Guyuran air dari shower membasahi seluruh tubuh Iccha mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia mulai membilas tubuh polosnya dengan sabun cair beraroma mawar. Sungguh bau harum bunga indah, tapi berduri itu bisa membangkitkan semangatnya kembali. Rasa penat setelah perjalanan jauh pun ikut hanyut seiring dengan daki-dakinya yang ikut luruh terbawa air.
Iccha keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. Dia berjalan ke arah meja rias sambil melirik ke arah Jo dan Erika yang masih belum bergeser dari tempat mereka sejak tadi. Mereka tengah sibuk membahas tentang proyek novel mereka.
Iccha mengeringkan rambutnya dengan hair driyer yang sudah tergeletak di atas meja. Setelah air mulai menguap dari rambutnya dan perlahan mahkota panjangnya itu berubah menjadi kering, Iccha mematikan nyala alat yang mengeluarkan uap panas tersebut sesegera mungkin. Iccha berjalan ke arah tas make up-nya berada. Dia mengambil sebuah cream malam buatan China andalannya lalu dia aplikasikan merata di seluruh wajah ayunya. Tak lupa dia menyemprotkan parfum mahal buatan Paris ke seluruh tubuhnya yang berbalut kaos casual dengan celana jeans sebatas paha.
Setelah semua dirasa oke. Iccha segera ikut bergabung dengan dua makhluk kasat mata yang bernama Jo dan Erika. Kini Si Penulis Online sudah mulai bekerja membuat sebuah prolog sebagai bagian pembuka cerita. Jari-jarinya mulai menari indah di atas rangkaian huruf yang tesebar secara acak.
Iccha duduk menyempil di antara kedua orang tersebut.
"Daddy lu kan penulis, kenapa nggak lu minta aja daddy yang bikinin novel lu sama si Caca?" tanya Iccha memulai obrolan.
"Daddy kan bisanya bikin cerita pendekar. Ini mah kisah romantis, salah jurusan kalau gue minta tolong sama daddy," jawab Jo santai.
"Iya juga sich. Hahaha..." Iccha tertawa dengan suaranya yang menggelegar.
Saat sedang asyik berbincang, Iccha dikejutkan dengan suara notifikasi ponselnya. Ada satu chat masuk dari seseorang.
Ngapain ini si too cold ngechat gue? Tanya Iccha dalam hati.
Too Coldd : Bsk gw tunggu jm7 lu dh hrs siap. Bsk hr prtma lu krja jd skrtaris gw.
"Astaga nggak ada akhlak emang ini orang!" maki Iccha dengan kesal.
Jari-jari Iccha mulai mengetikkan tulisan untuk membalas chat Ammar.
Iccha : Pe'ak bnr lu jd org. Gw jauh2 dr Bandung coey! Ksh waktu sehari buat rehat lah.
Too Cold.
Mengetik...
Too Cold : Gk ada rehat2an ya!!! Jng lp bsk jm TUJUUUH. Lu dibayar coey!!! jan malas2sn!!!
Hadeuh.. nulis nukie ae eta paceunghul na meuni loba kitu. Omel Iccha dalam hati.
Artinya : Yaelah ... nulis pesan aja tanda pentungnya banyak banget.
Karena kesal Iccha membanting ponselnya di atas sofa. Erika dan Jo terperanjat karena aksi mendadak Iccha. Mereka melongo melihat wanita itu yang wajahnya sudah merah padam.
"Lu kenapa woey??" seru Jo dengan kening berkerut-kerut.
"Kesel gue sama kulkas dua pintu."
"Kenapa emang?" tanya Jo penasaran.
"Masa iya, gue baru sampai besok udah disuruh kerja? Kejam banget kan?" jawab Iccha sambil mendengus kesal.
"Mungkin Bang Ammar udah kebelet pingin kerja sama Mbak Iccha," sambung Erika.
"Kalau kebelet lari ke kamar mandi dong jangan ditahan!" Iccha masih kesal.
"Hahahaha ... itu mah pipis, Mbak."
"Udah lu turutin aja siie! Dari pada perang mulu," saran Jo.
