Erika menatap dua tanggal yang telah ditandai. Salah satunya masih bertabrakan dengan pekerjaan Jo, sedangkan yang lain cukup jauh untuk memberi waktu menyelesaikan pemeriksaan naskah. Dia memilih yang kedua, menelepon Ibu, lalu menanyakan apakah Bu Mei bersedia menerima tamu pada hari tersebut.
"Jo ingin datang untuk bertemu Ibu," katanya. "Aku juga ingin mengenalkan dia dengan maksud yang sekarang."
Bu Mei diam sebentar sebelum bertanya mengenai waktu tiba dan rencana pulang. Perempuan itu tidak memanggil Aldin agar ikut duduk, tidak pula meminta Caca datang untuk membuktikan semua orang dapat berada di satu ruangan.
"Ibu bisa menerima," jawabnya. "Kamu pulang lebih dahulu atau bersama?"
Erika menjelaskan rencana perjalanan, menambahkan bahwa Jo telah mengatur tempat menginap sendiri. Dia akan tinggal di rumah Ibu, menggunakan kamar yang masih terasa miliknya meskipun kini telah memiliki alamat kerja di Jakarta.
Setelah waktu disepakati, gadis tersebut memberi kabar kepada Jo. Lelaki itu segera memeriksa lagi jadwal sebelum mengatakan bisa. Beberapa pekerjaan memang perlu diselesaikan lebih awal. Dia tidak ingin datang sambil menerima panggilan panjang yang membuat tuan rumah merasa hanya mendapat sisa perhatian.
Persiapan perjalanan mengungkap sesuatu yang tidak disangka Erika: Jo dapat gugup dengan cara yang cukup lucu. Lelaki itu bertanya tiga kali mengenai makanan yang disukai Bu Mei, kemudian mengaku tidak tahu apakah membawa terlalu banyak justru membuat dirinya terlihat sedang membeli kesan.
"Bawa yang memang bisa dinikmati," jawab Erika. "Jangan sesuatu yang membuat Ibu perlu mencari tempat baru di rumah."
"Jadi bukan barang besar."
"Mas tadi mempertimbangkan apa?"
Jo menyebut satu kemungkinan yang membuat Erika tertawa. Dia segera menggeleng, mengatakan Ibu tidak sedang kekurangan peralatan dan pertemuan pertama bukan kesempatan mengubah dapur.
Lelaki tersebut akhirnya memilih sesuatu yang sederhana, lalu berhenti menanyakan ulang ketika gadis itu mengatakan sudah cukup. Dia juga tidak meminta daftar jawaban yang dapat membuatnya lolos dari semua pertanyaan Ibu.
Hari perjalanan tiba setelah beberapa hari yang penuh pekerjaan. Erika membawa tas yang tidak terlalu besar, memastikan berkas yang masih dibutuhkan dapat diakses tanpa membawa semua buku. Jo menemuinya pada waktu yang dijanjikan, dengan wajah sedikit lelah tetapi mata yang langsung mencari ketika gadis itu muncul.
"Mas tidur cukup?"
"Cukup. Mas Ammar mengingatkan kalau aku terus memeriksa tas, besok aku justru lupa membawa diri sendiri."
Erika tertawa. Mereka berangkat, menempatkan barang dengan rapi, lalu menghabiskan sebagian perjalanan dengan percakapan ringan. Jo bertanya tentang jalan menuju rumah, tetapi gadis itu segera mengetahui pertanyaan sebenarnya ada di tempat lain.
"Mas takut Ibu tidak suka?"
Lelaki tersebut memandangnya. "Aku tahu ada alasan kalau beliau perlu waktu."
"Ibu akan menanyakan yang ingin diketahui. Aku tidak bisa menjanjikan tidak ada yang berat."
"Aku tidak meminta kamu menjanjikan."
Erika mengangguk, kemudian mengulurkan tangan. Jo menerimanya, menggenggam sebentar sebelum keduanya kembali mengatur posisi duduk. Gadis itu tidak ingin mempersiapkan ibunya sebagai ujian yang harus dilewati. Dia juga tidak ingin membuat Jo merasa semua dapat dihindari jika dirinya cukup pandai membela.
