Jo meletakkan ponsel di samping tempat tidur. Dua kata dari Erika masih terlihat sebelum layar padam, tetapi dia menahan tangan yang ingin mengambilnya lagi.
Terima kasih.
Malam itu dia sudah memperoleh kesempatan duduk berhadapan, mendengar cerita tentang rumah di Semarang, dan mengatakan sesuatu yang selama ini hanya dipikirkan. Dia tidak perlu mengirim kalimat lain untuk memastikan Erika belum berubah pikiran selama perjalanan dari gerbang ke kamar.
Lelaki itu berbaring, lalu bangkit kembali karena lampu meja belum dimatikan. Di bawah cahaya tersebut, map proyek tampak seperti benda yang sengaja ikut mengawasi. Jo memindahkannya ke meja kerja. Besok ada bagian yang harus diperiksa, tetapi malam ini dia tidak ingin menyamakan pekerjaan dengan percakapan di restoran.
Di kamar sebelah, Erika masih duduk dengan kedua tangan di atas lutut. Iccha telah meletakkan ponsel dan sedang merapikan selimut ketika melihat temannya belum membuka laptop.
"Lo mau tidur atau menunggu meja menjawab?"
Gadis itu menoleh, tersenyum malu. "Aku sedang memikirkan sesuatu."
"Gue tahu. Meja tidak biasanya diperhatikan selama itu."
Erika memutar kursi. Dia ingin bercerita, tetapi ada bagian yang terasa akan berubah begitu diucapkan di depan orang lain. Kalau Iccha tersenyum terlalu lebar, mungkin dia ikut menganggap semuanya sudah pasti. Kalau perempuan itu bertanya mengapa masih ragu, mungkin dia justru mencari alasan agar keraguannya terlihat masuk akal.
"Mas Jo mengatakan dia suka aku," ujarnya akhirnya.
Iccha berhenti menarik ujung selimut. Matanya membesar sesaat, kemudian dia duduk lebih tegak.
"Oh."
"Cuma oh?"
"Gue sedang menahan dua puluh pertanyaan. Hargai usaha gue."
Erika tertawa kecil. Ketegangan yang menahan bahunya berkurang. Dia mengambil gelas air, meminum sedikit, lalu kembali memandang teman sekamarnya.
"Aku bilang belum bisa menjawab sama."
"Lo menyesal mengatakan begitu?"
Erika berpikir. "Ndak. Tapi aku juga ndak ingin Mas Jo mengira aku cuma bertahan karena takut menolak."
"Ya nanti bilang kalau itu yang mau lo jelaskan. Bukan malam ini juga."
Gadis itu mengangguk. Keinginannya tidak sesederhana menerima atau menutup pintu. Dia senang ketika Jo tertawa karena sesuatu yang dikatakannya. Dia memperhatikan bagaimana lelaki tersebut tidak lagi selalu memandang layar ketika orang berbicara. Namun, ingatan tentang tuduhan pada malam pernikahan masih punya tempat sendiri, meskipun permintaan maaf telah diberikan dengan jelas.
"Aku takut senang terlalu cepat," katanya.
Iccha menatapnya. "Gue pernah menunggu terlalu lama sampai memakai orang lain untuk memancing jawaban. Itu juga tidak membuat hasilnya lebih aman."
Erika mengangguk pelan. Mereka sama-sama mengetahui bagian cerita tersebut. Dia pernah berada tepat di tengah rencana yang kini tidak ingin diulang oleh siapa pun.
"Jadi aku harus bagaimana?"
"Besok sarapan. Lalu kerja. Kalau masih ingin bicara sama dia setelah semua itu, bicara. Gue tidak punya cara yang bisa menjamin lo tidak akan terluka."
Jawaban itu membuat Erika terdiam, lalu tersenyum. Iccha tidak menawarinya ramalan yang dibungkus sebagai pengalaman.
Mereka mematikan lampu beberapa saat kemudian. Erika berbaring, mendengar bunyi halaman buku yang ditutup di sisi lain kamar, dan akhirnya membiarkan malam selesai tanpa mengirim pesan tambahan.
Pagi datang bersama suara Bi Ani yang meminta seseorang membawa piring ke meja. Erika turun dengan rambut masih sedikit lembap. Jo berada di dekat teko, mengenakan pakaian kerja, dan menoleh ketika langkahnya terdengar.
"Pagi, Ka."
"Pagi, Mas."
