Daddy Jack sudah kabur dengan cepat dan kembali ke kamarnya. Kini hanya tinggal Ammar dan Iccha di ruang makan.
"Lepas iih! Cari-cari kesempatan!" omel Iccha sesaat setelah dia sadar kalau dia sedang beradegan layaknya sebuah sinetron romantis di televisi.
Ammar langsung melepaskan pinggang Iccha dengan kasar hingga wanita itu nyaris terjatuh, untung saja dia cepat berpegangan pada pinggiran meja.
"Tahu gitu tadi nggak usah aku tolongin. Biar aja nyungsep nyium lantai." Ammar balik mengomeli Iccha.
Iccha melepas kedua sepatunya kemudian bertanya, "Emang lu nggak cemburu kalau gue nyium lantai?" Dia mengedipkan satu matanya dan tersenyum menggoda Ammar.
"Kenapa mata lu? Kelilipan debu? Atau lu lagi godain gue? Hah?" Ammar menarik Iccha dan mendekatkan tubuh wanita itu ke tubuhnya.
"Sini lu!" kata Ammar.
"Mau apa lu, Too Cold?" Mendadak panik.
"Mau nyium lu."
"Dasar nu gelo! Hayang pisan nga sun ka uwing." Iccha marah-marah pakai Bahasa Sunda.
Artinya, "Dasar orang gila! Pingin banget cium gue."
"Ngomong apa lu? Gue ganteng? Mempesona? Tampan? Kaya? Hah? Apa? Udah dari dulu kalau itu."
"Lepasin gue nggak!" sentak Iccha saat Ammar tak juga melepaskannya, tapi justru semakin mengeratkan pelukan itu.
Iccha meletakkan kedua tangannya di d**a bidang Ammar seolah sedang melakukan ancang-ancang. Tinggi badan mereka yang tidak terlalu timpang membuat wajah Ammar dan Iccha berdekatan. Iccha memejamkan matanya saat Ammar mulai semakin mendekatkan bibirnya.
Mampus gue. Ini orang nggak ada akhlak emang.
Iccha terus memejamkan mata karena dia belum pernah berciuman sebelumnya, tapi apa yang terjadi? Sebuah benda keras mendarat mulus di keningnya.
"Aaaduuh ... somplak lu ya!" teriak Iccha.
Ammar melepaskan wanita itu dari dekapannya. Iccha mengelus-elus kepalanya yang terasa nyeri.
Ammar berdiri dengan posisi tangan kanan bertumpu pada pinggiran meja dan tangannya yang satu lagi menggoyang-goyangkan sendok dengan jari telunjuk dan ibu jarinya. Senyum kemenangan terpancar begitu nyata di bibir Ammar.
"Astaga! Lu nimpuk gue pakai sendok?" tanya Iccha sambil berkacak pinggang.
"Iya, emangnya kenapa? Masalah?" jawab Ammar dengan entengnya seolah tidak merasa bersalah sedikit pun.
Iccha meraih sepatunya yang tergeletak di lantai. Dia mau balas menimpuk Ammar. Saat tangannya hendak naik ke atas, Ammar dengan cepat menangkap tangan Iccha hingga gadis itu terperanjat.
Dan "Cup" Ammar mencium pipi Iccha hingga gadis itu terbelalak. Tanpa diketahui Ammar, saat ini hati Iccha sungguh berbunga-bunga mendapatkan kissing mendadak dari lelaki yang diam-diam diincarnya.
"Itu akibatnya kalau kamu suka mencari-cari masalah sama aku, bersikaplah yang baik! Atau aku bisa buat kamu mengejar-ngejar aku dan mengemis-ngemis minta aku nikahi."
Iccha tercengang mendengar perkataan Ammar yang terdengar lebih memanusiakan dirinya. Ammar bahkan mengganti istilah sapaannya menjadi "Aku dan Kamu". Tanpa sadar Iccha mengelus pipi yang bekas bibir hangat Ammar. Senyumnya tersungging. Untung saja Ammar tidak melihatnya karena lelaki itu sudah pergi tanpa permisi. Kalau Ammar melihat pasti dia akan mencela Iccha habis-habisan.
