Erika menutup naskah pada sore berikutnya. Bagian yang diperiksa sudah selesai, pesan Ibu sudah dijawab, dan dia tidak lagi menemukan alasan bahwa seluruh pikirannya dipakai pekerjaan.
Dia membuka percakapan Jo, mengetik, lalu membaca kembali sebelum mengirim.
Kalau ajakan makan masih ada, aku bisa besok malam. Satu makan malam dulu. Aku ingin pulang tidak terlalu larut.
Jawaban datang beberapa menit kemudian. Masih ada. Kamu ingin makan apa?
Gadis itu tersenyum kecil. Tidak ada pertanyaan mengapa baru sekarang, tidak ada kesimpulan bahwa menerima makan berarti seluruh jawaban berikutnya sudah diberikan.
Mereka memilih waktu dan tempat yang dapat didatangi tanpa membuat malam berubah menjadi pertunjukan. Erika menyatakan akan bersiap setelah pekerjaan, bukan mengubah jadwal proyek supaya dapat keluar lebih cepat.
Jo menerima. Dia meletakkan ponsel, memandang agenda, lalu menandai jam dengan kata makan, bukan wawancara.
Ammar masuk ketika adiknya masih melihat tulisan itu.
"Ada pekerjaan malam?"
"Tidak. Aku mengajak Erika makan."
Lelaki itu berhenti, lalu mengangkat alis. "Dia setuju?"
Jo mengangguk. "Satu makan malam. Dia ingin pulang tidak terlalu larut."
Ammar tersenyum kecil, tidak menjadikannya pengumuman untuk seluruh rumah.
"Kalau begitu, jangan membawa map."
"Aku tahu."
"Dan jangan memeriksa telepon setiap dua menit seperti rapat."
Jo memandang kakaknya. "Mas datang untuk bicara pekerjaan atau mengajariku makan?"
"Tadi pekerjaan. Sekarang rupanya ada yang lebih perlu diingatkan."
Mereka tertawa. Setelah urusan yang memang harus dibicarakan selesai, Ammar keluar tanpa meminta kabar bagaimana malam berikutnya akan berlangsung.
Di kamar, Iccha mengetahui ketika Erika bertanya apakah pakaian yang dipilih terlalu resmi. Perempuan itu melihat, lalu meminta dia memilih yang membuat dirinya nyaman, bukan yang tampak seperti sedang menerima penghargaan.
"Aku mau makan, bukan tampil di panggung lagi," ujar Erika.
"Makanya. Kalau lo tidak bisa bernapas, makanan tidak membantu."
Gadis itu tertawa, memilih pakaian lain, dan menyimpannya untuk besok. Tidak ada percakapan bahwa dirinya pasti telah jatuh cinta. Iccha hanya memastikan dia mengerti boleh pulang kalau tidak nyaman, tanpa perlu menunggu semua hidangan selesai.
Malam yang disepakati akhirnya datang. Erika turun pada waktu yang dijanjikan, membawa tas kecil. Jo sudah menunggu di ruang depan dengan pakaian yang tidak terlalu kaku.
"Aku sudah siap," katanya.
Gadis itu melihat tangannya. Tidak ada map, tidak ada halaman naskah yang harus dibawa.
"Bagus. Aku juga ndak membawa catatan."
"Kalau lupa pertanyaan?"
"Berarti Mas mendapat malam yang lebih tenang."
Jo tertawa dan berjalan ke pintu bersama. Mereka memberi tahu Daddy akan makan di luar, kemudian berangkat tanpa membuat seluruh keluarga berdiri memberi pandangan yang sulit diartikan.
Di perjalanan, Erika lebih banyak melihat jalan pada beberapa menit pertama. Jo juga tidak langsung menanyakan sesuatu yang berat. Dia menyebut cuaca, lalu tertawa ketika gadis tersebut memperingatkan jangan sampai payung menjadi bagian utama malam itu lagi.
Tempat makan tidak terlalu ramai. Mereka memilih meja yang memberi kesempatan berbicara tanpa harus mencondongkan tubuh sepanjang waktu. Erika membuka menu, membaca, dan tidak menunggu Jo menentukan pesanan bagi dirinya.
"Yang ini," katanya.
"Yakin?"
"Kalau Mas bertanya karena porsinya, aku belum menjawab. Kalau karena rasanya, aku memang mau."
Lelaki itu tersenyum. "Karena tadi kamu membacanya lama."
"Aku lapar, tapi tetap bisa bingung. Dua hal bisa terjadi bersama."
Mereka memesan. Setelah pelayan pergi, Jo menaruh ponsel dengan layar menghadap bawah. Erika melakukan hal yang sama, bukan karena diminta membuktikan tidak ada pesan laki-laki lain, melainkan karena ingin mendengar orang yang duduk di depannya.
Pembicaraan dimulai dari Semarang. Jo bertanya apa yang paling dirindukan Erika dari rumah. Gadis itu menyebut dapur, suara Ibu memanggil dari ruangan lain, dan kebiasaan tidak perlu memperkenalkan diri setiap kali keluar membeli sesuatu.