"Ya udahlah. Mau gimana lagi kalau nggak nurut?" Iccha akhirnya pasrah.
"Mas Jo, aku haus eh," keluh Erika sambil mengelus-elus lehernya. Erika pun menelan ludahnya sendiri dengan kasar.
"Di kamar mandi noh banyak air nganggur," sahut Iccha nyolot.
"Emang aku ikan arwana mbak minum air mentah," protes Erika kesal.
"Ambil di dapur ya, Rik! Nanti aku minta orang buat pasangin dispenser di kamar kamu," kata Jo.
"Oke, Mas."
Erika pun bergegas pergi ke dapur untuk mengambil air putih. Dia berjalan dengan langkah tegas keluar kamar. Sampai di ruang tengah dia mendapati seorang manusia bernama Ammar yang sedang duduk di sofa. Dia duduk dengan posisi kaki bersila. Matanya tak lepas menatap layar gadget-nya. Sampai di situ Erika kebingungan ke mana selanjutnya dia akan melangkah. Rumah ini begitu besar tidak seperti rumahnya yang hanya selebar kamar mandi yang ada di sini.
"Hmm ... B-Bang ... Bang A-Ammar ...." panggil Erika dengan takut-takut. Lidahnya seperti tercekat saat hendak mengucap nama kakak kandung dari Jo tersebut.
Ammar menengok dan menatap Erika dengan sangat dingin.
Astaaaga ... atiku mak jleb. Benar kata Mas Jo dan Mbak Iccha dia ini memang kayak kulkas dua pintu. Pikir Erika.
"E ... Bang, boleh aku tanya?"
"Hm .... " sahut Ammar sambil mengalihkan tatapan matanya kembali pada gadget yang ada di tangannya.
"Aku mau ambil minum, Bang-"
"Terus?" potong Ammar dengan cepat. Dia meletakkan ponsel mahalnya dan berdiri mendekat ke Erika. Erika yang takut langsung mundur dua langkah ke belakang. Kepalanya tertunduk tak berani melihat sorot mata Ammar yang tajam.
"Aku ndak tahu dapurnya ada di mana, Bang."
"Kamu mau tahu dapurnya ada di mana?" tanya Ammar dengan suaranya yang lantang.
Erika hanya mengangguk.
Ammar meraih tangan Erika.
"Bang aku mau diapain? Aku orak nakal lho, Bang. Ojo diapa-apake lah!" Erika ketakutan.
Artinya, "Bang aku mau diapain? Aku nggak nakal lho, Bang. Jangan diapa-apain lah!"
Ammar tidak menjawab pertanyaan Erika. Dia terus memegang pergelangan tangan gadis itu. Kini langkah kaki Ammar mau tidak mau membuat Erika ikut menjejakkan kakinya juga. Erika diam menutup mulut meski rasanya dia ingin sekali memaki-maki lelaki yang berjalan di hadapannya. Bahkan terlintas niat untuk mengikuti cara Iccha, menimpukkan sendok ke batok kepala Ammar.
Sendok mana sendok aku butuh sendok! Pekik Erika dalam batin.
Eh bukan sendok, aku ndak butuh sendok, laki-laki sejenis Bang Ammar ini enaknya bukan ditimpuk pakai sendok tapi pakai ujung pacul. Ralatnya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang karena luasnya istana Daddy Jack. Akhirnya langkah kaki Ammar terhenti pada tempat yang Erika tuju. Gadis itu kembali dibuat kagum dengan kemewahan yang biasa digunakan untuk orang memasak tersebut. Lagi-lagi dia membandingkan rumahnya dengan istana milik Uncle Jack. Benar-benar seperti langit dan bumi. Di sini dia tidak mendapati p****t-p****t panci yang berwarna hitam pekat dan gosong seperti yang ada di rumahnya. Gelas-gelas dengan bentuk-bentuk yang indah tertata di atas meja. Piring-piring besar nan mewah tersimpan apik di dalam lemari. Beda sekali dengan piring di rumahnya yang kebanyakan adalah hasil dari hadiah membeli detergent ukuran satu kilo. Piring kecil berwarna bening yang akan pecah hanya dengan sekali hantaman saja. Kompornya pun mahal. Beda dengan kompor Emak Mei yang hanya sumbangan dari pemerintah. Di sini terdapat juga kulkas empat pintu terpampang gagah berdiri dengan ukuran yang paling besar dari perabot yang lainnya. Oven, microwave, segala macam alat perang memasak komplit ada di sini. Sungguh ini rumah impian yang kerap dia tuangkan ke dalam novel-novel karangannya.
