Bu Mei membaca pesan Erika setelah selesai membereskan meja. Putrinya memberi kabar bahwa hubungan dengan Jo sudah dibicarakan lebih jelas, lalu menambahkan bahwa dirinya akan mencari waktu pulang setelah jadwal pekerjaan diperiksa.
Perempuan itu meletakkan ponsel, menatap kursi yang biasanya digunakan Aldin saat masih sering berada di rumah. Dalam beberapa hari ke depan, putranya akan duduk di sana bersama perempuan yang selama ini lebih banyak dikenal melalui akibat perbuatannya.
Bu Mei telah menyetujui kunjungan. Persetujuan itu diberikan setelah Aldin menelepon sendiri, mendengar syarat bahwa pembicaraan dapat dihentikan jika Ibu terlalu lelah. Dia meminta mereka datang pada waktu yang telah ditentukan, tidak membawa orang lain, dan tidak berharap satu pertemuan akan membuat seluruh keluarga kembali seperti dulu.
Aldin menyetujui. Caca juga memberi pesan singkat, mengatakan akan mengikuti waktu yang dipilih. Bu Mei tidak membalas dengan kalimat hangat yang belum sanggup diberikan. Dia hanya memastikan pesan telah diterima.
Hari kunjungan tiba bersama udara yang cukup panas. Perempuan itu membuka jendela, memeriksa gelas, lalu menyadari dirinya sudah memindahkan alas meja tiga kali. Tidak ada yang berubah pada meja, kecuali tangannya terlalu sibuk mencari sesuatu yang dapat diatur.
Ketika suara kendaraan terdengar, Bu Mei berhenti. Dia berdiri di dekat pintu, menarik napas, lalu membuka sebelum Aldin mengetuk untuk kedua kalinya.
"Bu."
Putranya menunduk, menyapa, kemudian memberi ruang bagi Caca yang berdiri beberapa langkah di belakang. Perempuan itu mengenakan pakaian sederhana, memegang tas dengan kedua tangan. Rambutnya tersusun rapi, tetapi wajahnya menunjukkan bahwa perjalanan bukan hal yang paling membuat lelah.
"Selamat siang, Bu. Saya Caca."
Bu Mei mengangguk. "Masuk."
Tidak ada pelukan. Caca menerima tanpa mengulurkan tangan terlalu jauh, berjalan setelah Aldin, lalu duduk pada tempat yang ditunjuk. Tas diletakkan di dekat kaki, bukan di kursi kosong seolah dirinya sudah hafal kebiasaan rumah.
Aldin membawa sesuatu untuk Ibu. Bu Mei meminta diletakkan di meja samping, mengatakan tidak perlu dibuka sekarang. Putranya menurut, kemudian kembali duduk.
Percakapan pertama mengenai perjalanan. Bu Mei menanyakan apakah mereka sudah makan. Caca menjawab belum, tetapi segera menambahkan bahwa mereka tidak datang untuk membuat Ibu menyiapkan banyak hal. Kalimat tersebut keluar terlalu cepat, membuat perempuan yang lebih tua itu memandangnya sebentar.
"Kalau lapar, bilang lapar. Tidak semua jawaban perlu dibuat supaya terdengar pantas."
Caca terdiam, lalu mengangguk. "Iya, Bu. Kami belum makan."
Bu Mei berdiri, mengambil makanan yang memang telah disiapkan untuk dirinya juga. Aldin ikut membantu setelah bertanya apa yang boleh dibawa. Tidak ada benda yang mendadak dipindahkan menurut ingatan lama tanpa memastikan Ibu masih meletakkannya pada tempat yang sama.
Mereka makan dengan lebih banyak sunyi daripada percakapan. Caca menerima porsi secukupnya, mengucapkan terima kasih, dan tidak menggunakan makanan sebagai kesempatan memuji rumah terlalu panjang. Bu Mei memperhatikan cara perempuan itu mengikuti ritme, merasa sedikit lega karena tidak harus menghadapi keramahan yang memaksa dirinya ikut tersenyum.
Setelah selesai, Aldin membawa piring ke dapur. Caca menawarkan bantuan, tetapi Bu Mei meminta menunggu. Perempuan tersebut duduk kembali dan memandang pintu dapur, seolah ingin memastikan Aldin segera hadir sebelum pembicaraan menjadi berat.
Bu Mei melihat gerakan itu.
"Saya ingin mendengar dari kamu juga," ujarnya. "Bukan hanya dari Aldin."
