Erika membaca pesan Caca lagi setelah sarapan. Kalimatnya pendek, tidak menyebut Jo sebagai alasan harus bertemu, dan tidak meminta gadis itu mengatakan bahwa semuanya telah baik. Dia meletakkan ponsel, menyelesaikan pekerjaan pagi, lalu memberi jawaban ketika benar-benar mempunyai waktu.
Mereka sepakat berbicara melalui telepon sore hari. Erika tidak ingin mengatur pertemuan yang mengharuskannya pergi hanya untuk mendengar kalimat yang dapat disampaikan langsung. Caca menerima pilihan tersebut tanpa meminta bentuk lain.
Panggilan dimulai dengan salam yang sedikit kaku. Gadis itu duduk dekat jendela, sementara suara dari halaman masuk samar. Dia tidak menyiapkan catatan seperti wawancara.
"Aku ingin meminta maaf karena membuatmu ikut menanggung akibat," kata Caca. "Aku tahu kamu tidak tahu rencana kami. Waktu itu aku pergi dan membiarkan kamu berada di rumah yang sedang menghadapi semuanya."
Erika mendengarkan. Ada bagian dari dirinya yang ingin langsung bertanya mengapa perempuan tersebut tidak pernah memikirkan sebelum pergi. Namun, pertanyaan itu telah dijawab melalui terlalu banyak kejadian. Dia tidak ingin memulai putaran penjelasan baru hanya agar kemarahan mempunyai sesuatu untuk dipegang.
"Aku memang sempat merasa semua orang melihatku sebagai jawaban atas perbuatan kalian," ujarnya. "Padahal aku juga baru tahu."
"Aku tahu sekarang. Aku tidak bisa membuatmu kembali ke malam itu dengan keadaan berbeda."
Caca menarik napas di ujung lain. Erika memberi waktu, tidak menyela untuk mengatakan tidak apa-apa.
"Aldin mengatakan kamu dan Jo sedang dekat," lanjut perempuan tersebut. "Aku tidak menelepon untuk menanyakan itu. Aku hanya ingin kamu tahu permintaan maaf ini bukan cara meminta tempat kembali di hidup Jo."
Gadis itu mengangguk. "Baik. Aku juga tidak akan menjawab mengenai perasaan dia."
"Aku tidak meminta."
Percakapan berlangsung beberapa menit. Caca mengakui bahwa dirinya pernah meminta Erika menuliskan kata-kata yang seharusnya diucapkan sendiri. Kini dia tidak ingin menggunakan kepandaian gadis itu untuk membuat tindakannya terdengar lebih lembut.
Erika memandang meja. Ada waktu ketika tawaran semacam itu dapat membuat dirinya merasa berguna, sampai tidak menyadari betapa banyak urusan orang lain yang sedang dibawa.
"Aku menerima permintaan maafmu," katanya akhirnya. "Aku tidak menjanjikan bisa langsung dekat. Tapi aku tidak ingin setiap kali namamu muncul, aku harus mengerjakan malam itu lagi."
Caca terdiam, kemudian mengucapkan terima kasih. Dia tidak menanyakan apakah itu berarti boleh lebih sering menelepon atau ikut ketika Erika pulang ke Semarang.
Setelah panggilan selesai, gadis tersebut duduk beberapa saat. Tidak ada rasa lega yang membuat seluruh tubuh ringan sekaligus. Namun, ketika laptop dibuka, dia dapat membaca halaman sendiri tanpa segera mencari kalimat yang menjelaskan siapa sebenarnya bersalah.
Pekerjaan kembali mempunyai ruang.
Minggu-minggu berikutnya memberi banyak hari biasa. Jo bertemu pada waktu yang disepakati, kadang hanya untuk makan sebentar. Erika mengirim pekerjaan klien, menerima tanggapan, lalu memperbaiki sesuai bagian yang memang disetujui. Mereka pernah harus memindahkan janji karena Jo mendapat urusan penting, dan lelaki itu memberi kabar sebelum gadis tersebut turun menunggu.
Ada sore ketika mereka berjalan tanpa tujuan besar. Ada malam ketika Erika terlalu lelah untuk banyak bicara, tetapi tetap mengatakan ingin mendengar kabar singkat. Kedekatan tumbuh dalam hal yang tidak dapat dipakai sebagai adegan puncak, tetapi justru membuat keduanya mengenal kebiasaan nyata.