Ketika sampai di Semarang, udara terasa berbeda meskipun panas masih ada. Erika melihat jalan yang dikenal, merasa tubuhnya mengingat arah sebelum pikirannya memberi nama. Jo lebih banyak melihat keluar, mendengar ketika gadis itu menunjuk tempat yang dahulu sering dilewati bersama Ayah atau Ibu.
Rumah Bu Mei tampak biasa dari depan. Pintu dibuka sebelum Erika sempat mengetuk lama. Ibunya berdiri, tersenyum ketika melihat putri, lalu memeluk dengan kedua tangan.
Erika membalas, menahan tas agar tidak menekan sisi tubuh Ibu. Beberapa detik itu membuatnya kembali menjadi anak yang pulang, bukan penulis yang harus menjawab pesan dan menentukan semua sendiri.
Jo menunggu satu langkah di belakang. Ketika Bu Mei melepaskan pelukan, dia memberi salam, menyebut nama lengkap, lalu menyerahkan bawaan setelah diizinkan.
"Saya Johan Adyasta, Bu. Terima kasih sudah bersedia menerima."
Perempuan itu mengangguk. "Masuk, Jo. Erika sudah cerita."
Lelaki tersebut mengikuti, melepas alas kaki pada tempat yang ditunjuk, dan duduk setelah Ibu mempersilakan. Ruang tamu tidak membuat orang dapat bersembunyi jauh dari percakapan. Bu Mei duduk pada jarak yang cukup dekat untuk melihat wajah tamu tanpa harus meninggikan suara.
Erika menaruh tas di kamar, lalu kembali membantu membawa minum. Jo hendak berdiri, tetapi berhenti ketika Ibu mengatakan cukup duduk dahulu. Gadis itu meletakkan gelas, tersenyum singkat kepada lelaki yang terlihat lebih tegak daripada biasanya.
Percakapan pertama mengenai perjalanan dan rumah Jack. Bu Mei menanyakan kabar Daddy serta orang-orang yang selama ini membantu Erika. Jo menjawab yang diketahui, tidak menceritakan seluruh hubungan keluarga seolah sedang memberikan laporan resmi.
Ketika Erika masuk sebentar untuk mengambil sesuatu, Bu Mei memandang tamunya.
"Saya tahu kamu pernah menyalahkan Erika atas perbuatan Aldin," ujarnya.
Jo menelan, meletakkan gelas. "Iya, Bu. Saya melakukannya."
"Dia mengatakan kamu sudah meminta maaf."
"Sudah. Tapi saya tidak menganggap itu membuat kejadian tersebut hilang."
Bu Mei mendengarkan. Jo tidak menambahkan bahwa dirinya sangat terluka untuk membuat Ibu segera menimbang kedua sisi. Perasaan sakitnya memang ada, tetapi bukan alasan membebankan kesalahan kepada perempuan yang saat itu juga baru mengetahui.
"Saya tidak akan menjawab untuk Aldin," kata Bu Mei. "Dia sudah datang sendiri dan mendengar yang perlu saya katakan. Hari ini saya menanyakan tentang anak saya yang perempuan."
Jo mengangguk. "Saya mengerti."
"Kalau nanti ada hal dari keluarga kami yang membuat kamu tidak nyaman, apakah Erika harus takut menjadi tempat kemarahan lagi?"
Lelaki tersebut diam sesaat. Dia ingin menjawab tidak akan pernah marah, tetapi kalimat itu terlalu mudah dan tidak benar bagi siapa pun yang hidup bersama orang lain.
"Saya tidak bisa menjanjikan tidak pernah marah, Bu. Saya bisa memastikan saya tidak berhak menuduh Erika karena hubungan keluarganya. Kalau saya melakukan kesalahan lagi, saya harus mendengar ketika dia mengatakan, bukan meminta dia diam supaya saya terlihat baik."
Bu Mei menatap cukup lama. Ketika Erika kembali, perempuan itu tidak langsung mengubah topik seolah percakapan tadi harus disembunyikan. Dia memberi tahu bahwa dirinya sedang menanyakan sesuatu yang putrinya sudah pernah ceritakan.
Gadis itu duduk, mendengar jawaban terakhir Jo. Ada rasa lega karena Ibu tidak meminta dirinya mengulang malam pernikahan secara rinci di depan lelaki tersebut.
"Aku ingin dekat sama Mas Jo, Bu," ujarnya. "Aku juga ingin Ibu tahu aku masih punya pekerjaan dan tempatku sendiri."
