**
Iccha memejamkan matanya, ia benar-benar takut dibonceng oleh Ammar dengan kecepatan tinggi seperti ini, apalagi dengan busananya yang super minimalis alias kekurangan bahan dan sangat sexy bila dilihat orang.
Beberapa orang yang sama-sama sedang berkendara, memperhatikan Iccha dengan genit, bahkan ada pula yang mengedipkan matanya pada wanita itu. Bukannya tidak pernah naik motor, tapi ini kali pertama Iccha membonceng motor dengan rok span seperti sekarang. Benar-benar tidak nyaman! Namun, ini juga salah satu kebodohannya. Kenapa mau sih menuruti permintaan Ammar? Hanya karena takut Erika menggantikan posisinya? Apa Iccha benar-benar mulai bucin dengan musuhnya tersebut? Hanya Iccha yang paham isi hatinya yang sesungguhnya.
Dan si Miss Sendok kini tengah memeluk Mister Too Cold dengan sangat kuat saking takutnya apabila ia terjatuh dari kendaraan besar tersebut. Ammar terlihat diam tak menolak pelukan Iccha atau justru ia malah menikmati dekapan rivalnya tersebut? Tidak ada yang bisa menebak isi hati Ammar, hanya dia dan Tuhan yang tahu apa mau lelaki dingin itu.
"Cyiiiit ... " Suara gesekan ban motor Ammar yang seketika membuat Iccha semakin mengeratkan pelukannya yang sudah erat. Degup jantungnya berdetak tidak karuan. Napasnya tersengal seakan ia baru saja menyelesaikan olah raga keliling lapangan bola dua putaran.
"Plaak ... " Iccha memukul bahu Ammar dengan cukup kencang. Rasa kesal, takut dan marah berbaur menjadi satu pada diri wanita cantik itu saat ini.
"Nggak gitu juga kali cara lu ngerem motornya! Gimana kalau tadi gue jatuh? Sembarangan banget!" amuk Iccha. Dan sekali lagi ia memukul bahu lebar Ammar dengan kekuatan yang sama dengan yang sebelumnya. Menurut Iccha sich udah kencang banget dia mukulnya, tapi untuk Ammar pukulan Iccha tidak meninggalkan rasa sakit sedikit pun pada bahunya.
"Turun!" perintah Ammar seraya mematikan mesin motornya.
Lelaki itu tidak menanggapi omelan Iccha barusan dan memilih untuk menganggapnya sebagai angin lalu saja.
"Mau ngapain gue disuruh turun? Tadi katanya keburu telat!"
"Cepat turun!" Ammar mengulang perintahnya.
"Astaga! Lelaki ini memang selalu seenaknya sendiri. Benar-benar nggak pernah berubah." Iccha menuruti perintah Ammar untuk turun dari atas motor meski pun mulutnya tidak bisa berhenti untuk menggerutu.
Ammar menstandarkan kendaraannya. Ia ikut turun dari atas motor tersebut. Setelah itu Ammar melepas tas ransel yang tadi sempat ia cangklongkan dengan posisi badan tas dia taruh di depan dadanya agar tidak mengganggu Iccha saat duduk membonceng di belakangnya.
"Bawa!" Sekali lagi, Ammar memerintah Iccha dengan singkat dan tanpa sopan santun. Ia menyerahkan tas ranselnya yang cukup berat itu pada Iccha.
"Isinya apaan sich? Berat amat!" Iccha berkomentar seraya mengamati tas Ammar yang sekarang berada dalam pelukannya.
Ammar tidak menjawab pertanyaan Iccha tentang isi tas ranselnya, menurutnya itu tidak penting dan Iccha juga tidak perlu tahu karena itu barang pribadinya.
Ammar membuka jaket yang ia kenakan, hingga terlihat badan atletisnya yang berbalut dengan kaos sport press body andalannya. Sungguh sexy. Pikir Iccha yang sampai menelan ludah karena melihat kesempurnaan tubuh lelaki yang lebih pantas menjadi musuh dari pada temannya itu.
"Mingkem! (Tutup mulut!)" tegur Ammar saat melihat mulut Iccha menganga dengan pandangan mata yang tidak lepas memperhatikan dirinya.
Iccha begitu malu karena tertangkap basah mengawasi Ammar dengan sebegitu kagumnya. Wanita itu segera menutup mulut dan mengalihkan pandangan matanya ke sembarang arah.