Cerita Anggrek juga bergerak. Bab yang dahulu terasa sulit kini telah membawa tokoh-tokohnya menuju akhir yang direncanakan. Erika tidak menamatkan hanya karena suasana hati sedang baik. Dia membaca urutan lama, memeriksa janji yang diberikan sejak awal, dan menandai bagian yang belum mendapat jawaban.
Lina membantu membaca satu adegan setelah diminta. Iccha mengingatkan bagian yang menurutnya masih terlalu panjang. Daddy mengembalikan buku contoh dengan catatan singkat mengenai kalimat yang terasa bukan suara tokoh.
Erika menerima yang berguna, menolak beberapa usulan setelah menjelaskan alasan, lalu kembali mengerjakan. Tidak ada yang tersinggung karena penulis tidak menggunakan semua pendapat sebagai perintah.
Ketika akhirnya sampai pada bab terakhir, gadis itu duduk lebih lama daripada biasa. Tokoh perempuannya telah membuat pilihan yang dahulu terus ditunda. Tokoh laki-lakinya juga harus melakukan sesuatu selain menunggu orang lain memahami.
Erika membaca keras-keras, berhenti pada kalimat yang terdengar terlalu indah tetapi tidak sesuai kejadian. Dia menghapus, mengganti dengan sesuatu yang lebih sederhana, lalu membaca lagi.
Ada satu adegan sebelum akhir yang membuat Erika berhenti lebih lama. Tokoh perempuannya akan menerima bantuan, tetapi kalimat awal menjadikannya seolah tidak mampu mengerjakan apa pun sendiri. Gadis itu membaca dari bagian sebelumnya, menemukan bahwa masalahnya bukan bantuan, melainkan alasan tokoh laki-laki masuk ke adegan.
Dia mengganti tindakan pertama. Lelaki tersebut tidak datang membawa semua jawaban. Dia mendengar apa yang sedang dicari, lalu menawarkan mengangkat sesuatu yang memang terlalu berat untuk dibawa satu orang. Keputusan tetap berada pada tokoh yang meminta bantuan.
Erika membaca keras-keras. Percakapan terasa lebih hidup, tetapi kalimat penutup terlalu menjelaskan apa yang baru saja terlihat. Dia menghapus, membiarkan satu gerakan kecil berdiri tanpa diterjemahkan lagi.
Saat berhenti untuk minum, gadis itu melihat catatan paling awal cerita. Ada rencana yang sudah berubah karena tokoh berkembang melalui kejadian. Ada pula janji yang tetap harus dipenuhi, termasuk keputusan kecil yang semula hanya muncul sebagai lelucon tentang makanan.
Erika tersenyum, membuka bab lama, lalu menyiapkan cara mengembalikan lelucon tersebut tanpa menyalin adegan yang sama. Tokoh kini dapat memilih lebih cepat, tetapi bukan berarti selalu memilih benar. Dia ingin akhir menunjukkan perubahan yang dapat dipercaya, bukan seseorang mendadak mengetahui segala hal.
Lina memberi tanggapan ketika bagian pendek dikirim sesuai janji. Perempuan itu menyukai percakapan, tetapi menanyakan apakah satu benda muncul terlalu tiba-tiba. Erika memeriksa, menemukan petunjuk sebenarnya ada namun terlalu jauh dari adegan terakhir.
Mereka berbicara singkat. Gadis itu menambahkan pengingat pada bagian yang tepat, lalu meminta Lina membaca ulang kalimat sekitar agar tidak terasa seperti penulis sedang mengarahkan tangan pembaca.
"Sekarang cukup," jawab temannya.
Erika berterima kasih. Dia menyimpan versi baru dengan nama yang jelas, menutup salinan lama agar tidak keliru memakai, lalu berdiri dari meja. Kamar sudah mulai gelap. Dia menyalakan lampu, menarik tirai, dan baru menyadari dirinya lapar.
Makanan sederhana memberi waktu kepala berhenti menyusun kalimat. Gadis itu tidak membuka komentar sambil makan. Cerita belum diunggah, dan dia ingin menentukan akhir sebelum keinginan pembaca yang paling keras membuatnya ragu pada semua pilihan.
Sesudah makan, dia kembali membaca bagian terakhir dari awal. Kali ini tidak banyak yang diubah. Ada satu salah ketik, satu kalimat yang dipendekkan, dan sebuah jeda yang dibiarkan karena memang memberi tempat bagi tokoh menanggapi.