"Astaga! Mimpi apa aku semalam? Ini pertama kalinya aku dicium cowok. Apalagi dicium cowok jutek, dingin dan galak yang aku sukai selama ini. Nggak tahu pada bagian mana yang aku suka darinya, sampai aku rela menjomblo cuma buat dia. Cih! Konyolnya aku ini," gerutu Iccha lalu mencela dirinya sendiri.
Iccha menyeret kopernya untuk dibawa ke kamar yang akan dia tempati. Tidak perlu ditunjukkan dia sudah hafal dengan setiap ruangan yang ada di rumah ini. Sampai di depan pintu kamar dia melihat Ammar sedang berdiri di depan kamarnya sendiri sambil bersandar di tembok. Dia memang sengaja mau menggoda Iccha.
Iccha melirik ke arah lelaki itu sambil meraih handle pintu.
"Apaan lu lirik-lirik gue?" tanya Ammar sambil membelalakkan matanya.
"Serah gue dong! Mata-mata gue. Nah lu juga ngapain berdiri di situ? Kayak nggak ada tempat aja," Iccha balik menyerang.
"Serah gue juga dong! Kaki-kaki gue."
Iccha memilih untuk menyudahi pertengkaran karena dia merasa letih dan ingin sekali beristirahat.
Saat dia membuka pintu, dia melihat Jo dan Erika sedang asyik berdiskusi. Mereka sedari tadi membahas soal novel yang akan ditulis oleh Erika. Satu per satu pertanyaan yang berhubungan dengan Yoevanca dan Jo, wanita itu layangkan. Mulai dari ciri-ciri fisik Yoevanca, karakternya, dan juga silsilah keluarganya. Dari yang Erika tangkap Yoevanca bukanlah wanita biasa. Dia dari keluarga kaya raya dan terpandang. Sangat cocok jika bersanding dengan Jo yang tampan dan juga tajirnya tidak ketulungan.
"Eh, kenapa pada ninggalin aku sama si Mr. Too Cold sich?" tegur Iccha dengan kesal.
"Lhah kan tadi kalian lagi sibuk saling pandang. Ya mending kita tinggalin aja. Takut ganggu," sahut Jo.
"Saling pandang apaan? Yang ada pingin aku congkel itu matanya," oceh Iccha seraya membuka koper dan mengambil satu stel baju untuk dia kenakan. Dia mau mandi untuk menyegarkan diri.
"Diih ... galak banget mbak'e," kata Erika.
"Aku kasih tahu sama lu, Rik. Jangan dekat-dekat sama si Mr. Too Cold! Dia nggak suka wanita, dia sukanya cari musuh. Lihat kan sampai sekarang dia masih single mulu. Kapan ganda campurannya?"
"Hahaha ... dikata main bulu tangkis apa, Mbak?" Erika terkekeh.
"Udah ah aku mau mandi dulu. Tapi ngomong-ngomong ...." Iccha duduk menyempil di antara Jo dan Erika. "Kamu beneran penulis online, Rik?" tanya Iccha dengan antusias. Kemudian dia mengambil ponsel dari dalam tasnya.
"Iya, mbak," jawab Erika singkat.
"Aku juga penikmat novel online, tapi kok aku asing sama nama kamu ya," kening Iccha nampak berkerut-kerut.
"Nama penanya Anggrek bukan Erika," jelas Jo.
"Apa? Jadi kamu author yang namanya Anggrek? Mimpi apa aku semalam bisa ketemu kamu di sini? Aku fans berat karya-karyamu lho." Iccha senang bukan kepalang. Senyum merekah di bibirnya, wanita itu sampai memeluk Erika berkali-kali. Erika juga senang karena ada orang yang suka dengan karyanya yang masih seperti remahan biskuit di sudut toples.