"Jakarta masih terasa asing?"
"Sebagian. Tapi sekarang aku punya tempat yang dikenal. Tidak cuma rumah Mas."
Jo mengangguk. Kalimat itu membuatnya senang sekaligus mengingatkan bahwa hidup Erika telah meluas tanpa dirinya menjadi satu-satunya pintu.
Gadis tersebut bertanya tentang masa Jo sebelum terlalu banyak urusan perusahaan. Lelaki itu bercerita hal kecil bersama Ammar, bagaimana keduanya pernah berebut sesuatu lalu Daddy menyuruh memilih bergantian.
"Mas menang?"
"Menurutku. Menurut Mas Ammar, tidak."
"Berarti belum selesai sampai sekarang."
Jo tertawa. Dia tidak menjadikan cerita masa kecil sebagai alasan harus dipahami ketika melakukan hal yang buruk. Hanya kenangan yang bisa dibagi tanpa ada seseorang lain harus menjawab untuknya.
Jo bertanya kapan Erika pertama merasa ingin menulis lebih banyak daripada sekadar menyimpan cerita pada buku catatan. Gadis tersebut tersenyum, mengingat waktu yang tidak mempunyai satu tanggal pasti.
"Aku suka membuat percakapan," katanya. "Masalahnya dulu semua orang dalam cerita bicara seperti aku. Kalau marah, sama. Kalau senang, juga sama."
"Berarti mudah ditebak?"
"Mudah membuat Ibu bertanya kenapa satu orang punya begitu banyak nama."
Jo tertawa. Erika ikut tertawa, lalu bercerita tentang buku lama yang ditemukan saat pulang. Ayah pernah meminta disimpan meskipun tidak memahami siapa yang sedang bicara pada beberapa halaman.
Lelaki itu mendengarkan. Dia tidak langsung mengubah kenangan tersebut menjadi ucapan besar tentang bakat yang pasti telah terlihat sejak kecil.
"Kamu membacanya lagi?"
"Iya. Sebagian memalukan. Sebagian membuatku ingat aku dulu bisa senang hanya karena satu adegan selesai."
"Sekarang masih?"
Erika memandangnya. "Masih. Tapi kadang terlalu sibuk memikirkan komentar, angka, atau pekerjaan berikutnya sampai lupa merasa senang dulu."
Jo mengangguk. Dia mengenali bagaimana sesuatu yang awalnya memberi kepuasan dapat berubah menjadi daftar hal yang perlu dicapai sebelum merasa cukup.
Gadis itu bertanya apakah Jo pernah melakukan sesuatu tanpa harus memikirkan hasil perusahaan. Lelaki tersebut mengaku kadang sulit menjawab karena terlalu banyak kebiasaan sudah bercampur dengan pekerjaan.
"Malam ini?" tanyanya setelah beberapa saat.
Erika tersenyum kecil. "Kalau Mas menganggap aku bukan bagian daftar kerja."
"Aku tidak membawa map."
"Itu baru bukti pertama."
Mereka tertawa. Jo menerima lelucon tanpa meminta gadis tersebut berhenti melihat segala sesuatu sebagai sesuatu yang perlu dibuktikan. Dia telah memberi alasan untuk hati-hati. Satu makan malam tidak dapat menghapusnya hanya karena dirinya kini merasa lebih siap.
Pelayan datang menanyakan sesuatu mengenai pesanan, dan Erika menjawab sendiri. Jo menunggu, melihat bagaimana perempuan di depannya tidak lagi menunduk setelah mengatakan pilihan yang berbeda.
Percakapan kembali pada hal ringan. Mereka membicarakan makanan yang kadang terasa lebih enak karena dimakan bersama orang tertentu, tetapi tidak harus selalu disebut romantis. Erika mengingat bekal Bi Ani, Jo mengeluh bahwa dirinya sering hanya mendapat sisa karena Ammar turun lebih awal.
"Mas bisa meminta dibuatkan."
"Aku bisa. Tapi mengeluh kepada Mas Ammar lebih menyenangkan."
Gadis itu tertawa, menaruh tangan pada sisi meja, dan untuk beberapa menit lupa memikirkan bagaimana malam itu akan diterjemahkan sesudah pulang.
Makanan datang. Erika berhenti bicara, mencoba, lalu tersenyum karena pilihannya sesuai. Jo melihat dan baru menyadari dirinya menunggu reaksi sederhana itu lebih tegang daripada saat memesan.
"Enak?"
"Iya. Mas belum makan, malah memeriksa wajahku."
Dia tertawa malu, mengambil sendok, dan akhirnya mengikuti.
Setelah beberapa waktu, percakapan menjadi lebih tenang. Jo menanyakan apa yang ingin dikerjakan Erika setelah proyek mereka selesai. Bukan meminta jawaban berupa tetap di rumah Jack.
