**
Sepuluh menit kemudian. Semua orang sudah berkumpul di depan meja makan dan duduk di kursi masing-masing. Erika yang baru tiba lalu mengedarkan pandangannya melihat satu per satu pada orang yang ada di sana. Erika melihat ada dua orang wanita yang ikut duduk bersama mereka. Salah satunya yang semalam membuat Erika marah karena dia menganggap penampilan Erika seperti pembantu.
"Selamat pagi semuanya," sapa Erika ramah.
Mereka menjawab beriringan kecuali wanita jutek itu. Erika menarik kursi di sebelah Jo, tapi Ammar membelalakkan matanya. Dia mengembalikan kursi yang sudah dia geret ke posisi semula. Hal ini membuat Jo melirik heran ke arah Erika. Wanita itu berjalan mendekati Ammar kemudian duduk di sebelah lelaki tersebut. Dia sekarang berada di antara Ammar dan Iccha.
"Oya, sebelum kita makan, Daddy mau memperkenalkan kalian sama Erika," ujar Daddy pada dua wanita yang duduk di samping Jo yang terjeda satu bangku kosong di antara mereka.
"Siapa dia? Apa perlunya aku kenal dia?" tanya wanita yang semalam dengan sinis.
"Kakak, jangan ngomong gitu!" tegur wanita yang satu lagi. Dia terlihat lebih ramah dan bersahabat. Wanita cantik nan sopan dengan hijab berwarna biru muda cerah menghiasi mahkotanya, tersenyum sungkan pada Erika.
"Erika ini seorang penulis. Dia kawan Mas Jo yang akan tinggal di sini selama enam bulan ke depan," jelas Daddy Jack.
"Bisa dong dijadiin mantu. Bukannya daddy pingin banget punya mantu penulis kayak daddy. Karena anak-anak daddy yang cowok nggak ada satu pun yang nurunin bakat daddy," cetus si wanita jutek.
"Kalau Ammar mau sama Erika no problem," kata Daddy dengan santainya membuat mata Erika dan Iccha membulat penuh. Sedang Ammar cuek-cuek saja.
"Maaf, Uncle. Tapi aku udah punya pacar di kampung," tolak Erika.
"Kapan makan?" tanya Ammar singkat sambil membalik piring makan yang ada di depannya.
"Erika, ini Kiki anak ketigaku," kata Daddy memperkenalkan sambil menunjuk si wanita jutek yang beliau maksud.
Ammar sudah mengambil satu centong nasi di dalam piring makannya, sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan orang-orang di sekitarnya.
"Hai, Mbak," sapa Erika ramah meski rasa hati masih tidak terima.
"Hmm..." sahut Kiki acuh.
Sabaar... Dia adalah jelmaan Bang Ammar versi wanita. Pikir Erika seraya mengelus-elus dadanya. Padahal Kiki sangat cantik dengan tinggi badan bak seorang peragawati. Kalau diamati secara seksama dia mirip dengan Jo, tapi sifatnya menjengkelkan seperti Ammar.
"Dan ini Lina anak bungsuku." Daddy gantian menunjuk wanita ramah berhijab yang duduk di sebelah Kiki.
"Hai, Mbak Erika," sapa Lina ramah sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Hai, Mbak Lina," sapa balik Erika dengan mengatupkan tangannya pula.
"Panggil namaku aja! Kayaknya kita seumuran dech," pinta Lina.
"Oke, Lina."
"Daddy harap kalian bisa memperlakukan Erika dengan baik karena dia adalah tamu. Mari sekarang kita makan!"
**
Setelah sarapan, seluruh anggota keluarga Daddy Jack Mad berpisah untuk melakukan kegiatan masing-masing. Pun Iccha yang segera menyeret langkah kakinya menuju ke garasi di mana ia memarkirkan kuda besi mahalnya.
"Tit ... Tit .. " Suara mobil saat kunci pengaman dibuka dari jarak jauh. Lampu mobil berwarna merah itu terlihat berkedip-kedip. Hentakan sepatu heels Iccha menandakan bahwa langkah kaki jenjangnya kian mendekat pada kendaraan andalannya itu. Namun saat tangan mulus nan halus perempuan itu sudah menyentuh handle pintu, dia tertarik akan suatu pemandangan yang tak biasa di bawah sana. Hingga akhirnya si cantik bernama lengkap Iccha Azzalia itu menunda untuk membuka pintu dan beralih pada sesuatu yang ingin dia lihat.