"Yang benar, Mbak?" Erika tidak percaya.
"Ya benarlah. Aku tunjukin kalau enggak percaya."
Iccha membuka aplikasi novel online yang ada di handphone-nya, dia tunjukan pada Erika kalau novel-novel ciptaan Erika memang masuk menjadi daftar novel favoritnya.
"Lihat! Kurang bukti apa coba?" Iccha mengarahkan layar ponselnya pada Erika. Erika tersenyum senang ternyata benar Iccha membaca semua tulisan kehaluannya.
"Makasih ya, Mbak. Wah aku senang lho punya fans orang cantik kayak mbak Iccha ini." Erika merasa tersanjung.
"Kamu memang hebat banget, Rik. Penjabaran dan alur cerita kamu itu okay banget. Part sedihnya dapat, part lucunya bikin ngakak dan yang paling nampol adalah part plus-plusnya." Iccha menjelaskan dengan menggebu-gebu.
"Hahaha ... udah gue duga," seru Jo dengan cepat. "Otak m***m juga lu, Cha," cela Jo sambil geleng-geleng kepala.
"Diam lu, Jo!" sentak Icha dengan galak.
"Bagian plus-plusnya emang keren banget, Rik."
Iccha mulai memuji-muji lagi Maha Karya Erika Wijaya yang aduhai.
"Detail banget lu ngejabarinnya, mulai dari buka baju, diangkat ke ranjang, sampai bunyi-bunyinya kamu jelasin juga di situ, keren dech pokoknya. Imajinasiku sampai melambung ke mana-mana lho. Hahahaha ...."
Dipuji-puji seperti itu malah membuat Erika menjadi malu. Pintar membuat adegan plus-plus apa hebatnya? Justru dicap sebagai penulis m***m kan? Namun novelnya yang penuh notif seperti itu justru booming dan dibaca berjuta-juta pembaca dari pada novelnya yang berkisah tentang percintaan remaja yang datar-datar saja.
"Hahaha ... otak lu ngeres banget, Cha! Dicuci woey!" Jo meledek Iccha dengan antusias.
"Diam lu, Jo! Ngeledek mulu. Aku lagi jumpa fans ini," tegur Iccha, kesal.
"Makasih lho karena mbak Iccha suka sama novel-novel aku," kata Erika sambil tertunduk.
Iya, dia malu banget sejujurnya. Kenapa bukan part lain yang Iccha bahas? Seolah hanya bagian ranjangnya doang yang wanita itu ingat.
"Lu memang hebat, Rik. Aku fans berat kamu lah pokoknya. Terus darimana sich elu bisa punya imajinasi seee-kooo-tooor itu ? Keren banget emang. Salut gue."
Iccha mengucapkan kata 'Sekotor' dengan intonasi yang cukup panjang. Kemudian dia bertepuk tangan seperti seorang penonton yang memberi apresiasi setelah pertunjukan gajah atraksi di sebuah pagelaran sirkus selesai.
"Hah?" Erika melongo. "Mbak Iccha ini memuji atau menghina yo?" tanya Erika sambil garuk-garuk kepala.
Jo terkekeh geli mendengar percakapan antara fans dan idolanya tersebut.
"Lhah bagian mananya yang gue hina?" Iccha balik bertanya.
"Nah kuwi (itu) sekotor. Mbak Iccha bilangnya sampai monyong-monyong gitu lho bibirnya. Mana panjang pula, kalau ditulis di kertas itu huruf 'e' sama 'o' bisa berjejer banyak banget kayak rel kereta api lho, Mbak."
"Hahaha ... paham gue. lha terus kata-kata yang pantes untuk memuji hal yang kayak begituan apa ya, Jo? Semenjijikkan kali ya?" Iccha meminta pendapat pada Jo.
"Malah tambah parah, Cha. Sehiiinaa ajaa.. Hahaha .... " Jo tergelak.
