjalanan ke Semarang dilakukan sesuai rencana. Daddy bergabung setelah pekerjaan yang perlu diselesaikan telah diatur, membawa bawaan yang cukup tanpa membuat rumah Bu Mei harus menerima seluruh isi kendaraan. Jo lebih banyak memeriksa waktu daripada ponsel, sementara Erika melihat jalan dengan tangan yang sesekali bertemu telapak lelaki di sampingnya.
Saat tiba, Bu Mei membuka pintu, menyambut putri dengan pelukan sebelum memberi salam kepada dua tamu. Jack memperkenalkan diri dengan hangat, mengucapkan terima kasih karena telah diberi kesempatan datang.
Mereka duduk setelah bawaan diletakkan pada tempat yang ditunjuk. Erika membantu membawa minum, lalu Bu Mei meminta putri ikut duduk. Hari itu bukan urusan dua orang tua yang akan menetapkan keputusan sementara anak hanya mempersiapkan piring.
Percakapan awal membuat suasana lebih ringan. Daddy menanyakan kabar buku Anggrek yang telah tiba. Bu Mei mengatakan dirinya sudah selesai membaca, bahkan memberi satu komentar mengenai tokoh yang menurutnya masih terlalu keras kepala.
Erika menatap dengan malu. Jo tertawa pelan, mengaku dirinya juga pernah kesal pada tokoh yang sama. Jack mendengar dengan senyum, lalu mengatakan penulis tentu mempunyai alasan, tetapi pembaca boleh tetap mengomel.
Jack sempat memandang halaman buku di meja, lalu menanyakan apakah Bu Mei menyimpan tulisan Erika sejak dulu. Perempuan tersebut mengangguk, mengatakan sebagian masih ada meskipun kertasnya tidak lagi rapi.
"Ayahnya juga membaca," ujarnya. "Kadang pertanyaannya membuat Erika kesal."
Gadis itu tertawa malu, mengaku sekarang justru beberapa pertanyaan lama terasa masuk akal. Jo mendengar, tersenyum ketika Daddy mengatakan pembaca yang mau bertanya sering membantu penulis melihat hal yang terlalu dikenalnya sendiri.
Bu Mei mengangkat buku, mengembalikan pada tempat aman agar tidak terkena gelas. Gerakan itu membuat Erika terdiam sebentar. Karyanya berada di antara dua orang tua yang membicarakan dengan hangat, tepat sebelum hidupnya memasuki rencana baru yang lebih besar.
Sesudah minum, Jo menarik napas dan memandang Bu Mei.
"Saya datang untuk menyampaikan niat menikah dengan Erika, Bu. Kami sudah membicarakan, dan saya ingin Ibu mendengar langsung dari saya."
Perempuan itu mengangguk, tidak segera menjawab sebelum menatap putri.
Erika mengangkat wajah. "Aku juga ingin, Bu."
Suara gadis itu sedikit bergetar, tetapi cukup jelas. Jo tidak mengisi jeda dengan alasan mengapa dirinya akan membuat hidup Erika lebih baik. Dia membiarkan kalimat tersebut berdiri sebagai pilihan perempuan yang ingin dinikahinya.
Bu Mei menanyakan beberapa rencana yang memang perlu diketahui. Tempat tinggal, pekerjaan, dan bagaimana putrinya tetap mempunyai ruang menemui Ibu. Mereka menjawab hal yang sudah disepakati, mengatakan belum pada yang masih akan dipilih bersama.
Jack mendengar tanpa mengambil alih. Ketika pembicaraan sampai pada rumah, dia mengatakan dirinya mendukung kedua anak tersebut mencari tempat sendiri jika itu yang diinginkan. Kedekatan keluarga tidak perlu bergantung pada satu alamat.
Bu Mei tampak lebih lega. Dia tidak meminta rumah dipilih sebesar mungkin, hanya ingin putrinya tidak masuk ke kehidupan baru dengan semua kebiasaan sudah ditentukan orang lain.