Ada jeda kecil setelah salam. Erika menunggu dirinya menjadi canggung, tetapi Bi Ani segera menyodorkan dua piring kosong kepada Jo.
"Sekalian taruh yang ini, Den."
Jo menerima. Saat hendak bergerak, salah satu sendok meluncur dari atas piring. Dia menangkapnya dengan gerakan yang membuat Erika refleks mengulurkan tangan juga. Keduanya hampir bertabrakan, lalu berhenti.
"Aman," kata Jo, mengangkat sendok seperti menunjukkan hasil kerja.
"Yang lain jangan dijatuhkan untuk membuktikan lagi."
Dia tertawa. Erika mengambil piring dari tangannya, membantu meletakkan, dan duduk pada tempat yang biasa. Satu kejadian kecil memberi mereka alasan tersenyum sebelum perlu menemukan kalimat yang lebih sulit.
Ammar turun beberapa menit kemudian. Dia memperhatikan adiknya yang masih berdiri di dekat meja, kemudian menarik kursi.
"Kalau mau sarapan, duduk. Piringnya tidak perlu diawasi sampai kenyang."
Jo duduk tanpa menjawab panjang. Iccha datang bersama Lina, dan percakapan beralih kepada rencana hari itu. Tidak ada yang mengumumkan makan malam Erika seperti acara keluarga yang harus memperoleh penilaian.
Setelah sarapan, Jo mengingatkan jadwal pemeriksaan proyek. Erika membawa catatan ke ruang kerja pada waktu yang telah disepakati. Mereka memeriksa beberapa halaman, memisahkan bagian yang sudah dapat ditutup dari bagian yang hanya akan disimpan sebagai bahan pribadi.
"Kontrak awal masih punya sisa waktu," kata Erika, membuka catatan. "Aku ingin kita tentukan apa yang benar-benar harus diserahkan. Supaya aku ndak mengerjakan sesuatu yang ternyata Mas belum ingin baca."
Jo menatap daftar tersebut. Ada beberapa pekerjaan yang semula terkait persiapan hadiah pernikahan dan tidak lagi mempunyai tujuan yang sama. Mempertahankannya hanya agar enam bulan terasa penuh akan membuat proyek berubah menjadi alasan untuk terus memanggil Erika.
"Kita baca kewajibannya satu per satu," jawabnya. "Yang sudah berubah, kita tulis bentuk akhirnya."
Erika mengangguk. Pembicaraan memerlukan waktu lebih lama daripada dugaan. Mereka menandai versi, menentukan berkas mana yang masih perlu diperiksa, dan membedakan catatan wawancara dari naskah yang akan dianggap selesai. Jo tidak menyuruhnya mengisi kekosongan hari pernikahan dengan perasaan yang belum pernah diwawancarai.
Ada satu paragraf mengenai masa kecil yang mereka baca dua kali. Jo mengingat tempat kejadiannya dengan cara berbeda dari catatan pertama. Erika tidak segera mengganti karena wawancara lama menyebut dua kunjungan terpisah.
"Mas mungkin sedang mengingat kunjungan yang kedua. Ini yang sebelum Ammar pulang."
Jo memeriksa, mengangguk setelah menemukan keterangan di sisi halaman. "Kamu benar. Jangan ubah yang itu."
Gadis tersebut memberi tanda selesai. Dia menyukai pekerjaan yang memungkinkan dirinya menanyakan ulang tanpa perlu mengira setiap koreksi adalah usaha melawan. Percakapan tetap mengenai halaman, sekalipun lelaki di depannya kini mempunyai arti yang mulai sulit disimpan pada satu tempat saja.
Mereka berhenti sebentar ketika Jo menerima panggilan yang memang tidak dapat ditunda. Erika menutup halaman yang sedang dibaca, menulis nomor terakhir agar tidak perlu mencari lagi, lalu berdiri untuk mengambil air.
Di dekat pintu, dia mendengar lelaki tersebut mengatakan akan kembali pada pembicaraan setelah menerima penjelasan tertulis. Suaranya tegas tanpa menjadi keras. Gadis itu teringat bagaimana dulu ketegasan semacam itu dapat membuatnya menyiapkan jawaban bahkan sebelum ditanya.
Kini dia kembali dengan dua gelas. Jo sudah selesai menelepon dan langsung meminta maaf karena waktu mereka terpotong.
"Kita tambah sampai berapa?" tanyanya.
