Erika menahan kertas yang hampir terangkat, lalu melihat bayangan Jo pada sisi pintu. Lelaki itu tidak langsung duduk. Dia menanyakan apakah kursi lain boleh dipakai sebentar.
"Boleh," jawab gadis tersebut. "Kalau Mas mau membaca, nanti setelah yang ini selesai diperiksa."
"Aku tidak datang untuk membaca."
Jo duduk, meletakkan gelas pada meja kecil, kemudian menyadari jawaban itu membuat dirinya perlu mengatakan alasan lain.
Erika menunggu beberapa detik sebelum kembali menandai paragraf. Dia tidak memaksa lelaki itu menjelaskan hanya karena memilih duduk di tempat yang sama.
"Kamu punya waktu malam ini?" tanya Jo akhirnya.
Gadis itu mengangkat wajah. "Untuk proyek?"
"Bukan. Makan di luar."
"Bersama keluarga?"
Jo menggeleng. Pertanyaan yang sederhana itu ternyata lebih sulit dijawab daripada yang dibayangkan ketika berjalan ke teras.
"Aku ingin mengajakmu."
Erika memegang pena, tidak segera memberi jawaban agar percakapan terasa ringan. Ada sesuatu pada cara Jo menatap yang tidak sama dengan tawaran makan setelah dari tempat cetak.
"Malam ini aku sudah janji bicara sama Ibu," katanya. "Dan masih ada naskah yang ingin kubaca."
"Bisa besok?"
Gadis itu mengerutkan kening sedikit. "Mas Jo ingin mengajak sebagai apa?"
Jo memandang gelas. Dia bisa mengatakan sebagai teman serumah, sebagai pembaca, atau karena ingin membalas makanan yang dibawa dari Semarang. Semua alasan itu tersedia, dan tidak satu pun menjawab apa yang sesungguhnya membuatnya datang.
"Aku ingin mengenalmu di luar pekerjaan," jawabnya.
Angin bergerak di sisi teras. Erika menahan kertas, menaruh pena, lalu menarik napas sebelum bicara.
"Aku belum tahu bagaimana menjawab."
"Tidak harus sekarang."
Jo hampir menambahkan bahwa dirinya dapat menunggu, tetapi berhenti karena kalimat tersebut mudah diucapkan sebelum benar-benar diuji.
Erika mengangguk. "Kalau belum kujawab, jangan anggap aku lupa."
"Baik."
Mereka duduk beberapa menit lagi, membicarakan hujan yang akhir-akhir ini turun pada waktu yang salah. Setelah itu Jo berdiri, membawa gelas, dan masuk tanpa meminta satu alasan tambahan agar gadis tersebut berubah pikiran.
Erika tetap di teras. Paragraf yang tadi perlu diperiksa kini terbaca tanpa masuk ke kepala. Dia menutup map, mengambil ponsel, lalu menunggu sampai napas tidak terasa tergesa sebelum menelepon Ibu sesuai janji.
Bu Mei menerima dengan cerita tentang rumah. Erika mendengarkan, ikut tertawa pada bagian kecil, dan tidak langsung mengubah seluruh percakapan menjadi pertanyaan tentang Jo.
Namun, ketika Ibu menanyakan apakah ada sesuatu yang membuatnya diam, gadis itu akhirnya menyebut ajakan makan.
"Sebagai teman atau lebih?" tanya Bu Mei.
"Katanya ingin mengenalku di luar pekerjaan."
Ibu terdiam sebentar. "Kamu sendiri ingin?"
Erika memandang sisi meja. "Aku senang bicara sama dia kalau ndak sedang marah. Tapi aku masih ingat malam itu. Aku juga masih bekerja untuknya."
Bu Mei tidak mengatakan orang kaya pasti mempunyai maksud buruk, tidak pula meminta dia mengambil kesempatan hanya karena Jo dikenal keluarga.
"Kalau belum tahu, jangan memberi jawaban supaya dia senang," katanya.
"Aku sudah bilang belum tahu."
"Baik. Sekarang kamu bisa memikirkan yang memang kamu mau."
