Jo menatap layar yang sudah padam, lalu menaruh ponsel di dekat tempat tidur. Keinginan melakukan sesuatu yang lebih sungguh-sungguh tidak harus berubah menjadi pesan panjang malam itu juga. Erika baru selesai menulis. Dia sendiri baru menutup satu pekerjaan yang menyimpan terlalu banyak kenangan untuk diperlakukan seperti benda yang dapat dibuang dalam sehari.
Lelaki itu berbaring, teringat senyum gadis tersebut setelah ciuman singkat mereka. Ada rasa hangat yang membuatnya ingin tersenyum sendiri, tetapi juga kegugupan ketika menyadari hubungan ini tidak lagi dapat disembunyikan di balik jadwal wawancara.
Di kamar barunya, Erika memeriksa paragraf terakhir sebelum mematikan laptop. Kalimat yang semula terasa sulit kini sudah mempunyai bentuk. Dia tidak ingin terus menggantinya hanya karena suasana hatinya terlalu baik untuk membiarkan pekerjaan selesai.
Ponselnya berbunyi dengan pesan Iccha. Perempuan itu menanyakan apakah rencana makan bersama pada akhir minggu masih dapat dilakukan. Erika membaca catatan, menemukan waktu yang tersedia, lalu mengatakan bisa pada siang hari.
Jo telah menanyakan sore yang sama. Gadis itu tidak segera menggeser janji dengan temannya agar semua waktu menjadi milik lelaki tersebut. Dia mengirim jawaban bahwa dirinya dapat bertemu setelah makan bersama Iccha, tetapi tidak ingin membuat sore menjadi terlalu rapat.
Balasan Jo datang keesokan pagi. Lelaki itu mengatakan dapat mengajak makan malam di rumah jika Erika nyaman. Daddy ingin mendengar kabar tulisan, Lina masih menyimpan satu buku yang hendak dipinjamkan, dan Bi Ani telah bertanya kapan wadah makan kembali.
Erika tertawa membaca alasan terakhir. Wadah tersebut sudah dicuci, diletakkan dekat tas, dan memang hampir terlupa ketika kunjungan sebelumnya membawa terlalu banyak berkas.
Dia menyetujui setelah memastikan waktunya. Hari-hari berikutnya dipakai bekerja, beristirahat, dan sesekali berbicara melalui telepon. Tidak semua percakapan berisi hal baru yang menarik. Ada malam ketika Jo hanya bercerita tentang rapat yang membuatnya harus membaca ulang keputusan, sementara Erika mengatakan tokohnya belum mau menjawab satu pertanyaan sederhana.
"Tokohnya atau penulisnya?" tanya lelaki itu.
"Dua-duanya mungkin."
Jo tertawa. Mereka menutup ketika salah satu mulai mengantuk, belajar bahwa kedekatan tidak harus dibuktikan dengan bertahan sampai tidak ada yang sanggup mendengar lagi.
Salah satu pagi di kantor membuat Jo pulang lebih lambat daripada rencana. Ada laporan yang belum lengkap, dua keputusan yang menunggu penjelasan, dan pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan meminta semuanya lebih cepat.
Dia membaca ulang, memanggil orang yang memang mengetahui bagian tersebut, lalu menemukan bahwa keterlambatan berasal dari informasi yang berbeda pada dua dokumen. Pertemuan berlangsung cukup lama. Jo akhirnya membagi pekerjaan yang perlu diperiksa, menetapkan waktu yang masuk akal, dan menutup tanpa membuat semua orang bertahan hanya agar dirinya tidak merasa ada urusan tertinggal.
Saat ruangan kosong, dia menyandarkan punggung. Perusahaan tetap membutuhkan ketegasan yang sama. Namun, ketegasan tidak selalu berarti memberi jawaban sebelum mengetahui apa yang sedang dihadapi.
Erika mengirim pesan mengenai satu adegan yang baru selesai. Jo membacanya setelah pekerjaan berhenti, tersenyum, lalu mengatakan dirinya baru dapat membalas lebih panjang malam nanti. Gadis tersebut menjawab singkat, kembali pada tulisan.
Malam itu mereka berbicara mengenai buku pinjaman Lina. Jo belum jauh membaca, tetapi sudah mempunyai satu pertanyaan yang ternyata membuat Erika tertawa.
"Mas membaca kalimat terakhir dulu?"
"Tidak sengaja melihat."