Sial. Bisa kegeeran dia. Omel Iccha dalam hati.
"Gue gak ge-er. Udah biasa cewek-cewek liatin gue kayak gitu!" sungut Ammar.
Deg.
Kenapa dia bisa tahu isi hati gue? Tanya Iccha dalam hati.
"Dih ... sok cakep!" ledek Iccha kemudian mencebikkan bibirnya.
"Pakai!" Ammar memberikan jaketnya pada Iccha.
"Pakai? Gue lagi nggak kedinginan, Coey!" tolak Iccha. Pagi ini cuaca sangat panas jadi untuk apa dia pakai jaket setebal itu? Pikir Iccha.
"Astaga! Telmi emang!" cela Ammar sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lu yang telmi!" cela balik Iccha.
Sekilas info. Mereka kini berada di depan sebuah ruko yang masih belum buka. Waktu masih terlalu pagi untuk jam operasional pertokoan seperti toko bahan bangunan dan sebagainya.
Ammar mengambil tas ranselnya dari pelukan Iccha dan meletakkan benda itu di atas tanah. Kemudian ia mendekat pada Iccha lalu melingkarkan jaket tersebut pada tubuh bagian bawah wanita itu.
"Eh, mau ngapain lu?" tanya Iccha galak sambil meletakkan tanganya menghalau d**a Ammar agar tidak merapat pada tubuhnya.
"Cerewet!" sentak Ammar membuat mulut Iccha seketika terbungkam.
Jarak tubuh ke duanya memang sangat dekat. Namun, Ammar bukan bermaksud untuk mencari kesempatan, tapi ada misi lain yang harus lelaki itu lakukan.
Mau ngapain sich si Mr. Too Cold? tanya Iccha dalam hati. Meski penasaran sekali, tapi kali ini Iccha memilih untuk diam. Dia hanya memperhatikan setiap gerakan yang Ammar lakukan seraya menikmati bau parfume maskulin lelaki itu yang diam-diam menjadi favorit Iccha selama ini.
Wangi parfumenya masih sama seperti terakhir kita ketemu dan belum berubah. Batin Iccha.
Ammar menatap wajah Iccha sebentar, tatapan dingin menghujam netra Iccha yang juga memperhatikan dirinya.
Tak lama, Ammar mengalihkan pandanganya dan berfokus pada apa yang ingin dia lakukan. Ammar membelit tubuh Iccha dengan jaketnya itu, ke dua tangan Ammar berada di belakang tubuh wanita itu layaknya seseorang yang ingin memeluk. Iccha pun memegang bahu Ammar karena salah tingkah dengan posisi mereka yang berdekatan.
Ternyata Ammar sekarang sedang mengikat bagian lengan kanan dan kiri jaketnya menjadi satu, lelaki itu juga memastikan jika simpul yang dia buat sudah cukup kuat agar tidak terlepas ataupun melorot ke bawah. Dan kini benda pribadi milik Ammar itu sudah di sulap layaknya sebuah rok yang lebih panjang dan menutupi rok yang Iccha kenakan.
Ammar segera menjauhkan tubuhnya setelah pekerjaannya selesai. Iccha menatap hasil pekerjaan Ammar dengan mata berbinar.
Ya Ampun, ini sweet banget lhoh. Si manusia dingin ternyata care banget sama gue. Pikir Iccha.
"Ammar, thanks ya," kata Iccha seraya melempar senyum manis pada lelaki itu.
"Tumben manggilnya bener," sahut Ammar cuek.
"Kan kamu udah baik sama aku."
"Aku kamu lagi, dih ... " cela Ammar.
Lelaki itu memakai tas ranselnya kembali dengan posisi badan tas di depan dadanya seperti posisi sebelum ini, karena tasnya yang besar pasti akan mengganggu Iccha saat memboncengnya.
"Ayo! Keburu telat!" ajak Ammar.
Iccha masih berdiri di tempat seraya menatap Ammar yang berjalan mendekati motornya. Hati wanita itu sungguh bahagia bak ditumbuhi oleh bunga-bunga untuk saat ini. Sikap Ammar dirasa cukup manis dan menyentuh perasaannya. Dia pikir Ammar tidak peduli dengan dirinya, tapi ternyata lelaki itu bisa sejauh ini memikirkan dirinya. Ini perhatian kecil, tapi sangat berkesan untuk Iccha.