"Menyelesaikan cerita sendiri. Mungkin punya beberapa pekerjaan yang tidak semuanya dari satu orang," jawabnya. "Aku ingin bisa memilih tanpa merasa kalau menolak, seluruh pintu tertutup."
Lelaki itu mengangguk. "Masuk akal."
"Mas sendiri?"
Jo memandang meja. "Membuat hidupku tidak seluruhnya menjadi jadwal untuk mengurus sesuatu yang rusak."
Erika mendengarkan. Kalimat itu tidak memintanya menjadi orang yang memperbaiki semua. Namun dia tetap perlu menanyakan sesuatu yang sejak ajakan pertama belum sepenuhnya diberi nama.
"Aku ndak ingin menjadi alasan Mas terlihat sudah baik," katanya pelan.
Jo menatapnya. "Aku tidak mengajak karena butuh terlihat."
"Aku tahu belum tentu begitu. Tapi aku perlu mengatakan."
Lelaki itu mengangguk. Dia menaruh sendok, memberi ruang pada percakapan yang tidak dapat dihindari hanya karena makanan enak dan malam terasa hangat.
"Aku masih memperbaiki beberapa hal dalam hidupku," katanya. "Tapi itu pekerjaanku. Bukan sesuatu yang harus kamu lakukan supaya boleh mengenalku."
Erika merapatkan kedua tangan di pangkuan. Dia mendengar jawaban, menyimpannya bersama hal yang telah dilihat beberapa waktu terakhir, tanpa langsung menghapus ingatan mengenai lorong acara.
"Aku menyukaimu, Ka," ujar Jo kemudian.
Kalimat tersebut membuat gadis itu mengangkat wajah. Tidak ada naskah yang diminta membantunya mengucapkan, tidak ada orang lain yang dipakai untuk membuat dirinya cemburu.
"Bukan karena kamu menulis sesuatu yang membuatku merasa lebih baik," lanjut Jo. "Aku ingin berada dekat kamu bahkan ketika kamu sedang menulis cerita yang tidak ada hubungannya denganku."
Erika menatap lelaki itu cukup lama. Dia pernah membayangkan berbagai kemungkinan jawaban atas ajakan makan. Mendengar perasaan diucapkan langsung tetap membuatnya harus menarik napas.
"Aku senang malam ini," katanya. "Aku juga senang bicara sama Mas. Tapi aku belum bisa memberikan jawaban yang sama hanya karena Mas sudah mengatakan."
Jo mengangguk, meski ada bagian dirinya yang tetap berharap perempuan itu tersenyum dengan arti lebih pasti.
"Aku tidak meminta malam ini."
"Kalau nanti aku butuh waktu, jangan berubah jadi pertanyaan kenapa lama."
"Aku akan ingat."
Gadis itu mengangguk. Dia tidak memberikan janji kosong sebagai hadiah karena Jo menjawab dengan baik. Makan malam tetap dapat diteruskan tanpa seluruh perasaan harus selesai pada satu meja.
Mereka membicarakan hal yang lebih ringan setelah itu. Erika mengeluhkan satu tokoh yang sulit dibuat bergerak, Jo mengaku hampir mengirim pesan meminta bab baru lebih cepat, lalu membatalkan karena jawaban sudah pernah diberikan.
Gadis itu tertawa. "Untung dibatalkan. Aku bisa menulis tokohnya makin lama menunggu."
"Itu hukuman untuk pembaca?"
"Ancaman yang tidak akan dijalankan. Aku sayang ceritaku."
Jo tersenyum, senang mendengar kalimat tersebut. Saat waktunya pulang mendekat, dia meminta tagihan tanpa mencoba memperpanjang dengan alasan ada tempat lain yang harus didatangi.
Erika mengatakan ingin membayar bagiannya. Mereka membicarakan sebentar, kemudian menyelesaikan dengan cara yang disetujui keduanya. Tidak ada rasa bahwa satu orang harus berutang jawaban karena makanan telah dibayar.
Perjalanan kembali mempunyai lebih banyak sunyi, tetapi tidak terasa seperti percakapan gagal. Erika melihat jalan, sesekali memberi komentar, dan Jo menjawab tanpa mencoba menanyakan ulang perasaan yang baru saja didengar.
Di rumah, Iccha sudah berada di kamar. Dia menatap Erika yang masuk sesuai waktu, lalu hanya bertanya apakah makanannya enak.
"Enak," jawab gadis tersebut.
"Bagus."
Erika mengganti pakaian, meletakkan tas, dan duduk di meja. Ponsel menampilkan pesan Jo yang mengatakan terima kasih atas malam itu.
Dia membalas terima kasih juga. Setelah layar padam, tangan tidak langsung membuka naskah. Untuk sekali itu, yang membuatnya sulit memilih kalimat bukan cerita orang lain.
Di kamar Jo, lelaki itu membaca jawaban yang pendek tanpa mencoba menemukan kepastian di antara dua kata. Dia telah mengatakan apa yang diinginkan. Sekarang bagian berikutnya bukan sesuatu yang dapat dipesan kepada seorang penulis.