Lina menunggu sampai Kiki kembali ke ruang keluarga sebelum menanyakan waktu. Dia tidak ingin ajakan yang baru diberikan kakaknya berubah menjadi sesuatu yang terus disebut di depan orang lain sampai perempuan tersebut merasa terpojok.
"Lo serius ingin ikut?" tanyanya pelan.
Kiki memandang foto yang masih terbuka di ponsel. "Gue bilang kalau waktunya cocok."
"Kita cari yang cocok. Tidak harus besok."
Perempuan itu mengangguk. Mereka duduk, mencocokkan jadwal, lalu bertanya kepada Daddy apakah ingin pergi bersama. Jack meletakkan buku, melihat kedua putrinya dengan wajah yang perlahan berubah.
"Daddy ingin," jawabnya.
Tidak ada kalimat bahwa akhirnya semua sudah memahami. Lelaki itu tahu ajakan berkunjung tidak menghapus tahun-tahun ketika dia lebih sering menghentikan pertengkaran daripada mendengar luka yang membuatnya muncul.
Ammar dan Jo diberi kabar pada hari berikutnya. Mereka menyisihkan waktu setelah memastikan pekerjaan, bukan membuat seluruh keluarga pergi mendadak agar kesempatan tidak hilang. Kiki memilih hari yang cukup tenang, Lina menyiapkan hal yang diperlukan, dan Daddy memastikan perjalanan dapat dilakukan tanpa terburu-buru.
Erika mendengar dari Jo ketika mereka berbicara. Gadis itu tidak menawarkan ikut sebelum ditanya. Dia tahu ada kenangan yang perlu dibagi keluarga tanpa harus segera mempunyai penonton baru.
"Kalau setelah pulang kamu ingin bicara, aku bisa mendengar," ujarnya.
Lelaki tersebut berterima kasih. Dia tidak tahu akan merasa bagaimana nanti. Ada bagian tentang Mama yang masih jelas, ada yang hanya dikenal melalui foto serta cerita Daddy. Jo tidak ingin membuat ingatan yang samar terdengar lengkap hanya karena dirinya lebih tua daripada Lina.
Pada pagi keberangkatan, rumah lebih sunyi dari biasanya. Kiki turun dengan pakaian sederhana, berhenti dekat Lina yang sedang memeriksa tas kecil. Mereka tidak berbicara banyak. Ammar membawa yang diminta Daddy, Jo membantu memastikan barang yang diperlukan sudah tersedia, lalu semuanya berangkat setelah sarapan.
Perjalanan berlangsung dengan percakapan pendek. Daddy menyebut satu jalan yang dahulu sering dilewati bersama Maira. Ammar mendengar, sesekali menanyakan yang benar-benar diingat. Kiki melihat jendela, sementara Lina memegang ujung tas seolah tidak tahu apa yang akan dikatakan ketika tiba.
Tempat peristirahatan Mama menyambut dengan udara yang lebih tenang. Mereka berjalan bersama, tidak terlalu cepat. Daddy berhenti dahulu, kemudian memberi ruang bagi anak-anak mendekat.
Lina melihat nama yang selama ini lebih sering berada pada cerita orang. Ada rasa sesak yang sulit dibedakan dari sedih. Dia pernah datang pada waktu lain, tetapi hari itu Kiki berdiri di sampingnya, cukup dekat sehingga bahu mereka hampir bersentuhan.
Keduanya diam cukup lama. Tidak ada yang meminta Lina mengatakan sesuatu karena perjalanan sudah dilakukan. Kiki juga tidak diharapkan mengucapkan kalimat yang menutup semua kemarahan sejak kecil.
Setelah membersihkan bagian yang perlu, keluarga tersebut berdoa dengan tenang. Daddy menunduk, kedua tangan diam di depan tubuh. Saat selesai, dia tetap berada di tempat, kemudian mengusap wajah sebelum menatap anak-anak.
"Daddy sering mengira kalian masih terlalu kecil untuk mendengar cerita yang membuat sedih," ujarnya. "Lalu ketika kalian besar, Daddy sudah terlalu terbiasa diam."
Kiki memandang. Lina tidak bergerak, menunggu tanpa menyiapkan pembelaan untuk siapa pun.
