Erika memeriksa halaman pembuka untuk terakhir kalinya. Nama Anggrek berada pada tempat yang telah disetujui, ukuran huruf tidak berubah, dan daftar berkas di samping laptop kini mempunyai lebih banyak tanda selesai daripada pertanyaan.
Tanggal penutupan pekerjaan yang telah mereka sepakati semakin dekat. Hari-hari yang dipakai sejak kembali dari Semarang tidak semuanya berjalan mudah, tetapi cukup untuk memberi bentuk akhir pada bagian yang dapat dikerjakan. Dia tidak menambahkan kisah perpisahan Jo sebagai penutup yang dramatis. Naskah berhenti pada tempat yang sudah mereka pilih, dengan catatan bahwa bagian lain tetap bahan pribadi.
Gadis itu membaca, membandingkan, lalu mengirim salinan sesuai kesepakatan. Setelah selesai, dia berdiri untuk mengambil air dan mendapati tangan sedikit bergetar karena sadar sebuah pekerjaan panjang benar-benar sampai pada hari terakhirnya.
Ponsel berbunyi dengan pesan Aldin. Kakaknya menanyakan kabar, menyebut Ibu telah bercerita mengenai kunjungan Erika bersama Jo. Gadis tersebut memilih menelepon setelah memberi tahu punya waktu sebentar.
Dia menjelaskan bahwa dirinya serta Jo sedang mencoba hubungan sebagai pasangan. Kalimat itu diucapkan dengan jelas, tanpa menunggu Aldin menebak dari cerita orang lain.
Kakaknya diam cukup lama.
"Aku tahu mungkin ada yang terasa aneh," kata Erika. "Tapi ini pilihanku. Aku tidak mengatakan untuk meminta kamu menyetujui atas nama hubunganmu dulu dengan Jo."
"Aku tidak berhak memakai hubungan itu untuk menentukan," jawab Aldin akhirnya. "Aku hanya sedang mencoba memahami bahwa hidup kalian bergerak tanpa aku tahu semua bagiannya."
Erika mendengarkan. Dia tidak menanyakan apakah Caca akan keberatan. Perasaan perempuan tersebut, jika muncul, harus ditangani bersama orang yang dipilihnya, bukan diteruskan sebagai beban kepada adik yang tidak terlibat dalam rencana pergi.
Aldin mengatakan akan memberi tahu Caca secara langsung. Dia juga menyebut keinginan meminta waktu bicara kepada Jo, tetapi segera menjelaskan bahwa dirinya tidak meminta Erika mengatur.
"Kalau dia tidak mau, aku harus menerima," ujarnya.
"Iya. Hubungi sendiri. Jangan buat pertemuan seolah hanya urusan kantor lalu ternyata ada maksud lain."
"Aku akan mengatakan maksudnya."
Percakapan selesai setelah kabar Ibu dibicarakan sebentar. Erika kembali ke meja, meletakkan ponsel, dan membuka tulisan sendiri. Kabar hubungannya telah diberikan. Dia tidak perlu menunggu seluruh orang berhenti merasa canggung sebelum boleh melanjutkan hari.
Jo menerima permintaan Aldin pada siang yang sama. Pesan tersebut singkat, meminta waktu untuk bicara pribadi jika dirinya bersedia. Tidak ada berkas pekerjaan yang dijadikan alasan, tidak pula nama Erika dipakai untuk membuat penolakan terasa kejam.
Lelaki itu membaca beberapa kali. Dadanya masih menegang ketika melihat nama yang dahulu selalu mudah dipanggil. Ada bagian kehidupan yang memang tidak akan kembali hanya karena telah lewat cukup hari.
Dia memilih waktu pendek pada tempat yang memungkinkan keduanya bertemu tanpa datang ke rumah Jack. Keputusan diberikan setelah dirinya benar-benar yakin ingin mendengar, bukan karena merasa orang yang sudah punya pasangan baru harus terlihat lebih lapang.
Aldin tiba lebih dahulu. Ketika Jo datang, lelaki tersebut berdiri, memberi salam, lalu duduk setelah Jo mengambil tempat. Tidak ada pelukan atau lelucon pembuka yang mencoba menjangkau persahabatan lama sebelum pembicaraan dimulai.
"Terima kasih mau datang," kata Aldin.
Jo mengangguk. "Kamu ingin mengatakan apa?"