Erika mengangguk. Dia tidak meminta Ibu menentukan apakah lelaki tersebut pantas dicoba. Ada bagian yang hanya dapat dilihat dari cara Jo bersikap ketika tidak memperoleh jawaban yang diinginkan.
Bu Mei mendengar bunyi kertas di ujung sana, lalu menanyakan apakah Erika masih bekerja sambil menelepon. Gadis itu mengaku hanya memindahkan catatan agar tidak jatuh, bukan mencoba menyelesaikan dua percakapan sekaligus.
Ibu tertawa. "Ayahmu dulu juga begitu kalau gugup. Selalu ada barang yang perlu dirapikan."
Erika tersenyum. "Waktu mengajak Ibu keluar?"
"Waktu mau mengatakan sesuatu. Setelah barang rapi, kata-katanya tetap belum keluar."
"Terus Ibu yang bertanya?"
"Kadang. Kadang Ibu pura-pura tidak melihat supaya dia punya kesempatan mencoba sendiri."
Gadis itu menatap catatan di pangkuan. Cerita tersebut tidak membuat Jo sama dengan Ayah, tidak pula menjadikan hubungan baru harus mengikuti yang pernah terjadi pada Ibu. Namun mendengar orang tua pernah gugup dengan cara yang sederhana membuat dirinya berhenti menganggap setiap pilihan harus langsung sempurna.
"Ibu waktu itu yakin?" tanyanya.
"Tidak semuanya. Ibu mengenal, lalu melihat. Bukan langsung tahu seluruh hidup akan bagaimana."
Erika mengangguk pelan. Bu Mei tidak menawarkan akhir bahagia sebagai bukti bahwa setiap keraguan boleh dilewati. Dia hanya menceritakan masa ketika dirinya juga harus memilih dengan pengetahuan yang belum lengkap.
Gadis itu menanyakan satu kenangan kecil lagi. Ibu tertawa pada bagian Ayah salah memperkirakan waktu, lalu membetulkan bahwa keterlambatan itu tidak dibiasakan setelah dia mengomel.
Erika ikut tertawa. Panggilan yang dimulai dari pertanyaan sulit kembali mempunyai suara rumah yang dikenalnya, tanpa perasaan bahwa dirinya telah menyerahkan keputusan kepada Ibu.
Panggilan selesai setelah mereka membicarakan jadwal kunjungan berikutnya yang belum perlu diputuskan. Erika kembali ke kamar, membawa kertas yang sejak tadi belum dibaca lagi.
Iccha melihat wajahnya dari tempat tidur.
"Lo seperti baru mendapat pertanyaan sulit."
"Memang."
Perempuan itu duduk. Erika bercerita singkat, tidak menyusun Jo menjadi seseorang yang sudah pasti mencintai hanya karena mengajak makan.
Iccha mendengar sampai selesai. "Lo boleh tidak mau. Lo juga boleh ingin, tapi belum sekarang."
Gadis itu tertawa kecil. "Semua jawabannya ternyata boleh."
"Iya. Yang tidak enak itu kalau lo memilih yang tidak dimaksudkan lalu marah pada diri sendiri."
Erika mengangguk. Dia membuka laptop, melihat daftar berkas yang akan dipindahkan setelah membeli alat kerja baru. Keputusan tersebut setidaknya mempunyai kebutuhan yang bisa ditulis jelas.
Keesokan harinya, Erika menemui Daddy ketika ruang kerja sedang tidak dipakai. Dia menanyakan waktu singkat untuk membicarakan rencana setelah masa proyek mereka mendekati akhir.
Jack mempersilakan duduk. Tidak ada wajah terkejut karena penulis yang tinggal di rumahnya mulai memikirkan tempat lain.
"Aku sedang menghitung kemungkinan punya tempat sendiri," kata gadis itu. "Belum pindah sekarang. Aku ingin tahu apa yang perlu kupersiapkan supaya pekerjaan ndak berhenti hanya karena tempatnya berubah."
