Jo meletakkan ponsel setelah menjawab kabar tersebut. Waktu yang harus dipenuhi dicatat pada agenda, tidak dipindahkan karena pekerjaan lain tampak lebih mudah dihadapi.
Dia datang, mengikuti hal-hal yang masih perlu dilakukan, dan menjawab langsung ketika diperlukan. Caca juga hadir pada waktu yang telah disepakati. Tidak ada pengganti yang diminta berbicara karena salah satu pihak sedang terlalu lelah.
Rangkaian itu tidak berlangsung hanya dalam satu pertemuan. Ada hari-hari yang harus dilewati, hal yang diperiksa kembali, dan kabar yang diterima setelah Jo mulai terbiasa bekerja tanpa menunggu telepon dari Caca seperti dulu.
Ketika perpisahan mereka akhirnya resmi, Jo membaca bagian yang menyatakan semuanya telah selesai lebih dari sekali. Bukan karena tulisan sulit dipahami, melainkan karena nama hubungan yang sejak hari pernikahan terasa belum sempat dimiliki kini telah berubah.
Dia duduk di ruang kerja, menaruh berkas, lalu memanggil Daddy. Jack datang tanpa meminta Jo terlihat lega.
"Sudah selesai," kata lelaki muda itu.
Ayahnya membaca seperlunya, mengangguk, dan duduk di kursi seberang.
"Kamu ingin sendiri?"
Jo memandang meja. "Sebentar lagi. Sekarang Daddy duduk dulu."
Jack tetap duduk. Tidak ada ucapan selamat yang keliru untuk sesuatu yang juga berarti kehilangan. Mereka minum air, membicarakan hal yang masih perlu diberitahukan kepada keluarga, lalu membiarkan ruangan kembali sunyi.
Sebelum sore, Caca menelepon untuk memastikan kabar yang diterima keduanya sama. Jo menjawab setelah melihat nama pada layar, tidak membiarkan berdering hanya agar perempuan itu harus menunggu lebih lama.
"Aku sudah menerima," katanya.
"Aku juga."
Tidak ada ucapan yang cocok untuk mengisi jeda berikutnya. Mereka pernah berbicara tentang perjalanan sesudah pernikahan, rumah, dan buku yang belum selesai. Kini yang perlu dipastikan hanyalah bahwa rangkaian yang dijalani telah benar-benar sampai pada akhir yang disepakati.
Caca menanyakan apakah masih ada barang yang harus diambil. Jo menyebut satu kotak kecil yang sebelumnya tertinggal bersama perlengkapan acara. Daftar dan waktu akan dikirim melalui cara yang sudah ditetapkan, bukan alasan meminta datang tanpa kabar.
"Buku tetap kusimpan," ujar wanita itu.
"Baik."
"Aku tidak akan meminta kamu menulis sesuatu lagi di sana."
Jo memandang meja. "Kamu tidak perlu memberi janji tentang setiap benda."
Caca menghela napas. Dia menyadari sejak kepergiannya, kalimat yang diucapkan sering terasa seperti usaha membuktikan satu hal kecil masih dapat dilakukan dengan benar.
"Aku tahu," katanya pelan. "Aku hanya ingin mengucapkan tanpa membuatnya terdengar seperti meminta kesempatan."
"Aku dengar."
Mereka membicarakan pemberitahuan kepada keluarga seperlunya. Tidak ada cerita bahwa semua berakhir karena kesibukan Jo atau bahwa keputusan itu dibuat bersama sejak awal. Caca tidak meminta Jo menanggung bentuk kabar yang menghapus pilihannya pergi.
Ketika panggilan hampir selesai, wanita itu menyebut terima kasih karena pembicaraan yang perlu dihadapi tidak dijadikan pertunjukan bagi orang lain.
Jo diam beberapa saat. "Aku tidak ingin hidupku berikutnya dihabiskan dengan membagikan yang menyakitkan kepada semua orang."
"Aku mengerti."
Panggilan berakhir setelah ucapan selamat sore yang terasa jauh lebih asing daripada dahulu. Jo tidak membuka foto lama sesudahnya. Dia hanya menaruh ponsel, berdiri mengambil air, lalu kembali menyelesaikan satu halaman kerja yang memang masih menunggu.