Pertanyaan itu langsung, tetapi tidak diucapkan dengan suara keras. Aldin meletakkan kedua tangan di meja, menarik napas, lalu mengatakan dirinya tidak datang untuk meminta hubungan kembali seperti dulu.
"Aku pernah meminta kamu percaya sementara aku tahu ada yang kusembunyikan," ujarnya. "Aku tidak mau sekarang menggunakan permintaan maaf sebagai cara mendapatkan tempat yang sama."
Jo mendengar. Kata-kata tersebut belum pernah sulit diucapkan Aldin. Yang sulit dahulu justru mengatakan kebenaran pada waktu yang membuat dirinya kehilangan sesuatu.
"Apa yang kamu inginkan dariku sekarang?" tanya Jo.
Aldin berpikir sebelum menjawab. "Kesempatan mengatakan langsung bahwa aku tidak menyalahkan kamu untuk akibat yang harus kutanggung. Pekerjaan, hubungan keluarga, semua itu tidak bisa kupakai sebagai alasan kamu perlu membuka pintu lagi."
Lelaki di depannya menatap cukup lama. Jo tidak merasa mendadak lebih ringan, tetapi setidaknya tidak sedang mendengar cerita bahwa cinta membuat semua pelanggaran janji menjadi lebih mudah diterima.
"Aku masih tidak ingin kembali menjadi sahabatmu," ujarnya.
Aldin mengangguk. Wajahnya berubah sedikit, menunjukkan jawaban tersebut tetap menyakitkan meskipun telah disiapkan.
"Aku dengar."
"Kalau nanti kita berada di tempat yang sama karena keluarga, aku tidak ingin membuat Erika harus mengurus suasana untuk kita. Tapi itu tidak berarti hubungan kita kembali."
"Aku tidak akan meminta dia melakukan."
Jo mengangguk. Dia menyebut bahwa hubungan dengan Erika dipilih dan dibicarakan langsung, bukan jawaban terhadap Caca atau cara membuat Aldin merasa kehilangan lebih banyak.
Aldin menunduk, lalu mengangkat wajah lagi. "Aku berharap dia bisa bahagia. Aku tahu harapan itu tidak membuatku punya hak ikut menentukan."
Percakapan berhenti ketika waktu yang disediakan selesai. Tidak ada jabat tangan yang dipaksakan sebagai tanda damai. Aldin mengucapkan terima kasih, Jo berpamitan, dan keduanya berjalan ke arah berbeda.
Di kendaraan, Jo duduk sebentar sebelum berangkat. Tangan yang memegang ponsel terasa tegang. Dia tidak menelepon Erika untuk meminta dirinya memastikan keputusan tadi sudah baik. Lelaki tersebut mengambil napas, menunggu sampai cukup tenang, lalu meneruskan hari.
Pertemuan pemeriksaan terakhir dengan Erika berlangsung keesokan harinya. Gadis itu datang ke rumah Jack membawa daftar, bukan kotak barang yang akan ditinggal kembali. Bi Ani menyambut dengan pertanyaan apakah sudah makan, membuatnya tertawa sebelum menjawab.
Iccha muncul dari lorong, memeluk singkat, lalu menunjukkan bahwa meja kamar belum sepenuhnya diisi barang lain. Erika tersenyum, mengatakan mereka dapat makan bersama pada akhir minggu jika waktu sesuai.
Setelah itu dia menemui Jo. Mereka memeriksa berkas, memastikan versi akhir cocok dengan daftar yang dikirim, serta mencatat pekerjaan mana yang sudah diterima. Perubahan bentuk proyek telah ditulis jelas. Hak atas catatan pribadi dan batas penggunaan naskah tetap mengikuti yang disepakati, tanpa membuat materi keluarga mendadak menjadi cerita umum.
Jo tidak meminta tambahan halaman mengenai dirinya sekarang. Gadis itu juga tidak menawarkan menuliskan kisah mereka sebagai cara memberi akhir bahagia pada pekerjaan yang semula dibuat untuk orang lain.
Ketika semua selesai, lelaki tersebut meletakkan pena.
"Terima kasih, Ka. Kamu menyelesaikan dengan lebih sabar daripada yang pernah kupikirkan waktu pertama mencari penulis."
Erika menatap daftar yang kini dapat ditutup. "Aku juga belajar banyak. Tapi aku senang akhirnya jelas yang memang selesai."