Caca melepaskan pegangan pada tali tas. "Saya tahu, Bu."
Aldin kembali, duduk di sisi yang tidak terlalu dekat. Bu Mei mengusap telapak tangan pada pangkuan, lalu mulai berbicara dengan suara yang lebih pelan daripada yang dibayangkan putranya.
"Saya tidak meminta kalian menceritakan setiap hal yang terjadi. Saya sudah mendengar cukup untuk tahu ada banyak kesempatan mengatakan yang sebenarnya sebelum orang lain disakiti."
Caca mengangguk. Aldin menunduk sebentar.
"Yang saya ingin tahu, apakah kalian datang supaya saya merasa harus membela pilihan itu?"
"Tidak, Bu," jawab Aldin.
Caca menarik napas. "Saya tidak akan meminta Ibu mengatakan cara kami pergi benar. Memang tidak benar."
Bu Mei menatap perempuan tersebut. Jawaban itu tidak menghapus kemarahan, tetapi memberi awal yang tidak memaksanya berdebat mengenai kenyataan.
"Kamu menikah dengan Jo. Lalu pergi bersama anak saya pada malam yang sama. Itu bukan hanya urusan dua orang yang akhirnya mau bersama."
"Iya."
"Saya tidak tahu semua yang kamu takutkan waktu itu. Tapi jangan meminta saya menyebut ketakutan sebagai alasan orang lain harus menerima akibatnya."
Caca mengangguk lagi. Matanya mulai basah, tetapi dia tidak menutup wajah agar Bu Mei harus menghentikan kalimat untuk menghibur.
"Saya pernah berpikir kalau saya memilih dengan cara yang lebih berani, semua akan lebih cepat selesai," katanya. "Saya tidak mau menggunakan pikiran itu lagi. Yang cepat waktu itu cuma kami pergi. Urusan orang lain justru menjadi panjang."
Aldin memandangnya. Caca tidak menoleh untuk memastikan jawabannya disetujui. Untuk pertama kalinya sejak masuk, dia bicara langsung kepada Ibu tanpa menunggu putranya menjadi pelindung.
Bu Mei diam beberapa saat. Dari luar, terdengar suara orang lewat yang tidak mengetahui percakapan di dalam rumah. Kehidupan di jalan tetap biasa, membuat perempuan tersebut sadar dirinya tidak perlu menyelesaikan semuanya sebelum sore hanya karena dua tamu sudah datang jauh-jauh.
"Erika sampai merasa harus menjelaskan bahwa dia tidak tahu," ujarnya. "Anak saya yang lain ikut menanggung sesuatu yang tidak dipilihnya."
Aldin mengangkat wajah. "Itu juga kesalahanku, Bu. Aku tahu dia percaya. Aku tetap menyembunyikan."
"Jangan sekarang kamu menjawab setiap kali Caca ditanya, seolah kalau semua disebut kesalahanmu, saya akan lebih mudah menerima dia. Saya tahu kalian berdua membuat keputusan."
Putranya terdiam, lalu mengangguk. Caca mengusap satu sisi mata dengan tisu yang diambil dari tas sendiri.
"Saya tidak ingin Erika disalahkan," katanya. "Tapi waktu itu saya juga tidak mengerjakan apa pun supaya dia tidak terkena. Saya tidak bisa meminta maaf kepada Ibu seolah kalimat saya akan memperbaiki hubungan dia dengan semua orang."
Bu Mei menerima jawaban tersebut dengan diam. Dia tidak menuntut Caca menelepon Erika saat itu juga, dan tidak memberi nasihat agar Jo memaafkan. Orang-orang yang telah disakiti mempunyai percakapan masing-masing, yang tidak dapat digantikan oleh persetujuan seorang ibu.
Aldin kemudian menjelaskan kehidupan yang sedang mereka bangun. Pekerjaan, tempat tinggal, dan rencana yang belum mempunyai waktu pasti. Dia tidak meminta uang. Tidak pula menyebut akan membawa Erika sebagai saksi bahwa semuanya sudah lebih baik.
Bu Mei mengajukan beberapa pertanyaan praktis. Apakah mereka sudah membicarakan tanggung jawab masing-masing? Apakah ketidakpastian pekerjaan menjadi sesuatu yang ditangani, bukan disembunyikan sampai orang lain harus memberi jalan keluar?
Caca menjawab bagian yang memang diketahui. Ketika ada yang belum pasti, dia mengatakan belum. Aldin tidak memperindah dengan janji bahwa minggu depan semua akan beres.
