Jo masih memegang ponsel ketika membaca ajakan Erika untuk kedua kalinya. Besok. Cari makan. Tanpa berkas yang membuat mereka dapat berpura-pura sedang memeriksa pekerjaan.
Dia membuka jadwal, menemukan waktu yang benar-benar kosong, lalu membalas sebelum tangannya tergoda menyusun kalimat terlalu panjang.
"Bisa. Kamu ingin siang atau sore?"
Jawaban Erika datang beberapa menit kemudian. Gadis itu memilih sore karena ingin meneruskan tulisan setelah membereskan kamar. Jo menyetujui, menyebut waktu yang sanggup dipenuhi, kemudian menanyakan apakah dirinya boleh menjemput di tempat yang sama.
"Boleh. Tapi aku yang memilih makanan kali ini."
"Baik. Aku akan menerima keputusan penting itu."
Erika mengirim balasan yang membuat Jo tertawa. Gadis tersebut mengingatkan bahwa menerima pilihan bukan berarti tidak boleh menyebut jika ada makanan yang tidak disukai.
Lelaki itu meletakkan ponsel. Dadanya terasa ringan dengan cara yang belum dikenalnya beberapa minggu lalu. Dia bangkit untuk mengambil air, lalu hampir bertabrakan dengan Ammar yang muncul di pintu.
"Ada apa sampai jalan tidak melihat?"
"Aku melihat. Kamu yang masuk terlalu cepat."
Kakaknya mengangkat alis, lalu memandang ponsel di meja dan wajah adiknya secara bergantian. Jo menyerah sebelum percakapan menjadi terlalu panjang.
"Erika mengajakku makan besok."
Ammar tersenyum. "Dan lo sudah memeriksa kalender supaya tidak datang dengan alasan rapat mendadak?"
"Sudah."
"Bagus. Jangan membawa daftar pertanyaan seperti wawancara."
Jo tertawa, mengatakan dirinya cukup tahu bahwa Erika akan segera mengenali kebiasaan tersebut. Ammar mengambil dokumen yang dicari, lalu keluar setelah mengingatkan satu pekerjaan yang memang harus diselesaikan hari itu. Kabar baik tidak membuat perusahaan berhenti membutuhkan keputusan.
Di kamar barunya, Erika membaca jawaban Jo sambil duduk di lantai. Ada kotak yang belum dibuka, tetapi dua rak sudah berisi buku dan meja dapat digunakan. Dia menarik napas panjang, menatap jendela, lalu menelepon Iccha.
"Gue baru selesai," kata perempuan itu setelah menjawab. "Lo belum tidur?"
"Belum. Aku mau cerita sebentar."
Erika mengatakan bahwa dirinya telah menjawab perasaan Jo. Kalimatnya keluar lebih mudah dibanding malam pertama setelah makan di restoran. Kini dia tidak sedang meminta teman sekamarnya menentukan apakah senang itu dibolehkan.
Iccha diam sesaat, kemudian tertawa pelan.
"Akhirnya lo tidak menyuruh meja menunggu jawaban."
"Mejanya sekarang beda."
"Tetap tidak bisa menjawab."
Keduanya tertawa. Erika bercerita mengenai genggaman tangan di depan pintu, lalu berhenti karena merasa pipinya hangat meskipun tidak ada yang melihat. Iccha tidak mengejek sampai gadis tersebut ingin menarik cerita kembali.
"Gue senang lo mengatakannya karena memang ingin," ujarnya.
"Aku juga. Besok kami mau makan."
"Kalau ada yang tidak enak, jangan pura-pura suka karena sedang bahagia. Nanti seumur hidup pesanannya salah."
Erika tertawa lebih keras. Dia belum sedang memikirkan seumur hidup, tetapi nasihat mengenai makanan jauh lebih mudah diterima daripada daftar kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
Mereka menutup telepon setelah membicarakan wadah Bi Ani yang akan dikembalikan. Erika kemudian mencuci wajah, mematikan lampu utama, dan tidur dengan sebuah janji yang tidak menuntut dirinya selesai memahami semua hal sebelum pagi.
Keesokan harinya dimulai dengan pekerjaan. Gadis itu menulis cukup lama sampai tokoh pada layar akhirnya mengatakan kalimat yang sejak kemarin terus dihindarinya. Setelah membaca ulang, Erika menyimpan, beristirahat, lalu membuka pesan pembaca yang belum ditanggapi.