Pembicaraan mengenai Aldin berlangsung lebih singkat daripada yang ditakutkan Erika. Ibu mengatakan tidak akan menggunakan hari itu untuk meminta Jo menerima kunjungan lain atau mengembalikan persahabatan. Jika nanti ada acara keluarga, hal yang belum nyaman akan dibicarakan terpisah.
Jo berterima kasih. Gadis tersebut menatap Ibu, merasa suara yang dahulu sering membantunya menanggung urusan kini juga membantu memberi batas pada sesuatu yang tidak dapat diselesaikan sekaligus.
Setelah itu, Bu Mei memandang lelaki di depannya cukup lama.
"Saya tidak bisa menjanjikan rumah tangga akan selalu mudah," ujarnya. "Saya ingin kalian tetap berbicara ketika ada yang tidak mudah. Jangan baru mencari kata setelah keputusan yang menyakiti sudah dibuat."
Jo mengangguk. Erika juga. Tidak ada janji bahwa mereka akan selalu tahu jawaban, hanya kesediaan untuk tidak menjadikan diam sebagai cara memindahkan akibat kepada orang lain.
Bu Mei menarik napas, kemudian tersenyum dengan mata yang mulai basah.
"Kalau kalian memang ingin dan sudah membicarakan, Ibu menerima niat itu. Kita lanjutkan rencana dengan tenang."
Erika menahan air mata yang tiba-tiba naik. Jo memandangnya, lalu kembali kepada Ibu, mengucapkan terima kasih dengan suara yang lebih pelan daripada ketika memulai.
Daddy mengangguk, wajahnya hangat. Dia tidak langsung menyebut daftar tamu atau tanggal yang telah dipilih sendiri. Dua keluarga baru saja menerima niat, dan masih mempunyai pekerjaan yang akan dibicarakan bersama.
Mereka berhenti untuk makan sebelum kepala terlalu penuh. Erika membantu Ibu, sementara Jo serta Daddy menerima pekerjaan membawa yang sudah siap. Suasana dapur membuat gadis itu tertawa ketika lelaki yang biasanya tampak sangat tenang harus menanyakan letak dua benda yang sebenarnya berada dekat tangan.
Setelah makan, Daddy dan Bu Mei berbicara mengenai beberapa hal praktis. Erika mengajak Jo duduk sebentar di bagian rumah yang lebih sejuk. Gadis tersebut ingin menarik napas tanpa terus merasa harus menjawab setiap pertanyaan yang mungkin muncul.
Lelaki itu mengikuti, membawa kotak kecil yang selama perjalanan tetap disimpan. Ketika mereka duduk, dia memandang tangan Erika yang berada di atas lutut.
"Aku masih punya pertanyaan untukmu," katanya.
Gadis itu menoleh. Jantungnya bergerak lebih cepat saat melihat kotak, meskipun arah hari itu sudah jelas sejak mereka berangkat.
Jo membuka dengan tangan yang ternyata tidak setenang wajahnya. Cincin di dalam sederhana, dipilih setelah dirinya mengetahui selera yang pernah dibicarakan, bukan untuk memperlihatkan angka yang dapat dibayar.
"Ka, kamu mau menikah denganku?"
Erika menatap lelaki itu. Ada banyak kejadian yang datang sebentar dalam ingatan: wawancara pertama, malam ketika dituduh, permintaan maaf, hujan di depan pintu, meja di kamar baru, dan kalimat suka yang akhirnya diucapkan sendiri.
Dia tidak ingin menghapus yang pahit agar jawaban terasa indah. Yang membuatnya ingin menjawab justru perjalanan ketika beberapa hal telah dilihat dengan jelas, termasuk perubahan yang perlu terus dikerjakan.
"Aku mau," ujarnya. "Aku ingin menikah dengan Mas."
Jo mengembuskan napas, tertawa kecil seperti orang yang baru menyadari dirinya menahan terlalu lama. Erika ikut tertawa dengan mata basah, mengulurkan tangan setelah lelaki itu menatap untuk memastikan.