Mereka memeriksa catatan pembayaran serta kewajiban yang telah dipenuhi, memastikan tidak ada hal yang masih kabur karena keduanya kini berada dalam hubungan berbeda. Erika menyimpan salinan, Jo menyimpan miliknya, lalu map ditutup.
Erika memeriksa isi tas sebelum menyimpan salinan. Ada pena yang dahulu dipakai pada wawancara pertama, beberapa kertas kosong, dan buku kecil yang kini lebih banyak berisi jadwal pekerjaan lain.
Jo memperhatikan ketika gadis itu tersenyum sendiri.
"Apa yang kamu temukan?"
"Pena ini. Aku dulu takut kalau habis tinta saat Mas sedang menjawab. Jadi selalu membawa dua."
"Sekarang?"
"Masih membawa dua. Tapi bukan karena takut Mas tidak mau mengulang."
Lelaki itu tertawa. Dia ingat bagaimana Erika dulu menuliskan pertanyaan dengan hati-hati, kadang berhenti untuk memastikan dirinya tidak salah memahami. Saat itu Jo lebih banyak melihat hasil yang ingin didapat daripada orang yang bekerja menatanya.
"Aku dulu mungkin terlalu sering menjawab seolah semua sudah jelas," katanya.
"Kadang. Padahal belum jelas bagi orang yang tidak berada di sana."
"Sekarang kamu lebih cepat menanyakan."
"Sekarang aku tahu kalau kalimatku belum selesai, bukan berarti harus langsung menyerah."
Erika menutup tas. Jo memandang map, lalu meletakkannya pada sisi yang tidak akan tercampur dengan berkas kerja harian. Naskah tersebut tidak perlu terus terbuka agar dirinya merasa masa lalu masih mempunyai bentuk yang dapat dikendalikan.
Mereka duduk beberapa saat, mendengar bunyi langkah dari lorong. Ada sesuatu yang sedikit sedih ketika pekerjaan panjang berakhir, bahkan jika akhir itu memang diinginkan. Gadis tersebut mengaku akan rindu percakapan yang membuatnya mencari cara menuliskan orang lain dengan lebih tepat.
Jo mengangguk, mengatakan dirinya juga akan mengingat beberapa pertanyaan yang tidak pernah dipikirkan sebelum Erika mengajukan. Mereka tidak menambah pekerjaan untuk menunda rasa itu. Setelah daftar benar-benar ditutup, ruang bagi hal berikutnya justru terasa lebih jelas.
Setelah berkas disimpan, ruangan mendadak terasa lebih sunyi.
"Sekarang tidak ada wawancara lagi?" tanya Jo.
"Untuk pekerjaan ini, tidak ada yang masih dijadwalkan."
Lelaki itu tersenyum, kemudian memandang gadis tersebut dengan kehangatan yang tidak bergantung pada halaman di meja.
"Kalau begitu aku perlu meminta waktu dengan cara lain."
"Mas sudah bisa."
Mereka tertawa. Jo mengajak makan setelah pekerjaan hari itu selesai, bukan membuat Erika menunggu di rumah sampai dirinya bebas. Gadis tersebut menerima, mengatakan akan pulang dahulu untuk meneruskan tulisan sendiri.
Sebelum pergi, dia menanyakan kabar pertemuan dengan Aldin. Jo sudah memberi kabar singkat bahwa keduanya sempat bertemu, tanpa meminta Erika menilai keputusan untuknya. Kini lelaki itu mengatakan pembicaraan telah berlangsung dan persahabatan lama tidak kembali.
Erika mengangguk. Dia tidak meminta alasan yang lebih panjang, tidak pula menyebut keluarga harus membuat keduanya melupakan.
"Aku senang kalian bicara sendiri," ujarnya.
"Aku juga. Aku perlu tahu tidak sedang mendengar permintaan melalui kamu."
Gadis itu mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Jo sebentar. Lelaki tersebut membalik telapak, menerima genggaman, lalu melepaskan ketika Erika hendak mengambil tas.
Di kamar barunya, dia meletakkan map pada rak yang tidak lagi dipakai setiap hari. Satu bagian hidup telah selesai tanpa membuat dirinya harus pergi dari orang-orang yang ditemui di dalamnya.