"Weleh kok malah do rebutan ngeledekin aku toh? Yo wes. Yo wes. Rak usah dibahas meneh, Mbak, Mas! Malah isin aku lho," pinta Erika dengan wajah ditekuk-tekuk karena sebal.
Artinya, "Ya sudah. Ya sudah. Nggak usah dibahas lagi, Mbak, Mas! Malah malu aku lho."
"Kamu itu ya, Rik .... " Iccha mulai berceloteh lagi, "Ibarat Tiara Laksmi. Itu nama karakter dalam suatu novel, dia seorang penulis yang kayak kamu gitu dech. Itu yang nulis author favorit aku juga, Jo Whylant namanya." Iccha menyebutkan nama penulis kesukaannya yang lain.
"Diih ... namanya sama kayak gue," kata Jo.
"Tiara Laksmi Kastil Tua, Mbak?" tanya Erika dengan mata berbinar.
"Yups ...." jawab Iccha singkat.
"Itu mah favorit aku juga, Mbak. Author-nya teman aku, aku sering chat-chat-an sama dia."
"Masa? Sini aku minta nomornya! Cakep kagak orangnya?" Iccha semakin bersemangat melanjutkan pembicaraan sampai lupa kalau tujuannya utamanya tadi mau mandi bukan ngerumpi.
"Orangnya cakep, Mbak. Pan cowok masa cantik? Hahaha ...."
"Sama aku cakepan mana, Rik?" tanya Jo sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Cakepan kamu, Mas. Mas Jo yang penulis itu orangnya baik banget. Suka bercanda dia. Nggak sombong. Dia juga smart. Lihat aja novel-novelnya berkelas banget kan, Mbak?"
"Iya, benar kamu. Entar aku minta nomor teleponnya, Ya."
"Buat apaan, Mbak?"
"Mau aku PC. Hai, tampan. Kita dinner yuk! Hahahaha ...." Iccha tergelak.
"Jangan digituin, Mbak! Mas Jo suka nyakar." Erika menakut-nakuti.
"Diih ... kayak kucing aja." Iccha bergidik karena dia memang anti sama kucing.
"Kucing garong. Hahahaha ... " cela Jo kemudian tertawa.
"Terus siapa lagi penulis yang kamu kenal? Siapa tahu idola aku juga."
"Banyak banget, Mbak. Sudah Mbak Iccha mandi dulu aja! Nanti kita cerita-cerita lagi. Aku mau bikin proyek lagi sama Mas Jo," usir Erika.
"Okeeh. Jangan lupa kirimin aku nomornya Jo Whylant. Aku mau request biar si Maira dimatiin aja!"
"Nggak mungkin, Mbak. Dia pembunuhnya kok."
"Kagak. Bukan dia. Ngarang aja lu!"
"Terus siapa menurutmu, Mbak?"
"Tiara Laksmi."
"Yo ndak mungkin dia lah, Mbak. Orang Tiara itu kalem banget kayak aku, pegang pisau aja gemeteran mbak masa mau bunuh orang?"
Perrbincangan yang tadi sudah mau diakhiri kini berlanjut lagi. Mereka berghibah tentang novel yang berjudul "Kastil Tua".
"Yang kalem itu justru berbahaya, Rik. Termasuk kamu! Kelihatannya kalem tapi pikirannya kotor. Mirip banget kayak Tiara Laksmi. Hahaha ...."
"Lha dalah ... dibahas meneh (lagi)." Erika kesal.
"Hahaha ... udah ah aku mau mandi dulu. Nanti kita ghibah lagi."
Iccha melenggang pergi masuk ke kamar mandi. Kini hanya tinggal Erika dan Jo. Jo masih senyum-senyum sendiri karena teringat kata-kata 'Sekotor' yang Iccha sematkan untuk Erika. Sungguh menggelikan perbincangan dua wanita itu untuk Jo.