Iccha memicingkan mata hingga ke dua alisnya yang tergambar indah terlihat hampir bertautan. Tak sampai di situ, dia juga menekuk ke dua kakinya agar lebih leluasa untuk mengamati ban mobil depannya yang terlihat kempes.
"Perasaan pas gue tinggal masih baik-baik aja. Siapa yang ngisep anginnya? Ah sial!" gerutu Iccha kesal. Dia pun menendang ban berwarna hitam itu dengan ujung heels-nya.
"Terus gimana caranya gue sampai ke kantornya si Mr. Too Cold coba?" lanjutnya seraya berpikir.
Tak lama datanglah Si Mr, Too Cold yang Iccha maksud. Lelaki gagah bernama Ammar Syalendra itu berjalan dengan langkah tegap. Jaket sporty berwarna hitam membalut badan kekarnya. Kaca mata dengan warna senada dengan jaketnya pun bertengger manis di hidung panjangnya.
Tak banyak kata, dia melewati Iccha yang berdiri di depannya dan mendekati mobil miliknya. Tak pelak ini membuat Iccha sangat geram karena merasa diabaikan.
"Hm ... Hm ... " Iccha memberi isyarat bahwa ada makhluk lain yang ada di dekat Ammar. Makhluk cantik yang berebut oksigen dalam satu tempat dengannya itu berharap untuk diberi perhatian meski hanya berbasa-basi saja. Namun, Ammar bergeming, dia justru sibuk melepas tas ranselnya kemudian membuka pintu mobil dan meletakkan tas itu di jok penumpang.
"Anjeun hoyong abdi maehan!? (Rasanya pingin gue bunuh!?)" gerutu Iccha kesal.
Ammar membuka handle pintu bagian depan di mana kursi kemudi berada. Dia masuk ke dalam dan menyalakan mesin mobilnya.
"Geblek! Gimana dia mau pergi kalau mobil gue aja ada di belakang mobilnya coba?! Rasain lu Ammar! Lu gak akan bisa ke mana-mana!" omel Iccha seraya tersenyum meremehkan.
Dan benar saja, lelaki itu kembali keluar dari dalam mobilnya setelah mesin mobil itu ia matikan.
Ammar berjalan pelan mendekati Iccha dan berhenti tiga meter dari hadapan wanita itu. Ia melepas kaca mata hitamnya lalu menatap Iccha dengan pandangan menusuk.
"Lihat!" perintah Ammar seraya menunjukkan jam yang melingkar di tangannya ke arah Iccha.
"Gue tahu jam lu mahal. Pamer! Riya!" sungut Iccha lalu memalingkan wajahnya.
"Ck ... " desah Ammar seraya geleng-geleng kepala.
"Pergi dari sini!" perintah Ammar lagi.
"Ini udah setengah tujuh," lanjutnya.
"Oke, gue pergi," sahut Iccha lalu berbalik badan.
"Ck ... " Ammar menahan Iccha untuk pergi dengan memegang pundak wanita itu.
"Bawa mobil lu!" sentak Ammar.
Iccha kembali menghadap Ammar kemudian berkacak pinggang. "Gue gak kuat!"
"Astaga! Dijalanin mesinnya!"
"Lu nggak bisa lihat?! Ban mobil gue bocor!" seru Iccha nyolot dan ngotot.
Ammar menengok ke bawah, ke arah benda yang terbuat dari karet itu dan memeriksanya.
"Kenapa bisa bocor?!" tanya Ammar tanpa ekspresi.
"Gue tusuk pakai tusuk gigi!" jawab Iccha galak.
"Serius!" desak Ammar.
"Ya mana gue tau?! Kemarin pas gue tinggal masih utuh, tanya bannya jangan tanya gue!"
"Terus?" tanya Ammar singkat.
"Panggilin bengkel lah! Kecuali kalau lu bisa benerin ban gue sendiri sich," jawab Iccha.
"Gak sudi!" tolak Ammar.
"Ya udah kalau gak sudi, gue mau balik ke kamar," kata Iccha dengan santainya. Dia sudah akan pergi, tapi Ammar menghalanginya dengan berdiri di hadapan wanita itu.