Lelaki itu menceritakan hal sederhana mengenai Maira. Bukan seluruh hari terakhir, bukan penjelasan panjang mengenai kehilangan. Dia mengingat cara perempuan tersebut menyimpan catatan belanja di tempat yang kadang sulit ditemukan, lalu menuduh Jack memindahkan padahal tangannya sendiri yang menaruh.
Ammar tersenyum karena mengenali sebagian cerita. Jo tertawa pelan pada satu bagian, kemudian mengaku tidak tahu apakah yang diingatnya benar-benar kejadian atau cerita yang terlalu sering didengar.
"Tidak apa-apa," kata Daddy. "Kamu boleh mengatakan tidak yakin."
Lina mendengar dengan mata basah. Ada kehidupan Mama sebelum menjadi nama yang dipakai untuk menjelaskan kemarahannya sendiri maupun kakak. Perempuan tersebut pernah tertawa, lupa, kesal pada barang yang hilang, dan menyukai hal kecil yang tidak berhubungan dengan hari dia meninggal.
Kiki duduk sebentar pada tempat yang memungkinkan beristirahat. Lina berdiri dekat, lalu bertanya apakah boleh duduk juga. Kakaknya mengangguk tanpa melihat langsung.
"Gue masih kadang marah," kata Kiki kemudian, suaranya hampir tertelan bunyi angin.
Lina mengangguk. "Gue tahu."
"Tapi gue tidak ingin setiap marah berarti lo harus menjadi yang salah."
Perempuan berhijab tersebut menatap tangan sendiri. Kalimat itu tidak meminta dirinya menghibur Kiki karena akhirnya mengakui. Dia dapat menerima dengan suara yang tetap sedikit bergetar.
"Gue ingin dengar kalau lo sedih. Tapi gue tidak mau disebut penyebabnya lagi."
Kiki menelan, mengangguk perlahan. "Iya."
Mereka duduk beberapa saat. Ketika Lina mengusap mata, Kiki mengeluarkan tisu, menyerahkan tanpa lelucon yang biasa dipakai untuk memotong suasana. Perempuan itu menerima, berterima kasih, lalu membiarkan kedekatan tersebut tetap sederhana.
Ammar dan Jo memberi ruang sambil membantu Daddy pada bagian lain. Tidak ada yang memotret dua saudara untuk dijadikan bukti bahwa keluarga akhirnya pulih. Hari itu milik mereka, termasuk sunyi yang masih terlalu penuh untuk diberi nama.
Menjelang pulang, Lina berhenti sekali lagi. Dia tidak menyusun kalimat panjang kepada Mama. Dia hanya mengatakan terima kasih atas kehidupan yang dimilikinya, lalu menahan air mata ketika Kiki berdiri di samping tanpa menjauh.
Sebelum beranjak, Daddy berhenti di sisi yang cukup teduh. Ammar berdiri dekat, memandang foto yang dibawa sebagai pengingat kecil. Dia mengatakan masih mengingat Mama menegur ketika dirinya mengajari Jo permainan yang belum dipahami adik.
Jo mengangkat wajah. "Mas bilang aku bisa."
"Gue memang mengira bisa."
Daddy tersenyum, menjelaskan bahwa Maira kemudian duduk bersama, membantu Jo dengan cara yang membuat Ammar merasa dirinya ikut bermain, bukan sekadar disuruh berhenti.
Kiki mendengar, menyentuh ujung foto yang tidak sepenuhnya terlihat dari tempatnya. Dia menanyakan apakah Mama selalu sabar seperti cerita orang.
Jack menggeleng perlahan.
"Tidak selalu. Mama bisa kesal. Bisa lelah. Kadang Daddy tidak cepat menyadari karena merasa kalau dia masih tersenyum berarti semua baik."
Lina menatap. Jawaban itu memberi bentuk yang selama ini jarang didengar. Mama tidak hanya seorang perempuan sempurna yang hilangnya membuat setiap orang lain tampak kurang pantas.
Daddy menceritakan satu kejadian ketika Maira meminta waktu sendiri setelah hari yang terlalu ramai. Dia mengaku semula terus menanyakan perlu apa, sampai istrinya mengatakan yang diperlukan justru beberapa menit tanpa pertanyaan.
Ammar tertawa pelan karena dapat membayangkan. Jo juga tersenyum, lalu Kiki bertanya apakah Daddy akhirnya mengerti.
"Setelah ditegur lagi," jawab lelaki itu.
