Keesokan paginya, Erika menemukan catatan kebutuhan laptop masih di meja. Iccha sudah menambahkan satu pengingat kecil: periksa tempat menyimpan berkas sebelum memindahkan. Gadis itu tersenyum, menyimpan kertas, lalu turun membawa bagian proyek yang memang akan dibahas.
Jo sudah menunggu di ruang kerja. Dia tidak menanyakan alat baru atau mengapa catatan pribadi tertinggal di kamar. Pertanyaan hari itu mengenai satu kenangan yang masih diceritakan dengan dua waktu berbeda.
Mereka membuka catatan wawancara. Erika menunjukkan bagian Jo, kemudian bagian Caca. Ternyata yang berbeda bukan kejadian, melainkan urutan dua percakapan yang dilakukan pada hari yang sama.
"Yang ini sebelum makan," kata Jo.
"Di catatan Caca juga sebelum makan. Berarti bisa diletakkan di sini."
Erika memberi tanda. Pekerjaan kecil itu selesai, dan mereka beralih pada bagian yang belum mempunyai jawaban. Tidak semuanya harus diputuskan hari itu.
Pada akhir pembacaan hari itu, Erika menemukan satu kalimat yang memberi penilaian terlalu pasti tentang Caca. Bukan sesuatu yang pernah diucapkan dalam wawancara, melainkan kesimpulan yang terselip saat bagian lama dirapikan.
Dia menunjukkannya kepada Jo.
Lelaki itu membaca, diam sebentar, lalu menanyakan mengapa tidak langsung dihapus jika memang dianggap keliru.
"Karena bagian ini kemarin Mas memberi tanda untuk dipertahankan," jawab Erika. "Aku ingin memastikan yang dimaksud kejadian atau kesimpulannya."
Jo melihat catatan. Dia mengingat dirinya ingin perempuan dalam naskah selalu tampak mengetahui apa yang dipilih. Sekarang kalimat tersebut justru membuat hari-hari sebelum pernikahan terasa lebih jauh dari yang sebenarnya.
"Kesimpulannya tidak perlu," katanya.
"Baik. Kejadiannya tetap ada."
Gadis itu mengganti, membacakan sekali, lalu menunggu. Jo mendengar tanpa menyuruh paragraf diubah sampai dirinya tidak lagi merasa malu pernah mempercayai.
"Yang itu lebih tepat."
Erika memberi tanda bahwa koreksi telah disetujui. Dia kemudian menyebut waktu yang masih diperlukan untuk beberapa halaman berikutnya, termasuk bagian yang tidak akan dikerjakan di luar jadwal.
Jo membuka agenda, mencari satu waktu yang ternyata bertabrakan dengan urusan lain. Dahulu dia mungkin mengatakan nanti sambil mengira penulis pasti dapat menyesuaikan. Kali ini dia memilih hari lain sebelum pembicaraan ditutup.
"Aku kabari kalau berubah," ujarnya.
"Sebelum waktunya, kalau bisa."
"Iya."
Erika mengangguk, mengumpulkan kertas, lalu berdiri. Tidak ada sesuatu yang romantis dalam memilih jam dengan jelas. Namun kerja yang dapat diprediksi membuatnya tidak terus menunggu apakah satu panggilan akan mengubah seluruh hari.
Saat keluar, dia berpapasan dengan Ammar. Lelaki itu menanyakan apakah Jo masih mempunyai waktu sebentar. Erika mengatakan pembicaraan mereka sudah selesai, kemudian memberi jalan.
Dua urusan dapat bergantian memakai ruangan yang sama tanpa satu orang harus berada di kursi sampai orang lain merasa cukup tenang.
Hari-hari berikutnya bergerak dengan kegiatan serupa. Jo menjalankan urusan perusahaan dan menghadiri pembicaraan yang berkaitan dengan perpisahan. Erika merapikan naskah lama, mengirim cerita Anggrek, dan sesekali membantu Lina memeriksa bagian yang terlalu cepat disimpulkan.
Beberapa pekan lewat tanpa membuat semua hal otomatis ringan. Ada hari ketika Jo mendengar nama Caca dan kembali lebih banyak diam. Ada hari ketika Erika masih perlu menarik napas sebelum bertanya mengenai pekerjaan. Namun, tuduhan bahwa dirinya mengetahui rencana Aldin tidak diulang.