Ada yang menanyakan kapan kelanjutan muncul. Ada yang menyebut adegan kecil di bab sebelumnya terasa seperti orang sungguhan. Dia menerima keduanya tanpa menjanjikan akan mengirim sesuatu hanya karena sedang punya suasana hati baik.
Menjelang sore, Jo memberi kabar bahwa dirinya berangkat. Erika menutup laptop, mengganti pakaian, dan memeriksa pintu kamar sebelum turun. Dia membawa tas kecil, tanpa map yang biasanya membuat tangan sibuk menahan sudut kertas.
Jo berdiri di dekat kendaraan ketika gadis itu keluar. Matanya mengikuti langkah Erika, kemudian berhenti pada tangannya yang kosong.
"Tidak ada berkas?"
"Mas sudah diberi tahu."
"Aku memastikan."
Erika tersenyum, berjalan mendekat. Ketika Jo membuka pintu, dia mengucapkan terima kasih lalu masuk. Lelaki tersebut tidak membuat gerakan itu menjadi pertunjukan panjang, hanya memastikan gadis itu sudah duduk sebelum kembali ke sisinya.
Tujuan mereka merupakan tempat makan yang pernah dilihat Erika saat mencari kebutuhan kamar. Dia belum pernah mencoba, tetapi menu yang ditempel di depan membuatnya ingin kembali. Jo menerima pilihan tersebut tanpa menyebut tempat lain yang lebih mudah membuatnya dikenal.
Saat tiba, mereka mendapat meja dekat sisi ruangan. Suara percakapan terdengar cukup ramai, tetapi masih memungkinkan bicara tanpa meninggikan suara. Erika membaca menu, memilih, lalu menatap Jo yang belum memberi keputusan.
"Mas bingung?"
"Aku sedang mempertimbangkan apakah mengambil yang sama berarti merusak aturan kamu memilih."
"Aturannya cuma aku memilih tempat. Makanan Mas punya hak sendiri."
Lelaki itu tertawa, lalu menyebut pesanannya. Setelah pelayan pergi, Erika memandang sekeliling dengan rasa puas karena tujuan kecil yang dipilihnya sendiri ternyata dapat dijalani.
Percakapan dimulai dari kamar. Jo bertanya apakah malam pertamanya terlalu sepi. Gadis itu mengaku sempat mendengar setiap bunyi dari luar karena belum hafal mana yang biasa.
"Aku juga terbangun karena lupa letak gelas. Di kamar Iccha tanganku sudah tahu."
"Sekarang sudah?"
"Sudah. Setelah hampir menjatuhkan buku."
Jo tersenyum. Dia menceritakan rumah yang terasa aneh saat tidak melihat Erika turun pagi tadi. Bi Ani sempat bertanya apakah jadwal wawancara berubah, lalu mengingat sendiri bahwa gadis itu sudah pindah.
"Aku tadi hampir memberi dua jawaban berbeda," katanya. "Karena memang jadwalnya berubah, tetapi itu bukan alasan kursimu kosong."
Erika menatapnya. Mendengar dirinya dirindukan tidak lagi terasa seperti ada tagihan yang harus dibayar dengan kembali tinggal di rumah Jack.
"Aku belum sempat kangen sarapan," ujarnya. "Mas sudah membawa aku makan lagi."
"Aku bisa menunggu sampai kamu kangen."
"Jangan. Aku sudah lapar sekarang."
Mereka tertawa, lalu berhenti ketika makanan datang. Erika mencoba lebih dahulu, mengangguk setelah menemukan rasa yang diharapkan. Jo mengikuti dan memberikan pendapat yang tidak sepenuhnya sama. Mereka membandingkan, saling menyodorkan wadah kecil agar yang lain dapat mencoba, lalu tertawa karena akhirnya masing-masing tetap lebih menyukai pilihan sendiri.
Ada satu saat ketika Jo hendak mengatakan sesuatu, tetapi suara dari meja sebelah membuat kalimatnya terputus. Dia menunggu, lalu mencoba lagi.
"Ka, aku ingin memastikan kita menyebutnya dengan hal yang sama."
Erika meletakkan sendok. "Yang mana?"
"Kita sedang mencoba menjadi pasangan?"
Pertanyaan itu sederhana, tetapi membuat gadis tersebut menarik napas sebelum menjawab. Kemarin mereka telah mengatakan suka dan ingin mengenal. Hari ini Jo meminta bentuk yang dapat disebut tanpa harus menebak.