"No way!" cegah Ammar.
"Minggir! Gue mau balik kamar, gue batal jadi sekretaris lu!" Iccha mencari celah agar bisa pergi dari Ammar.
"Enggak!" Ammar mencengkeram lengan Iccha agar wanita itu tidak bisa ke mana-mana.
"Hei, gue ogah jadi sekretaris lu! Biarin ortu gue marah, gue gak peduli! Lepasin tangan gue!" Jelas Iccha seraya menarik-narik tangannya agar Ammar melepaskannya.
"Pecundang!" umpat Ammar lalu melepas kasar tangan Iccha.
"Aow ... Lu ini benar-benar nggak bisa perlakuin perempuan dengan baik ya?! Lu gak doyan cewek?"
"Bukan urusanmu!" sungut Ammar.
"Siapa juga yang mau urusin lu? Ge-er!"
"Ayo! Enak aja mau kabur!" Ammar menggandeng Iccha agar ikut bersamanya.
Dengan susah payah karena harus menyeimbangkan langkah kakinya dengan langkah Ammar yang lebar, Iccha berjalan terseok-seok. Suara hentakan heels-nya yang nyaring bak menyuarakan hatinya yang saat ini tengah kesal.
Ammar membawa Iccha mendekat pada sebuah motor sport besar berwarna merah yang terparkir pada sudut garasi.
"Eh, Mister too Cold! Lu nggak berniat ngajak gue ke kantor naik motor ini kan?" tanya Iccha seraya menautkan alis tebalnya.
"Hm ... !" jawab Ammar singkat. Dia berjalan mendekati mobilnya, Iccha mengekor di belakang Ammar, mulut wanita galak itu sudah siap akan mengomeli lelaki itu habis-habisan.
"Hei, apa lu gila? Lihat gue dong!" kata Iccha. Wanita itu bicara sambil membuntutti langkah Ammar.
Lelaki itu hanya menengok sebentar kemudian melanjutkan aktivitasnya. Ternyata Ammar berniat untuk mengambil tas ranselnya yang tadi sudah ia letakkan di jok belakang mobilnya.
Tanpa memedulikan Iccha yang marah besar, Ammar mencangklongkan benda yang berisi barang-barang berharganya itu pada pundak kekarnya, kemudian ia kembali berjalan mendekati motor sport yang sudah stand by dan siap untuk ia kemudikan. Dan Iccha masih juga mengekor di belakang Ammar seperti anak bebek yang membuntutti induknya.
"Hei, manusia pohon pisang! Lihat gue!" sentak Iccha dengan teriakan yang cukup kencang. Dia menghentak-hentakkan kakinya beberapa kali untuk melampiaskan rasa kesalnya yang sudah pada temperatur yang paling atas.
Ammar geleng-geleng kepala. Bisa aja dia nyari istilah buat nyela gue. Desahnya.
"Manusia pohon pisang yang punya jantung, tapi gak punya hati! Lihat ke gue, Please!" oceh Iccha sembari membelalakkan bola matanya.
Ammar yang kini sudah menunggangi motor gagahnya pun menuruti keinginan Iccha untuk menengok ke arah wanita itu.
"Lihat gue dengan seksama!" pinta Iccha tegas. Dia merentangkan ke dua tangannya agar Ammar bisa dengan leluasa memperhatikan penampilannya dari atas hingga ke bawah.
"Mm ... Jelek!" ledek Ammar lalu memalingkan wajahnya seraya menyunggingkan senyum yang amat sangat tipis bahkan nyaris tidak terlihat.
"Gue gak butuh penilaian dari lu ya, Mister Too Cold! Tapi coba lu pikir! Bagaimana caranya gue naik motor model beginian dengan rok span pendek seperti ini?" Iccha memukul Tanki motor Ammar dengan telapak tangannya, "Lu waras kagak sich?" debat Iccha berapi-api.
"Itu urusan lu!" sahut Ammar singkat tidak memedulikan keluhan Iccha sama sekali.
"Ya Allah, Lalaki gélo téh anjeun mah! (Lelaki gila memang kamu mah!)" umpat Iccha emosional.
"Ikut gue atau gue bikin orang tua lu murka Ama lu!" ancam Ammar.