"Cepat kalau mau minum! Malah bengong!" tegur Ammar mengagetkan Erika yang tengah menatap antusias di sekelilingnya.
"Eh, iya," sahut Erika yang kemudian bergegas mengambil gelas dan menuangkan air putih di dalamnya. Dia teguk air itu hingga habis.
"Lu kehausan?" tanya Ammar sambil melayangkan senyum yang penuh dengan penghinaan. Senyum tipis yang bukan menunjukkan sebuah keramahan, tapi seperti seringai serigala yang menakutkan.
"Iya, Bang," jawab Erika singkat.
Gadis itu berbalik badan hendak pergi, tapi Ammar dengan cepat menghalau langkah Erika dan berdiri tepat di hadapan gadis itu hingga tanpa sengaja Erika menabrak tubuh kekar Ammar.
"Masya Allah. Bang Ammar ki piye to?" tanya Erika dengan kesal. Dia memundurkan langkahnya menjauh dari Ammar.
Artinya, "Masya Allah. Bang Ammar itu gimana sich?"
"Mau ke mana?" Bukannya menjawab Ammar justru balik bertanya.
"Mau balik ke kamar lah, Mas. Ngapain lama-lama di sini?"
"Enak aja! Memang itu air yang kamu minum gratis? Terus makanan yang masuk ke perut kamu? Emang itu belinya nggak pakai uang?"
"Hah? Dadi aku kudu mbayar ngunu iku maksudte? Diih ... wong sugih macak kere!" umpat Erika dengan logat medoknya yang khas.
Artinya, "Hah? Jadi aku harus bayar begitu maksudnya? Diih ... orang kaya berlagak miskin!"
"Ngomong apa lu, Jum? Jangan ikut-ikutan pakai bahasa daerah kayak Mrs. Sendok lah aku tak paham!" desah Ammar dengan mimik wajahnya yang semakin menakutkan.
"Ndak ada, Bang. Bang Ammar tampan," dusta Erika sambil nyengir.
"Segitu panjang tapi artinya cuma gue tampan? Njii*r kalau itu mah udah dari dulu."
"Buat apa tampan kalau jomblo? Anyep! Wek!" ledek Erika kemudian menjulurkan lidahnya.
"Tutup mulutmu, Rik!" sentak Ammar menakuti Erika.
"Ma-maaf, Bang." Nyali Erika langsung menciut. Dia menunduk kan kepalanya.
"Nomor hape," kata Ammar galak. Entah itu bertanya atau memerintah perkataan Ammar begitu ambigu di telinga Erika.
"Hah?" Erika membulatkan kedua bola matanya.
"No-mor ha-pe?" Ammar mengulang perkataannya.
Erika menunjuk ke dirinya sendiri, "Nomor hapeku maksudnya, Bang?"
"Punya emak lu!"
"Oh ..." Erika manggut-manggut, "085875 ...."
"Astaga!" potong Ammar, "Nomor emak lu beneran yang lu kasihin ke gue?"
"Sesuai permintaan Abang kan."
"Gue nggak doyan emak-emak."
"Ojo (Jangan) salah! Emakku masih cantik dan menggoda, Bang. Mau lihat fotonya?"
"Kagak!" tolak Ammar dengan cepat, "Maksud gue nomor ponsel lu. Masa gitu doang harus dijelasin? Penulis harusnya smart dan pintar nangkap," ledeknya tanpa berperikemanusiaan.
"Dulu pas sekolah, aku emang pernah ikut ekskul sepak bola cewek Bang, tapi aku jadi back bukan keeper jadi yo maklum kalau nggak pintar nangkap," khilah Erika membuat Ammar semakin kesal.
"Aaaaasstaagaaa! Nemu di mana si Jo cewek model kayak elu?" Ammar hilang kesabaran.