"Woey! Cepetan! Malah bengong!" teriak Ammar yang membuat Iccha terhenyak dan seketika mengakhiri lamunannya.
"Iya, iya, galak amat," sahut Iccha.
Ammar mengulurkan tangannya untuk membantu Iccha naik ke atas motornya yang cukup tinggi.
"Makasih ya, Mister. Kamu baik banget dech," kata Iccha lalu memeluk Ammar tanpa ada rasa canggung lagi.
"Nggak usah ge-er! Gue cuma nggak mau dicap lelaki kejam sama orang," sahut Ammar.
"Biarin dech terserah elu. Cepetan jalan! Gue udah siap jadi sekretaris lu, Pak Bos."
"Awas kalau kerja lu nggak bener! Gue pecat lu!" ancam Ammar.
Ammar kembali menyalakan mesin motornya. Deru suara kendaraan roda dua itu kali ini terdengar seperti nyanyian cinta untuk Iccha. Dia lebih nyaman duduk dengan paha yang ter-cover dengan jaket Ammar seperti ini. Tidak ada lagi lelaki iseng yang meliriknya penuh napsu seperti sebelumnya.
**
Sementara itu di waktu yang sama, tapi di tempat yang berbeda, Erika bersama dengan Jo sedang berangkat menuju ke perusahaan milik Daddy Jack yang dipimpin oleh Jo. Selama perjalanan mereka gunakan waktu untuk banyak berbincang mengenai project novel mereka. Dan Erika dengan sigap mencatat semua hal yang perlu ia catat dalam buku batik andalannya.
Mas Jo ini beneran lelaki idamanku banget. Wes ganteng, sugih, setia sisan. (Udah ganteng, kaya, setia pula.) Beda banget sama Sofyan, dia kaku juga orangnya, Ndak bisa diajak bercanda kayak Mas Jo. Pikir Erika menatap Jo yang masih asyik bercerita.
Mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Jo tentang bagaimana lelaki itu memperlakukan kekasihnya Yoevanca atau kerap Jo panggil 'Caca', membuat Erika justru memiliki ketertarikan pada orang yang sekarang menjadi bosnya tersebut. Namun, Erika paham kalau ia harus membatasi diri agar rasa kagumnya tidak menjadi berlebihan. Erika harus menjaga hati karena dia pun menyadari jika Jo adalah pria milik wanita lain yang sebentar lagi akan menikah. Dan Erika pun menyadari pula siapa dirinya yang hanya pungguk yang merindukan rembulan bila mengharapkan Jo menjadi pendampingnya.
Dan, suara dering ponsel membuat Erika semakin mengingat siapa dirinya.
"Yayankku ❤️" Begitu tulisan yang terpampang pada layar ponsel Erika. Yes, Erika wajib mengingat siapa dirinya yang juga sudah memiliki kekasih yang ia tinggal di kampung halaman.
Lali aku! Wingi kan Mas Sofyan njaluk alamatku ning Jakarta. Duh ... ngamuk mesti iki️(Lupa aku! Kemarin kan Sofyan minta alamatku di Jakarta. Duh .... ngamuk pasti ini) Pikir Erika.
"Mas, aku angkat telpon dulu bentar yo," kata Erika meminta ijin pada Jo. Meski sebenarnya dia merasa tidak enak karena harus menjeda cerita Jo yang sedang seru-serunya.
"Oke, Rik. Santai aja!" sahut Jo tersenyum simpul.
Erika segera menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan dari kekasihnya tersebut.
"Assalamualaikum," sapa Erika lesu. Kenapa lesu? Karena ia tahu Sofyan akan mengomelinya.
"Kowe iku (kamu itu ).... "
"Assalamualaikum." Erika mengulangi salamnya karena Sofyan tidak menjawab. Sudah keburu napsu ingin memarahi pacarnya jadi lupa balas salam.
"Wallaikumsalam," balas Sofyan meskii masih dengan intonasi tinggi.
"Kamu itu bener-bener jengkelke, yo! Kemarin kan aku wes (sudah) ngomong, kirimke alamatmu ning (di)Jakarta, Nduk! Ya Allah Gusti, Nduk ... nduk ... " Seperti yang sudah Erika duga, Sofyan pasti marah besar padanya.
"Maaf, Mas Yan. Aku lali tenan wes, (Aku lupa beneran dech,)" kata Erika memberi penjelasan.