Aldin menyelesaikan bagian serah terima yang harus dilakukan dan menghadapi keputusan kerja melalui pembicaraan yang sudah dijadwalkan. Dia tidak kembali ke rumah Jack untuk meminta semuanya terlihat seperti dulu. Kabar keluarga disampaikan langsung kepada Ibu, bukan diletakkan pada ponsel adiknya.
Pada satu sore, hujan turun ketika Erika hendak keluar membeli perlengkapan yang diperlukan. Dia sudah mengabari Iccha dan tidak mempunyai jadwal wawancara. Di pintu depan, dia berhenti melihat air yang turun terlalu rapat untuk diseberangi tanpa basah.
Jo pulang beberapa menit kemudian. Kendaraan berhenti dekat tangga. Lelaki itu turun dengan map ditahan pada sisi tubuh, lalu memandang Erika yang membawa tas kecil.
"Mau keluar?"
"Tadi mau. Sekarang sedang menunggu hujan punya belas kasihan."
Jo melihat langit. "Sepertinya tidak cepat."
"Terima kasih atas ramalan yang mengecewakan."
Dia tertawa pendek, berdiri di sisi pintu sambil memastikan map tidak terkena air. Erika menggeser sedikit agar jalan tidak tertutup tubuhnya.
"Perlu yang mendesak?" tanyanya.
"Beberapa perlengkapan kerja. Besok juga bisa, tapi tadi sudah siap."
Jo mengangguk. "Aku perlu mengambil sesuatu di tempat lain. Kalau kamu mau, bisa sekalian."
Erika memandang kendaraan, kemudian lelaki di depannya. Tawaran tersebut tidak berbunyi seperti dirinya harus ikut karena Jo sudah memutuskan.
"Mas baru sampai."
"Aku turun karena melihat kamu di pintu. Tujuanku belum selesai."
"Oh. Kalau memang searah, boleh."
Jo menunjukkan payung yang dibawa pengantar. Erika menerima satu, menunggu sampai map ditaruh pada tempat aman, lalu turun bersama.
Anak tangga kedua lebih licin daripada yang diduga. Kaki Erika bergeser sedikit. Jo meraih lengannya, menahan sampai dia kembali berdiri, kemudian melepaskan saat gadis itu sudah memegang pagar.
"Pelan," katanya.
Erika mengangguk, jantung berdegup lebih cepat karena gerakan mendadak. Dia menuruni tangga dengan hati-hati, tidak melihat wajah Jo sampai keduanya sudah berada di kendaraan.
"Aku ndak bermaksud melakukan adegan dramatis," ujarnya setelah menarik napas.
Lelaki itu menoleh. "Kalau bermaksud, pilih tempat yang lebih kering."
Erika tertawa. Jo ikut tersenyum, lalu meminta kendaraan menuju tempat yang sudah disebut. Tangannya kembali berada di pangkuan, tetapi dia masih ingat betapa cepat bergerak sebelum sempat berpikir.
Di kendaraan, Erika mencoba merapikan rambut yang terkena sedikit air. Ujungnya justru tersangkut pada tali tas, membuat dia berhenti bergerak dan meminta Jo menunggu sebelum bertanya lagi.
Lelaki itu melihat, menawarkan membantu memegang tali agar tidak ikut tertarik. Gadis tersebut menyerahkan bagian tas, membebaskan rambut, lalu tertawa malu ketika semuanya selesai.
"Adegan dramatis kedua," katanya.
"Yang ini tidak membutuhkan tempat kering."
"Cukup kemampuan mengatur tas."
Jo tersenyum. Dia mengembalikan, memastikan tidak ada bagian yang masih tersangkut, kemudian menanyakan apakah Erika lebih nyaman tas diletakkan pada kursi kosong.
Gadis itu mengangguk. Setelah benda tersebut dipindahkan, dia akhirnya dapat duduk tanpa terus memegang tali seperti penumpang yang takut segera disuruh turun.
Jo menyebut satu bagian kota yang akan dilewati. Erika memandang dari kaca, menanyakan gedung yang dulu tidak dikenal. Lelaki itu menjelaskan singkat, tidak mengubah menjadi cerita mengenai seluruh usahanya sendiri.