"Hahahaha ... dipungut dari selokan, Bang. Teman aku werok dan dedengkotnya emang. Hahaha .... " Erika tergelak. Erika seolah tidak peduli dengan rasa dongkol yang bercokol di hati Ammar akibat ulahnya.
Thor, werok apaan? Werok itu like tikus tapi yang ukurannya big. Understand?
"Cepetan nomor hape lu berapa? Atau gue tenggelamin lu di kolam renang belakang rumah!" ancam Ammar. Dia berjalan mendekati Erika hingga membuat wanita itu bergidik ngeri.
"Oke-oke! Aku kasih nomorku, Bang. Woles lah woles. Ojo keburu nafsu!" Perkataan Erika membuat langkah Ammar terhenti.
"Cepat!" perintah Ammar sambil memberikan ponselnya pada Erika.
Sebelumnya Ammar sudah membuka lock ponselnya dan Erika tinggal mengetikkan nomor ponsel miliknya ke dalam gadget tersebut.
"Sampun, Bang," ujar Erika seraya mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya.
Artinya, "Sudah, Bang."
"Habis ini gue chat lu! Lu harus nurut apa kata gue! Awas kalau lu nggak mau ikutin permainan gue, gue jamin nyawa lu di sini hanya seumur jagung!" ancam Ammar kemudian melenggang pergi meninggalkan Erika.
"Ya Allah, permainan apa maksudnya? Kalau cuma main gaplek mah aku jagonya. Serem banget itu si Bang Ammar. Ngeri," gerutu Erika sambil memegang dadanya yang berdebar-debar karena ketakutan.
Erika berjalan kembali ke kamar. Saat dia mau naik tangga ada seorang wanita dengan riasan mencolok berjalan ke arahnya.
"Mbak, ambilkan aku minum!" perintah wanita itu dengan angkuh.
Hah? Dia nyuruh aku ngambil minum? Dikira aku pembantu kali ya. Pikir Erika. Kini hatinya serasa gondok. Dia melihat penampilannya sendiri.
Uayuu kayak gini lho padahal.
"Maaf, Mbak. Tapi aku bukan asissten rumah tangga di sini. Aku Erika, Mbak. Temannya Mas Jo," jelas Erika dengan sopan.
"O.. aku pikir asissten Daddy yang baru. Sorry! Lain kali dandan yang agak menor dikit! Dandanan kamu norak! Kampungan!" hina wanita itu lalu berlalu pergi meninggalkan Erika tanpa permisi.
"Ya Allah, lancip banget itu mulut. Sabaar... Sabar.. " Erika mengelus-elus dadanya lagi.
Erika mengamati ke mana langkah wanita itu menuju. Ternyata kamarnya berada tidak jauh dari kamar Erika. Hanya saja kamar wanita itu berbelok ke kanan sedang kamar Erika belok ke kiri. Rasa jengkel dan terhina masih bercokol di hatinya saat ini.
"Kayaknya aku harus panjang-panjangin usus buat ngadepin itu mbak-mbak," gumam Erika sambil berjalan kembali ke kamarnya.
Sampai di depan pintu dia mendapati Ammar tengah berdiri di depan kamarnya.
"Ammar meneh (lagi)!" keluh Erika tidak suka.
"Cepat baca!" perintah lelaki itu singkat kemudian melenggang pergi masuk ke kamarnya sendiri.
"Astagfirullah. Nungguin aku di depan kamar cuma mau ngingetin aku untuk baca chat dia doang? Somplak memang!" maki Erika.
Iccha dan Jo masih sibuk dengan senda gurau mereka sedang Erika langsung memeriksa ponsel miliknya. Lima buah chat masuk dari nomor yang sama.
"Astagfirullah. Niat banget ini manusia," gumam Erika pelan.
Dia membaca satu per satu pesan dari Ammar. Ada satu ancaman yang harus Erika ingat, "Jangan Beri Tahu Siapa pun!!!". Bahkan Ammar menulisnya dengan tanda seru yang berjajar begitu banyak agar terkesan menyeramkan.