Bu Mei kemudian menanyakan hubungan Caca dengan keluarganya sendiri. Perempuan itu mengaku masih ada pembicaraan yang sulit, terutama ketika ayahnya berharap sesuatu dapat diperbaiki dengan bentuk yang berbeda dari keputusan yang sudah dibuat.
"Saya tetap harus mendengar," katanya. "Tapi saya juga harus mengatakan pilihan saya sendiri. Dulu saya meminta semua orang percaya sambil berharap tidak perlu menghadapi pertanyaan."
Aldin mengangguk, lalu mengatakan mereka tidak lagi ingin memberi janji berbeda kepada keluarga masing-masing agar suasana lebih tenang untuk sementara.
Bu Mei memandang putranya. "Kalau kalian berbeda pendapat nanti, jangan langsung mencari orang lain untuk menutupi perbedaan. Kamu dulu bisa mengatakan satu hal kepada Kirana, hal lain kepada orang yang kamu ingin temui. Saya tidak mau mendengar itu dianggap kepandaian mengatur keadaan."
Aldin menunduk. Nama Kirana membuat suasana kembali berat, tetapi Bu Mei tidak menggunakannya untuk membandingkan siapa perempuan yang lebih pantas duduk di rumah.
"Saya tidak menanyakan dia supaya Caca merasa harus menggantikan," lanjutnya. "Saya menanyakan karena ada kebiasaanmu yang menyakiti orang, dan kebiasaan tidak hilang hanya karena pasangan berubah."
"Iya, Bu."
Caca memandang Aldin, kemudian kembali kepada perempuan di depannya. Dia mengatakan tidak ingin hubungan mereka menjadi alasan untuk melupakan bagaimana mereka sampai di sana. Jika ada yang sulit, dia ingin dibicarakan sebelum berubah menjadi sesuatu yang disembunyikan lagi.
Bu Mei mendengar tanpa memberi jaminan. Kata-kata hari ini dapat menjadi awal, tetapi yang akan dilihat nanti adalah tindakan yang mungkin tidak pernah disaksikannya langsung.
Perempuan tersebut mengambil air, meminum perlahan. Caca menunggu, tidak segera bertanya apakah jawaban tadi membuat Ibu merasa lebih baik. Ada sedikit ruang dalam sunyi itu: ruang bagi Bu Mei untuk masih marah, dan bagi kedua tamunya untuk tetap mendengar tanpa mengubah marah tersebut menjadi sesuatu yang harus cepat diperbaiki.
Pembicaraan berlangsung sampai Bu Mei merasa lelah. Perempuan itu mengubah posisi duduk, memegang gelas yang sudah kosong, lalu mengatakan ingin berhenti dulu.
Aldin segera mengangguk. Caca juga. Keduanya tidak menggunakan jeda sebagai kesempatan meminta keputusan mengenai hubungan, pernikahan baru, atau kunjungan berikutnya.
"Saya menerima kalian duduk di rumah hari ini," kata Bu Mei setelah menarik napas. "Saya belum bisa mengatakan senang dengan semuanya. Saya juga belum tahu kapan mau membicarakan lagi."
"Iya, Bu," jawab Caca.
Aldin mengangguk, lalu membantu membawa gelas setelah meminta izin. Di dapur, dia menemukan wadah yang retak sedikit pada tutup. Tangannya hampir mengambil seperti kebiasaan dulu, tetapi dia berhenti dan bertanya apakah Ibu ingin diganti.
"Masih bisa dipakai," jawab Bu Mei. "Jangan membuat setiap benda jadi urusan baru hari ini."
Putranya tersenyum tipis, menyimpan kembali. Bantuan yang diberikan tidak perlu berubah menjadi proyek untuk membuktikan bahwa dirinya tetap anak yang baik.
Ketika berpamitan, Caca berdiri dengan wajah lebih pucat daripada saat datang. Dia mengucapkan terima kasih karena telah diberi kesempatan berbicara, lalu menambahkan permintaan maaf yang singkat dan langsung.
Bu Mei mengangguk. Tidak ada kalimat bahwa semuanya dimaafkan. Perempuan tersebut hanya meminta mereka menjaga kabar dan tidak menjadikan Aldin satu-satunya orang yang menjawab jika nanti ada pembicaraan lagi.