Kabar resmi telah mengubah hubungan. Kebiasaan di kepala belum seluruhnya ikut berubah. Setidaknya hari itu dia tidak perlu menyusun jawaban yang berpura-pura masih ada pintu untuk kembali bersama.
Ammar menerima kabar setelah pulang. Dia menemui Jo di teras, tidak membawa pertanyaan apakah kini siap mencari seseorang lagi.
"Aku sudah mendengar," katanya.
Jo mengangguk. "Rasanya tidak seperti menutup pintu. Lebih seperti akhirnya tahu pintunya memang tidak akan dipakai lagi."
Ammar duduk. "Kamu tidak harus langsung mengisi tempatnya."
"Aku tidak sedang mencoba."
Lelaki itu mengangguk, percaya pada jawaban yang diberikan tanpa perlu mengecek seluruh perasaan di baliknya. Mereka membicarakan pekerjaan beberapa menit, lalu Jo bertanya bagaimana Iccha.
Ammar tersenyum. "Dia masih bisa membuatku salah memilih kata."
"Itu sudah lama."
"Sekarang aku harus memperbaiki sebelum dia memutuskan pulang dari tempat makan."
Jo tertawa. Untuk pertama kali hari itu, suara tersebut tidak terasa seperti sesuatu yang dilakukan agar orang di dekatnya berhenti khawatir.
Setelah Ammar masuk kembali, Jo tetap di teras beberapa waktu. Dari ruang keluarga terdengar Kiki menanyakan letak satu foto yang belum dipasang. Lina menjawab, lalu keduanya membicarakan bingkai tanpa suara tinggi.
Lelaki itu mendengar, tersenyum kecil. Ada hal di rumah yang mulai bergerak meskipun dirinya masih memikirkan akhir yang baru diterima.
Kiki muncul dengan dua pilihan bingkai, meminta pendapat singkat. Jo menunjuk yang tidak menutupi sisi gambar, lalu menerima komentar bahwa pilihannya terlalu sederhana.
"Kamu bertanya pendapatku."
"Iya. Bukan berarti gue harus pakai."
Dia tertawa. "Benar."
Kiki melihat wajahnya, kemudian berhenti seolah baru ingat hari tersebut mempunyai kabar lain. Jo menggeleng kecil sebelum adiknya mengubah semua kata menjadi hati-hati.
"Tidak apa-apa. Aku masih bisa memilih bingkai."
Gadis itu mengangguk, memandang dua benda di tangan, lalu mengatakan akan mengambil yang satu lagi karena lebih cocok di kamar. Dia masuk tanpa meminta kakaknya mengatakan telah baik.
Jo melihat pintu setelah Kiki pergi. Kalimat adiknya sederhana, tetapi memberi ruang yang baru dipahaminya: menerima pendapat bukan menyerahkan keputusan. Dia pernah meminta orang lain mengikuti karena mengira kedekatan berarti mereka pasti mengerti yang diinginkan.
Sekarang satu bingkai mengingatkan bahwa orang masih dapat berada dalam hubungan yang sama meski memilih berbeda.
Dia berdiri, membawa gelas, lalu kembali ke ruang kerja untuk menyimpan berkas yang perlu disimpan. Tidak semua harus dibiarkan di atas meja sampai menjadi pusat percakapan rumah.
Erika mengetahui kabar malamnya dari Daddy, singkat, tanpa diminta menulis apa pun. Dia mengangguk dan tidak segera mencari Jo untuk menawarkan kata penghiburan yang mungkin tidak diperlukan.
Di kamar, Iccha melihatnya menaruh pena.
"Lo memikirkan kabar tadi?"
"Iya. Aku ndak tahu harus mengatakan apa kalau bertemu."
"Salam seperti biasa juga boleh."
Erika mengangguk. Dia pernah ingin semua orang menganggap dirinya biasa setelah dituduh. Kini dia mengerti betapa perhatian yang terlalu hati-hati kadang membuat seseorang merasa semua percakapan harus dimulai dari hal yang sedang sakit.
Keesokan paginya, dia memberi salam ketika Jo datang ke meja makan. Lelaki itu membalas, duduk, lalu melihat kertas yang dibawa.