Piye iki? Nek orak tak turuti iso diajar aku karo Bang Ammar. Tapi kok rodok njijik'i perjanjianne? Meh piye meneh? Rak ono dalan liyane. Pikir Erika.
Artinya, "Gimana ini? Kalau tidak aku turuti bisa dihajar aku sama Bang Ammar. Tapi kok sedikit menjijikkan perjanjianya? Mau gimana lagi? Tidak ada jalan lain.
Erika memikirkan ini sampai keningnya terlihat berkerut-kerut. Dia bingung mau menjawab apa. Sungguh perjanjian yang Ammar rancang membuatnya menjadi dilema. Namun, di satu sisi dia kasihan karena Ammar sangat membutuhkan pertolongannya.
Ponsel Erika berbunyi lagi. Chat masuk dari orang yang sama.
Ammar. : Balas!!!
Pesan singkat yang lagi-lagi dengan tanda seru yang begitu banyak.
"Iyo-iyo sabar!" umpat Erika memaki Ammar lewat ponselnya.
"Kenapa sich lu, Rik?" tanya Jo penasaran.
"Ndak ada, Mas. Hehehe.... " jawab Erika sambil nyengir.
"Ya udah gue tidur ya. Ngantuk berat besok gue kerja," pamit Iccha yang kemudian menguap dengan cukup lebar. Tanpa lama lagi wanita itu sudah menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.
Erika buru-buru membalas chat dari Ammar sebelum lelaki itu mengiriminya chat lagi dengan segerombolan tanda seru seperti yang sudah-sudah.
Erika. : Iya, Bang. Aq mau asal jan yg aneh²!!!!
Erika ikutan membubuhkan tanda seru yang banyak.
Ammar 'Mengetik....'
Ammar : Jan ge-er! lu bukan tipe gue!!!
"Diih ... sok yes banget!" maki Erika
"Kamu dari tadi ngomel mulu sama hape. Memang siapa sich yang kamu ajak chat, Rik? Kepo kan gue," tanya Jo.
"Eh, ndak ada kok mas," jawab Erika menutupi identitas si pengirim chat yang tidak ada sopan santunnya itu.
Erika dan Jo melanjutkan project mereka. Hingga pukul sebelas malam mereka berdiskusi dan sesekali bercanda untuk menghilangkan penat. Sampai akhirnya Jo berpamitan untuk istirahat karena besok harus bekerja.
**
Keesokan Harinya.
Iccha yang bangun kesiangan memilih baju asal-asalan. Dia mengenakan setelan kerja yaitu blazer dengan kemeja warna pink di dalamnya dan juga rok span pendek sebatas paha. Sungguh penampilannya sudah seperti sekretaris-sekretaris cantik nan sexy yang suka mondar-mandir di sinetron "Suara Hati Istri" yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta yang berlogo ikan terbang.
Setelah selesai make-up ala kadarnya, Iccha menyemprotkan parfum merata ke seluruh tubuhnya. Kemudian wanita itu memakai heels yang satu lagi karena yang satunya semalam patah tanpa sengaja.
Erika pun keluar kamar mandi dan berganti baju dengan dress panjang simple, tapi nampak elegan pada tubuh rampingnya. Dia bergegas mengikuti jejak Iccha untuk berhias diri dengan sederhana dan memakai parfum agar tidak bau saat berkumpul bersama keluarga Uncle Jack.
"Gue cabut duluan ya, Rik. Kita ketemu di ruang makan," pamit Iccha seraya memamerkan senyum cantiknya.
"Iya, Mbak," sahut Erika.
Tanpa sengaja Iccha dan Ammar berpapasan di depan kamar. Ammar menatap wanita itu dari atas ke bawah dengan tatapan yang begitu dingin. Ammar menyunggingkan senyum kecut ke arah Iccha.
"Ngajak ribut lu?" tanya Iccha galak.
Lagi-lagi Ammar hanya tersenyum kecut tanpa menjawab.
"Hei, kamu cantik," kata Ammar tiba-tiba. Iccha pun menjadi malu. Wajahnya merah padam. Dia menundukan kepalanya sambil menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga.
"Makasih, Bang Ammar," sahut Erika yang kini sudah berdiri di belakang Iccha.