Bu Mei mengangguk. "Ibu melihat. Kamu tidak pulang untuk menyerahkan pilihan agar Ibu yang membuat."
Erika tersenyum kecil. Perempuan tersebut lalu menanyakan rencana mereka sekarang. Jo mengatakan ingin mengenal Erika dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak membawa tanggal pernikahan yang belum pernah mereka sepakati.
Jawaban itu membuat suasana sedikit melunak. Bu Mei meminta mereka makan sebelum percakapan menjadi terlalu panjang. Erika bangkit membantu, lalu Jo ikut setelah diberi pekerjaan yang jelas: membawa piring, bukan memeriksa semua isi dapur.
Di meja makan, lelaki itu duduk pada kursi yang sudah ditunjuk. Ada lauk sederhana yang membuat Erika langsung tersenyum karena tahu Ibu sengaja memilih yang disukai. Jo mencoba, mengatakan enak, lalu menerima tambahan setelah Bu Mei menanyakan apakah masih ingin.
"Kalau tidak, bilang saja," ujar perempuan itu. "Erika kadang mengira orang harus kenyang sekali sebelum boleh berhenti."
"Bu," protes gadis itu, malu.
Jo tertawa. "Sekarang saya yang biasanya ditanya apakah benar sudah makan."
Bu Mei ikut tersenyum. Percakapan mulai bergerak pada kebiasaan, bukan hanya peristiwa yang membuat tiga orang tersebut perlu berhati-hati. Erika bercerita tentang kamar baru, rak buku yang belum sepenuhnya rapi, dan bagaimana Jo menemukan bahwa semua kertas di meja tidak dapat disebut tertinggal.
Setelah makan, mereka membereskan bersama. Bu Mei meminta Jo menaruh beberapa benda pada tempat tertentu, lalu tertawa ketika lelaki itu hampir mengambil wadah yang sama dengan Aldin pada kunjungan sebelumnya.
"Yang itu tidak perlu dipindah."
Jo berhenti, mengangguk. Erika menunjukkan tempat lain, dan pekerjaan selesai tanpa dirinya harus menjadikan kesalahan kecil sebagai pertanda buruk.
Menjelang sore, Erika meminta waktu berjalan sebentar di sekitar rumah. Bu Mei menyetujui, menitipkan satu kebutuhan yang dapat dibeli jika tempatnya masih buka. Jo mengikuti gadis itu keluar, meninggalkan pakaian luarnya agar tidak terlalu panas.
Jalan tersebut menyimpan banyak hal yang tidak tampak penting bagi orang lewat. Erika menunjuk tempat dia pernah berhenti bersama Ayah, lalu sudut yang biasa dipakai Ibu menunggu ketika mereka pergi bersama. Beberapa sudah berubah, membuat gadis itu berhenti dan mencari penanda lama yang ternyata tidak ada.
"Aku sempat mengira bisa menunjukkan semua tanpa salah," katanya.
"Kamu tidak harus mengingat jalan seperti peta."
"Tapi aku sudah bilang di situ ada sesuatu. Sekarang malah tidak ada."
Jo tertawa, mengatakan pernah membawa Ammar ke tempat yang diyakininya sama lalu menyadari pintu masuk telah pindah. Kakaknya membiarkan dia berjalan cukup jauh sebelum memberi tahu.
Erika ikut tertawa. Mereka menemukan tempat yang dituju Ibu, membeli sesuai titipan, lalu berjalan kembali dengan satu kantong kecil. Jo membawanya setelah gadis itu menyerahkan, tidak memperbesar belanja menjadi hadiah untuk seluruh rumah.
Di depan pagar, Erika berhenti sebentar. Dari luar, dia dapat melihat sisi jendela kamar yang pernah menjadi tempat menulis begitu banyak adegan.
"Aku dulu ingin pergi supaya punya lebih banyak yang bisa ditulis," ujarnya. "Sekarang pulang juga membuatku ingin menulis."
Jo melihat arah pandangnya. "Mungkin karena sekarang kamu tahu rasanya berada di luar."
Gadis itu mengangguk. Dia membuka pintu, memanggil Ibu, lalu menaruh titipan pada tempat yang ditunjuk. Perjalanan singkat tersebut membuat rumah terasa lebih luas daripada ruang tamu tempat Jo pertama duduk dengan gugup.