"Iya," jawab Erika. "Aku ingin mencoba itu. Bukan berarti aku sudah punya jawaban tentang semua yang jauh."
"Aku tahu."
Jo tersenyum dengan wajah yang tidak dapat disembunyikan di balik ketenangan rapat. Erika ikut tersenyum, kemudian mengambil sendok kembali karena tidak ingin makanan dingin saat mereka sibuk memandang satu sama lain.
Lelaki itu tertawa. "Aku hampir mengatakan sesuatu yang panjang."
"Simpan untuk sesudah makan."
"Baik."
Mereka menghabiskan makanan tanpa membuat setiap percakapan berikutnya menjadi pernyataan besar. Jo bertanya tentang kebiasaan Erika di Semarang ketika hari terlalu panas untuk menulis. Gadis itu bercerita tentang berpindah ke tempat yang lebih sejuk, membantu Ibu sebentar, lalu kembali ketika kepalanya tidak terlalu penuh.
Jo mengaku kadang memaksakan bekerja karena mengira berhenti akan membuat dirinya kehilangan kecepatan. Erika tidak langsung memberi petuah. Dia hanya bertanya apakah hasilnya selalu lebih baik, membuat lelaki tersebut harus tertawa karena mengetahui jawabannya.
Sebelum meminta tagihan, Erika menunjuk satu bekas coretan pada buku kecil yang dibawanya. Jo semula mengira masih ada catatan pekerjaan, tetapi gadis itu memperlihatkan daftar barang kamar yang hampir semuanya dicoret.
"Yang tersisa cuma ini. Aku selalu lupa kalau sudah di luar."
"Karena kamu melihat hal lain?"
"Karena aku merasa pasti ingat. Lalu yang diingat justru kalimat tokoh."
Jo tertawa, mengaku mempunyai kebiasaan serupa ketika Ammar meminta membawa sesuatu ke rumah. Dia dapat mengingat percakapan rapat lengkap, tetapi benda kecil yang diminta sering tertinggal di meja.
"Mas Ammar pernah marah?"
"Dia memotret benda itu dan mengirim berkali-kali. Sekarang aku merasa setiap melihatnya perlu minta maaf."
Erika tertawa sampai harus menaruh gelas. Jo memperhatikan, menyadari dirinya ingin mengingat bunyi tawa tersebut tanpa menjadikan segala yang dikatakan gadis itu sebagai bahan untuk membuatnya tertawa lagi.
Mereka membicarakan kebiasaan lain yang belum banyak diketahui. Erika suka membaca satu halaman sebelum tidur, tetapi kadang berhenti karena satu kalimat justru membuatnya ingin menulis. Jo lebih sering memeriksa jadwal besok dan merasa baru dapat tidur jika tahu urutan pagi.
"Kalau besok berubah?" tanya gadis itu.
"Aku kesal sebentar. Kadang lebih lama."
"Berarti aku tadi mengubah jadwal Mas dengan mengajak makan."
"Yang ini perubahan yang kusukai."
Erika menunduk dengan senyum kecil. Kalimat itu tidak terlalu pandai, tetapi Jo mengatakannya tanpa terlihat sedang mencari hasil. Dia menyimpan buku ke tas, memastikan daftar yang masih diperlukan ada pada halaman paling depan.
Lelaki tersebut meminta tagihan setelah mereka benar-benar selesai. Keduanya membicarakan pembagian dengan sederhana, menggunakan cara yang sudah dirasa nyaman tanpa membuat pembayaran menjadi perdebatan tentang siapa yang paling mampu. Ketika bangkit, Erika mengambil tas sendiri, sementara Jo memastikan tidak ada benda yang tertinggal pada kursi.
Setelah makan, mereka berjalan sebentar di dekat tempat yang masih ramai. Erika ingin membeli beberapa kebutuhan kecil untuk kamar. Jo ikut membawa satu kantong setelah gadis itu menerima tawarannya, sementara pilihan barang tetap dilakukan sendiri.
Di depan rak, Erika memilih dua benda dengan fungsi sama, mengembalikan yang lebih besar karena tidak cocok diletakkan pada meja. Jo memperhatikan, lalu mengangkat satu barang yang hampir terselip di antara yang lain.
"Yang ini tadi kamu cari?"
"Iya. Terima kasih."