"Itu jawaban yang sering dipakai orang yang sengaja membuka halaman terakhir."
Lelaki itu tertawa, mengakui dirinya ingin mengetahui seberapa jauh cerita akan berjalan. Erika tidak menjelaskan akhir, hanya menyarankan membaca bagian yang ditandai Lina karena pertanyaannya mungkin mendapat jawaban di sana.
Jo membuka kembali setelah panggilan selesai. Selama beberapa waktu, layar pekerjaan tetap tertutup. Dia mengikuti cerita orang lain tanpa perlu menentukan bagaimana seharusnya tokoh bertindak. Ketika menemukan jawaban yang dicari, dia memberi tanda kecil pada pembatas, berencana membicarakan ketika bertemu.
Erika sendiri sedang memeriksa pekerjaan klien. Ada satu bagian yang diterima tanpa perubahan, membuatnya merasa puas dengan cara yang sederhana. Dia menuliskan waktu kerja pada catatan, menyadari perkiraan berikutnya telah lebih dekat dengan kenyataan daripada saat membatalkan janji makan.
Sebelum tidur, gadis itu menyiapkan buku yang ingin dibawa akhir minggu. Dia memilih contoh yang memang membutuhkan pendapat Daddy, bukan seluruh naskah agar kunjungan terasa seperti pertemuan kerja. Wadah Bi Ani diletakkan tepat di sisi tas supaya kali ini benar-benar ikut.
Pagi berikutnya, Jo mengirim foto pembatas buku yang masih berada jauh dari halaman terakhir. Erika tertawa membacanya, membalas bahwa bukti tersebut belum menjamin perilaku pembaca setelah foto diambil. Lelucon kecil itu bertahan sampai hari mereka bertemu, memberi sesuatu yang ringan di antara pekerjaan yang tetap meminta perhatian masing-masing.
Pada akhir minggu, Erika menemui Iccha lebih dahulu. Perempuan itu datang dengan langkah cepat, langsung mengeluh karena dirinya hampir membawa map pekerjaan ke tempat makan.
"Untung gue melihat sebelum berangkat. Gue ingin siang yang tidak memuat jadwal Mas Ammar."
"Tapi Mas Ammar tetap dibicarakan?"
Iccha menatapnya, lalu tertawa. "Itu berbeda."
Mereka memesan, bertukar kabar kamar dan pekerjaan, kemudian menghabiskan beberapa menit membicarakan hal yang tidak berkaitan dengan laki-laki mana pun. Erika menunjukkan halaman yang baru selesai, Iccha mengatakan satu bagian membuatnya ingin mengomel pada tokoh, dan gadis tersebut mencatat tanpa menjanjikan akan mengganti sesuai keinginan teman.
Ketika makanan datang, percakapan beralih. Iccha bertanya apakah Erika masih suka bekerja sampai tidak sadar lampu luar telah menyala. Gadis itu mengaku kadang, tetapi kini mencoba berhenti sebelum tubuhnya mulai sakit karena terlalu lama duduk.
"Gue dulu bisa menyuruh lo makan karena melihat langsung," kata Iccha.
"Sekarang aku harus mengingat sendiri."
"Atau gue mengirim pesan yang akan lo baca dua jam kemudian."
Erika tertawa. Mereka duduk cukup lama tanpa merasa perlu menyelesaikan semua kabar dalam satu pertemuan. Ketika berpisah, Iccha mengatakan akan pulang lebih dahulu dan menemui Erika lagi di rumah saat makan malam.
Jo menjemput sesuai waktu. Gadis itu membawa wadah Bi Ani serta satu buku yang ingin ditunjukkan kepada Daddy, tanpa map proyek yang dahulu selalu memenuhi sisi tas.
"Mas jangan memeriksa tas," ujarnya ketika lelaki tersebut melihat bawaan.
"Aku hanya memastikan kamu tidak membawa dua kotak buku lagi."
"Satu buku. Mas masih kuat."
Jo tertawa, menerima tas kecil ketika Erika menyerahkan untuk diletakkan, lalu berangkat. Di perjalanan, mereka membicarakan pekerjaan yang sudah ditutup. Gadis itu mengaku pagi tadi sempat mencari daftar wawancara sebelum ingat tidak ada jadwal lagi.
"Aku juga hampir menanyakan satu catatan," kata Jo. "Lalu ingat jawabannya sudah ada di berkas."