Tawa kecil muncul, tidak mengganggu ketenangan tempat. Lina mengusap mata, lalu mengatakan dirinya senang mendengar Mama dapat marah tanpa cerita tersebut membuat orang lain menganggap kurang baik.
Jack mengangguk. "Daddy terlalu sering memilih cerita yang paling mudah dikenang. Padahal kalian juga boleh mengenal bagian yang biasa."
Kiki menerima foto setelah Ammar menyerahkan. Dia melihat beberapa saat, kemudian memberikan kepada Lina. Adiknya memegang dengan hati-hati, bukan seperti benda yang tidak berhak dimiliki.
Ketika bersiap berjalan, Kiki hampir berkata agar Lina jangan memperlambat langkah. Kalimat sudah ada di ujung lidah, tetapi dia melihat adiknya masih menatap tempat tadi dan berhenti.
"Lo perlu sebentar lagi?" tanyanya.
Lina mengangguk. "Sebentar."
Kiki menunggu. Daddy serta kedua putranya memberi ruang, lalu mereka bergerak ketika perempuan tersebut siap. Keputusan kecil itu tidak diumumkan, tetapi Lina merasakannya dengan jelas.
Di dekat kendaraan, Jo membantu memasukkan barang. Ammar menepuk bahunya sebentar, menanyakan apakah ingin duduk pada sisi yang sama seperti perjalanan datang. Lelaki tersebut mengangguk, merasa hari telah memberi lebih banyak yang ingin dipikirkan daripada kalimat yang mampu diucapkan.
Kiki menyerahkan foto kepada Daddy agar disimpan kembali dengan aman. Lina tidak meminta semua salinan lain hari itu. Mereka sudah mempunyai masing-masing satu di kamar, dan kini beberapa cerita baru yang tidak perlu dibingkai untuk dapat dibawa pulang.
Perjalanan kembali terasa lebih lelah. Daddy mengajak makan sebelum sampai rumah, menanyakan pilihan anak-anak tanpa menganggap semua harus menuruti yang diingat Mama suka. Kiki memberi jawaban, Lina menyebut yang berbeda, dan keduanya tidak perlu berdebat agar keputusan dapat diambil.
Jo melihat percakapan tersebut, merasa sesuatu bergerak di dalam dada. Keluarga tidak menjadi lebih utuh karena semua memilih sama. Hari itu justru ada ruang untuk mendengar perbedaan tanpa segera mencari siapa yang perlu diam.
Sesudah sampai, Lina naik ke kamar untuk menyimpan barang. Kiki menyusul beberapa menit kemudian, mengetuk sebelum masuk. Perempuan itu berdiri di dekat foto Mama, memandang letaknya yang kini sedikit berbeda dari waktu pertama dipasang.
"Lo memindahkannya?"
"Sedikit. Kalau duduk di meja, sekarang bisa lihat."
Kiki mengangguk, kemudian mengatakan ingin menulis cerita Daddy tadi sebelum ada bagian yang lupa. Lina memandang dengan kejutan yang tidak disembunyikan.
"Gue juga ingin," jawabnya.
"Tulis punya lo. Nanti kita lihat kalau ada yang berbeda."
Perempuan berhijab tersebut menerima, mengambil buku kecil dari meja. Kiki tidak duduk lama, hanya menanyakan apakah satu kalimat mengenai Mama meminta waktu sendiri terdengar sama bagi adiknya.
Mereka membandingkan ingatan singkat, menemukan satu bagian yang belum pasti, lalu sepakat bertanya kepada Daddy ketika lelaki itu cukup beristirahat. Tidak perlu mengarang agar cerita terdengar lengkap.
Setelah Kiki pergi, Lina menuliskan yang masih diingat. Ada nama Mama pada halaman, beberapa kejadian biasa, dan satu catatan bahwa Kiki ingin mengingat juga. Gadis itu berhenti, menyentuh ujung foto, lalu meneruskan dengan napas yang lebih tenang.
Sore hari, Erika datang setelah Jo mengatakan dirinya ingin bertemu jika waktu gadis itu sesuai. Dia membawa kabar bahwa paket untuk Ibu telah tiba. Bu Mei belum selesai membaca, tetapi sudah memotret buku di dekat gelas yang biasa dipakai.