Gadis itu mengambil dari tangannya. Ujung jari mereka bersentuhan sesaat, membuat Erika menunduk terlalu cepat. Jo tidak menggoda di depan orang. Dia hanya tersenyum, mengikuti langkah sampai barang dibayar.
Mereka kembali ke kendaraan ketika langit mulai berubah warna. Dalam perjalanan, Jo menanyakan apakah Erika nyaman jika dirinya memberi tahu Daddy mengenai hubungan yang sedang mereka coba.
Gadis itu berpikir sebentar. "Boleh. Aku sudah bilang kepada Ibu bahwa aku ingin dekat sama Mas. Sekarang ada kalimat yang lebih jelas."
"Aku belum pernah bertemu Ibumu dengan maksud itu."
"Ibu bilang mau bertemu kalau aku siap mengenalkan. Tapi jangan mendadak datang hanya karena malam ini kita sudah mengatakan pasangan."
Jo mengangguk. "Kita atur ketika kamu siap."
Erika menyebut rencana pulang yang masih perlu dicocokkan dengan pekerjaan. Dia tidak menjanjikan tanggal sebelum melihat jadwal, dan Jo tidak mencoba memastikan dirinya selalu ikut pada setiap perjalanan ke Semarang.
Ketika tiba di tempat tinggal Erika, mereka berhenti di dekat pintu masuk. Jo menyerahkan kantong yang dibawa, lalu memandang gadis tersebut.
"Aku tadi ingin mengatakan aku senang punya kesempatan ini."
Erika tersenyum. "Itu belum terlalu panjang."
"Aku sudah memendekkan selama perjalanan."
Dia tertawa, kemudian mengulurkan tangan lebih dahulu. Jo menerimanya dengan kejutan yang terlihat jelas. Genggaman mereka berlangsung sebentar, hangat di antara bunyi kendaraan dan langkah orang yang lewat.
"Sampai bertemu lagi, Mas."
"Sampai bertemu, Ka."
Erika naik setelah mereka melepaskan tangan. Di kamar, dia meletakkan barang pada tempat yang telah dibayangkan saat memilih. Salah satu ternyata perlu digeser sedikit agar meja tetap lapang. Gadis itu memperbaiki, lalu mengambil ponsel untuk mengabari Ibu.
Di rumah Jack, Jo menemukan Daddy masih membaca. Dia meminta waktu, duduk setelah diizinkan, dan mengatakan bahwa dirinya serta Erika ingin mencoba hubungan sebagai pasangan.
Jack meletakkan buku. Wajahnya lembut, tetapi dia tidak langsung menyusun rencana keluarga yang akan membuat dua orang tersebut merasa telah bergerak lebih jauh daripada keputusan mereka.
"Erika mengatakan itu sendiri?"
"Iya, Dad. Kami bicara."
"Kalau begitu Daddy senang kamu memberi kabar langsung."
Jo mengangguk. Dia menambahkan bahwa pekerjaan yang tersisa tetap dibereskan sesuai kesepakatan. Daddy mendengar, kemudian menyebut sesuatu yang membuat lelaki tersebut menatap kembali.
"Jangan menjadikan keberanian dia memulai sebagai alasan untuk berhenti belajar mendengar."
Jo memandang tangannya, teringat genggaman di depan pintu.
"Aku tidak ingin mengulang yang dulu."
"Kalau ada yang tidak kamu pahami, tanyakan. Tidak semua diam mempunyai arti yang sama."
Jack mengambil buku yang tadi diletakkan, tetapi belum langsung membacanya. Dia menanyakan apakah Erika masih meneruskan tulisan sendiri. Jo mengangguk, menceritakan halaman yang baru diselesaikan tanpa membuka bagian pribadi yang belum ingin dibagikan gadis tersebut.
"Bagus," kata Daddy. "Daddy ingin mendengar kabar tulisannya juga kalau dia datang lagi."
Jo tersenyum. Di rumah itu Erika tetap seorang penulis, dengan pekerjaan yang layak ditanyakan di luar hubungannya dengan dirinya.
Percakapan berakhir beberapa menit kemudian. Saat keluar, Jo menemukan pesan Erika yang mengatakan barang sudah tersusun dan dirinya ingin melanjutkan satu halaman sebelum tidur.
Dia membalas agar gadis itu bekerja dengan tenang, lalu meletakkan ponsel. Besok belum mempunyai janji makan lagi. Namun, untuk pertama kalinya, menunggu hari berikutnya terasa seperti bagian dari sesuatu yang mereka mulai bersama.