Ketika layar akhirnya ditutup sebentar, Erika merasa lelah tetapi tidak kosong. Pekerjaan telah bergerak melalui tindakan yang jelas. Besok mungkin masih ada yang ditemukan, namun malam itu dia tidak perlu membuktikan kesungguhan dengan terus mengerjakan sampai tidak dapat menilai hasil sendiri.
Pada malam itu, Jo menelepon. Gadis tersebut mengatakan tinggal memeriksa beberapa halaman sebelum akhir diunggah.
"Aku boleh menanyakan bagaimana akhirnya?" ujar lelaki itu.
"Boleh bertanya. Belum tentu kuberi jawaban."
Jo tertawa. "Aku sudah menjadi pembaca yang cukup sabar."
"Itu penilaian sendiri."
"Kalau penulisnya memberi nilai, mungkin belum tentu lulus."
Erika ikut tertawa, lalu mengatakan dia ingin pembaca menerima akhir pada waktu yang sama. Jo mengiyakan. Tidak ada alasan hubungannya dengan penulis harus memberi jalan khusus pada cerita yang juga sedang ditunggu orang lain.
Pagi berikutnya, setelah pemeriksaan selesai, Erika mengunggah bagian terakhir. Tangannya berhenti sebentar sebelum menekan pilihan yang membuat halaman dapat dibaca. Dia teringat hari pertama menuliskan cerita itu, saat beberapa bagian hidupnya masih terasa jauh lebih pasti daripada sekarang.
Layar menampilkan bahwa bab telah tersedia. Gadis itu menutup sebentar, berdiri, lalu membuat minum agar tidak terus memeriksa jumlah tanggapan setiap menit.
Ketika kembali, beberapa komentar sudah masuk. Ada yang puas, ada yang berharap satu tokoh mendapat lebih banyak halaman, dan ada yang menyebut adegan sederhana membuatnya teringat keputusan sendiri. Erika membaca tanpa menganggap semua harus berkata sama agar pekerjaannya boleh disebut selesai.
Bu Mei menelepon setelah mendapat kabar. Perempuan itu baru membaca sebagian, ingin menyelesaikan ketika pekerjaan rumah sudah cukup rapi.
"Ibu jangan merasa harus langsung," ujar Erika.
"Ibu juga ingin tahu akhir. Bukan karena kamu menyuruh."
Gadis itu tersenyum. Mereka berbicara sebentar, lalu Erika mengatakan dirinya ingin membuat satu salinan cetak untuk Ibu. Bukan langsung mengumumkan penerbitan besar, hanya menyiapkan bentuk yang dapat dipegang setelah seluruh cerita selesai.
Bu Mei terdiam, kemudian bertanya apakah putrinya sudah memperhitungkan pekerjaan penataan dan biaya. Erika mengatakan sedang memeriksa, tidak ingin mengambil pilihan terlalu banyak sebelum satu salinan dapat dibaca dengan baik.
"Kalau sudah jadi, Ibu ingin melihat," jawab perempuan tersebut.
Gadis itu mengangguk dengan mata yang mulai panas. Janji yang dahulu diberikan di rumah akhirnya mempunyai langkah berikutnya, tanpa memerlukan orang lain membeli seluruh perjalanan agar terasa mungkin.
Erika menggunakan beberapa hari untuk merapikan naskah. Nomor bab diperiksa, salah ketik yang ditemukan diperbaiki pada salinan, dan halaman yang tidak perlu untuk bentuk cetak dipisahkan. Dia tidak mengubah cerita lama hanya karena komentar terakhir meminta tokoh berbeda.
Lina membantu melihat sampul sederhana yang dipilih. Mereka membicarakan letak judul dan nama Anggrek, lalu Erika memutuskan setelah mencoba membaca dari jarak berbeda. Jo melihat contoh ketika mereka bertemu, tetapi tidak langsung menawarkan desain yang lebih mahal.
"Namamu terlihat jelas," katanya.
"Itu memang sengaja."
Lelaki tersebut tersenyum. Gadis itu juga tersenyum, mengingat bagaimana dulu dirinya perlu menanyakan ukuran nama pada buku yang dibuat untuk orang lain.