Ketika gadis tersebut bercerita tentang jalan di Semarang yang sekarang berbeda, dia mendengar sampai selesai. Ada bagian kehidupan Erika yang tidak berkaitan dengan kantor atau keluarga Jack, dan tidak semua harus segera dipakai menjadi pertanyaan baru.
Percakapan berhenti saat mereka mendekati tujuan pertama. Jo mengabari bahwa urusannya tidak lama, meminta Erika memilih apakah ingin menunggu atau berjalan sebentar pada tempat yang terlindung.
Dia memilih menunggu. Jawaban diterima tanpa komentar bahwa dirinya terlalu sungkan atau harus ikut agar terlihat sopan.
Mereka berhenti lebih dulu untuk urusan Jo. Erika menunggu pada area yang terlindung, membaca beberapa pesan, lalu menaruh ponsel ketika lelaki itu kembali. Tidak ada pertanyaan kenapa dia tidak ikut atau kepada siapa menjawab.
Setelah itu mereka menuju tempat membeli perlengkapan. Erika memeriksa daftar, memilih yang memang diperlukan, dan membawa ke tempat pembayaran. Jo berdiri di sisi lain, tidak tiba-tiba menyerahkan kartu agar seluruh barang berubah menjadi hadiah.
Gadis itu membayar sendiri. Ketika salah satu barang sulit dimasukkan ke kantong, Jo membantu menahan sisi agar tidak jatuh. Pekerjaan tersebut cukup selesai dengan dua tangan tambahan, bukan penjelasan mengenai hak siapa membeli.
Di luar, hujan sudah lebih tipis tetapi belum berhenti. Mereka berjalan menuju kendaraan sambil menjaga kantong. Jo memegang payung lebih tinggi karena Erika beberapa kali hampir menyentuh sisinya.
"Mas kalau memegang terlalu tinggi, aku tetap basah," katanya.
Dia menurunkan sedikit. "Begini?"
"Sekarang Mas yang basah."
"Berarti tinggi badan kita tidak membantu."
Erika tertawa dan menggeser posisi agar keduanya lebih dekat pada bagian yang terlindung. Bahunya hampir menyentuh lengan Jo. Lelaki itu memperlambat langkah, bukan karena jalan licin saja.
Saat tiba, gadis itu masuk lebih dulu. Dia mengeringkan tangan dengan tisu, memastikan barang tidak basah, lalu baru melihat bahu kemeja Jo yang terkena air.
"Maaf."
"Kamu tidak menurunkan hujan."
"Aku mengkritik payungnya."
"Kritik yang membantu."
Mereka tersenyum. Perjalanan pulang mempunyai percakapan ringan mengenai pilihan kertas, harga benda kecil yang sering hilang, dan bagaimana penulis dapat menghabiskan waktu terlalu lama memilih pena padahal memakai yang sama selama berbulan-bulan.
Jo menanyakan apakah Erika akan membeli laptop pada hari lain. Gadis itu sedikit terkejut, lalu menjelaskan bahwa dia tadi memang melihat beberapa pilihan bersama Lina sebelum ini.
"Lina cerita kamu sedang mencari," ujar Jo. "Aku tidak membaca catatanmu."
Erika mengangguk. "Aku ingin punya yang dipilih sendiri. Kalau sudah semua salinan aman, yang lama akan kubicarakan dengan Mas Ammar."
"Baik. Kalau perlu bantuan memindahkan, minta orang yang kamu percaya. Jangan sampai tulisanmu hilang."
Tidak ada tawaran membeli yang lebih mahal. Erika merasa lebih mudah bercerita karena keputusan tersebut tidak langsung diambil dari tangannya.
Sebelum pulang, hujan kembali menebal. Kendaraan yang menunggu belum dapat mendekat tepat ke sisi pintu. Jo dan Erika berdiri pada bagian beratap, melihat orang-orang mencari jalan agar barang tidak basah.
Gadis itu memegang kantong pada dada. Jo menggeser payung yang belum dibuka, menanyakan apakah barang di dalam perlu ditutup tambahan.
"Sudah ada pelindung," jawabnya. "Yang takut basah sekarang aku."
"Bisa menunggu beberapa menit."