Meski Ammar dan Iccha bak kucing dan anjing, tapi Ammar begitu dekat dengan orang tua Iccha, begitu pun Iccha yang dekat sekali dengan Daddy Jack Ardiansyah, ayah kandung Ammar. Mereka bisa saling mengintimidasi dengan membawa nama orang tua mereka masing-masing.
"Kalau lu gak mau, gue bisa pergi sama Erika. Siap-siap aja lu dicoret dari daftar kartu keluarga! Warisan hangus!" lanjut Ammar menakut-nakuti Iccha.
"Hahaha, mana mungkin gegara ban bocor doang terus gue nolak lu boncengin terus gue di coret gitu dari KK? Hahaha, halumu keterlaluan." Iccha tidak takut dengan ancaman Ammar, bahkan dia masih bisa tertawa terpingkal-pingkal.
"Mau coba?" tanya Ammar singkat dengan nada penuh ancaman.
"G-Gue ... gue ...." Iccha tahu lelaki gila ini akan berbuat apapun untuk menyusahkan hidupnya. Dia pun mulai cemas bila Ammar benar-benar melakukan ancamannya.
Ammar menarik sebuah benda pipih dari saku jaketnya. Dia membuka kunci pengaman benda yang bernama ponsel itu melalui fiture finger print.
"Eh, lu mau ngapain?" tanya Iccha panik.
"Telpon bokap lu," jawab Ammar seraya mencari nomor ponsel bapaknya Iccha.
"Jangan gila lu ya! Siniin nggak ponselnya!" amuk Iccha seraya menarik-narik tangan Ammar.
Ammar menyingkirkan ponselnya agar Iccha tidak dapat meraih benda itu dari tangannya. Iccha meloncat-loncat dan terus berusaha untuk merebut smartphone Ammar.
"Eits ... Awas heels lu patah lagi," oceh Ammar.
"Sialan! Lu ledekin gue?" Iccha tidak terima dengan perkataan Ammar, dia memukul-mukul lengan Ammar dengan kepalan tangannya bertubi-tubi.
Ammar diam saja tidak bergeming sedikit pun. Pukulan Iccha serasa seperti angin yang menyentuh tubuhnya dan tidak menimbulkan rasa sakit meski hanya sedikit saja.
"Ciye ... Mbak Iccha sama Bang Ammar iku kok mesrane rak ketulungan, (Mbak Iccha sama Bang Ammar itu kok mesranya tidak ketolongan,)" kata Erika yang baru saja sampai di garasi dan melihat Ammar dan Iccha yang sedang berduaan. Dia datang bersama Jo yang kini berdiri di sampingnya.
Iccha dengan cepat menghentikan aksinya memberondongi Ammar dengan pukulan. Dia membenarkan posisi berdirinya dan memasang wajah masam.
"Rik, berangkat bareng aku aja!" ajak Ammar pada Erika.
Perusahaan yang di pimpin Ammar dan Jo memiliki letak gedung yang bersebelahan. Semuanya milik Daddy Jack yang tampan dan kaya raya. Setiap anak memiliki hak masing-masing pada kekayaan Daddy yang tidak akan habis dimakan tujuh turunan.
Mendengar Ammar mengajak Erika berangkat bersama membuat mood Iccha semakin anjlok saja. Dia menggigit-gigit bibirnya seraya memasang wajah sekesal mungkin.
"Lah nanti Mbak Iccha gimana?" tanya Erika yang memang selalu polos saat bicara.
"Dia nggak mau," jawab Ammar sambil meraih helm yang tergeletak di sebuah rak yang tidak jauh dari motornya lalu ia kenakan pelindung itu pada kepalanya.
"Oh ... Yo wes, (Ya udah) aku tak bareng Bang Ammar ya, Mas Jo." Erika meminta ijin pada Jo.
"Enak aja! Gue kan sekretarisnya Ammar, jadi gue aja yang bareng dia," protes Iccha.
"Kata Bang Ammar, Mbak Iccha nggak mau, piye to? (Gimana sich?)" tanya Erika gantian protes.
"Jangan dengerin dia!" sungut Iccha.
Iccha berjalan mendekat pada motor Ammar, tepatnya pada bagian belakang dimana biasanya orang membonceng.