Cincin dipasang perlahan. Mereka memeriksa apakah nyaman, lalu gadis tersebut memutar sedikit, melihat cahaya jatuh pada permukaannya.
"Kalau perlu disesuaikan, bilang," kata Jo.
"Sekarang nyaman."
Lelaki itu menggenggam tangannya, memandang wajah yang sudah tidak berusaha menyembunyikan bahagia. Erika mendekat, menyandarkan kepala sebentar pada bahunya.
"Mas ternyata tidak mengucapkan pidato."
"Aku sudah diperingatkan."
Gadis itu tertawa. Mereka duduk beberapa saat, membiarkan jawaban mempunyai ruang tanpa segera memotret atau mengirim ke seluruh orang yang dikenal.
Ketika kembali ke ruang tamu, Bu Mei melihat cincin sebelum Erika mengatakan. Perempuan tersebut mengusap mata, memeluk putri, kemudian menerima ucapan terima kasih Jo dengan tangan yang sedikit bergetar.
Daddy berdiri di sisi, tersenyum ketika gadis tersebut menunjukkan tangan. Tidak ada yang menyebut dirinya telah resmi menjadi istri. Hari itu mereka bertunangan, dengan pernikahan yang masih akan dipersiapkan dan tanggal yang perlu dipilih bersama.
Sore menjelang ketika dua tamu berpamitan menuju tempat menginap. Erika akan tinggal bersama Ibu, memberi kesempatan rumah kembali pada suara yang akrab setelah hari penuh percakapan.
Jo menahan tangannya sebentar di depan pintu, lalu melepaskan setelah gadis itu tersenyum. Mereka sepakat berbicara lagi setelah masing-masing beristirahat, tidak berusaha membuat bahagia membatalkan kebutuhan tubuh yang sudah lelah perjalanan.
Di rumah, Bu Mei mengajak Erika duduk setelah dapur rapi. Buku Anggrek berada di meja, cincin baru tampak setiap kali putrinya mengangkat gelas.
"Ayah pasti ingin bertanya banyak," ujar perempuan itu pelan.
Erika mengangguk, mata kembali panas. "Mungkin pertama menanyakan Mas Jo sudah membaca bukuku atau belum."
Bu Mei tertawa di sela suara yang bergetar. Mereka duduk dekat, membiarkan rindu hadir bersama kebahagiaan tanpa menganggap salah satunya harus menyingkir.
Malam itu, Erika memberi kabar kepada Iccha dan Lina. Pesan dibalas cepat, membuatnya tertawa karena Iccha benar-benar berusaha menahan pertanyaan sebelum akhirnya mengirim beberapa sekaligus. Gadis tersebut menjawab yang dapat dijawab, berjanji bercerita lebih lengkap setelah pulang.
Jo juga mengabari Ammar, lalu menutup telepon dengan senyum yang tidak dapat ditahan. Daddy duduk tidak jauh, membaca pesan dari rumah dan sesekali memandang anak yang tampak lebih ringan daripada perjalanan datang.
Sebelum tidur, Erika membuka buku kecil. Daftar pertanyaan masih ada, beberapa belum selesai, dan kini satu tanggal baru ditulis pada halaman kosong: hari ketika dirinya mengatakan mau.
Dia menyentuh cincin, kemudian mengambil pena. Masih ada cerita yang ingin ditulis, pekerjaan yang ingin dikerjakan, dan rumah yang akan dipilih bersama. Tidak satu pun terasa harus ditinggalkan untuk menerima lelaki yang kini ingin berjalan di sampingnya.
Di tempat menginap, Jo menerima pesan singkat bahwa Erika sudah beristirahat. Dia membalas, meletakkan ponsel, lalu memandang kotak cincin yang kini kosong.
Untuk pertama kalinya, kekosongan kecil tersebut tidak membuatnya ingin mengejar sesuatu yang pergi. Jawabannya berada di rumah lain, di tangan seorang penulis yang telah memilih sendiri untuk menjadi calon istrinya.