Daddy mendengarkan. Dia bertanya apa yang dibutuhkan untuk bekerja, bukan mengapa Erika tidak lagi merasa cukup diberi kamar.
"Meja, tempat menyimpan barang, dan waktu yang bisa kutentukan," jawabnya. "Aku masih senang di sini. Tapi aku ingin punya pilihan yang bukan hanya terus tinggal karena semuanya disediakan."
Jack mengangguk. "Kamu boleh mencari. Untuk proyek, bicarakan bentuk pertemuan dengan Jo. Jangan mengira harus tinggal serumah agar catatanmu diterima."
Erika menarik napas. Dia belum menyebut ajakan makan, dan tidak perlu menjadikan hal tersebut alasan utama untuk mulai memilih tempat bekerja sendiri.
"Aku belum punya keputusan," katanya.
"Kalau sudah, kabari. Daddy senang kamu memikirkan, bukan pergi mendadak karena merasa tidak boleh bertanya."
Gadis itu tersenyum kecil. Jack tidak menuntut dia tinggal untuk membuktikan rasa terima kasih. Kebaikan yang diterima tetap dapat diingat meskipun suatu hari pintu kamar tidak lagi menjadi tempat pulangnya.
Setelah keluar, Erika menuliskan kebutuhan pada catatan baru. Tidak ada harga yang langsung diputuskan, tidak ada tempat yang dibayar tanpa dilihat. Dia hanya membuat rencana yang dapat diperiksa, sedikit demi sedikit.
Iccha menemukan kertas tersebut ketika diminta membantu memisahkan dari daftar laptop.
"Lo mau pindah?"
"Nanti mungkin. Aku belum bilang besok."
Perempuan itu mengangguk, terlihat sedikit kecewa tetapi tidak membuatnya menjadi sesuatu yang harus ditebus.
"Gue akan kehilangan teman sekamar yang bisa memperbaiki kalimat," katanya.
"Aku tetap bisa membaca. Hanya tidak sambil mengambil bantalmu."
Iccha tertawa. Mereka menyimpan kedua daftar pada tempat berbeda, memastikan rencana tempat tinggal tidak ditangani seperti pembelian alat yang dapat diputuskan dalam satu kunjungan.
Untuk hari itu, Erika memiliki satu pilihan lagi yang tidak bergantung pada jawaban mengenai makan malam.
Beberapa hari kemudian, perangkat yang dipilih akhirnya dibeli. Tidak melalui kartu Jo, tidak diantar sebagai hadiah yang tiba-tiba mengubah daftar keinginannya. Erika mengambil sendiri bersama Iccha pada waktu yang sudah tersedia.
Mereka memeriksa, memastikan kebutuhan sesuai, dan pulang sebelum harus terburu-buru menghadapi pekerjaan lain. Pemindahan berkas dilakukan pelan. Salinan lama tidak dihapus sebelum yang baru benar-benar dapat dibuka.
Ammar mengetahui ketika Erika meminta waktu sebentar. Gadis itu membawa laptop yang dahulu diberikan, bersama catatan bahwa semua pekerjaan pribadi sudah dipindahkan dan salinan yang diperlukan tetap tersimpan.
"Aku ingin mengembalikan," katanya. "Aku sudah punya pengganti. Bukan karena yang ini ndak berguna. Justru sangat membantu."
Lelaki itu memandang benda di tangan Erika. Ada masa ketika hadiah diberikan sambil dirinya merasa dapat menentukan bagaimana perempuan tersebut membantu rencana membuat Iccha cemburu.
"Kamu tidak harus mengembalikan untuk membuktikan sesuatu," ujarnya.
"Aku tahu. Ini memang pilihanku. Terima kasih karena waktu itu membantu bekerja. Tapi aku ingin alat yang kupakai sekarang dibeli sendiri."
Ammar mengangguk. Dia menerima setelah memastikan tidak ada berkas yang masih harus diambil. Tidak ada lelucon bahwa perempuan tersebut pasti berubah karena dekat dengan Jo.