Kondisi motor yang tinggi dan pakaiannya yang minim dan ketat membuatnya kesusahan untuk naik ke atas motor Ammar.
"Ammar, boleh aku ganti rok aku sama celana panjang dulu?" tanya Iccha dengan bahasa yang halus tidak galak seperti sebelumnya. Wajahnya memelas minta diberi belas kasihan. Dalam hatinya dia tidak mengijinkan Erika menggantikan posisinya untuk duduk berboncengan dengan Ammar. Hanya dia saja yang boleh!
"Enggak!" jawab Ammar singkat.
"Astaga!" keluh Iccha seraya menepuk keningnya.
"Erika, kemarilah!" perintah Ammar pada Erika yang sejak tadi bengong mengamati tingkahnya dan juga Iccha.
Jo menatap ke arah kakaknya dengan pandangan heran. Tidak biasanya sang kakak bisa seakrab ini dengan lawan jenis hanya dalam waktu perkenalan yang singkat. Namun, jika Erika bisa memikat perhatian kakaknya itu adalah kabar yang sangat menggembirakan untuk dia dan seluruh keluarga besarnya.
"Iya, Bang," sahut Erika yang kemudian bergegas mendekat kepada Ammar.
"Kamu pergi sama aku dan Iccha biar pergi sama Jo," kata Ammar mengungkapkan maksudnya.
"Eh, kenapa begitu? Nggak bisa! Gue yang pergi sama lu!" protes Iccha dengan nada tinggi.
"Lu nyusahin gue aja!" omel Ammar.
"Rik, bantuin gue naik ke atas motornya Mr. Too Cold!" perintah Iccha.
"Seriusan mbak Iccha mau nekad naik motor pakai rok koyo ngene (seperti ini)?" tanya Erika seraya membantu Iccha untuk naik ke atas boncengan motor Ammar.
"Iya, bawel amat lu!" sentak Iccha.
Wanita itu dengan susah payah naik ke atas motor. Satu tangannya memegang tangan Erika dan satu tangan yang lain memegang pundak Ammar.
"Ck ... " desah Ammar saat tangan Iccha menggerayangi bahunya.
"Ya ampun, Bang! Biarin Iccha ganti celana dulu lah! Ya Tuhan! Keleleran itu paha," kata Jo seraya geleng-geleng kepala.
"Kelamaan!" sungut Ammar.
"Yaelah, bos mah bebas mau masuk kantor jam berapa aja gak akan ada yang mecat, Bang," debat Jo.
"Berisik!" sentak Ammar.
Kini Iccha sudah duduk di belakang Ammar. Dia nampak tidak nyaman dengan posisinya. Berkali-kali ia menutup paha putihnya yang tersingkap menggunakan tasnya.
"Yakin?" tanya Ammar sambil menoleh ke arah Iccha sejenak.
"Iya, bawel!" jawab Iccha nyolot.
"Oke, mari kita mulai perjalanan!" ajak Ammar lalu menyalakan mesin kendaraannya.
Iccha hampir saja terpental saat Ammar menarik pedal gas, untung saja dia langsung reflek memeluk Ammar hingga dia selamat dari kecelakaan fatal.
"Mbak Iccha, pegangan sing kencang ya! Ya Allah, aku wedi lho nek Mbak Iccha tibo, (Ya Allah, aku kok takut lho kalau Mbak Iccha jatuh,)" gerutu Erika saat melihat motor besar Ammar melaju meninggalkan garasi istana megah Daddy Jack.
"Rik, kayaknya abangku naksir ama kamu dech," kata Jo.
"Orak yo (tidak ya), Mas," sahut Erika dengan logatnya yang super medok.
"Sikap abangku ke kamu sama ke Iccha itu beda banget. Lebih halus kalau sama kamu."
"Itu karena ada mo ... " Erika buru-buru menutup mulutnya. Hampir saja dia salah bicara.
"Mo? Mo apaan maksudnya? Hayo ... main rahasia-rahasiaan sama aku ya," tegur Jo.
"Ndak ada kok, Mas. Aku salah ngomong doang tadi, hehehe." Erika berkilah, tamatlah riwayatnya jika ia sampai membocorkan perjanjiannya dengan Ammar. Impiannya untuk kuliah dan membahagiakan ibunya bisa hancur berantakan.