Lina melihat foto setelah diberi izin, tersenyum, lalu mengatakan nama Anggrek terlihat jelas. Kiki ikut melihat sekilas, mengangguk pada pilihan sampul, kemudian naik untuk beristirahat.
Erika tidak menanyakan bagaimana percakapan di tempat Mama berlangsung. Dia menyapa Daddy, mendengar ketika lelaki tersebut mengatakan hari cukup melelahkan, lalu membantu Bi Ani membawa minum yang memang sedang disiapkan.
Jo mengajak duduk di teras setelah memberi waktu keluarga beristirahat. Gadis itu duduk di samping, membiarkan lelaki tersebut memilih yang ingin diceritakan.
"Aku tadi merasa punya ingatan sedikit sekali," ujar Jo. "Lalu malu karena Lina bahkan tidak punya ingatan sendiri bersama Mama."
Erika menatap halaman. "Rindu tidak perlu dibagi menurut siapa punya paling banyak."
Lelaki tersebut diam, memikirkan. Gadis itu tidak mengatakan dirinya memahami semua hanya karena juga kehilangan Ayah. Pengalaman mereka berbeda, meskipun ada beberapa sunyi yang terasa dikenal.
"Aku kadang lupa suara Ayah kalau sedang berusaha keras mengingat," lanjutnya. "Lalu ada sesuatu yang sederhana membuatnya seperti terdengar lagi. Itu juga membuatku kesal. Aku ingin bisa memilih kapan."
Jo mengangguk. Dia menggenggam tangannya, menerima ketika Erika menyandarkan bahu sebentar. Mereka duduk tanpa mencoba membuat kehilangan mempunyai kegunaan agar lebih mudah diterima.
Setelah beberapa waktu, lelaki itu mengatakan ingin mendengar cerita tentang buku yang telah sampai. Gadis tersebut membuka foto Ibu, memperlihatkan pesan mengenai halaman yang belum selesai dibaca.
"Ibu bilang tokoh laki-lakinya perlu lebih sering mendengar," ujarnya.
Jo mengangkat alis. "Aku merasa harus membaca lagi."
Erika tertawa. Udara di antara mereka menjadi lebih ringan, tidak karena sedih dibantah, tetapi karena hari masih mempunyai hal lain yang dapat dibicarakan.
Malam menjelang ketika gadis itu bersiap pulang. Daddy memanggil sebelum dia keluar, meminta Erika memberi kabar kepada Ibu bahwa dirinya senang melihat buku telah selesai. Lelaki tersebut juga mengatakan ingin membaca salinan jika gadis itu nanti menyediakan.
Erika menerima, menjelaskan akan mengatur setelah memastikan hasil cetak berikutnya. Dia tidak membuat janji bahwa seluruh keluarga harus memperoleh sebelum dirinya sempat memeriksa lagi.
Jo mengantar pulang. Dalam perjalanan, percakapan lebih banyak mengenai hal biasa: makanan yang hampir lupa dibawa, jadwal kerja besok, dan buku yang belum selesai dibaca. Namun, ketika mereka berhenti di depan tempat tinggal, lelaki tersebut menahan tangannya sedikit lebih lama.
"Ka, aku ingin bicara mengenai masa depan kita. Bukan malam ini kalau kamu sudah lelah."
Gadis itu menatap. Kalimat tersebut terdengar berbeda dari ajakan makan, membuatnya harus menarik napas sebelum menjawab.
"Aku juga ingin membicarakan," katanya. "Cari waktu yang cukup. Jangan sambil salah satu harus berangkat."
Jo mengangguk. Mereka menentukan kesempatan pada akhir minggu berikutnya, lalu berpamitan tanpa mencoba menyelesaikan lewat pintu kendaraan.
Di kamar, Erika mengirim kabar telah tiba. Setelah itu dia membuka catatan kecil, menuliskan hal yang ingin ditanyakan: pekerjaan, rumah, Ibu, dan bagaimana dua orang menjaga hidup masing-masing jika suatu hari memilih tinggal bersama.
Dia memandang daftar tersebut cukup lama. Ada rasa takut, tetapi juga sesuatu yang tidak lagi ingin disembunyikan di belakang kata nanti. Untuk pertama kalinya, pertanyaan tentang masa depan Jo terasa seperti pertanyaan yang juga sungguh-sungguh ingin dijawabnya sendiri.