"Pekerjaan?"
"Catatan cerita sendiri. Aku hampir meninggalkan di kamar, terus takut nanti lupa kalimat yang mau diperbaiki."
Jo tersenyum kecil. "Kamu bisa memotret."
"Bisa. Tapi biasanya setelah difoto, aku tetap mencari kertasnya."
Dia tertawa. Percakapan tidak langsung menjadi cerita tentang perpisahan. Erika mengambil makanan, Jo melakukan hal yang sama, dan meja kembali mempunyai urutan yang dapat diikuti tanpa satu orang terus diperhatikan.
Setelah sarapan, Jo meminta waktu sebentar untuk membicarakan proyek. Bukan keputusan besar yang harus ditandatangani. Dia hanya ingin menanyakan apakah bentuk yang telah berubah masih dapat diselesaikan tanpa memaksa semuanya masuk ke akhir yang dulu direncanakan.
Erika datang dengan daftar. Mereka duduk, memeriksa bagian lama, lalu berhenti pada ruang yang masih kosong untuk hari pernikahan.
"Aku belum ingin itu jadi bab yang dibaca orang," kata Jo.
"Tidak harus. Proyek ini sejak awal juga pribadi. Kita bisa menyimpan catatan tanpa mengubah semuanya menjadi cerita yang siap diberikan."
Lelaki itu mengangguk. "Aku ingin ada bagian yang selesai. Bukan karena butuh hadiah lagi. Karena kamu sudah mengerjakan banyak."
Erika memandangnya. "Bagian yang selesai bisa berdiri dengan jujur. Kalau Mas ingin kalimat penutup sementara, jangan yang pura-pura menjawab hidup setelahnya."
"Kamu punya usul?"
"Aku ingin memeriksa dulu. Jangan langsung memilih karena sekarang terdengar bagus."
Jo mengangguk. Mereka menentukan pekerjaan yang dapat dilakukan, lalu Erika meminta waktu untuk naskah sendiri tetap dipertahankan. Lelaki itu menyetujui tanpa menganggap permintaan tersebut tanda dirinya sudah tidak penting.
Ketika pembicaraan selesai, gadis itu hendak keluar. Jo memanggil, membuatnya menoleh dengan map di tangan.
"Aku tahu kamu mendengar kabar kemarin."
Erika mengangguk pelan.
"Terima kasih tidak membuat semua percakapan pagi tadi tentang itu."
Gadis itu memandangnya, kemudian tersenyum kecil. "Aku memang ndak tahu harus mengatakan apa. Jadi kupilih yang biasa."
"Yang biasa membantu."
Tidak ada kalimat tambahan yang mengubah penghargaan itu menjadi pengakuan lain. Erika keluar, kembali ke meja sendiri, dan mulai menandai bagian yang harus dibaca ulang.
Setelah Erika kembali ke kamar, Jo memeriksa beberapa halaman hasil pekerjaannya. Koreksi kecil diberi tanda, termasuk tempat yang dulu dibiarkan karena dirinya terlalu sibuk memikirkan apa yang hendak diberikan sebagai hadiah.
Dia menemukan nama Anggrek pada halaman pembuka. Ukurannya sudah sesuai keputusan di tempat cetak. Nama tersebut bukan milik hubungan yang kini berakhir, dan tidak ada alasan diperkecil lagi hanya karena buku tidak akan dipakai seperti rencana awal.
Jo menulis catatan untuk pembicaraan berikutnya: nama penulis tetap. Dia menatap tiga kata itu, kemudian tersenyum kecil karena sesuatu yang dulu perlu ditanyakan Erika ternyata sekarang dapat dipastikan tanpa dirinya diminta.
Di kamar, gadis tersebut sedang membaca komentar pada cerita sendiri. Ada pembaca yang merasa tokoh terlalu lama menunggu, tetapi menjelaskan dengan contoh adegan, bukan hanya meminta semuanya dipercepat.
Erika membuka bagian yang dimaksud. Dia menemukan satu percakapan berulang yang memang tidak menambah kejadian. Dua paragraf dipendekkan, satu tindakan diperjelas, dan cerita terasa lebih dekat pada yang ingin disampaikan.