Sore hari, Bu Mei beristirahat sebentar. Erika mengajak Jo duduk di bagian rumah yang lebih sejuk. Dia membawa buku catatan lama yang pernah ditunjukkan Ibu ketika kunjungan sebelumnya, lalu membuka satu halaman setelah berpikir.
"Ini tulisan yang dulu dibaca Ayah," katanya.
Jo menatap tulisan tangan yang memenuhi halaman. Ada kalimat dicoret, nama tokoh diganti, dan satu pertanyaan kecil di tepi yang bukan ditulis Erika.
"Ayah menanyakan yang ini?"
Gadis itu mengangguk. "Dia bingung dua tokoh punya nama mirip. Aku dulu kesal karena merasa itu tidak penting. Sekarang aku juga akan bingung kalau membacanya."
Jo tersenyum. Dia tidak mengambil buku tanpa izin. Setelah Erika menyerahkan, dia membaca bagian pendek yang ditunjuk, lalu mengembalikan dengan hati-hati.
"Dia membaca sampai bertanya."
"Iya. Tidak selalu mengerti kenapa aku senang menulis, tapi dia mau mencoba."
Erika memandang halaman tersebut. Rindu muncul tanpa membuat dirinya ingin mengubah percakapan menjadi sesuatu yang harus segera dihibur. Jo duduk di samping, menunggu, kemudian menerima ketika gadis itu menyandarkan kepala sebentar pada bahunya.
Mereka tetap begitu beberapa saat. Tidak ada janji bahwa lelaki tersebut dapat menggantikan siapa pun yang telah hilang. Kehadirannya cukup menjadi seseorang yang tidak buru-buru memindahkan rindu ke topik lebih mudah.
Ketika Bu Mei keluar lagi, Erika sudah menutup buku. Perempuan itu melihat keduanya duduk, menanyakan apakah ingin minum, lalu menaruh satu gelas tambahan di meja. Gerakan tersebut membuat Jo merasa diterima dalam bentuk kecil yang tidak perlu disebut sebagai persetujuan atas seluruh masa depan.
Menjelang malam, dia berpamitan untuk menuju tempat menginap. Bu Mei menanyakan rencana besok, mengatakan mereka dapat datang makan jika waktu sesuai. Jo mengucapkan terima kasih, memastikan tidak mengganggu jadwal, lalu keluar bersama Erika yang mengantar sampai depan.
"Mas tadi terlalu tegang," ujar gadis itu setelah pintu berada di belakang mereka.
"Aku masih bisa merasakan punggungku duduk tegak."
Erika tertawa, mengulurkan tangan. Jo menerimanya, lalu memandang wajah yang tampak lebih ringan di depan rumah sendiri.
"Terima kasih sudah mengenalkan aku."
"Terima kasih sudah menjawab Ibu sendiri."
Lelaki itu mengangguk. Mereka melepaskan tangan ketika waktunya berangkat. Erika menunggu sampai Jo pergi, kemudian kembali masuk dan menemukan Bu Mei sedang menutup wadah makanan.
"Bagaimana, Bu?" tanyanya pelan.
Perempuan tersebut memandang putri, berpikir sebelum menjawab.
"Ibu sudah bertemu. Sekarang Ibu bisa mengenal lebih dari cerita kejadian buruk. Itu belum berarti Ibu tahu semuanya, tetapi lebih baik daripada terus membayangkan."
Erika mengangguk, mendekat untuk membantu. Malam itu mereka duduk bersama setelah dapur rapi. Putrinya bercerita tentang pekerjaan baru yang masih dibicarakan, dan Bu Mei mendengar sambil sesekali menanyakan hal sederhana.
Di tempat menginap, Jo membaca pesan bahwa Erika sudah masuk dan ingin berbicara bersama Ibu sebentar lagi. Dia membalas, meletakkan ponsel, lalu menyandarkan kepala dengan napas yang akhirnya terasa panjang.
Pertemuan hari itu tidak memberinya jaminan bahwa semua akan mudah. Namun, dia telah memasuki rumah yang menyimpan kehidupan Erika sebelum dirinya, dan tidak lagi ingin melihatnya hanya sebagai tempat yang harus dikunjungi agar hubungan mendapat jalan cepat.