"Kok iso lali ki sibuk ngopo jal awakmu kuwi, Nduk? (Kok bisa lupa itu sibuk ngapain aja kamu itu, Dek?)" tanya Sofyan ingin tahu. Dia memang sudah seperti wartawan, semua akan dia tanyakan dengan sedetail mungkin. Punya kekasih yang perhatian itu menyenangkan, tapi kalau berlebihan seperti Sofyan jatuhnya bukan perhatian melainkan mengekang, karena setiap yang akan Erika lakukan harus melalui persetujuannya.
"Yo nulis to, Mas. Kan aku di sini kerja sebagai penulis," jawab Erika.
"Berarti awakmu cedhak-cedhakan karo koncone Mas Aldin terus to, Nduk? (Berarti dirimu dekat-dekatan sama temannya Mas Aldin terus ya, Dek?)" tanya Sofyan. Nalurinya sebagai anggota kepolisian mulai bereaksi.
Erika melirik ke arah Jo, kebetulan saat itu Jo juga melirik ke arahnya. Erika pun melempar senyum kemudian kembali menatap ke jendela mobil.
Kalau Mas Sofyan ngerti temannya Mas Aldin seganteng Iki(ini), mesti aku dikon cepet bali. (Pasti aku disuruh cepat pulang.) Batin Erika.
"Ya iya, Mas. Lha mau piye maneh? (lLha mau bagaimana lagi?) Tapi Kan cuma sebatas profesional kerja," jawab Erika berusaha meyakinkan Sofyan agar tidak cemburu.
"Aku kan wes ngomong, kamu ndak usah kerja, aku yang bakal biayain kuliah kamu, Nduk. Aku Iki polisi, aku masih mampu bayarin kuliah kamu," jelas Sofyan.
"Ngapurane (Maaf), Mas. Uang dari Mas Aldin saja aku tolak apalagi dari sampeyan (kamu), yang belum jadi apa-apaku. Aku mau usaha sendiri, Mas. Ndak mau ngrepotin orang," sahut Erika.
"Aku kan pacarmu to, Nduk."
"Masih pacar, Mas. Nanti nek kita Ndak jodoh terus putus, mesti sampeyan njaluk duit e sampeyan balek meneh, malah ngelu aku, Mas. (mesti kamu minta uang kamu kembali lagi, malah pusing aku, Mas)."
"Berdoa yang baik-baik to yo!" pinta Sofyan tidak suka jika Erika berkata seperti itu.
"Ini bukan doa, Mas. Aku cuma menjaga saja biar ndak jadi masalah di ke depannya nanti," bantah Erika.
"Yo wes nek iki njalukmu. Aku manut wae. Sing penting ojo nakal yo ning kono! Eling aku! Aku ngenteni balimu. Nek aku entuk cuti aku dolan nemoni awakmu, Nduk. Ati-ati! Jogo kesehatan! Ojo lali salat! Sering-sering kabari aku! Aku sayang dirimu, Nduk."
Artinya, "Ya sudah kalau ini permintaanmu. Aku menurut saja. Yang penting jangan nakal ya di sana! Aku menunggu pulangmu. Kalau aku dapat cuti aku main nemuin kamu. Hati-hati! Jaga kesehatan! Jangan lupa salat! Sering-sering kabari aku! Aku sayang dirimu, Dek."
Hm ... Begitu banyak wejangan dan peringatan yang Sofyan lontarkan. Namun, itu sudah biasa untuk Erika. Perhatian kekasihnya itu memang sangat luar biasa. Beruntunglah dia memiliki lelaki seperti itu, meski terkadang Erika sering tidak nyaman dengan sikap Sofyan yang posesif, tapi begitulah manusia yang tidak akan pernah menjadi sempurna, pasti ada plus dan minusnya.
"Aku juga sayang kamu, Mas Iyan. Yo wes aku tak kerja dulu Yo. Kamu juga hati-hati! Jangan lupa makan dan salat!" Erika membalas perhatian Sofyan.
Sambungan suara terputus setelah mereka saling mengucap salam. Erika memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, ia akan kembali mulai bekerja untuk mendengarkan Jo bercerita yang akan ia jadikan acuan untuk menulis.
"Ciye ... Romantis buanget ... Wes koyo (udah seperti) Romeo dan Juliepret," ledek Jo saat Erika sudah selesai bertukar suara dengan kekasihnya. Jo menyenggol bahu Erika dengan bahunya lalu tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Erika yang cemberut.