Ammar memeriksa kotak yang diterima, lalu meletakkan jauh dari tumpukan kerja hari itu. Dia menanyakan apakah ada bagian yang perlu diambil lagi sebelum perangkat dipakai untuk hal lain.
Erika menjelaskan salinan sudah diperiksa dan berkas yang bersifat pribadi telah dibereskan. Tidak ada pekerjaan klien yang dibiarkan pada tempat yang akan dibuka orang lain tanpa alasan.
Lelaki itu mengangguk. "Baik. Aku akan memeriksa lagi sebelum menyerahkan kepada siapa pun."
"Terima kasih."
Erika hendak berdiri, lalu berhenti karena masih ada sesuatu yang ingin dikatakan. Ammar menunggu, tidak menyimpulkan bahwa mungkin dia berubah pikiran dan ingin menyimpan.
"Waktu itu aku memang membutuhkan," ujarnya. "Aku tidak mau nanti penerimaan hadiah ini dianggap semua kesalahan berasal dari aku yang terlalu mudah menerima."
Ammar memandang wajahnya. "Aku yang memberi sambil meminta hal yang tidak seharusnya. Kamu pernah mengatakan batasnya. Aku dengar."
Gadis itu mengangguk, lega karena satu hal lama dapat diselesaikan tanpa diubah menjadi cerita bahwa dirinya seharusnya lebih tahu sejak awal.
Lelaki itu mengambil catatan yang diberikan, menyimpan bersama kotak, lalu mengucapkan semoga alat baru membantu bekerja. Tidak ada syarat mengirim hasil pertama kepadanya, tidak ada permintaan agar namanya disebut pada sesuatu yang ditulis.
Erika tersenyum. Dia dapat berterima kasih atas bantuan yang memang pernah berguna dan tetap memilih cara lain sesudahnya. Keduanya tidak harus saling menghapus agar keputusan tersebut terasa benar.
Iccha berdiri di sisi pintu, melihat cara keduanya menyelesaikan sesuatu yang sudah lama pernah dibicarakan. Ketika Erika keluar, dia membantu membawa kantong yang kini lebih ringan.
"Lega?"
"Iya. Sekaligus takut besok salah membuka folder lagi."
Iccha tertawa. "Yang itu tidak bisa dibeli sekalian dengan laptop."
Mereka naik ke kamar. Erika menaruh perangkat baru pada meja, membuka cerita Anggrek, dan menemukan halaman yang memang sama dengan salinan sebelumnya. Tidak ada nama penulis yang berubah hanya karena alat berbeda.
Jo melihatnya malam itu ketika datang menanyakan satu catatan proyek. Dia berhenti pada sisi pintu, mengamati perangkat yang tidak pernah dibelikannya.
"Yang baru?"
Erika mengangguk, memperlihatkan catatan yang diminta. "Berkasnya sudah bisa dibuka. Yang ini salinan untuk proyek."
Lelaki itu menerima, membaca seperlunya, lalu mengatakan akan memberi jawaban pada waktu yang disepakati. Sebelum pergi, dia memandang gadis tersebut.
"Soal ajakan makan, aku tidak datang untuk menagih."
Erika menatapnya. "Baik. Aku masih memikirkan."
"Aku tahu."
Dia pergi setelah memberi salam kepada Iccha. Tidak ada perubahan pada pekerjaan yang dapat dibaca sebagai hukuman karena ajakan belum dijawab.
Erika duduk lagi. Dalam beberapa hari tersebut, dia memperoleh satu jawaban tanpa harus meminta: Jo masih dapat mendengar kata belum. Jawaban itu tidak membuat seluruh ketakutan hilang, tetapi cukup untuk membuatnya kembali memikirkan ajakan tanpa selalu dimulai dari bagaimana menolak dengan aman.
Di ruang kerja, Jo menaruh catatan pada map. Dia tidak mengirim pesan tambahan. Keinginan mengenal Erika ternyata meminta hal yang selama ini sering diberikan kepada orang lain dengan syarat: ruang untuk memilih, bahkan kalau pilihannya tidak menempatkan dirinya di depan.