Erika melihat jam. "Sepuluh menit masih bisa. Lebih dari itu aku perlu meneruskan pekerjaan sendiri."
"Baik. Kita pakai sepuluh menit."
Dia menggeser gelas agar tidak terlalu dekat kertas. Mereka meneruskan halaman yang ditandai, menyelesaikan satu pertanyaan, lalu Jo menuliskan yang lain untuk ditanyakan pada jadwal berikutnya.
Erika memperhatikannya, kemudian tanpa sengaja tersenyum. Lelaki itu mengangkat wajah.
"Ada yang salah kutulis?"
"Ndak. Aku hanya ingat dulu aku takut sekali kalau perlu mengatakan waktuku habis."
Jo menatap pena di tangannya. "Aku mungkin terlalu sering menganggap orang yang ada di dekatku pasti tersedia."
"Kadang orangnya juga terlalu takut bilang."
"Sekarang kamu bilang."
Gadis itu mengangguk. Perubahan tersebut tidak membuat pekerjaan menjadi kurang penting. Justru dia dapat memikirkan halaman dengan sungguh-sungguh karena tahu pertemuan mempunyai akhir yang dihormati. Mereka minum, mengembalikan gelas pada tempat aman, lalu membuka catatan jadwal tanpa perlu menunggu salah satu merasa terlalu lelah untuk melanjutkan.
Ketika sampai pada jadwal, Erika meminta agar pertemuan berikutnya dapat dilakukan tanpa tinggal di rumah Jack. Lelaki itu mengangkat wajah.
"Kamu sedang mencari tempat?"
"Baru melihat kemungkinan. Aku sudah bicara kepada Daddy. Belum ada yang kupilih."
Jo merasakan sesuatu menegang di dadanya. Kamar Erika berada cukup dekat sehingga selama ini dia dapat menganggap pertemuan berikutnya selalu tersedia. Mendengar kemungkinan alamat lain membuat kedekatan tersebut terasa bisa berubah.
Dia hendak menanyakan apakah rencana itu muncul setelah makan malam. Pertanyaan sudah hampir keluar ketika Erika menyambung.
"Ini sudah kupikirkan sebelum menjawab ajakan Mas. Aku ingin bisa bekerja dari tempat sendiri."
Jo menarik napas pelan. "Baik. Pertemuan proyek bisa kita atur. Tidak harus di rumah."
Gadis itu memperhatikannya. "Mas keberatan?"
"Aku akan merasa rumah lebih sepi," jawab Jo setelah berpikir. "Tapi itu bukan alasan kamu harus tetap tinggal."
Erika menunduk pada catatan. Kejujuran yang tidak langsung menjadi permintaan membuatnya lebih mudah mendengar.
"Aku juga akan kangen," katanya. "Bukan berarti aku ndak senang di sini."
"Aku mengerti. Kalau nanti perlu keterangan mengenai pekerjaan yang masih berjalan, bilang."
Erika menyetujui. Mereka kembali memeriksa halaman, lalu menghentikan pertemuan ketika waktu yang disediakan habis. Ada dua pertanyaan yang masih membutuhkan jawaban, tetapi keduanya dicatat untuk pertemuan berikutnya, bukan dijadikan alasan menahan perempuan itu sampai sore.
Di lorong, Erika berhenti sebelum Jo kembali ke mejanya.
"Mas, soal kemarin."
Lelaki itu menoleh. Dia tidak langsung mendekat, seolah memahami gadis tersebut sedang mencari jarak yang nyaman untuk bicara.
"Aku senang diajak. Dan aku ndak merasa harus datang hanya karena Mas orang yang memberi kerja."
Jo memandangnya. Sesuatu yang selama sarapan ditahannya bergerak hangat di dalam dada.
"Terima kasih mengatakan itu."
"Tapi aku masih ingin waktu."
"Iya, Ka. Yang itu aku dengar."
Erika mengangguk, kemudian kembali ke kamar. Jo berdiri beberapa saat setelah dia pergi. Kali ini ada lebih dari dua kata yang dapat diingat, tetapi dia tetap tidak berhak mengubahnya menjadi jawaban yang belum diberikan.
Siang itu, gadis tersebut memeriksa beberapa pilihan kamar bersama Iccha. Mereka menyisihkan tempat yang terlalu jauh dari kebutuhan sehari-hari dan tempat yang hanya terlihat menarik pada gambar. Iccha menanyakan apakah Erika sudah memikirkan meja yang cukup terang, bukan sekadar tempat tidur.