Erika membuka cerita Anggrek. Ada adegan baru yang ingin ditulis sebelum keluar sore nanti. Tokohnya sedang melakukan sesuatu yang sederhana tetapi pernah dihindari: menyebut keinginan tanpa menambahkan sepuluh alasan agar terdengar aman.
Gadis itu mengetik, membaca, lalu tersenyum ketika kalimat tersebut terdengar benar bagi tokoh. Tidak semua pengalaman perlu disalin utuh untuk membantu memahami bagaimana seseorang dapat bergerak.
Jo datang sesuai waktu. Mereka makan di tempat yang tidak terlalu jauh, membicarakan pekerjaan baru Erika dan rencana akhir minggu. Setelah itu berjalan sebentar pada jalur yang masih ramai, menikmati udara yang lebih ringan daripada siang.
Lelaki tersebut tidak membawa hadiah mahal untuk merayakan penutupan kontrak. Erika juga tidak ingin malam itu berubah menjadi ucapan terima kasih yang terlalu panjang kepada orang yang pernah memberinya kerja. Mereka sedang berada bersama karena sama-sama memilih.
Di dekat tempat berhenti, Jo memandang gadis itu yang sedang merapikan rambut dari wajah. Dia mengangkat tangan, menahan sebentar sebelum Erika mendekat dan membiarkan satu helai disisihkan.
"Aku senang tidak perlu mencari pertanyaan wawancara untuk bertemu kamu," katanya.
"Mas dulu mencari pertanyaan tambahan?"
"Pernah ingin. Aku tidak selalu melakukannya."
Erika tertawa pelan. "Untung. Aku bisa tahu kalau pertanyaannya sudah dijawab tiga kali."
Jo ikut tersenyum. Keheningan sesudahnya tidak terasa kosong. Gadis itu memandangnya, masih dengan tangan yang berada dekat lengannya, lalu bergerak sedikit lebih dekat.
Lelaki tersebut menunduk perlahan. Erika mengangkat wajah, memberi jawaban melalui kedekatan yang tidak dihindari. Ciuman singkat itu membuat napasnya tertahan, kemudian kembali bersama senyum malu ketika keduanya menjauh sedikit.
Tidak ada orang yang perlu diberi tahu saat itu juga. Tidak ada janji besar yang dikeluarkan agar kehangatan terasa lebih sah.
"Ka," ujar Jo pelan.
"Jangan mengucapkan pidato sekarang."
Dia tertawa, menahan tangan gadis itu dengan lembut. Erika ikut tertawa, merasa wajahnya panas dan tidak ingin menyembunyikan seluruhnya.
Mereka melanjutkan perjalanan pulang setelah beberapa saat. Jo menanyakan apakah waktu yang sama pada akhir minggu masih cocok. Gadis tersebut mengatakan akan memeriksa satu pekerjaan lebih dahulu, lalu memberi jawaban besok.
Di depan tempat tinggal, mereka berpamitan seperti dua orang yang tahu masih akan bertemu, tanpa perlu memastikan setiap jam sesudahnya. Erika naik, mengunci kamar, dan meletakkan tas dekat rak.
Map proyek berada di sisi lain. Dia memandangnya sekali, teringat pertanyaan pertama yang dahulu dibawa ke rumah Jack. Banyak hal telah berubah sejak itu, termasuk alasan dirinya ingin mendengar suara Jo.
Ponsel menampilkan pesan bahwa lelaki tersebut telah tiba. Erika membalas, lalu membuka laptop dan menuliskan satu paragraf lagi sebelum beristirahat.
Di rumahnya, Jo melihat halaman akhir naskah yang sudah diterima. Buku hadiah lama tetap menjadi bagian masa lalu yang tidak perlu direbut kembali dari Caca. Bagian pekerjaan ini selesai pada tempat yang jujur, dan dia tidak memerlukan Erika untuk membuatnya tampak lebih indah.
Lelaki itu menutup berkas, mematikan lampu meja, lalu melihat pesan terakhir gadis tersebut yang mengatakan baru saja selesai menulis.
Untuk malam itu, dia cukup menjadi orang yang senang mendengar kabar seorang penulis. Masa depan yang ingin dibangun bersamanya belum mempunyai semua halaman, tetapi Jo mulai tahu ada sesuatu yang ingin dilakukan dengan lebih sungguh-sungguh daripada sekadar menunggu cerita berikutnya.