Mereka menunggu. Tidak ada pekerjaan yang dibawa untuk mengisi setiap jeda. Erika melihat air mengalir pada tepi atap, lalu menunjuk satu bagian yang membuat orang di depan terkejut saat hampir lewat.
Jo memanggil pendek, memperingatkan. Orang tersebut bergeser, berterima kasih, dan berjalan dengan barang yang tetap kering.
"Mas cepat melihat," kata Erika.
"Tadi kamu yang menunjuk."
"Aku menunjuk kepada Mas. Bukan berani memanggil."
Jo tersenyum. "Berarti kerja sama yang berhasil."
Gadis itu tertawa, memindahkan kantong agar lengan tidak terlalu lelah. Jo menawarkan memegang sementara. Erika memberikan satu, tetap membawa yang berisi barang kecil agar tidak tercecer.
Ketika kendaraan akhirnya mendekat, mereka tidak langsung menerobos. Jo membuka payung, menunggu sampai jalan cukup lapang, lalu berjalan pada kecepatan yang bisa diikuti.
Di tengah, angin membawa air dari sisi. Erika mengangkat tas, hampir menabrak lengan lelaki itu, lalu meminta maaf sambil tertawa karena tampaknya payung tidak akan menang seluruhnya.
"Setidaknya laptopmu tidak ikut," kata Jo.
"Kalau ikut, mungkin yang kuajak pulang lebih dulu itu dia."
"Pilihan yang masuk akal."
Gadis itu memandangnya, tersenyum. Jo tidak meminta dirinya menjadi barang paling penting yang harus dilindungi. Dia dapat bercanda tentang pekerjaan, dan lelaki di sebelah tidak menganggapnya sebagai penolakan.
Setelah masuk, kantong diletakkan pada tempat aman. Jo menutup payung dengan hati-hati, kemudian mengeringkan tangan. Erika menemukan tisu tambahan yang dulu diselipkan Iccha dan menyerahkan satu bungkus.
"Ternyata berguna."
"Apa?"
"Temanku memaksa aku membawa lebih banyak."
Jo menerima, berterima kasih, lalu meminta perjalanan diteruskan. Di kaca, hujan membuat lampu kendaraan lain berubah menjadi garis-garis lembut. Erika duduk lebih santai daripada saat berangkat, tidak menyadari Jo beberapa kali melihat wajahnya sebelum kembali memandang jalan.
Di rumah, Iccha melihat keduanya datang membawa kantong. Dia menyambut Erika dengan pertanyaan apakah hujan sudah reda, lalu melirik bahu Jo.
"Sebagian reda. Sebagian ikut masuk rumah," kata gadis itu.
Iccha tertawa. Jo menyerahkan payung untuk dikeringkan, memberi salam, dan naik mengganti pakaian.
Erika masuk ke kamar, menaruh perlengkapan pada meja. Saat menarik lengan baju agar tidak menyentuh air yang tersisa, dia teringat tangan Jo yang menahan pada tangga.
Tidak ada kata manis yang diucapkan. Tidak ada sesuatu yang harus dijawab. Namun, ingatan tersebut bertahan lebih lama daripada yang dianggap perlu untuk satu langkah hampir terpeleset.
Iccha datang beberapa menit kemudian, melihat wajahnya yang masih menatap kantong.
"Barangnya kurang?"
"Ndak. Lengkap."
"Kalau begitu, kenapa seperti sedang menghitung?"
Erika tersenyum kecil. "Mungkin masih memikirkan pena."
Perempuan itu mengangkat alis, tetapi tidak menuntut penjelasan. Dia mengambil handuk untuk rambut sendiri, lalu membicarakan sesuatu dari kantor sampai Erika akhirnya kembali pada percakapan yang berlangsung di kamar.
Di lantai lain, Jo menggantung kemeja yang basah. Dia menatap bahunya sebentar, lalu tertawa pelan pada dirinya sendiri karena baru kali itu pakaian terkena hujan tidak menjadi bagian paling mengganggu dari satu sore.
Ponsel menyala. Ada kabar lanjutan mengenai proses perpisahan, dengan waktu yang harus dipenuhi. Jo membaca sampai selesai, memberi jawaban yang diperlukan, lalu menyimpan.
Dia tidak boleh melompat melewati urusan yang belum selesai hanya karena mulai menantikan hal lain.