"Berarti Mas perlu membaca sendiri sekarang."
"Iya. Penulisnya sedang menikmati hari libur."
Erika tersenyum. Ada rasa puas ketika keahliannya tetap dihargai tanpa membuat dirinya harus terus hadir untuk membuka setiap halaman bagi orang yang membayar.
Rumah Jack menyambut dengan bunyi percakapan dari ruang keluarga. Lina sedang menunjukkan sesuatu kepada Kiki. Daddy duduk tidak jauh, membaca, sementara Ammar menunggu Iccha yang belum turun.
Erika memberi salam, disambut dengan keramahan yang telah dikenal. Namun, ketika Jo berdiri di samping dan mengatakan mereka datang bersama, ada kejelasan baru yang membuat pipinya hangat.
Jack meletakkan buku. "Daddy sudah dengar. Duduk dulu, Erika. Perjalanan tidak terlalu lama?"
Gadis itu menggeleng, menyerahkan buku setelah menjelaskan bagian yang ingin ditanyakan. Lelaki tersebut memeriksa halaman, meminta waktu untuk membaca dengan sungguh-sungguh, lalu menanyakan kabar pekerjaan baru.
Erika bercerita secukupnya. Dia tidak menyebut identitas klien yang tidak perlu diketahui keluarga. Kiki mendengarkan beberapa kalimat, kemudian bertanya apakah setiap penulis dapat langsung melihat kesalahan pada tulisan sendiri.
"Ndak selalu," jawab gadis itu. "Kadang karena terlalu tahu maksudnya, aku mengira yang membaca juga pasti tahu."
Lina langsung tertawa. "Itu yang kemarin gue lakukan."
Kiki menunjuk adiknya. "Pantas gue merasa ada satu orang muncul dari udara."
Mereka tertawa bersama. Jo duduk di samping Erika, menikmati bagaimana rumah tidak harus berhenti membicarakan buku hanya karena hubungan mereka sudah punya nama.
Iccha turun ketika Bi Ani memanggil untuk makan. Ammar bangkit, menunggu perempuan tersebut sebelum berjalan. Sikap itu membuat Kiki mengangkat alis, tetapi dia tidak menggunakan kesempatan untuk mengumumkan sesuatu yang belum ingin dibicarakan dua orang tersebut.
Di meja, Jo membantu mengambilkan yang diminta Erika. Gadis itu menolak tambahan setelah merasa cukup, lalu menggoda lelaki tersebut karena mengambil terlalu banyak pada piring sendiri.
"Aku tadi belum makan sore."
"Mas memang tidak harus makan setiap dua jam."
Ammar tertawa, mengatakan adiknya sedang mencari alasan agar dapat terus duduk di meja. Jo tidak membalas tajam. Dia hanya tersenyum ketika Erika ikut tertawa, lalu meneruskan makan.
Erika hendak mengambil gelas ketika Jo menggeser agar mudah dijangkau. Gadis itu mengucapkan terima kasih pelan, lalu membiarkan lutut mereka bersentuhan sebentar di bawah meja. Jo menoleh, menemukan senyum yang tidak ditujukan kepada siapa pun selain dirinya. Dia ikut tersenyum, kemudian kembali mendengar Lina yang sedang membicarakan buku, tanpa merasa perlu menunjukkan kedekatan itu kepada seluruh keluarga.
Setelah beberapa waktu, Daddy menerima telepon dari kerabat yang dulu sempat mempertanyakan keluarga Wijaya. Lelaki itu meminta izin menjauh, berbicara sebentar, kemudian kembali dengan wajah yang lebih serius.
"Dia ingin menyampaikan sesuatu kepada Erika kalau kamu bersedia," ujarnya.
Gadis itu berhenti memegang gelas. Jo menoleh, tetapi tidak langsung mengambil keputusan.
Jack menjelaskan bahwa kerabat tersebut telah menerima koreksi mengenai tuduhan lama. Kini dia mendengar Jo dan Erika dekat, dan merasa perlu mengatakan langsung bahwa dirinya pernah terlalu cepat menilai.
Erika berpikir. Dia tidak ingin makan malam berubah menjadi pengadilan keluarga, tetapi tidak keberatan menerima kalimat yang selama ini hanya diteruskan melalui orang lain.
"Boleh sebentar, Daddy."