Lina datang membawa catatan sendiri. Melihat beberapa halaman ditandai, dia menanyakan apakah Erika sedang memperbaiki semua karena komentar.
"Yang ada gunanya," jawab gadis itu. "Yang cuma bilang tokoh harus segera bersama, kusimpan sebagai keinginan pembaca."
Perempuan berhijab itu tersenyum. "Kadang sulit membedakan."
"Iya. Aku juga kadang ingin mempercepat supaya mereka berhenti kesal. Tapi kalau tokohnya belum sampai sana, besok malah harus kubuat alasan baru."
Mereka membaca satu bagian bersama. Lina menunjuk kalimat yang terasa seperti kesimpulan penulis, bukan sesuatu yang dipikirkan tokoh pada saat tersebut. Erika mengangguk, memperbaiki, lalu meminta pendapat apakah suaranya masih sama.
"Masih," jawab Lina. "Sekarang lebih jelas."
Erika mengembuskan napas. Dia telah menghabiskan banyak waktu membantu orang lain menata kenangan. Menemukan satu bagian cerita sendiri kembali berjalan memberi rasa puas yang tidak bergantung pada apakah Jo sedang mempunyai hari baik.
Ketika Lina pergi, laptop tidak langsung ditutup. Gadis itu menyelesaikan percakapan sampai tempat yang dapat dihentikan, lalu menyimpan. Dia belum memberikan bab baru kepada pembaca malam itu, tetapi pekerjaan tersebut benar-benar maju.
Di luar kamar, Jo melewati lorong tanpa mengetuk. Lampu meja masih menyala. Dia mengingat jawaban bahwa yang biasa membantu, kemudian memilih meneruskan langkah daripada membuat setiap kegiatan Erika menjadi kesempatan menanyakan kabar.
Di rumah Caca, kabar yang sama diterima dengan cara berbeda. Frans lebih banyak diam. Ibunya membantu mengumpulkan berkas yang perlu disimpan, tidak menata sebagai sesuatu yang harus dilupakan secepat mungkin.
Caca duduk bersama Aldin setelah urusan keluarga selesai. Buku Jo masih berada pada rak kecil. Dia tidak membawanya ke meja, tetapi keduanya tahu ada di sana.
"Sekarang memang selesai," katanya.
Aldin mengangguk. "Iya."
"Aku tidak tiba-tiba merasa semua yang kulakukan jadi benar."
"Aku juga."
Mereka membicarakan kehidupan berikutnya. Pekerjaan Aldin, hubungan dengan Ibu, dan hal-hal yang masih harus diselesaikan tanpa keluarga Jack menjadi tempat meminta bantuan pertama.
Tidak ada rencana pesta baru yang dikeluarkan pada hari kabar berpisah datang. Keduanya masih harus belajar bahwa memilih bersama bukan berarti seluruh akibat dari cara memilih dapat ditinggalkan di rumah orang lain.
Caca menyimpan berkas, menutup laci, lalu kembali duduk. Kali ini dia tidak membuka percakapan Jo untuk menanyakan apakah lelaki itu masih mengingat tulisan di halaman terakhir.
Jawaban pernah diberikan. Dia tidak boleh meminta diulang hanya karena kini hubungan mereka telah benar-benar berakhir.
Di rumah Jack, Jo menghabiskan sore dengan pekerjaan yang belum selesai. Saat hendak mengambil minum, dia melihat Erika di teras, membaca beberapa lembar yang diletakkan pada lutut.
Angin mengangkat satu sisi kertas. Gadis itu menahan dengan tangan, tertawa pada dirinya sendiri, lalu memindahkan posisi agar tidak kembali berantakan.
Jo berhenti sebentar. Dia tidak dipanggil, tidak perlu membantu, dan tidak mempunyai alasan menanyakan isi catatan pada saat itu.
Namun, untuk pertama kalinya setelah menerima kabar resmi, bayangan hari berikutnya tidak seluruhnya berisi sesuatu yang harus dilepaskan. Ada seseorang yang sedang mengerjakan hidupnya sendiri, dan Jo mulai ingin tahu apakah suatu saat dia boleh hadir di dalamnya dengan cara yang dipilih perempuan itu.