"Juliepret iku sopo meneh, (Juliepret itu siapa lagi) Mas? Sing bener Juliet! (Yang benar Juliet!)" omel Erika yang justru semakin mengencangkan tawa Jo.
"Fiuh ... unyu banget kamu emang." Jo mencubit ke dua pipi Erika dengan gemas.
"Aduuuh .... Loro iki lho, Mas! Ah Mas Jo iku usil koyo Mas Aldin!(Aduuuh ... Sakit ini lho, Mas! Ah Mas Jo usil seperti Mas Aldin!)" sungut Erika mencebikkan bibirnya.
"Kalau cemberut gitu malah tambah gemeske lho," sahut Jo yang semakin mengeraskan cubitannya.
Erika memberontak, ia memukul-mukul tangan Jo yang usilnya tidak karuan.
"Hahaha." Jo tertawa sambil melepas cubitannya.
"Sakit ikii, Mas!" omel Erika sambil mengelus-elus pipinya.
"Maaf, Maaf," sahut Jo.
Mereka diam sejenak.
"Kamu udah lama pacaran sama si pacar kamu itu?" Jo mulai pembicaraan.
"Dua tahunan, Mas. Namanya Mas Sofyan, dia Polisi di Semarang."
"Wah ... Keren dong, Rik. Terus kapan kamu mau nikah?" Jo menjadi kepo.
"Mas Sofyan sich udah ngebet pingin nikah, Mas. Tapi aku Ndak mau. Masih pingin buru cita-citaku. Pingin kuliah sama jadi penulis sukses."
"Itu masih bisa kamu wujudtin meski kamu udah nikah kok, Rik. Tapi tergantung suamimu juga sich apakah dia mendukung atau enggak. Kalau suamimu nggak dukung ya nggak akan bisa kamu capai."
"Mas Sofyan itu Ndak suka aku nulis, Mas. Dia ngijinin aku kuliah, tapi Ndak ngijinin aku jadi penulis. Padahal nulis itu hidupku lho, Mas." Raut wajah Erika menjadi lesu saat mengingat jika Sofyan antipati dengan hobby dan pekerjaannya itu.
Jo mengelus-elus punggung Erika. Memberi support karena ia tahu wanita itu sedang sedih saat ini.
"Ya udah, pilihan kamu udah bener kok. Gapai dulu cita-cita kamu! Banggain Ibu kamu, Rik! Itu yang paling penting. Jodoh itu sudah diatur, orak usah khawatir! (Tidak usah khawatir!)" Jo menasehati Erika dengan pemikirannya yang dewasa.
"Hiks ... Hiks ... " Erika menangis.
"Eee ... Lha dalah! Malah nangis. Paijem tenan! Wes Ndak usah nangis! Tak cokot lho malahan (Tak gigit lho malahan)." Jo mendiamkan Erika dengan Bahasa Jawa yang dicampur dengan Bahasa Indonesia. Logatnya dibuat menjadi medok, tapi malah lucu apabila didengar. Medok yang ke Jakartaan jadinya.
"Mas Jo itu lho," kata Erika menangis campur tertawa.
"Nangis dulu baru ketawa!" tegur Jo. Ia terkekeh melihat adik dari sahabatnya yang begitu lucu menurutnya..
"Aku itu kangen sama Ibuku, Mas." Erika menjelaskan apa yang membuatnya menangis.
"Kalau kangen kan bisa Video call, Rik. Jaman serba canggih, yang jauh berasa dekat."
"Hapenya ibuku masih jadul, Mas. Ndak bisa buat video call," ujar Erika sambil menyeka air matanya.
"Oalah, ya udah telpon dulu aja kalau gitu. Sabar ya, Rik! Ntar aku kasih ijin kamu pulang kalau beneran udah nggak tahan Pingin ketemu ibumu."
"Yang benar, Mas?" tanya Erika dengan mata berbinar.
"Iya, Rik. Aku nggak tega-tega amat sama adiknya sahabat aku sendiri. Kamu juga udah aku anggap adikku kok. Santai aja!"
Ya Allah, Mas Jo itu beneran baik lho. Beruntung banget pokoknya Mbak Caca bisa dapatin calon suami seperti Mas Jo. Kata Erika dalam hati. Dia semakin dibuat kagum saja dengan lelaki yang kini ada di hadapannya ini.