Caca menyetujui. Aldin menunduk, mencium tangan Ibu, lalu keluar bersama perempuan yang dipilihnya. Bu Mei berdiri di pintu sampai mereka berangkat, kemudian kembali masuk dan duduk pada kursi yang tadi tidak dipakai.
Rumah terasa sunyi. Dia melihat gelas di meja, mengingat cara Caca menahan air mata, dan masih merasakan marah pada kejadian yang tidak dapat diperbaiki dengan perjalanan sekali ke Semarang.
Namun, dia telah mendengar jawaban langsung. Tidak seluruhnya baik, tidak seluruhnya pasti. Setidaknya tidak lagi hanya kabar yang diteruskan melalui anak perempuan yang selama ini terlalu sering diminta berada di tengah.
Sebelum mengambil ponsel, Bu Mei merapikan dua kursi yang tadi dipakai. Salah satunya bergeser sedikit, meninggalkan bekas pada alas lantai. Dia mengembalikannya, lalu berhenti di dekat foto suaminya.
Ada banyak hal yang ingin diceritakan, termasuk betapa melelahkan mendengar anak mengakui kesalahan tanpa dapat langsung memperbaiki semuanya. Perempuan itu berdiri beberapa saat, kemudian kembali ke meja. Hari belum selesai. Dia masih perlu menyiapkan makan untuk dirinya sendiri, sesuatu yang tidak boleh terus dilupakan hanya karena rumah baru saja menerima percakapan berat.
Bu Mei menelepon Erika setelah beristirahat. Putrinya menjawab dari kamar, dengan bunyi papan ketik yang segera berhenti.
"Sudah datang, Bu?"
"Sudah. Mereka baru pergi."
Erika mendengar, tidak langsung menanyakan apakah Ibu akhirnya menerima. Bu Mei menceritakan yang ingin dibagi, berhenti ketika ada bagian yang terlalu lelah diulang, dan mengatakan bahwa pertemuan cukup untuk hari itu.
"Ibu baik-baik saja sekarang?" tanya gadis itu.
"Capek. Tapi Ibu tahu boleh berhenti. Mereka juga berhenti."
Erika mengangguk, memandang jendela kamar yang mulai gelap. Dia tidak menawarkan menelepon Aldin untuk menjelaskan maksud Ibu. Kali ini, kakaknya harus menerima jawaban yang telah didengar sendiri.
Mereka berbicara sebentar tentang makan malam dan kamar, lalu menutup dengan janji bahwa Erika akan memberi kabar mengenai waktu pulang. Setelah itu gadis tersebut melihat pesan pekerjaan yang datang melalui alamat yang pernah diberikan kepada Arya.
Permintaannya cukup jelas untuk dibaca, tetapi belum cukup untuk disetujui. Erika mencatat pertanyaan mengenai jenis tulisan, waktu, dan hasil yang diharapkan. Dia menyimpan, berencana membalas pagi ketika dapat memeriksa dengan kepala lebih segar.
Jo menelepon sesuai waktu yang sudah mereka cocokkan. Gadis itu mengatakan Ibu baru menerima kunjungan Aldin dan Caca, tanpa menceritakan seluruh percakapan yang bukan miliknya.
Lelaki tersebut diam sesaat, kemudian menanyakan kabar Bu Mei.
"Capek. Tapi Ibu sudah bicara yang ingin dikatakan."
"Semoga bisa istirahat malam ini."
Erika mengembuskan napas. Dia tidak perlu memastikan Jo ikut senang karena pertemuan terjadi. Lelaki tersebut juga tidak meminta kabar yang dapat dipakai menilai apakah Aldin sudah cukup menyesal.
Percakapan mereka beralih kepada pekerjaan dan makan sore. Jo mengaku hampir melewatkan waktu karena ada urusan yang belum selesai, tetapi telah mengirim pesan lebih dahulu agar Erika tidak menunggu tanpa kabar.
Gadis itu bercerita mengenai permintaan kerja baru. Jo menanyakan apakah bentuknya cocok, mendengar beberapa hal yang masih harus diperjelas, lalu mengatakan dirinya senang Erika mulai mendapat pintu yang ingin dicari.
Setelah telepon ditutup, Erika membuka catatan perjalanan ke Semarang. Dia ingin pulang sebagai anak yang menemui Ibu, membawa kabar hidupnya sendiri. Bila Jo ikut, kunjungan itu harus mempunyai maksud yang jelas, tanpa menjadi tanggapan keluarga terhadap siapa yang baru saja duduk di dua kursi ruang tamu.