"Sudah. Aku tidak mau bekerja sambil menahan laptop di lutut terus."
"Dan jangan yang katanya tenang, tetapi jendelanya menghadap tempat orang menyalakan motor."
Erika menulis. Dia mulai memahami bahwa pindah mempunyai banyak pekerjaan kecil yang tidak akan selesai hanya dengan merasa berani. Ada transportasi, tempat menyimpan berkas, dan jarak menuju tempat keberangkatan ketika suatu hari ingin pulang ke Semarang.
Mereka menentukan dua tempat untuk dilihat pada hari berbeda. Erika menghubungi yang pertama, mencatat jawaban, lalu mengirim kabar kepada Ibu. Bu Mei tidak segera memilihkan dari jauh. Dia meminta putrinya melihat lingkungan, menanyakan hal yang belum jelas, dan tidak membayar sebelum merasa yakin.
"Ibu ndak marah aku belum pulang menetap?" tanya Erika.
"Kamu sedang membangun pekerjaan di sana. Ibu ingin kamu pulang karena ingin bertemu, bukan karena merasa setiap jalan di luar rumah adalah kesalahan."
Gadis itu mengusap tepi meja, menahan rasa haru yang muncul tanpa diduga. Dia berjanji akan menelepon setelah melihat tempat, lalu menutup percakapan ketika Ibu hendak menyiapkan makan.
Sore menjelang ketika Lina mengetuk kamar. Dia membawa halaman yang ingin ditanyakan, tetapi berhenti setelah melihat daftar tempat tinggal.
"Lo jadi mencari?"
"Iya. Belum memilih."
Lina duduk, meminta izin melihat, kemudian menunjuk satu alamat yang pernah dilewatinya. Dia tidak mengetahui keadaan kamar, tetapi tahu jalan depan cukup ramai pada jam tertentu.
Erika mencatat tanpa langsung mencoret. Informasi kecil lebih berguna daripada seruan bahwa semuanya pasti mudah. Setelah itu, mereka membaca naskah Lina dan memperbaiki bagian yang membuat urutan kejadian sulit diikuti.
Lina juga mengingatkan Erika tentang pembaca yang meminta kelanjutan setelah acara komunitas. Gadis itu menunjukkan adegan baru, mengaku bagian akhirnya masih belum memuaskan.
"Bukan karena lo tidak tahu tokohnya mau apa?"
"Aku tahu. Tapi aku membuat semua kalimatnya terlalu hati-hati. Padahal dia biasanya bicara dulu, malu belakangan."
Lina tersenyum. "Kalau begitu biarkan dia bicara."
Erika membaca ulang, menghapus dua kalimat yang tidak perlu, lalu mengembalikan satu lelucon yang sebelumnya disingkirkan. Tokohnya terdengar lebih hidup. Mereka tertawa ketika kalimat terakhir justru membuat tokoh laki-laki kehilangan jawaban.
Ketika temannya pulang ke kamar sendiri, Erika melanjutkan naskah Anggrek. Tokoh perempuannya sedang berada di depan pintu, memutuskan apakah ingin mengetuk. Gadis itu menghapus satu paragraf yang terlalu lama menjelaskan takut, lalu menuliskan tindakan sederhana: tokoh tersebut mengangkat tangan dan berhenti sebentar, mendengar suara di dalam.
Dia belum menuliskan ketukan. Adegan memerlukan jawaban yang benar bagi tokohnya, bukan jawaban yang lahir karena penulis sedang ingin menenangkan dirinya sendiri.
Di ruang bawah, Jo selesai menerima telepon kerja. Ammar masuk untuk mengambil sesuatu, melihat daftar proyek yang terletak di meja, lalu berhenti pada jadwal yang mulai berkurang.
"Sudah mendekati akhir?"
"Bentuk pekerjaan akhirnya sedang dibereskan. Erika juga mencari tempat sendiri."
Ammar memandang adiknya. "Dan kamu?"
"Aku baru belajar tidak membuat semua yang ingin kupertahankan menjadi urusan kantor."
Lelaki itu mengangguk, mengambil barang yang dicari, dan tidak memberi nasihat tambahan. Jo menatap pintu setelah kakaknya keluar. Menunggu ternyata bukan sekadar tidak mengirim pesan. Besok dia harus membuktikan bahwa hidup Erika boleh bergerak, bahkan saat dirinya masih berharap menjadi bagian di dalamnya.