Lhoh lah? Iccha kebingungan dalam hati. Sial! Ternyata dia hanya kege-eran. Pujian cantik itu bukan untuk dirinya melainkan untuk Erika. Iccha dibuat malu dan kesal. Mood-nya langsung hancur pagi ini.
"Kita sarapan dulu," kata Ammar pada Erika.
"Iya, Bang," sahut Erika singkat sambil melempar senyum manis pada lelaki yang kini memakai pakaian santai tidak seperti orang yang mau pergi bekerja.
"Hish... Isuk keneh geus aya nu pi araleun," umpat Iccha yang kemudian memutuskan pergi terlebih dulu meninggalkan Ammar dan juga Erika.
Artinya, "Pagi-pagi udah bikin kesel."
Setelah dipastikan Iccha jauh dari mereka. Ammar menggeret lengan Erika agar mendekat padanya. Tatapan cold itu dia hujamkan pada mata Erika yang nampak ketakutan karena aksinya lelaki tersebut.
"Ingat kesepakatan kita kalau kamu mau hidup tenang di sini!" ancam Ammar.
"I... iya, Bang," ucap Erika terbata-bata.
"Ehem .... " Suara deheman Jo membuat Erika dan Ammar menoleh ke belakang.
"Laksanain!" perintah Ammar singkat.
"Bang, sini aku benerin! Kerah kaos kamu berantakan," kata Erika yang tiba-tiba merubah sikapnya menjadi mesra. Wanita itu mendekatkan tubuhnya lebih dekat lagi untuk merapikan bagian baju Ammar yang dia maksud. Padahal rapi-rapi aja sih bajunya. Hm ....
Ammar hanya tersenyum dan tangannya dengan sengaja dia lingkarkan pada pinggang Erika membuat kedua mata wanita itu membulat begitu pun dengan Jo.
Sial! Ini ndak ada di perjanjian ya. Pelanggaran! Omel Erika.
Bang Ammar kenapa agresif banget sich? Tanya Jo dalam batin. Syukurlah ternyata dia normal. Lanjutnya lagi.
"Minggir woey! Kalian menghalangi jalan gue!" seru Jo.
Erika dan Ammar merenggangkan tubuh mereka agar Jo bisa lewat. Jo melewati Ammar dan menepuk bahu kakak kandungnya tersebut.
"Good luck, Brother!" kata Jo lalu melempar senyum pada Erika dan juga Ammar bergantian. Lelaki itu pun pergi menuju meja makan.
"Bang Ammar curang!" maki Erika, "Di perjanjian ndak ada peluk-peluk pinggang ya!" amuknya.
"Isi perjanjian terakhir! Baca!" terang Ammar galak kemudian melenggang pergi meninggalkan wanita itu yang diam mematung penuh tanda tanya dan rasa kesal yang bercokol dalam dadanya.
"Memang perjanjian terakhir isinya apa? Aku ndak hafal lho," gerutu Erika. Dia masuk lagi ke dalam kamar untuk melihat ponselnya dan mencari tahu isi perjanjian terakhir.
Wanita itu mencari chat-nya dengan Ammar karena isi perjanjian itu ada di sana seluruhnya.
"Perjanjian terakhir." Mata Erika mulai menyisir setiap pesan berbintang yang dikirim lelaki yang seperti kulkas dua pintu tersebut.
"Nah ini dia!" seru Erika saat dia berhasil menemukan yang dia maksud.
"Pihak pertama bisa melakukan tindakan apapun (yang dirasa perlu untuk dilakukan oleh pihak pertama) pada saat dibutuhkan tanpa mendapat persetujuan terlebih dulu dari pihak kedua, oleh karenanya pihak kedua dilarang untuk berkomentar ataupun mengkritik dalam bentuk lisan maupun tulisan." Erika membaca isi perjanjian terakhir itu dengan suara pelan.
"Hiiish ... mana ada perjanjian kayak gitu? Begonya aku kenapa asal iyain tanpa dicerna dulu dengan baik apa maksudnya. Setdah... penulis peak aku mah," omel Erika merutuki dirinya sendiri.