Salinan pertama datang setelah proses yang tidak instan. Erika membuka dengan hati-hati, memeriksa halaman depan, lalu menemukan satu bagian yang perlu dibetulkan sebelum salinan untuk Ibu dibuat. Dia sempat kesal karena mengira pemeriksaan sudah cukup, tetapi akhirnya mencatat, meminta perbaikan, dan menunggu hasil berikutnya.
Jo menemuinya saat buku yang telah diperbaiki tiba. Mereka duduk pada tempat yang memungkinkan Erika membuka halaman tanpa terganggu. Gadis itu menyerahkan setelah memeriksa, meminta lelaki tersebut melihat satu bagian untuk memastikan tidak ada yang sulit terbaca.
Jo menerima, membalik halaman perlahan. Judul cerita berada di depan, nama Anggrek tercetak di bawahnya. Di dalam, bukan kisah dirinya dengan Caca, bukan kalimat yang dibayar untuk menjelaskan keputusan keluarga.
"Ini terasa berbeda," ujar Erika pelan.
"Karena milikmu?"
"Karena aku tahu semua pilihan di dalamnya akhirnya memang kuambil sebagai penulis."
Lelaki itu mengangguk. Dia membaca satu paragraf yang ditunjuk, lalu mengembalikan tanpa menahan terlalu lama. Erika menyentuh sampul, tertawa malu ketika menyadari dirinya terus melakukan gerakan yang sama.
"Aku seperti baru punya buku pertama. Padahal sudah pernah menulis selesai."
"Mungkin ini punya sesuatu yang berbeda untukmu sekarang."
Gadis tersebut mengangguk. Ada hidup yang bergerak di antara halaman-halaman itu, tanpa perlu menyalin nama orang yang pernah menyakitinya agar pengalaman menjadi nyata.
Sebelum mengemas, Erika membaca halaman pesan untuk Ibu sekali lagi. Tidak banyak kata yang perlu diubah, hanya satu yang terasa terlalu resmi untuk perempuan yang biasa menanyakan apakah dirinya sudah makan.
Dia mengganti, lalu menulis nama sendiri di bawah. Anggrek berada di sampul sebagai penulis. Di halaman kecil tersebut, dia tetap Erika yang ingin memberi sesuatu kepada Ibu.
Gadis itu memilih pembungkus yang cukup melindungi sudut, memastikan alamat terbaca, dan memeriksa nomor yang dapat dihubungi. Pekerjaan sederhana itu membuat janji terasa nyata dengan cara berbeda dari mengunggah bab terakhir. Ada benda yang akan menempuh perjalanan menuju rumah, lalu dibuka oleh tangan yang dahulu sering merapikan kertas-kertas tulisannya.
Sore itu, dia menyiapkan kiriman untuk Ibu setelah salinan yang diperlukan siap. Ada pesan singkat di dalam, ditulis tangan, tidak lebih panjang daripada yang ingin dikatakan: terima kasih karena selalu memberi tempat untuk pulang dan tetap membiarkan dirinya pergi bekerja.
Ketika paket dikirim, Erika memotret bukti, memberi kabar kepada Bu Mei, lalu kembali pada kamar. Jo bertanya apakah mereka boleh merayakan dengan makan sesuatu yang disukai gadis itu.
Erika menerima. Kali ini dia tidak menanyakan apakah perayaan cukup besar untuk disebut berhasil. Satu buku, satu cerita yang sampai pada akhir, dan seseorang yang mau membaca sudah terasa cukup bagi hari tersebut.
Dalam perjalanan makan, Jo memegang tangannya sebentar ketika mereka berhenti menunggu jalan aman. Gadis itu menoleh, tersenyum, lalu kembali melihat ke depan.
Di rumah Jack, Daddy menerima pesan foto sampul dari Erika. Lelaki itu membacanya, tersenyum, kemudian menunjukkan kepada Lina yang kebetulan berada dekat. Kiki datang melihat setelah adiknya memanggil, mengomentari ukuran judul dengan gaya yang tetap terus terang.
Percakapan mereka berlanjut pada salinan foto Mama yang kini masing-masing tersimpan di kamar. Lina menyebut ingin melihat tempat peristirahatan perempuan yang belum pernah dikenalnya melalui ingatan sendiri. Kiki tidak menjawab segera.
Namun, sebelum pergi, dia berhenti di pintu dan berkata bahwa jika waktunya cocok, dirinya ingin ikut.