Dia menerima ponsel, pindah ke sisi yang lebih tenang. Suara di ujung lain menyebut kesalahan karena menganggap hubungan kakak-adik sebagai bukti bahwa Erika pasti mengetahui rencana. Permintaan maaf diberikan tanpa menambahkan bahwa siapa pun tentu akan berpikir sama.
Gadis itu mendengar, menahan rasa tidak nyaman yang masih muncul.
"Terima kasih sudah mengatakan langsung," jawabnya. "Aku memang tidak tahu. Aku ingin itu tetap jelas, sekalipun sekarang hubunganku dengan Jo berubah."
Orang tersebut menerima. Percakapan selesai beberapa menit kemudian. Erika mengembalikan ponsel, merasa bahunya sedikit tegang, tetapi tidak perlu mengulang penjelasan kepada seluruh meja.
Jo menanyakan apakah dia ingin duduk di luar sebentar. Gadis itu mengangguk. Mereka keluar setelah memberi tahu Daddy, membawa minum yang belum habis.
Di teras, udara lebih sejuk. Erika duduk, memandang halaman yang dahulu sering menjadi tempat membaca setelah wawancara.
"Aku senang dia mengakui," ujarnya. "Tapi aku ternyata masih kesal."
Jo duduk di samping. "Aku juga kesal karena waktu itu tidak langsung membetulkan."
"Aku tidak ingin malam ini habis membicarakan itu."
"Baik."
Mereka diam beberapa saat. Gadis tersebut meminum sedikit, kemudian menyandarkan punggung dengan napas yang lebih tenang. Jo tidak mengisi setiap jeda dengan cara untuk membuktikan dirinya telah berubah.
Ketika Erika menoleh, lelaki itu sedang melihat tangannya sendiri. Dia tersenyum kecil.
"Mas tadi ingin menggenggam tapi takut mengganggu?"
Jo tertawa pelan. "Kelihatan?"
Gadis itu meletakkan tangan pada telapaknya. Kehangatan yang datang terasa berbeda dari percakapan di telepon. Dia tidak sedang diberi sesuatu untuk membuatnya berhenti kesal. Dia hanya ditemani setelah mengakui rasa yang masih ada.
Lina muncul untuk mengabari bahwa buku yang ingin dipinjamkan sudah ditemukan. Erika melepaskan tangan, menerima, dan mendengar penjelasan mengenai bagian yang menurut temannya menarik. Jo ikut melihat, lalu bertanya apakah satu judul lain juga boleh dipinjam.
"Mas mau membaca itu?" tanya Lina.
"Aku ingin mencoba. Jangan beri ujian besok."
Perempuan itu tertawa, mengiyakan. Erika mengangkat alis ketika Jo kembali membawa buku sendiri.
"Sekarang Mas ikut membawa barang."
"Aku sudah belajar dari penulis yang sulit memilih dua buku."
Gadis itu tertawa. Malam diteruskan dengan percakapan biasa, lalu mereka berpamitan pada waktu yang masih memungkinkan pulang tanpa terlalu lelah.
Di depan tempat tinggal Erika, Jo menyerahkan tas. Dia memandang gadis tersebut, hampir menyebut sesuatu tentang ingin lebih sering mempunyai makan malam seperti itu, tetapi memilih menanyakan yang dekat lebih dahulu.
"Besok kamu ingin istirahat atau bekerja?"
"Pagi bekerja sedikit. Sore istirahat. Mas?"
"Ada yang perlu kubaca, lalu aku ingin menyelesaikan buku ini."
Erika tersenyum, menahan tangannya sebentar. Mereka berpamitan, dan gadis itu naik dengan bawaan yang bertambah satu buku tetapi rasa yang lebih ringan.
Di kamar, dia meletakkan buku pada rak, lalu menemukan pesan Caca yang datang saat makan malam. Perempuan tersebut menulis bahwa dirinya ingin meminta maaf langsung kepada Erika mengenai tuduhan dan beban yang muncul dari kepergiannya. Tidak meminta pertemuan saat itu juga, tidak menanyakan kabar Jo.
Erika membaca sekali, kemudian menyimpan ponsel. Dia ingin menjawab dengan kepala yang cukup tenang, tanpa menganggap satu permintaan maaf harus segera diterima agar semua orang dapat bergerak lebih cepat.
Malam itu, sebelum tidur, dia menuliskan satu kalimat pada catatan sendiri: masih ada percakapan yang perlu diberi tempat, tetapi hidupnya tidak harus berhenti untuk menunggu semua selesai.